‘Bullish’ dan ‘Bearish’ dalam Pasar Saham, Apa Maksudnya ?

‘Bullish’ dan ‘Bearish’ dalam Pasar Saham, Apa Maksudnya ?


Terjun ke dalam dunia investasi bukan perkara mudah, terlebih lagi memutuskan untuk berinvestasi pada instrumen saham. Di mana kita akan sering menjumpai istilah-istilah baru yang bahkan mungkin tidak pernah kita dengar sebelumnya. Jelas hal ini menjadi tantangan tersendiri untuk kita, selain daripada mempersiapkan modal investasi. Nah, dari sekian banyak istilah, ada dua istilah khusus ‘bullish’ dan ‘bearish’ yang sering digunakan investor dalam menggambarkan kondisi atau tren di pasar modal. Jadi, apa sebenarnya maksud istilah ‘bullish’ dan ‘bearish’ ?

 

Awal Mula Istilah ‘Bullish’ dan ‘Bearish’

Setiap industri memiliki istilah-istilah khusus (jargon) yang senantiasa digunakan oleh para pelakunya. Istilah-istilah tersebut menjadi bahasa khusus dalam suatu industri. Demikian halnya dengan pasar modal Indonesia yang memiliki banyak istilah-istilah, salah satunya adalah istilah ‘bullish’ dan ‘bearish’ yang sering digunakan investor dalam memaparkan kondisi pasar modal di waktu tertentu, khususnya pergerakan harga saham. Perlu kita tahu, pasar modal memang kerap memakai istilah-istilah asing.

Sebenarnya, jika dilihat berdasarkan pergerakan cukup beralasan mengapa kedua istilah tersebut digunakan. Di mana seekor banteng (bull) bergerak menyerang dengan cara menyerbu cepat dan mengangkat tanduk dikepalanya ke atas guna menusuk targetnya, pergerakan bull tersebut menggambarkan kondisi pasar yang tengah mengalami tren naik atau penguatan alias bullish. Sedangkan seekor beruang (bear), akan menyerang menggunakan cakarnya dengan gerakan dari atas ke bawah, menggambarkan kondisi pasar ketika terjadi banyak penjualan yang membuat pasar mengalami penurunan atau melemah alias bearish.

Dari filosofi pergerakan ‘bull’ dan ‘bear’ tersebut, maka tidak heran di setiap Bursa Efek negara mana pun akan ada patung ‘bull’ dan ‘bear’ yang dipajang di teras gedung Bursa Efek terkait. Menariknya, sebagian besar Bursa Efek dunia yang menjadi wasit pasar modal lebih memilih untuk memajang patung banteng sebagai landmark, dengan maksud bahwa indeks saham di negara mereka selalu mengalami penguatan alias ‘bullish’.

Maksud Istilah ‘Bullish’ dan ‘Bearish’

‘Bullish’ merupakan istilah yang memaparkan kondisi pasar saham sedang mengalami tren naik atau menguat secara berkelanjutan dalam jangka waktu tertentu. Kenaikan pasar saham ini bisa dipengaruhi oleh kondisi perekonomian suatu negara, bahkan di seluruh dunia yang tengah mengalami pertumbuhan ekonomi secara postif. Diikuti pula dengan sektor usaha dan bisnis yang berkembang, lalu tingkat pendapatan perkapita yang juga meningkat. Termasuk pula dengan pertumbuhan laba industri dan berbagai faktor lainnya. Tak hanya itu, bullish pasar saham juga bisa terjadi karena jumlah pembeli yang lebih mendominasi daripada penjual. Nah, istilah ‘bullish’ ini juga dikenal sebagai ‘bull market’ yang sering diartikan bahwa pasar sedang mengalami uptrend. Adapun dalam grafik kondisi bullish ini biasanya ditandai dengan warna hijau.

Dengan pasar yang sedang mengalami bullish, setidaknya kita bisa menangkap suatu kondisi yang mengindikasikan : 1) Mayoritas investor sedang optimis, 2) Indeks pasar mengalami peningkatan rata-rata sebesar 20%.

 

Kondisi sebaliknya dari pasar yang bullish adalah kondisi bearish. ‘Bearish’ merupakan istilah yang memaparkan kondisi pasar saham sedang mengalami tren turun atau melemah, yang ditunjukkan dengan turunnya indeks harga saham global secara keseluruhan. Uniknya dalam tren bearish ini, kondisi yang semula hanya berupa prediksi justru bisa berubah menjadi kenyataan. Hal ini terjadi akibat reaksi berlebihan dari para investor, seperti ‘panic selling’ sehingga dengan mudah menular ke investor lain untuk ikut-ikutan menjual sahamnya. Dilihat dari penyebabnya, penurunan pasar saham ini dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi yang melambat, terkadang juga diikuti oleh bertambahnya angka pengangguran, defisit neraca perdagangan. Termasuk juga dengan laba industri yang negatif dan faktor lainnya. Dan ketika, pasar sedang bearish itu artinya pasar sedang mengalami downtrend. Biasanya kondisi bearish ini akan ditandai dengan warna merah.

Pasar yang sedang mengalami bearish, juga secara langsung sudah menunjukkan kepada kita bahwa : 1) Mayoritas investor cenderung bersikap hati-hati atau pesimis, terhadap kondisi perekonomia yang melemah, 2) Indeks pasar mengalami penurunan rata-rata sekitar 20%.

 

Dan terlepas dari istilah bullish dan bearish, terdapat satu istilah lain yakni ‘sideways’ yang juga seringkali dipakai untuk menggambarkan kondisi pasar saham tengah datar (flat) karena adanya keraguan dalam investor. Pergerakan sideways ini biasanya cenderung bergerak stabil, tidak naik dan juga tidak turun, karena dipengaruhi oleh bullish dan bearish yang sama-sama kuat. Sayangnya, jika pasar tengah sideways, kita tidak bisa dengan mudah membuat keputusan. Mengingat tidak ada yang tahu setelah sideways, apakah naik atau justru tambah anjlok. Oleh karenanya, jika indeks saham sedang sideways biasanya investor akan lebih wait and see hingga rebound kembali.

 

 

Ikuti Stock Market Mastery (Februari – Maret 2021) dapat dilihat di sini.

 

 

 

Nah, untuk melengkapi pembahasan di atas, dalam artikel lainnya, kita sudah pernah membahas mengenai pasar modal yang mengalami bearish. Di mana kondisi bearish ini sendiri sama sekali tidak bisa dihindari oleh seluruh pelaku pasar, artinya memang kita harus mempersiapkan diri untuk menyikapi kondisi bearish dengan tepat…

[Baca lagi : Tips Berinvestasi saat Market Bearish]

 

 

Bagaimana Investor Jangka Panjang Menyikapi Bullish dan Bearish ?

Terjadinya bullish dan bearish di pasar modal menjadi hal mutlak yang tidak bisa dihindari oleh pelaku pasar manapun. Meski begitu akan ada pelajaran penting yang bisa dipetik, terlebih lagi setelah kondisi bearish terjadi pasti akan diikuti dengan kenaikan harga-harga saham yang tinggi. Dan kita sebagai investor jangka panjang, seharusnya tidak mudah terganggu atau bahkan terlalu mengkhawatirkan kondisi pasar yang sedang bearish. Pasalnya sudah pasti dalam jangka panjang kinerja pasar lambat laun pasti akan mengalami kenaikan. Sebagai gambarannya kita bisa melihat kinerja IHSG dalam 10 tahun terakhir (terhitung dari tahun 2010 – 2020 kemarin)…

Kinerja IHSG 10 Tahun Terakhir
Tahun Nilai IHSG Akhir Tahun
2010 3.703.51
2011 3.821.99
2012 4.316.69
2013 4.274.18
2014 5.226.95
2015 4.593.01
2016 5.296.71
2017 6.355.65
2018 6.194.50
2019 6.299.54
2020 5.979.07

Source : IDX diolah dan Wikipedia

 

Dengan begitu, kita sebagai investor sebaiknya tidak perlu panik, khawatir, atau bahkan cemas berlebihan, selama time frame investasi kita adalah jangka panjang dan mendasarkan pilihan saham hanya pada perusahaan-perusahaan yang memiliki fundamental bagus. Adapun sebaliknya, kita sebagai investor bisa memanfaatkannya untuk mendapatkan harga-harga saham yang lebih murah. Apalagi pergerakan harga saham ini sangat beragam faktor penggeraknya, salah satunya kebijakan pemerintah…

[Baca lagi : Kebijakan Pemerintah Mampu Menggerakkan Harga Saham. Lho Bagaimana Bisa ?]

 

 

 

Kesimpulan

Dari pembahasan di atas, setidaknya kini kita lebih memahami apa itu ‘bullish’ dan ‘bearish’ sebagai pedoman dalam membaca pergerakan pasar secara real time. Dan tak hanya itu, istilah lain yang juga ada dalam aktivitas pasar modal adalah ‘sideways’. Jika dijabarkan secara sederhana, maka :

Bullish = Naik (uptrend), Bearish = Turun (downtrend), dan Sideways = Datar (Stagnan). Di mana istilah-istilah tersebut kerap digunakan pelaku pasar untuk menggambarkan kondisi pasar atau pun tren pergerakan saham dalam waktu tertentu.

Meski istilah bullish dan bearish digunakan sebagai gambara kondisi pasar, namun ada baiknya kita sebagai investor tidak mudah terpengaruh oleh kondisi pasar yang cenderung berfluktuasi dalam jangka pendek. Mengingat dalam jangka panjang pasar akan terus bertumbuh, apalagi tujuan investasi adalah jangka panjang dan berprinsip pada fundamental perusahaan yang baik.

 

 

Anda yang memiliki keterbatasan waktu untuk bisa mengumpulkan informasi mengenai kinerja terbaru perusahaan, kini Anda bisa memanfaatkan Cheat Sheet sebagai alternatif yang dapat membantu menghemat waktu Anda untuk mengecek kinerja perusahaan yang saham nya Anda pegang. Yuk, dapatkan segera Cheat Sheet Q3 2020 di sini…

 

###

 

Info:

 

 

Tags : Bullish dan Bearish | Bullish dan Bearish | Bullish dan Bearish | Bullish dan Bearish | Bullish dan Bearish | Bullish dan Bearish | Bullish dan Bearish | Bullish dan Bearish | Bullish dan Bearish | Bullish dan Bearish | Bullish dan Bearish | Bullish dan Bearish | Bullish dan Bearish | Bullish dan Bearish

You may also like

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Rivan adalah seorang Indonesia Value Investor yang memulai investasi sejak tahun 2008 ketika berusia 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, Rivan berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Berbekal pengalamannya, Rivan saat ini menjalani profesi sebagai Full Time Investor sekaligus praktisi di pasar modal. Saat ini, Rivan aktif mengadakan workshop dan pelatihan kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko di pasar saham.

Like Us On Facebook

Facebook Pagelike Widget

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Categories

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami