Fundamental Perusahaan Tidak Sehat, Kenali 5 Tandanya Berikut Ini…

Fundamental Perusahaan Tidak Sehat, Kenali 5 Tandanya Berikut Ini…


Berinvestasi saham di emiten yang sehat adalah aset yang sangat bernilai. Akan tetapi untuk menemukan emiten yang sehat tidaklah mudah, dibutuhkan suatu analisis yang tak cukup hanya dengan membaca berita di media saja.  Melainkan kita memang benar-benar harus melakukan analisis lebih dalam, agar tahu apakah perusahaan yang akan dibeli itu sehat atau sebaliknya. Namun, sebelum sejauh itu, ada beberapa tanda fundamental perusahaan tidak sehat yang bisa kita jadikan acuan. Apa saja sih tanda fundamental perusahaan tidak sehat ? 

 

 

Artikel ini dipersembahkan oleh :

 

 

Perhatikan Hal Berikut, Saat Mengukur Kinerja Emiten

Bagi seorang investor, berinvestasi pada perusahaan yang sehat secara fundamental (menguntungkan) merupakan sebuah aset yang sangat bernilai.

Kendati demikian, tidak semua perusahaan sehat secara fundamental, dan biasanya perusahaan yang tidak sehat secara fundamental ini memiliki tanda-tanda yang umumnnya mudah dikenali. Dengan kita mengetahui ini, setidaknya kita bisa memutuskan apakah kita perlu melakukan analisa lebih lanjut, atau tidak.

Berikut 5 tanda fundamental perusahaan tidak sehat, yuk simak…

  1. Perusahaan Memiliki Arus Kas Positif atau Negatif

Perusahaan memiliki cash flow yang lancar dan positif merupakan hal yang harus diperhatikan investor, ada istilah bahwa ‘cashflow is king’. Karena, jika perusahaan tidak memiliki arus kas, maka bisa dikatakan perusahaan tersebut memiliki masalah dalam operasionalnya.

Keberadaan arus kas dalam suatu perusahaan menjadi sangat penting, karena perusahaan seringkali menggunakan dana kas tersebut untuk melakukan sejumlah pembayaran. Sebut saja untuk membayar dividen kepada investor, untuk membayar gaji karyawan hingga penggunaan cash flow reguler untuk pelaporan dan pembayaran pajak.

Laporan arus kas juga berguna untuk memberikan informasi berhubungan dengan penyusunan strategi keuangan di periode berikutnya. Nah, supaya lebih mudah mengerti, kita akan gunakan beberapa contoh emiten yang tercatat di Bursa Efek Indonesia, untuk kita lihat apakah perusahaan masih sehat atau tidak, bila dilihat dari cash flow yang mereka miliki. Dalam hal ini, kita ambil contoh emiten PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) …

Source : RTI Business (KRAS)

Dari contoh kasus di atas, terlihat bahawa perusahaan yang tidak sehat tergambar dari arus kas yang juga negatif dalam jangka waktu lama. KRAS sebagai salah satu perusahaan BUMN yang bergerak di industri baja, sekilas kinerja arus kas nya terus mencatatkan penurunan terhitung dari tahun 2017 sampai awal 2020 lalu.

Bahkan, KRAS juga tercatat memiliki beban utang yang melampaui kemampuan bayarnya. Tidak lain, karena KRAS memiliki permasalahan struktur utang di masa lalu.

Adapun, jika melihat laporan keuangan nya, utang KRAS tercatat mencapai US$ 1.1 miliar. Sementara utang jangka panjang pabrik baja pelat merah ini sebesar US$ 1.7 miliar, naik dari US$ 437 Juta pada Desember 2019.

Adanya permasalahan dalam pengelolaan perusahaan seperti korupsi dalam pengadaan kebutuhan barang dan peralatan di KRAS menjadi salah satu penyebabnya. Ditambah lagi, dengan tantangan persaingan antar industri baja global yang kian kompetitif, termasuk juga dengan inefisiensi di tubuh KRAS hanyalah segelintir masalah saja. Tak heran, bila KRAS sudah lama tidak meraup untung dari penjualan bajanya selama tujuh tahun terakhir.

Kondisi itu, tidak lepas dari besarnya biaya produksi baja yang masih mahal, sehingga membuat cost production KRAS juga masih tinggi. Ketika harga baja dunia turun, mau tidak mau harga baja mereka juga turun agar bisa bersaing dengan baja impor, namun cost production itu pun masih susah turun dan membuat beban KRAS semakin tinggi.

 

2. Tinjau Ekspansi Apa yang Dilakukan 5 Tahun Terakhir

Perusahaan yang sehat secara fundamental, akan selalu berupaya bagaimana caranya mereka berkembang sehingga bisa meningkatkan pangsa pasarnya. Maka dari itu mereka melakukan ekspansi bisnis. Ekspansi bisnis ini menjadi hal yang penting untuk perusahaan meningkatkan efisiensi operasional, sekaligus meningkatkan daya saing guna meraih pasar yang lebih potensial.

Ekspansi ini bisa dilakukan dalam berbagai macam cara, antara lain :

  • Ekspansi melalui merger (penggabungan), biasanya bisa dilakukan melalui merger vertical atau merger horizontal dan konglomerasi.
  • Ekspansi melalui akuisisi, guna mengembangkan bisnis di sektor baru.
  • Ekspansi melalui bisnis Joint Venture, yakni pengembangan bisnis dengan menggabungkan dua atau lebih sistem kerja.

Salah satu contoh perusahaan yang melakukan ekspansi melalui akuisisi adalah emiten yang memproduksi Indomie yaitu PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) anak usaha dari Indofood Sukses Makmur Tbk yang melakukan akuisisi Pinehill Corpora Limited dan Steele Lake Limited. Akuisisi itu dilakukan dengan maksud untuk memperluas market dan prospek di middle east yang semakin menarik, karena jumlah potensi market-nya double daripada Indonesia.

Source : market.bisnis.com

 

Contoh kedua, perusahaan yang juga berekspansi melalui akuisisi adalah PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) yang mengakuisisi dua mall milik Grup Duniatex.

 

Souce : market.bisnis.com

 

Hingga PT Astra International Tbk (ASII) yang juga melakukan akuisisi di sektor Jalan Tol pada tahun 2020 kemarin.

Source : market.bisnis.com

 

Sedangkan, untuk ekspansi bisnis Joint Venture, juga dilakukan oleh PT JAPFA Comfeed Indonesia Tbk (JPFA). Seperti yang kita tahu dalam beberapa waktu ini JPFA tengah aktif melakukan berbagai upaya seperti mengerek performa perseroan di tahun 2021 ini, terutama untuk di segmen usaha akuakultur. Melalui joint venture yang dilakukan melalui usaha patungan lewat anak usahanya JPFA – PT Suri Tani Pemuka (STP), JPFA mendirikan joint venture (JV) dengan perusahaan asal Belanda – Hendrix Genetics akuakultur BV (HGA). Di mana anak usaha JPFA ini berkongsi dengan HGA dalam pendirian pusat pembiakan udang di Indonesia.

Source : IDN Financial

 

Selain itu, juga ada PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) yang sudah selama 80 tahun berdiri, dan berdasarkan perkembangan yang ada selama 5 tahun terakhir, SIDO rupanya massif berekspansi salah satunya melalui platform belanja online. Di tahun lalu, SIDO melakukan akuisisi dan pengembangan melalui produk baru yakni herbal dalam bentuk soft gel untuk memenuhi segmen pasar milenial. Bahkan, SIDO juga mengembangkan bisnis dengan ekspor ke pasar ASEAN dan Afrika hingga persiapan ke Nigeria.

Sementara di sepanjang tahun 2020 selama pandemic, SIDO mencatatkan kinerja yang apik dengan pendapatan yang bertumbuh karena permintaan pasar yang meningkat. Setelah perseroan memutuskan fokus pada produk kesehatan, guna menjaga imunitas tubuh sesuai dengan kebutuhan konsumen di kala pandemi.

Source : Cheat Sheet RK Team 2015-2020- Revenue SIDO

 

Source : Cheat Sheet RK Team 2015-2020 – Net Profit SIDO

Anda yang memiliki keterbatasan waktu untuk bisa mengumpulkan informasi mengenai kinerja terbaru perusahaan, kini Anda bisa memanfaatkan Cheat Sheet sebagai alternatif yang dapat membantu menghemat waktu Anda untuk mengecek kinerja perusahaan yang saham nya Anda pegang. Yuk, dapatkan segera Cheat Sheet Q4 2020 yang telah terbit di sini…

 

Tak hanya itu, SIDO juga fokus pada pemulihan potensi pasar domestik ke Indonesia Timur, serta bisnis ekspor baru. SIDO juga melakukan transformasi digital melalui media sosial dan marketplace, guna mempertahankan marjin dan juga meningkatkan bisnis proses.

Dari pembahasan mengenai ekspansi ini, kita dapat melihat bahwa ekspansi ini memang sangat penting untuk dilakukan oleh perusahaan, guna memperoleh sumber pemasukan baru. Adapun, jika perusahaan tidak melakukan ekspansi maka dapat dikatakan perusahaan tersebut akan mengalami stagnan pemasukan untuk ke depannya. Tidak lain, karena kondisi pasar yang selalu berubah membutuhkan inovasi.

Maka dari itu penting bagi investor untuk memilih dan mengenal perusahaan sebelum menentukan pilihan. Di mana mengetahui secara langsung, bagaimana perkembangan bisnis suatu emiten, tak hanya melalui laman berita resmi hingga mengetahui wawancara resmi dari perwakilan perusahaan.

Nah, hal yang berkaitan erat dengan investasi ini, ketika kita menjadi investor jangka menengah atau jangka panjang sudah tentu kita akan mengikuti RUPS yang diadakan oleh perusahaan. Di mana biasanya perusahaan akan melakukan beberapa kali undangan rapat, guna membahas ekspansi bisnis dan laporan tahunan. Di momen RUPS inilah, kita juga bisa menyimak bagaimana rencana bisnis perusahaan ke depannya.

 

3. Pertumbuhan Laba Bersih Sangat Rendah

Jika perusahaan memiliki pertumbuhan sangat rendah bahkan negatif, sudah tentu Investor harus mengkaji lebih lanjut apakah perusahaan tersebut pantas untuk diinvestasikan. Jika ternyata dikarenakan hal-hal yang sifatnya force majeure seperti adanya pandemi covid-19 ini, maka hal tersebut masih dalam batas wajar.

Dalam kasus ini, kita ambil contoh emiten lain yakni Bakrie & Brother Tbk (BNBR) yang merupakan salah satu saham gocap. Adapun, jika kita melihat pada laporan keuangannya, BNBR menampilkan kinerja yang buruk dalam waktu yang lama. Jika dilihat data dari 2015-2020 maka bisa dilihat profitability mereka minus dan buruk.

Source : Cheat Sheet RK Team 2015-2020

 

Padahal, pertumbuhan Laba yang baik dari tahun ke tahun akan membantu perusahaan membiayai operasional perusahaan dalam pencapaian laba yang lebih maksimal, untuk melunasi utang yang ada, untuk investasi perusahaan serta ekspansi bisnis dimasa depan. Sayangnya, hal ini tidak terjadi pada BNBR…

Source : RTI business (BNBR)

 

Sumber data :

 

4. Perusahaan Mengurangi Jumlah Karyawan dan GCG (Good Corporate Governance)

Perusahaan yang tidak bisa mempertahankan sumber daya manusia yang berkualitas kemungkinan besar akan mengalami kegagalan dalam hal manajemen. Meninjau bagaimana GCG sebuah perusahaan sangat penting, maka pengaplikasian Good Corporate Governance secara penuh, tepat dan utuh dapat memberikan banyak sekali manfaat, baik itu bagi karyawannya dan juga bagi perusahaan itu sendiri.

Bagaimana kondisi lingkungan dan budaya sebuah perusahaan sangat mempengaruhi kinerja tim. GCG juga penting guna menghindari KKN atau yang sering kita kenal dengan istilah korupsi, kolusi dan nepotisme, sebagaimana kita tahu itu adalah salah satu faktor penghambat dari kemajuan suatu perusahaan.

Selanjutnya, GCG juga berpengaruh pada turnover pada karyawan, turnover merupakan istilah lain untuk pindah kerja pada karyawan atau ‘karyawan yang tidak betah’, misalnya baru 1-2 tahun bekerja sudah ingin berhenti dan pindah dari pekerjaannya. Tentu saja hal ini dapat merugikan pihak perusahaan.

Namun demikian, dengan penerapan konsep good corporate governance, intensi karyawan dalam melakukan turnover ini dapat ditekan dan diminimalkan. Hal ini karena good corporate governance dapat meningkatkan kualitas pekerjaan dan membuat karyawan menjadi lebih betah berada dalam perusahaan tersebut.

Dan salah satu perusahaan yang dikenal memiliki kualitas GCG yang baik adalah PT Adaro Energy (ADRO). Bukti keberhasilan Adaro dalam melakukan strategi integrasi vertikal yang dikombinasikan dengan menerapkan prinsip-prinsip Operational Excellence. Sebagai informasi saja, di dalam grup Adaro, walk the talk adalah bagian penting dalam penerapan konsep Operational Excellence (OpEx). Di mana, para direksi hingga CEO – Boy Tohir menggunakan penerbangan ekonomi menuju lokasi tambang di Kalimantan. Para pemimpin di Adaro selalu bicara tentang pentingnya efisiensi, ini semua berkat kontribusi dari walk the talk.

Jadi, ketika sebuah perusahaan mengalami penurunan kinerja bisa terlihat dari perputaran karyawannya, bagaimana perusahaan memperlakukan buruh pabriknya, bagaimana perusahaan mengurangi jumlah karyawan tanpa alasan yang jelas, apakah itu karena pergantian tenaga manusia menjadi mesin, atau ada alasan diluar itu. Jika demikian, maka perusahaan tersebut perlu di analisa lebih lanjut.

 

5. Market Share Menurun Akibat Kompetitor

Memperhatikan seberapa besar market share yang dimiliki perusahaan di market juga harus diperhatikan investor. Jangan sampai perusahaan yang kita investasikan, secara market share ke balap oleh kompetitor. Hal ini karena, market share penting bagi sebuah perusahaan untuk mengetahui data permintaan. Market share ini nantinya digunakan untuk mencari strategi bisnis atau pemasaran dalam periode berikutnya.

Jika dicontohkan satu emiten untuk hal ini ada PT HM Sampoerna Tbk. (HMSP) yang menjalani lini industri tembakau di Indonesia, dengan merek-merek terkenal yakni Marlboro yang juga disebut sebagai Market Leader untuk industri rokok sigaret, memiliki produk tembakau iris yang berbeda dengan rokok pada umumnya.

Nah, yang jadi permasalahan HMSP sebagai perseroan pemimpin pasar rokok Indonesia dengan pangsa pasar sebesar 32.2% pada tahun 2019. Harus menelan pil pahit karena menurunnya market share HMSP di tahun 2020, dengan penurunan hingga 19.3%.

Source : market.bisnis.com

Di saat yang sama, HMSP juga harus menghadapi pemain baru yang siap bersaing menawarkan rangkaian produk lebih menarik dengan harga yang lebih murah yakni PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM) yang juga meramaikan pasar rokok.

Meski skala usaha WIIM jauh lebih kecil, dibandingkan dengan HM Sampoerna (HMSP) dan PT Gudang Garam (GGRM). Namun kinerja WIIM tergolong baik, lantaran penjualan dari segmen sigaret kretek mesin lokal berkontribusi paling besar bagi WIIM.

Source : Cheat Sheet RK Team 2015-2020

 

Kesimpulan

Dari kelima tanda di atas, setidaknya kita sudah bisa mengetahui kinerja suatu emiten. Mulai dari prospek bisnis sebuah emiten yang bisa terlihat dari ekspansi bisnis, kemampuan beradaptasi sehingga mampu bertahan. Tak sedikit juga, perusahaan yang mendiversifikasi bisnis usaha untuk menghindari kerugian di satu jenis lini usaha.

Hal-hal tersebut memang selayaknya dilakukan, apalagi di tengah kondisi yang tidak stabil seperti sekarang. Di mana tantangan datang dari dalam dan luar perusahaan, namun dengan banyaknya tantangan akan banyak pula peluang yang masih terbuka untuk perusahaan. Jadi, sebaiknya kenali lagi 5 tanda di atas pada perusahaan sebelum memutuskan berinvestasi…

 

Sumber Referensi:

  • Meisya Ghita Putri. 19 Februari 2021. Ketahui Hal-hal Ini Saat Mengukur Kinerja Sebuah Emiten. https://www.finansialku.com/ketahui-hal-hal-ini-saat-mengukur-kinerja-sebuah-emiten/

 

###

 

Info:

Tags : Fundamental Perusahaan Tidak Sehat | Fundamental Perusahaan Tidak Sehat | Fundamental Perusahaan Tidak Sehat | Fundamental Perusahaan Tidak Sehat | Fundamental Perusahaan Tidak Sehat | Fundamental Perusahaan Tidak Sehat | Fundamental Perusahaan Tidak Sehat

You may also like

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Rivan adalah seorang Indonesia Value Investor yang memulai investasi sejak tahun 2008 ketika berusia 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, Rivan berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Berbekal pengalamannya, Rivan saat ini menjalani profesi sebagai Full Time Investor sekaligus praktisi di pasar modal. Saat ini, Rivan aktif mengadakan workshop dan pelatihan kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko di pasar saham.

Like Us On Facebook

Facebook Pagelike Widget

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Categories

Share this Post

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami

Translate »
error: Content is protected !!