12 BUMN Akan IPO, Apakah ini Akan Menguntungkan ?

12 BUMN Akan IPO, Apakah ini Akan Menguntungkan ?


Menteri BUMN – Eric Thohir belum lama ini menyatakan, bahwa ada sejumlah anak dan cucu perusahaan BUMN yang akan melakukan IPO (Initial Public Offering) di BEI. Disebutkan setidaknya ada 8 hingga 12 perusahaan BUMN yang diklaim sudah siap untuk melaksanakan IPO, terhitung dalam satu sampai tiga tahun ke depan (di 2023). Pernyataan Menteri BUMN ini pun disambut positif oleh pelaku pasar, lantaran dinilai menjadi angin segar bagi pasar modal Indonesia. Lantas, benarkah ada 12 BUMN yang dimaksud akan IPO ? Apakah ini akan menguntungkan ?

 

Rencana 12 BUMN Akan IPO

Belum lama ini Menteri BUMN – Erick Thohir menyampaikan, bahwa akan ada 8 – 12 perusahaan BUMN yang akan melantai (IPO/Initial Public Offerring), baik itu untuk induk usaha, anak usaha, hingga cucu perusahaan. Di mana dalam aksi go public BUMN ini, Pemerintah juga tidak sembarangan mendorong perusahaan BUMN untuk melantai ke BEI. Itu artinya, hanya saham perusahaan yang berfundamental baik dan berkesinambungan saja yang akan didorong masuk ke pasar modal Indonesia, sehingga ketika dijual lebih jelas dan bisa ‘menarik minat investor’.

Seperti yang kita tahu, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) merupakan badan usaha yang seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki negara melalui penyertaan secara langsung, yang berasal dari kekayaan negara. Keberadaan BUMN ini telah diatur dalam UU No. 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara. BUMN sendiri di Indonesia berperan sebagai pelaku kegiatan ekonomi dalam perekonomian nasional, sekaligus memberikan kontribusi bagi pendapatan negara.

Dari peran penting BUMN tersebut, Erick Thohir pun memiliki tolok ukur yang dapat mendukung BUMN IPO mulai dari model bisnis yang dijalankan, strategi jangka panjang perusahaan BUMN, dan mempunyai roadmap perkembangan bisnis yang jelas. Tolok ukur ini akan mendukung perusahaan BUMN terlibat dalam pengembangan industri yang baru, seperti industri baterai mobil listrik maupun industri teknologi digital.

Bila dilihat dari tujuannya, bisa dikatakan rencana Kementerian BUMN – Erick Thohir yang mendorong perusahaan BUMN IPO adalah agar perusahaan BUMN bisa melakukan transformasi secara baik. Terutamanya dari sisi transparansi dan juga Good Corporate Governance (GCG) yang baik. Sehingga ke depannya BUMN ini bisa bersaing di pasar global, bukan hanya melalui akuisisi perusahaan lain. Kementerian BUMN juga menilai bahwa dengan BUMN IPO nantinya akan diminati oleh pelaku pasar. Hal ini mempertimbangkan dua kondisi, yakni saham-saham BUMN memang lebih dipercaya oleh publik, dan BUMN ini juga lebih dikenal karena punya pemerintah. Optimisme Kementerian BUMN ini bukanlah tanpa alasan. Mengingat hingga saat ini, saham dengan market cap terbesar rata-rata didominasi oleh perusahaan yang berasal dari BUMN. Sebut saja di antaranya Bank Mandiri, Bank BRI, dan Bank BNI. Termasuk pula dengan Telkom, Perusahaan Gas Negara, Semen Indonesia, Wikaya Karya, Waskita Karya, hingga PT PP.

Terlepas dari wacana BUMN IPO, nampaknya hal ini sudah tidak lagi asing di telinga kita, mengingat sejak masa jabatan Erick Thohir di kursi Kementerian BUMN di mulai, ia memang sudah membuat sejumlah perubahan baru…

[Baca lagi : Gebrakan Erick Thohir dan Dampaknya terhadap Perusahaan BUMN ke Depan]

 

 

BUMN yang Dinyatakan Siap IPO

Seperti yang disebutkan bahwa IPO ini akan terbuka untuk perusahaan BUMN baik itu induk usaha, anak usaha, hingga cucu usaha. Beberapa di antaranya adalah :

  • IPO anak-anak usaha BUMN

Mulai dari BUMN Karya seperti PT Adhi Karya Tbk (ADHI), yang sudah merencanakan IPO beberapa anak usaha sejak tahun 2019 meliputi : PT Adhi Persada Gedung (APG), PT Adhi Commuter Properti (ACP), PT Adhi Persada Beton (APB). Demikian pula dengan PT Hutama Karya Tbk yang juga tengah mempersiapkan ketiga anak usahanya untuk IPO : PT HK Infrastruktur (HKI), PT HK Realtindo (HKR), dan PT Hakaaston (HKA).

Rencana serupa juga sudah lama digaungkan oleh PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), yang berencana mendorong anak usaha PT Wijaya Karya Realty untuk IPO di tahun 2020 dan harus tertunda akibat pandemi. Disusul kemudian dengan rencana IPO anak usaha lain seperti PT Wijaya Karya Industri dan Konstruksi (Wikon). Hal yang sama juga akan dilakukan oleh PT PP Tbk (PTPP) yang juga akan membawa PT PP Infrastruktur masuk ke BEI paling lambat pada tahun 2022 nanti, melalui IPO itu rencananya PT PP akan melepas sekitar 30% kepemilikaan di PP Infrastruktur untuk menargetkan dana segar sekitar Rp 1.2 triliun – Rp 1.3 triliun.

Di lain sisi, perusahaan BUMN operator jalan tol PT Jasa Marga Tbk (JSMR), juga akan membawa anak usaha yang bergerak di sektor non-tol PT Jasamarga Related Business (JMRB) untuk IPO pada tahun 2023 mendatang, lantaran rencana ini masuk ke dalam rencana jangka panjang Jasa Marga.

Selain itu, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) pun turut mendorong anak usaha PT Dayamitra Telekomunikasi (Mitratel) untuk IPO. Diketahui dalam waktu dekat ini, Telkom akan melakukan spin off terhadap beberapa anak usaha, guna mempercepat anak usaha mencatatkan saham perdana di BEI paling lambat per kuartal terakhir tahun ini (Kuartal IV-2021 – paruh pertama tahun 2022 mendatang). Dan bukan anak usaha saja, cucu usaha Telkom yakni PT Fintek Karya Nusantara (LinkAja) juga tengah dipersiapkan untuk IPO yang ditargetkan bisa dilaksanakan pada tahun 2022 nanti.

Berikutnya juga ada PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) yang berencana membawa beberapa anak usaha untuk IPO, dari sekitar 5 anak usaha yang ada, KRAS lebih potensial mendorong PT Krakatau Tirta Industri (KTI) dan PT Krakatau Bandar Samudera (KBS) yang ditarget realisasi IPO di tahun ini. Sedikit informasi mengenai IPO anak usaha KRAS ini, KTI digadang-gadang sudah sangat siap IPO, ditambah lagi dengan profitabilitas yang baik.

Adapun dari sektor lain, seperti PT Pelabuhan Indonesia II Tbk (IPCC) juga tengah mempertimbangkan rencana pelepasan saham dua anak usaha melalui IPO, yakni PT Pelabuhan Tanjung Priok dan PT IPC Terminal Petikemas. Demikian halnya dengan PT Pertamina Tbk yang juga berencana mendorong anak usaha untuk IPO, targetnya direalisasikan pada kuartal III – IV 2021 ini, guna meningkatkan transparansi dan profesionalitas dari unit usaha Pertamina.

 

 

Ikuti Stock Market Mastery (Februari – Maret 2021) dapat dilihat di sini.

 

 

  • IPO induk usaha BUMN

Beberapa nama induk usaha BUMN juga diketahui tengah bersiap IPO, di antaranya..

PT Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (ASDP) Indonesia Ferry Tbk yang telah mengantongi ijin dari para pemegang saham untuk mencari pendanaan melalui pasar modal. Rencanana akan direalisasikan pada awal tahun 2022 mendatang.

PT Brantas Abipraya Tbk juga tengah mematangkan rencana IPO yang sudah diwacanakan sejak tahun 2018. Namun Kementerian BUMN tak kunjung memberi izin kepada PT Brantas Abipraya, sehingga rencana IPO terus mundur hingga tahun ini. Adapun dana segar yang ditargetkan melalui IPO ini adalah sekitar Rp 3 triliun untuk modal ekspansi perusahaan.

 

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat terlihat bahwa target utama IPO adalah mendapatkan dana segar. Jadi, tak heran jika belakangan semakin banyak perusahaan BUMN yang mempersiapkan diri untuk IPO di BEI, lantaran IPO akan memperluas struktur pendanaan perusahaan BUMN, dibandingkan selama menjadi perusahaan yang berstatus Perseroan Tertutup (PT).

 

Apakah IPO Menjamin Kinerja BUMN akan Positif ?

Namun apakah IPO yang dilakukan perusahaan BUMN dapat menjamin kinerja BUMN selalu positif ?

Melihat tujuan BUMN IPO, tentu kita mengharapkan adanya perubahan prospek ke arah yang lebih baik. Sayangnya, harapan tersebut tidak selalu mulus. Dalam beberapa kasus yang pernah terjadi terhadap perusahaan BUMN yang sudah IPO, justru harus mengalami kesulitan dalam perkembangannya. Sebut saja di antaranya, ada GIAA yang sudah mengalami krisis jauh sebelum pandemi Covid-19 merebak, hingga masuk pada masa PSBB yang mengakibatkan kinerja maskapai milik BUMN semakin tertekan. Di waktu yang sama, perusahaan BUMN lain yang seperti KRAS juga dihadapkan pada situasi serupa, namun bedanya KRAS juga melakukan pelanggaran prinsip Good governance. Akibatnya kinerja KRAS semakin anjlok.

Demikian halnya dengan nasib dari perusahaan konstruksi WSKT yang dihadapkan pada hutang yang besar per akhir 2020. Salah satu penyebabnya adalah penugasan pemerintah dalam pengerjaan pembangunan infrastruktur yang tengah digenjot dalam 5 tahun terakhir. Di saat yang sama, penyertaan modal negara (PMN) cenderung terbatas, sehingga WSKT dan tiga BUMN Karya lainnya terpaksa harus melakukan pendanaan luar dengan menerbitkan global bonds mapun penerbitan hutang obligasi domestik.

Dari beberapa gambaran yang dialami oleh perusahaan BUMN yang sudah tercatat di BEI, terlihat bahwa IPO yang dilakukan oleh perusahaan BUMN tidak selalu menjamin mendongkrak kinerja perusahaan. Meski begitu, tidak dipungkiri bahwa IPO saat ini adalah salah satu upaya yang menawarkan peluang besar terhadap bangkitnya perusahaan BUMN, setelah sebelumnya pemerintah telah menempuh berbagai kebijakan insentif fiskal hingga suntikan dana sebesar Rp 52.75 triliun yang dikhususkan untuk perusahaan-perusahaan BUMN. Tidak lain adalah untuk menjaga aktivitas ekonomi, terlebih ditengah situasi pandemi Covid-19 yang telah memukul kinerja perusahaan BUMN.

[Baca lagi : Program PEN Diterapkan, Apa sih Tujuan dan Manfaatnya ?]

 

 

Keuntungan bagi Pasar Modal

Dengan maju nya perusahaan BUMN masuk ke BEI, secara tidak langsung sudah mendorong peningkatan likuiditas pasar modal, sekaligus membuka ruang baru dalam berinvestasi. Lantaran dengan masuknya 8 – 12 perusahaan BUMN itu, berarti juga akan semakin banyak pilihan bagi investor Indonesia untuk membeli saham. Pada akhirnya, juga akan mampu menarik minat investor asing untuk berinvestasi di saham perusahaan Indonesia. Berikut ini adalah beberapa perusahaan BUMN Tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) :

Perusahaan BUMN Tercatat Kode Saham Status

Induk / Anak Usaha

PT Adhi Karya Tbk ADHI
PT Waskita Karya Tbk WSKT
PT Waskita Beton Precast Tbk WSBP Anak Usaha WSKT
PT Wijaya Karya Tbk WIKA
PT Wijaya Karya Beton Tbk WTON Anak Usaha WIKA
PT Pembangunan Perumahan Tbk PTPP
PT PP Properti Tbk PPRO Anak Usaha PTPP
PT PP Presisi Tbk PPRE Anak Usaha PTPP
PT Jasa Marga Tbk JSMR
PT Aneka Tambang Tbk ANTM
PT Krakatau Steel  Tbk KRAS
PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk PTBA
PT Semen Baturaja Tbk SMBR
PT Semen Indonesia Tbk SMGR
PT Timah Tbk TINS
PT Bank BNI Tbk BBNI
PT Bank BRI Tbk BBRI
PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk AGRO Anak Usaha BBRI
PT Bank BTN Tbk BBTN
PT Bank Mandiri Tbk BMRI
PT Garuda Indonesia Tbk GIAA
PT Indofarma Tbk INAF
PT Kimia Farma Tbk KAEF
PT Perusahaan Gas Negara Tbk PGAS
PT Medco Energy Tbk MEDC
PT Elnusa Tbk ELSA Anak Usaha MEDC
PT Telkom Tbk TLKM

 

Nah, dengan adanya rencana BUMN IPO, sudah tentu akan menambah panjang daftar perusahaan BUMN tercatat di BEI. Adapun sampai saat ini, secara keseluruhan kapitalisasi pasar saham BUMN dan anak usaha BUMN menguasai porsi 25.8% terhadap seluruh perusahaan tercatat di BEI. Tercatat per 5 Februari 2021, kapitalisasi pasar saham BEI tercatat sebesar Rp 7.243 triliun. Dan dari sisi transaksi, sampai kini saham-saham BUMN ini cukup aktif ditransaksikan oleh para investor.

 

Kesimpulan

Sejauh ini rencana Kementerian BUMN – Erick Thohir yang mendorong 12 BUMN IPO dalam tiga tahun ke depan, disambut baik oleh seluruh elemen, terutamanya dari Bursa Efek Indonesia dan para pelaku pasar. Pasalnya dengan adanya 12 BUMN IPO ini, sudah pasti akan menambah ragam pasar dan menambah jumlah emiten di BEI. Adapun sampai saat ini perusahaan BUMN tersebut tengah mempersiapkan diri untuk IPO, dengan target pelaksanaan IPO bisa dilakukan pada tahun 2021 ini hingga tahun 2023 mendatang.

Secara tidak langsung, perusahaan BUMN yang IPO ini ke depannya harus lebih bertanggung jawab penuh dalam memperbaiki GCG perusahaan dan mematuhi peraturan yang berlaku di BEI. Lantaran seluruh aktivitas akan dipantau tak hanya oleh pemerintah dan BEI saja, namun publik dan investor pemegang saham juga akan ikut memantau. Dengan itu diharapkan perusahaan BUMN yang akan IPO ini bisa beroperasional lebih baik lagi, sehingga akan lebih mempermudah lagi untuk mendapat pendanaan dari pasar modal.

Kendati demikian, hingga pembahasan ini selesai masih belum bisa diketahui secara detail perusahaan induk atau anak BUMN mana saja yang prospektif masuk ke BEI. Mengingat keputusan final menjadi kewenangan pemerintah. Jadi, baiknya kita menunggu kelanjutan rencana BUMN yang akan IPO ini…

 

Anda yang memiliki keterbatasan waktu untuk bisa mengumpulkan informasi mengenai kinerja terbaru perusahaan, kini Anda bisa memanfaatkan Cheat Sheet sebagai alternatif yang dapat membantu menghemat waktu Anda untuk mengecek kinerja perusahaan yang saham nya Anda pegang. Yuk, dapatkan segera Cheat Sheet Q3 2020 di sini…

 

###

 

Info:

 

 

Tags : 12 BUMN Akan IPO | 12 BUMN Akan IPO | 12 BUMN Akan IPO | 12 BUMN Akan IPO | 12 BUMN Akan IPO | 12 BUMN Akan IPO | 12 BUMN Akan IPO | 12 BUMN Akan IPO | 12 BUMN Akan IPO | 12 BUMN Akan IPO | 12 BUMN Akan IPO | 12 BUMN Akan IPO | 12 BUMN Akan IPO | 12 BUMN Akan IPO

You may also like

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Rivan adalah seorang Indonesia Value Investor yang memulai investasi sejak tahun 2008 ketika berusia 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, Rivan berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Berbekal pengalamannya, Rivan saat ini menjalani profesi sebagai Full Time Investor sekaligus praktisi di pasar modal. Saat ini, Rivan aktif mengadakan workshop dan pelatihan kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko di pasar saham.

Like Us On Facebook

Facebook Pagelike Widget

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Categories

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami