SRTG Mampu Mencetak Laba di Saat Pandemi !

SRTG Mampu Mencetak Laba di Saat Pandemi !


Tidak jarang kita melihat pelaporan kinerja keuangan di tengah pandemic yang menghasilkan kinerja yang mengalami penurunan. Beberapa sektor yang sangat terdampak seperti transportasi serta retail pun juga ada yang laba bersihnya terpotong lebih dari setengah di tahun 2020 kemarin. Menariknya, PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) melaporkan peningkatan pencapaian laba bersih menjadi sebesar Rp 8.8 triliun pada tahun 2020. Dengan pencapaian ini, apakah SRTG menjadi menarik untuk dibeli ?

 

Sekilas Tentang SRTG

Berbeda dengan kebanyakan perusahaan terbuka lainnya yang melakukan jual beli barang/jasa, bisnis SRTG adalah berinvestasi.

SRTG pertama kali didirikan pada tahun 1997, di zaman yang penuh ketidakpastian karena krisis ekonomi global. Ketika pasar keuangan sedang runtuh karena ketidakyakinan investor, Sandiaga Uno (sekarang menjadi Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif) dan juga Edwin Soeradjaja (anak dari William Soeryadjaja – pendiri Astra International) yang notabene sebagai co-founders dari SRTG mengambil kesempatan tersebut untuk berinvestasi di ekonomi Indonesia, dan menjadikan SRTG sebagai active investment company di Indonesia. Di zaman sekarang, SRTG dikenal sebagai perusahaan yang disebut private equity (PE).

Di awal-awal tahun, SRTG fokus untuk berinvestasi di sektor komoditas dan infrastruktur, di mana salah satu perusahaan yang masih dikuasai oleh SRTG adalah Adaro Group (ADRO) yang telah diinvestasikan oleh SRTG sejak tahun 2001, Tower Bersama Infrastruktur (TBIG) sejak tahun 2004, dan juga Mitra Pinasthika Mustika (MPMX) sejak tahun 2010.

Sekarang, SRTG juga telah mendiversifikasi bisnisnya untuk berinvestasi ke beberapa perusahaan lain dari berbagai sektor, baik yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) ataupun yang masih privat. Di antaranya adalah Provident Agro Tbk (PALM) di sektor CPO, Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA) di sektor konstruksi, Primaya Hospital (dulunya Awal Bros) di sektor healthcare. Dan ada juga investasi di sektor teknologi seperti Julo yang bergerak di sektor financial technology atau fintech.

 

Investasi yang Dilakukan oleh SRTG. Source: Company Presentation SRTG

 

Tidak hanya berinvestasi secara pasif, SRTG juga turun tangan untuk membantu mengembangkan bisnis dari perusahaan yang diinvestasikannya. Sebagai contoh, TBIG yang pertama kali hanya memiliki 7 menara pada tahun 2004, Sekaran telah berkembang dan memiliki lebih dari 16 ribu menara – di mana dalam perjalanan perkembangan bisnis TBIG, SRTG juga turun tangan membantu. Secara spesifik, SRTG membantu TBIG untuk listing di IDX pada tahun 2010, membantu mengakuisisi menara sebanyak 2,500 buah di tahun 2012, dan seterusnya.

Perjalanan bisnis perusahaan yang diinvestasikan oleh SRTG. Source: Company Presentation SRTG

 

Sumber Pemasukan dan Pencatatan Laporan Laba Rugi

Secara umum, pendapatan SRTG didapatkan melalui dua cara:

  • Pendapatan dividend & bunga (cash basis)
  • Peningkatan dari nilai investasinya (non-cash basis)

Laporan Keuangan SRTG FY20. Source : IDX

 

Apabila Anda melihat data laporan keuangan SRTG di atas, dapat Anda perhatikan bahwa mayoritas pendapatan SRTG bersifat non-cash basis. Inilah mengapa sebenarnya dalam memproyeksikan keuntungan dari perusahaan PE lebih sulit ketimbang perusahaan biasa, karena kinerja PE berasal dari kinerja investee (perusahaan yang diinvestasikan)-nya.

 

Anda yang memiliki keterbatasan waktu untuk bisa mengumpulkan informasi mengenai kinerja terbaru perusahaan, kini Anda bisa memanfaatkan Cheat Sheet sebagai alternatif yang dapat membantu menghemat waktu Anda untuk mengecek kinerja perusahaan yang saham nya Anda pegang. Yuk, dapatkan segera Cheat Sheet Q1 2021 di sini…

 

Dalam kasus SRTG, meskipun terlihat bahwa SRTG memang berinvestasi di banyak perusahaan di banyak sektor, tetapi sebenarnya mayoritas dana yang diinvestasikan SRTG berpusat ke perusahana public (ie. ADRO, TBIG, MPMX, MDKA).

Nilai Buku Investee SRTG. Source : Company Presentation SRTG

Secara persentase berdasarkan data di atas, total nilai buku investasi milik SRTG adalah sekitar Rp 34.2 triliun – di mana Rp 32.4 triliun (hampir 95%) dari total investasinya berada di perusahaan terbuka (tersebar ke empat perusahaan di atas). Tidak mengherankan, mengingat PE mengincar perusahaan yang masih berada di tahap rintisan (growth stage) yang akan dibantu untuk ditingkatkan, dan PE mampu memegang saham untuk jangka waktu yang sangat lama dalam berinvestasi, seperti yang terjadi pada ADRO (sejak tahun 2001), TBIG (2004), MPMX (2010) dan MDKA (2012).

Karena bisnis model SRTG yang seperti inilah yang menyebabkan kinerja SRTG cenderung terlihat berfluktuatif.

 

Pendapatan dan Laba Bersih SRTG. Source : Cheat Sheet 4Q20

 

Seperti terlihat pada grafik di atas, tahun 2020 memang SRTG mencatatkan rekor pendapatan dan laba bersih karena meningkatnya nilai dari perusahaan investasinya (ADRO, MPMX, TBIG, MDKA) di tahun 2020). Meskipun demikian, ada risiko juga yang perlu kita perhatikan, di mana apabila yang terjadi adalah harga saham investee milik SRTG – maka kinerja SRTG juga akan “terlihat” mengalami penurunan – seperti yang terjadi pada tahun 2018. Padahal yang tercatat di laporan keuangan bukan merupakan cash basis.

SRTG merupakan salah satu perusahaan investasi terbesar di Indonesia – dan bahkan beberapa pihak menyebut SRTG sebagai Berkshire of the East (Berkshire Hathaway adalah perusahaan investasi milik Warren Buffett). Berdiri sejak tahun 1997, SRTG telah memiliki lebih dari 2 dekade dalam berinvestasi di Indonesia. Dengan gaya berinvestasi yang long-term, SRTG mampu mentransformasi perusahaan investee-nya, seperti ADRO, TBIG, MPMX, dan juga MDKA.

Kinerja SRTG memang terlihat cemerlang di tahun 2020, tetapi perlu Anda ketahui juga bahwa kinerja pendapatan tersebut dapat dicapai mayoritas karena adanya non-cash basis, atau dalam bahasa investor masih dalam keadaan floating profit. Menurut Anda, apakah SRTG sekarang sudah menarik untuk diinvestasikan? You decide….

 

###

 

Info:

 

Tags : SRTG Mampu Mencetak Laba | SRTG Mampu Mencetak Laba | SRTG Mampu Mencetak Laba | SRTG Mampu Mencetak Laba | SRTG Mampu Mencetak Laba | SRTG Mampu Mencetak Laba | SRTG Mampu Mencetak Laba | SRTG Mampu Mencetak Laba |

You may also like

1 Comment

  • Zahra
    May 10, 2021 at 9:26 PM

    Menurut saya pribadi harus di perdalam lg analisa utk SRTG.

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Rivan adalah seorang Indonesia Value Investor yang memulai investasi sejak tahun 2008 ketika berusia 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, Rivan berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Berbekal pengalamannya, Rivan saat ini menjalani profesi sebagai Full Time Investor sekaligus praktisi di pasar modal. Saat ini, Rivan aktif mengadakan workshop dan pelatihan kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko di pasar saham.

Like Us On Facebook

Facebook Pagelike Widget

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Categories

Share this Post

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami