7.14% Saham MPPA Dibeli Watiga Trust, Ada Gebrakan Apa ?

7.14% Saham MPPA Dibeli Watiga Trust, Ada Gebrakan Apa ?


Baru-baru ini tersiar kabar bahwa salah satu holding perusahaan retail di Indonesia, PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) telah dibeli kepemilikannya oleh Watiga Trust. Watiga Trust sendiri adalah salah satu lembaga keuangan dari Singapura yang dikenal memberikan layanan perwalian dan juga pegadaian, serta mengelola sejumlah uang untuk diinvestasikan. Dengan masuknya Wali Trust sebagai salah satu pemegang saham terbesar, apakah hal ini menjadi katalis positif bagi MPPA ke depannya ?

 

Kronologis Pembelian Saham MPPA oleh Watiga Trust

Sekilas tentang bisnis model dari MPPA: MPPA adalah perusahaan yang memiliki platform ritel multi-format yang menargetkan berbagai segmen pelanggan. MPPA membagi “format” dari bisnisnya ke dalam tiga segment: 1) Hypermarket/supermarket, 2) Grosir, serta 3) Convenience store. Memang kontributor terbesar terhadap performa perusahaan berasal dari segmen hypermarket/supermarket. Detail dari bisnis dan target pelanggan dari MPPA dapat terlihat pada bagan berikut:

Detail operasional MPPA per FY20. Source: Public Expose MPPA

 

MPPA merupakan salah satu perusahaan retail yang memiliki jaringan cukup luas dan telah melakukan penetrasi terhadap teknologi digital untuk meningkatkan bisnisnya. MPPA memiliki 3 pusat jaringan distribusi di Banten (Balaraja), Cibitung (Jawa Barat), serta Porong (Jawa Tengah) yang secara total mengontrol hampir 22 ribu SKU dengan kapasitas area total hampir 70.000 m­2.

MPPA merupakan salah satu perusahaan di bawah Lippo Group, di mana struktur kepemilikan saham MPPA setelah diakuisisi akan menjadi seperti ini:

Kepemilikan Saham MPPA setelah Watiga Trust. Source: Pubex MPPA

 

Watiga Trust sendiri membeli saham MPPA dari MLPL, pemegang kendali saham MPPA sebelumnya. MLPL menjual 896.327.200 lembar saham dengan harga Rp 404 per lembar saham pada 6 April sebelumnya. Hal ini menyebabkan kepemiilkan MPPA berkurang dari yang sebelumnya menguasai MPPA dengan memegang 50.23% kepemilikan menjadi 38.33%.

Dari sisi pemilik saham MPPA, kita bisa melihat beberapa nama lainnya seperti:

  • Anderson Investment Pte Ltd: merupakan anak usaha dari Temasek Holdings dan melakukan pembelian saham MPPA melalui exchangeable rights (ER) atas linked instrument sebesar US$300juta (sekitar Rp 4.3 triliun) yang diterbitkan oleh Prime Star Investment Pte Ltd di tahun 2013 silam.
  • Connery Asia Limited: menguasai 14% saham MPPA – telah memegang saham MPPA cukup lama.

Tidak hanya dari sisi penjualan saham, MPPA juga memiliki rencana untuk melakukan right issue untuk mengincar peningkatan modal sebesar Rp 500-800 miliar, di mana dana yang akan didapatkan dari right issue ini akan digunakan untuk memperkuat neraca Perseroan dan modal kerja untuk mendukung strategi MPPA menjadi retailer yang memiliki Omnichannel, memperkuat jaringan / logistik, serta kemampuan analisa big data.

Sebagai informasi, MPPA juga baru saja melakukan public expose dan menyebarkan informasi ini ke publik secara lebih terbuka (sebelumnya hanya melalui pengumuman di BEI). Melalui pubex di BEI, MPPA mengatakan bahwa pelaksanaan transaksi kepemilikan saham dari Watiga Trust ini tidak akan merubah business process dari MPPA, maupun terhadap kegiatan operasional dan keuangan perusahaan.

 

Rencana Bisnis MPPA ke Depannya

Di 3 tahun ke depan, MPPA akan fokus ke beberapa hal:

  • MPPA akan fokus terhadap mengembangkan bisnis ritel modernnya melalui format gerai seperti yang telah ditunjukkan pada tabel di atas, spesifik untuk gerai Hypermart, HyFresh, Primo, Foodmart, Boston Health & Beauty, FMX dan SmartClub di seluruh Indonesia.
  • Di tahun 2021 ke depan setelah Covid-19 selesai, MPPA akan mengembangkan rencananya untuk membuka gerai-gerai baru dan perbaikan/renovasi di gerai-gerai lama yang telah beroperasi. Sebenarnya rencana ini sudah ada sejak tahun lalu, tetapi harus ditunda karena adanya Covid-19.
  • MPPA akan fokus juga mengembangkan bisnisnya ke retail online, melalui beberapa proses penetrasi ke system online yang dimiliki MPPA secara organic. Adapun beberapa channel online yang dimiliki oleh MPPA adalah: Hypermart Online e-commerce, dan Chat & Shop via WhatsApp). Tidak hanya dari sisi tersebut, MPPA juga berencana meningkatkan kerja samanya dengan operator marketplace di Indonesia – di mana sekarang MPPA sudah bekerja sama dengan GrabMart, Shopee, Tokopedia, dan Blibli.com.

Secara singkat, manajemen MPPA juga mengatakan pada public expose bahwa masuknya Watiga Trust ke jajaran pemegang saham perusahaan tidak akan mengganggu operasional bisnis maupun rencana perseroan. Dari sisi rencana bisnis perusahaan pun masih konsisten denga napa yang dikatakan sebelumnya yang memfokuskan mengembangkan bisnis retail yang sudah ada, serta melakukan penetrasi ke pasar online.

 

Untuk Anda yang ingin atau sedang menyusun investing plan Anda, tapi memiliki waktu yang terbatas untuk mengolah banyaknya informasi yang beredar, Anda bisa menggunakan Monthly Investing Plan edisi Mei 2021 yang telah terbit di sini…

 

 

Sekilas Tentang Kinerja Keuangan MPPA

Pendapatan Tahunan MPPA. Source : Cheat Sheet 4Q20

Kinerja MPPA sendiri dalam beberapa tahun terakhir cukup tertekan karena sengitnya persaingan di segment bisnis MPPA. Terlebih dengan datangnya digital disruptor yang cukup mengganggu bisnis konvensional. Pendapatan MPPA sendiri telah turun dari puncaknya di 2015 dari Rp 13.9 triliun per tahun, menjadi tinggal Rp 6.7 triliun per tahun pada tahun 2020.

Tidak mengejutkan, pendapatan MPPA pada tahun 2020 mengalami penurunan sebesar -22% YoY dari pendapatan pada tahun sebelumnya sebesar Rp8.6 triliun yang disebabkan karena pandemic Covid-19. Sejalan dengan hal tersebut, bagian laba bersih MPPA sendiri terlihat cukup menarik untuk diperhatikan:

Laba bersih tahunan MPPA. Source: Cheat Sheet 4Q20

Dapat dilihat pada grafik di atas, bahwa meskipun memang pada tahun 2013 merupakan puncak dari pencapaian pendapatan MPPA – tetapi laba bersih MPPA yang tertinggi sebenarnya bukan di tahun 2013, melainkan di tahun sebelumnya yakni 2014 (Rp 554 miliar). Hal ini menunjukkan bahwa pendapatan yang lebih tinggi belum tentu menghasilkan laba bersih yang lebih tinggi pula, di mana hal ini terjadi lagi pada tahun 2020.

Dapat terlihat di tahun 2020, meskipun pendapatan MPPA turun sekitar -22%, tetapi justru posisi laba bersihnya “membaik” dari rugi bersih Rp -553 miliar pada tahun 2019 menjadi rugi bersih sekitar Rp -405 miliar. Hal ini disebabkan karena perusahaan juga melakukan efisiensi dari sisi operasional dengan memotong operating expense, serta mendapatakan bantuan dari income tax benefit.

 

Kesimpulan

MPPA yang merupakan salah satu perusahaan retail terbesar di Indonesia yang mengontrol beberapa toko retail ternama seperti Hypermart. Secara singkat, manajemen MPPA juga mengatakan pada public expose bahwa masuknya Watiga Trust ke jajaran pemegang saham perusahaan tidak akan mengganggu operasional bisnis maupun rencana perseroan. Dari sisi rencana bisnis perusahaan pun masih konsisten denga napa yang dikatakan sebelumnya yang memfokuskan mengembangkan bisnis retail yang sudah ada, serta melakukan penetrasi ke pasar online.

Dari sisi rencana perusahaan ke depan, MPPA memiliki kurang lebih 3 rencana besar, yakni:

  • MPPA akan fokus terhadap mengembangkan bisnis ritel modernnya melalui format gerai
  • Membuka gerai-gerai baru dan perbaikan/renovasi di gerai-gerai lama yang telah beroperasi
  • MPPA akan fokus juga mengembangkan bisnisnya ke retail online dan bekerja sama dengan operator marketplace di Indonesia

Dari sisi kinerja keuangan sendiri, memang tidak mengejutkan melihat kinerja pendapatan MPPA menurun di tengah pandemic Covid-19 tahun lalu. Tapi, apakah kerja sama dan rencana yang disusun MPPA ini dapat membawa dampak positif bagi MPPA? You decide…

 

###

 

Info:

 

 

Tags : 7.14% Saham MPPA Dibeli Watiga | 7.14% Saham MPPA Dibeli Watiga | 7.14% Saham MPPA Dibeli Watiga | 7.14% Saham MPPA Dibeli Watiga | 7.14% Saham MPPA Dibeli Watiga | 7.14% Saham MPPA Dibeli Watiga | 7.14% Saham MPPA Dibeli Watiga | 7.14% Saham MPPA Dibeli Watiga

You may also like

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Rivan adalah seorang Indonesia Value Investor yang memulai investasi sejak tahun 2008 ketika berusia 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, Rivan berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Berbekal pengalamannya, Rivan saat ini menjalani profesi sebagai Full Time Investor sekaligus praktisi di pasar modal. Saat ini, Rivan aktif mengadakan workshop dan pelatihan kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko di pasar saham.

Like Us On Facebook

Facebook Pagelike Widget

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Categories

Share this Post

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami