Lays, Cheetos, dan Doritos Ditarik dari Pasar hingga 3 Tahun ke Depan, Ada Apa ?

Lays, Cheetos, dan Doritos Ditarik dari Pasar hingga 3 Tahun ke Depan, Ada Apa ?


Baru-baru ini tersiar kabar yang cukup heboh di media sosial, di mana salah tiga camilan yang terkenal di pasaran – Lays, Cheetos, dan Doritos – dikabarkan akan ditarik dari pasar hingga tiga tahun ke depan. Ketiga camilan tersebut adalah produk yang diproduksi karena ada lisensi dari PT Indofood Fritolay Makmur (IFL) dan PepsiCo, di mana saham IFL sendiri telah dibeli oleh PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) yang sekarang menguasai 99.99% kepemilikan. Ada apa dengan transaksi ini dan bagaimana prospek ICBP ke depannya ?

 

Kronologis ICBP Membeli Saham IFL

IFL merupakan perusahaan joint venture yang didirikan oleh ICBP dan Fritolay Netherlands Holding B.V (anak usaha PepsiCo.) pada tahun 1990, di mana ICBP merupakan pemegang saham utama sebesar 51% dan Fritolay memegang 49%. Selama kurang lebih 30 tahun terakhir, Fritolay memiliki perjanjian lisensi dengan PepsiCo. selaku pemegang lisensi untuk camilan seperti Lay’s, Doritos, dan Cheetos. Dengan begitu, ICBP selaku pemegang saham Fritolay dapat menjual ketiga produk tersebut di Indonesia.

Source : alfacart.com

Melalui keterbukaan informasi pada tanggal 17 Februari 2021, ICBP mengeluarkan press release dan mengirim surat ke Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tentang transaksi yang dilakukan oleh ICBP. Diterangkan dalam press release tersebut bahwa IFL akan menyelesaikan perjanjian lisensi dengan PepsiCo. setelah IFL selesai menutup proses produksi dan penjualan di Indonesia yang akan memakan waktu 6 bulan, sebuah kebetulan yang unik, mengingat hal tersebut berarti bahwa produk Lay’s, Doritos, dan Cheetos akan mulai berhenti diproduksi di Indonesia pada hari peringatan kemerdekaan Indonesia di 17 Agustus 2021 nanti.

Di luar persiapan 6 bulan tersebut, transaksi pembelian saham IFL ini juga menyebabkan PepsiCo. maupun Fritolay untuk tidak menjual produk camilan maupun makanan ringan serupa selama tiga tahun ke depan. Tetapi alasannya tidak dijelaskan di dalam press release yang diterbitkan oleh ICBP. Dampak dari transaksi jual beli ini adalah: kepemilikan ICBP terhadap saham IFL meningkat dari 51% menjadi 99.99%.

 

 

Ikuti Stock Market Mastery (Februari – Maret 2021) dapat dilihat di sini.

 

 

 

Kontribusi IFL terhadap kinerja ICBP

Sekilas tentang bisnis ICBP :

  • ICBP merupakan salah satu pemain di industry consumer goods terbesar di Indonesia yang menjual 6 segmen produk: mie, susu, camilan, penyedap makanan, makanan bernutrisi, dan minuman.
  • Kontribusi penjualan terhadap total pendapatan terbesar secara berurutan: 1) Mie (65%), 2) Susu (18%), 3) Camilan (6%), 4) Penyedap makanan (5%), 5) Makanan bernutrisi (3%), 6) Minuman (3%).

Kontribusi Penjualan ICBP Berdasarkan Produk per 9M20. Source : LK ICBP 9M20, diolah

 

Dari sini, dapat Anda perhatikan bahwa kontribusi terbesar terhadap kinerja ICBP adalah Divisi Mie yang berkontribusi sekitar dua-per-tiga dari total pendapatan perusahaan. Sedangkan Camilan, divisi yang dinahkodai oleh IFL, “hanya” berkontribusi sekitar 6% dari total pendapatan. Dari sini kita dapat melihat bahwa dampak yang akan terjadi di divisi ini tidak akan berdampak terlalu signifikan terhadap kinerja ICBP secara keseluruhan. Meskipun tentu saja, ke depannya masih tergantung dengan inovasi macam apa yang akan dilakukan oleh ICBP di masa depan.

 

  • Memiliki pangsa pasar sampai ke Afrika dan Timur Tengah

ICBP memiliki pangsa pasar yang sangat luas sampai ke Afrika dan Timur Tengah, meskipun kontribusi penjualan terbesar masih dikuasai di Indonesia (86% terhadap total penjualan). ICBP juga baru saja mengakuisisi Pinehill, yang nantinya akan mempertajam penetrasi penjualan ICBP ke negara-negara di Afrika dan Timur Tengah.

Berkenaan dengan ini, kita pernah membuat analisis terhadap prospek akuisisi Pinehill, Anda dapat melihatnya secara langsung di sini…

[Baca lagi : ICBP Akuisisi Pinehill Rp 44 Triliun, Untung atau Buntung ?]

 

 

Berikut adalah kontribusi Penjualan ICBP :

Kontribusi Penjualan ICBP Berdasarkan Geografis per 9M20. Source : LK ICBP 9M20, diolah

 

Pinehill sendiri memiliki pangsa pasar utama di area Afrika dan Timur Tengah seperti Nigeria, Turki, Saudi Arabia, Kenya, dan sekitarnya. Dengan ICBP memiliki saham dari Pinehill, maka ada kemungkinan kita akan melihat bahwa kontribusi pendapatan dari Timur Tengah dan Afrika mengalami peningkatan dalam beberapa waktu ke depan.

Daerah Operasional Pinehill. Source : Pinehill Data

 

Dampak pembelian IFL ke ICBP

Telah dibahas sebelumnya bahwa kinerja divisi snack ke pendapatan ICBP tidak terlalu massif, yang hanya sekitar 6% dari total pendapatan perusahaan. Dengan aksi korporasi ICBP yang membeli keseluruhan saham IFL, tentu ini adalah hal yang normal, apabila kita mengestimasikan bahwa kontribusi pendapatan dari snack meningkat 2x lipat juga, kurang lebih setara dengan jumlah peningkatan kepemilikan saham ICBP.

Tapi, perlu diperhatikan bahwa hal tersebut dengan mengestimasikan kondisi ceteris paribus (faktor lain masih sama). Tetapi, kenyataannya adalah kondisi yang terjadi setelah ICBP membeli saham IFL menjadi tidak sama karena produk-produk yang dijual oleh IFL tidak akan dijual lagi.

Top Brand Index Lays & Cheetos. Source : Top Brand Index

 

Pada data di atas, dapat dilihat bahwa dua dari tiga brand yang nantinya tidak akan dijual lagi oleh IFL adalah Lays dan Cheetos, yang berada dalam jajaran top snacks di masing-masing segmennya (Lays berada di bawah Chitato yang notabene produk dari ICBP juga, dan Cheetos menguasai segmen pasar snack jagung). Dari sini ktia dapat melihat bahwa dampak dari penjualan dua snack yang menguasai pasar ini akan cukup berdampak negatif terhadap kinerja perusahaan. Tetapi, dengan adanya akuisisi 100% saham IFL, artinya ICBP juga akan memiliki 100% kapasitas produksi dari IFL yang memiliki kapasitas 50.000 ton per tahun.

Setidaknya kita melihat, pendapatan ICBP di divisi snack akan mengalami penurunan dalam jangka pendek, tetapi memiliki potensi untuk meningkat dalam jangka panjang. Hal ini disebabkan karena meskipun ICBP memiliki 100% kepemilikan IFL, namun kita melihat masih diperlukan waktu bagi ICBP untuk membuat produk baru. Atau pun bahkan, mengambil lisensi dan menjual  produk baru, yang dapat menggantikan peran dari ketiga produk snack sebelumnya.

Apabila ICBP berhasil membuat ataupun mengadopsi produk baru yang menarik dan dapat mendapatkan market share untuk dijual di Indonesia. Maka tentu saja ada potensi pendapatan dari divisi snack akan meningkat dan dapat meningkatkan kontribusi pendapatannya terhadap total pendapatan perusahaan.

 

Kesimpulan

Tiga camilan yang terkenal di pasaran – Lays, Cheetos, dan Doritos – dikabarkan akan ditarik dari pasar hingga tiga tahun ke depan, dimulai dari 17 Agustus 2021 ini. Lays adalah snack kentang paling “terkenal” nomor dua di Indonesia. Sedangkan Cheetos adalah snack jagung nomor 1 di Indonesia, berdasarkan survei oleh Top Brand Index.

Meskipun demikian, ICBP yang memiliki 6 divisi pendapatan, tetapi snack hanya berkontribusi sebesar 6% dari total pendapatan. Sehingga memang kontribusi dari divisi snack tidak terlalu signifikan terhadap total kinerja pendapatan, berbeda dengan divisi mie yang memiliki kontribusi hingga sebesar 66% kontribusi terhadap total pendapatan.

Dengan dibelinya keseluruhan saham IFL oleh ICBP, maka ke depannya 100% pendapatan dari IFL akan dimasukkan ke pendapatan ICBP, dan juga bahwa ICBP akan tetap memiliki fasilitas produksi snack sebesar 50.000 ton di daerah Jawa. Kita melihat, setelah ketiga produk dari IFL tersebut ditarik dari pasaran, pendapatan dari divisi snack akan mengalami penurunan. Tetapi tidak menutup kemungkinan juga bahwa di masa depan ICBP akan mengeluarkan inovasi baru maupun mengambil lisensi produk baru yang dapat dijual di Indonesia dan dapat menggantikan kontribusi penjualan dari Lays, Cheetos, maupun Doritos.

 

 

Untuk Anda yang ingin atau sedang menyusun investing plan Anda, tapi memiliki waktu yang terbatas untuk mengolah banyaknya informasi yang beredar, Anda bisa menggunakan Monthly Investing Plan edisi Maret 2021 yang telah terbit…

 

###

 

Info:

 

 

Tags : Lays Cheetos dan Doritos | Lays Cheetos dan Doritos | Lays Cheetos dan Doritos | Lays Cheetos dan Doritos | Lays Cheetos dan Doritos | Lays Cheetos dan Doritos | Lays Cheetos dan Doritos | Lays Cheetos dan Doritos | Lays Cheetos dan Doritos | Lays Cheetos dan Doritos | Lays Cheetos dan Doritos | Lays Cheetos dan Doritos

You may also like

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Rivan adalah seorang Indonesia Value Investor yang memulai investasi sejak tahun 2008 ketika berusia 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, Rivan berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Berbekal pengalamannya, Rivan saat ini menjalani profesi sebagai Full Time Investor sekaligus praktisi di pasar modal. Saat ini, Rivan aktif mengadakan workshop dan pelatihan kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko di pasar saham.

Like Us On Facebook

Facebook Pagelike Widget

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Categories

Share this Post

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami