Strategi WIKA untuk Meningkatkan Kinerja, Menarikkah untuk Dilirik ?

Strategi WIKA untuk Meningkatkan Kinerja, Menarikkah untuk Dilirik ?


Tidak mengejutkan untuk mendengar bahwa Covid-19 mengubah kehidupan, mulai dari skala yang kecil sampai skala besar. Dampak serupa juga terjadi di dunia bisnis, di mana salah satu yang terdampak adalah di sektor konstruksi. Banyak projek yang dibatalkan, banyak juga projek yang ditunda pengerjaannya yang membuat kinerja perusahaan sektor konstruksi melambat di tengah pandemi. PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) yang notabene merupakan salah satu perusahaan konstruksi terbesar di Indonesia memiliki beberapa strategi untuk meningkatkan kinerjanya di masa mendatang. Yang menjadi pertanyaannya adalah: apakah strategi tersebut membuat WIKA menarik untuk dilirik oleh investor ?

 

Strategi WIKA di tahun 2021

Kilas balik secara singkat kinerja profitabilitas WIKA di tahun 2020, di tengah badai Covid-19: pendapatan turun -39% YoY dan laba bersih turun -92% YoY.

Bukan pencapaian yang atraktif memang, tetapi tentu saja penurunan kinerja tersebut dapat “dimaklumkan” karena terjadi di tengah pandemic Covid-19 dan dianggap sebagai salah satu pencapaian yang anomaly. Bukan hasil yang terlalu buruk pula, mengingat WIKA yang masih mampu mencetak laba di tengah pandemic (tidak sedikit juga emiten yang mencatatkan rugi bersih tahun lalu). Di tahun 2021 ini, WIKA menargetkan untuk mencatatkan pendapatan sebesar Rp 27 triliun dan laba bersih sebesar Rp 1 triliun .

Untuk membalikkan kinerjanya, WIKA memiliki beberapa strategi sebagai berikut:

  1. Pembentukan holding hotel BUMN. Pembentukan holding hotel BUMN direncanakan akan dibagi kepada dua bagian :

a). Holding hotel BUMN ownership – yang akan dipegang oleh Wika Realty (anak usaha WIKA), dan;

b.) Holding BUMN operatorship – yang akan dipegang oleh Hotel Indonesia Natour (HIN)

Saat ini, pihak dari WIKA sendiri sedang persiapan menuju peresmian Holding Hotel BUMN yang diharapkan dapat launching 100% pada bulan Mei 2021. Saat ini, sudah ada 22 hotel yang akan masuk ke holding hotel BUMN, di mana tahap di tahap awal hotel ini saja total asset yang terkumpul diperkirakan mencapai Rp 4.7 triliun. Setelah holding hotel BUMN telah terbentuk, pihak dari WIKA akan melakukan renovasi dan upgrade terhadap hotel-hotel tersebut yang diprediksi akan selesai dalam 2 tahun, dengan harapan menjadi lebih baik setelah pandemic Covid-19 selesai.

Dengan semakin berjalannya holding hotel BUMN, diperkirakan jumlah hotel di bawah naungan holding juga akan meningkat, meningkatkan jumlah asset, dan juga dapat meningkatkan pendapatan Wika Realty (WIKA)

 

  1. Distribusi motor listrik GESITS. Salah satu anak usaha WIKA, yakni Wika Industri Manufaktur – merupakan produsen dari motor listrik merk GESITS. Dengan meningkatnya popularitas motor listrik, pihak WIKA sendiri menargetkan dapat menjual 60.000 unit motor GESITS di pasar Indonesia. Sebagai informasi, WIKA akan membangun jaringan pemasaran di 5 provinsi di Jawa dan Bali – yang di mana nantinya setiap provinsi akan memiliki tiga distributor motor listrik GESTS.

 

  1. Pembangunan Big Plant Asphalt Bitumen. Anak usaha WIKA yang lainnya, yakni PT Wika Bitumen – berencana untuk membangun pabrik ekstraksi aspal ukuran jumbo dengan nilai investasi mencapai Rp 12 triliun di tahun 2021. Investasi tersebut akan digunakan untuk membangun big extraction plant (BEP) yang memiliki kapasitas produksi sebesar 7×100.000 ton per tahun.

Sebagai informasi, pembangunan pabrik BEP ini sendiri merupakan salah satu projek hijau atau green project yang sesuai dengan persyaratan investasi dari sovereign wealth fund (SWF)-nya Indonesia atau yang lebih lumrah dikenal dengan Indonesia Investment Authority (INA). Ke depannya, PT Wika Bitumen sendiri akan menjadi perusahaan yang melengkapi bisnis darai WIKA – di mana WIKA mengekspektasikan pabrik BEP ini dapat memenuhi permintaan aspal nasional di tahun 2023.

 

  1. Divestasi asset milik WIKA: Prima Terminal Petikemas. Manajemen WIKA mengatakan bahwa perusahaannya berencana untuk melakukan divestasi kepemilikannya di Prima Terminal Petikemas dengan target mendapatkan dana segar sebesar Rp 174 miliar. Perlu Anda ketahui, WIKA memiliki kepemilikan sebesar 15% di Prima Terminal Petikemas. Ke depannya, WIKA juga akan melakukan divestasi di tahun depan, tepatnya divestasi Tol Bali (kepemilikan 0.4%) dan Citra Marga Lintas Jabar (CMLJ, kepemilikan 10%).

 

Untuk Anda yang ingin atau sedang menyusun investing plan Anda, tapi memiliki waktu yang terbatas untuk mengolah banyaknya informasi yang beredar, Anda bisa menggunakan Monthly Investing Plan edisi Mei 2021 yang akan segera terbit di sini…

 

 

  1. Investasi Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Jatiluhur. WIKA akan menjadi investor sekaligus kontraktor dalam proyek SPAM Jatiluhur I. WIKA akan melakukan Kerjasama dengan beberapa perusahaan lainnya: PT Jaya Kontstruksi Manggala Pratama Tbk (JKON) dan juga PT Tirta Gemah Ripah (TGR) dalam membangun projek tersebut – di mana ketiga perusahaan telah mendirikan perusahaan joint venture (JV) bernama PT WIKA Tirta Jaya Jatiluhur dengan kepemilikan WIKA sebesar 30%, JKON 60%, dan 10% TGR.

Total investasi pada projek ini adalah sebesar Rp 1.67 triliun – dengan tarif air minum terendah di Jakarta adalah sebesar Rp 2.799/meter kubik. Sampai sekarang masih belum banyak informasi yang diterbitkan oleh perusahaan terkait dengan rencana strategis projek ini.

 

  1. Penerbitan obligasi berkelanjutan tahap II dengan total Rp 3 triliun. WIKA telah menerbitkan Obligasi Berkelanjutan I Tahap II Tahun 2021 sebesar Rp 2,5 triliun dan Sukuk Mudhabarah Berkelanjutan I Tahap II Tahun 2021 sebesar Rp 500 miliar. Berdasarkan keterbukaan informasi, Obligasi berkelanjutan I Tahap II Tahun 2021 ini terdiri dari tiga seri yaitu, Seri A senilai Rp 495 miliar dengan tingkat bunga 8,5% dan tenor 3 tahun. Kemudian Seri B senilai Rp 745,5 miliar dengan tingkat bunga 9,1% dengan tenor 5 tahun. Sedangkan Seri C senilai Rp 1,26 triliun dengan tingkat bunga 9,75% dan tenor 5 tahun. Tanggal pelunasan untuk seri A adalah pada 3 Maret 2024, Seri B 3 Maret 2026 dan Seri C 3 Maret 2028.

Sukuk mudhabarah juga diterbitkan dalam tiga seri dengan nilai masing-masing Rp 134,3 miliar, Rp 211,6 miliar dan Rp 154,1 miliar. Bunga untuk Seri A 8,5% tenor 3 tahun, Seri B 9,1% tenor 5 tahun dan Seri C 9,75% tenor 7 tahun. Tanggal pelunasan sama dengan pelunasan obligasi yang diterbitkan bersamaan.

Penerbitan obligasi dan sukuk ini merupakan rangkaian dari penawaran umum berkelanjutan I dengan nilai yang dibidik masing-masing Rp 4 triliun dan Rp 1 triliun. Adapun penggunaan dana untuk penerbitan obligasi tahap I digunakan untuk pelunasan sebagian pokok Komodo Bond yang jatuh tempo pada Januari 2021, sedangkan sukuk tahap I digunakan untuk modal kerja proyek infrastruktur dan gedung. Sebagai informasi, DER WIKA sekarang adalah 3.76x dan gearing sebesar 1.38x.

 

Kesimpulan

Kinerja WIKA yang mengalami penurunan pada tahun 2020 lalu tidak mengejutkan, mengingat sektor konstruksi merupakan salah satu sektor yang terdampak karena adanya pembatasan sosial yang menyebabkan penundaan project sampai pembatalan projek. Pendapatan WIKA yang turun sepertiga dan laba bersih WIKA yang tinggal sepersepuluh tahun sebelumnya menjadi bukti nyata dari dampak pandemic Covid-19.

WIKA memasang target yang cukup “ambisius” di tahun 2021, yakni pendapatan yang naik ke level pre-covid (sekitar Rp 27 triliun), serta laba bersih meningkat sekitar 7x – 8x lipat dibandingkan pre-pandemi, tetapi masih turun 50% dari tahun 2019 (target laba bersih Rp 1 triliun di 2021). Untuk mencapai target tersebut, WIKA memiliki beberapa strategi bisnis antara lain: 1) Pembentukan holding hotel BUMN, 2) Meningkatkan distribusi motor listrik GESITS, 3) Pembangunan Big Plant Asphalt Bitumen, 4) Divestasi asset milik WIKA: Prima Terminal Petikemas, 5) Investasi Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Jatiluhur, dan 6) Penerbitan obligasi berkelanjutan tahap II dengan total Rp 3 triliun.

 

 

Disclaimer: Penyebutan nama saham dalam artikel ini bukan bersifat referensi, dan bukan merupakan perintah beli atau jual. Di mana setiap keuntungan dan kerugian menjadi tanggung jawab dari masing-masing pelaku pasar. So, do your our research !

 

###

 

Info:

 

Tags : Strategi WIKA untuk Meningkatkan Kinerja | Strategi WIKA untuk Meningkatkan Kinerja | Strategi WIKA untuk Meningkatkan Kinerja | Strategi WIKA untuk Meningkatkan Kinerja | Strategi WIKA untuk Meningkatkan Kinerja | Strategi WIKA untuk Meningkatkan Kinerja

You may also like

1 Comment

  • Sukmo
    April 29, 2021 at 12:03 PM

    Kalau dengan melihat kinerja di tahun-tahun sebelumnya sih not bad, akan tetapi apabila dibarengi dengan ambisi perusahaan, sebaiknya harus di analisa lebih mendalam lagi si WIKA dengan rencananya ini ..

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Rivan adalah seorang Indonesia Value Investor yang memulai investasi sejak tahun 2008 ketika berusia 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, Rivan berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Berbekal pengalamannya, Rivan saat ini menjalani profesi sebagai Full Time Investor sekaligus praktisi di pasar modal. Saat ini, Rivan aktif mengadakan workshop dan pelatihan kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko di pasar saham.

Like Us On Facebook

Facebook Pagelike Widget

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Categories

Share this Post

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami