Woww, Joe Biden Berikan Stimulus Fiskal USD 1.9 Triliun !

Woww, Joe Biden Berikan Stimulus Fiskal USD 1.9 Triliun !


Terpilihnya Joe Biden sebagai presiden Amerika Serikat, nampaknya memberikan optimisme besar yang bisa terlihat di seluruh dunia. Optimisme tersebut timbul utamanya karena ada rencana tambahan paket stimulus sebesar USD 1.9 triliun, guna mempercepat pemulihan ekonomi Amerika Serikat. Tak heran, jika stimulus tambahan ini disambut positif oleh seluruh pelaku pasar. Namun, bagaimana dengan perkembangannya saat ini ? Apakah stimulus Joe Biden ini bisa terealisasikan ?

 

Wacana Stimulus Fiskal USD 1.9 Triliun versi Joe Biden

Source : www.cnbcindonesia.com/biden-luncurkan-stimulus-fiskal-usd-19-t

Presiden terpilih Amerika Serikat (AS) Joe Biden beberapa saat yang lalu, dengan percaya diri menyatakan wacana stimulus fiskal USD 1.9 triliun atau setara Rp 26.710 kuadriliun untuk mempercepat pemulihan ekonomi AS. Stimulus fiskal USD 1.9 triliun ini, merupakan rencana pertama dari dua inisiatif belanja pemerintah di bawah kepemimpinan Partai Demokrat.

Stimulus fiskal tersebut dinamakan sebagai ‘American Rescue Plan’ atau Rencana Penyelamatan Amerika, yang bertujuan untuk fokus merevitalisasi perekonomian di seluruh AS. Melalui stimulus itu, Joe Biden berencana akan menyasar seluruh warga, pemerintah daerah, institusi pendidikan, hingga ke penanganan kesehatan. Berikut adalah beberapa perincian penyaluran stimulus fiskal USD 1.9 triliun :

  • Bantuan sebesar USD 1.400 per orang (setara Rp 19.6 juta) untuk warga AS, untuk menambah nilai stimulus sebelumnya yang diberikan dalam bentuk bantuan langsung tunai senilai USD 600 (setara Rp 8.4 juta). Sehingga, secara total warga AS mendapatkan bantuan langsung sebesar USD 2.000 (setara Rp 28 juta).
  • Meningkatkan tunjangan pengangguran federal menjadi senilai USD 400 (setara Rp 5.6 juta) per minggu, sekaligus memperpanjangnya hingga September 2021 mendatang.
  • Termasuk juga dengan kebijakan penundaan pengurisan penyewa rumah yang tak mampu membayar sewa, dan juga penundaan penyitaan rumah bagi pemilik yang menunggak cicilan.
  • Meningkatkan upah minimum negara bagian menjadi senilai USD 15 (setara Rp 210 ribu) per jam.
  • Menyalurkan bantuan untuk sektor pemerintah daerah senilai USD 350 miliar (setara Rp 4.9 kuadriliun).
  • Menyalurkan bantuan pendidikan untuk sekolah dasar K-12 dan institusi pendidikan tinggi senilai USD 170 miliar (setara Rp 2.3 kuadriliun).
  • Menyalurkan bantuan untuk pelaksanaan tes Covid-19 senilai USD 50 miliar (setara Rp 700 triliun).
  • Melaksanakan program vaksinasi nasional secara massal senilai USD 20 miliar (setara Rp 280 triliun), yang akan dilaksanakan melalui kemitraan dengan negara bagian, lokalitas, dan suku. Termasuk juga mendirikan pusat-pusat vaksinasi.
  • Membuat Kredit Pajak Anak dapat dikembalikan sepenuhnya untuk tahun tersebut, sekaligus meningkatkan kredit menjadi USD 3 ribu (setara Rp 42 juta) per anak dan untuk anak di bawah usia 6 tahun menjadi USD 3.6 ribu (setara Rp 50.4 juta) untuk anak usia di bawah 6 tahun.

Melalui stimulus fiskal USD 1.9 triliun tersebut, Joe Biden berniat untuk lebih menekankan tujuan jangka panjangnya dalam memperbaiki perekonomian AS. Mulai dari menciptakan lapangan kerja, pembangunan infrastruktur, menyelesaikan masalah perubahan iklim, hingga mendorong kesetaraan ras.

Dalam wacananya, stimulus fiskal Joe Biden ini bisa dikatakan berhasil mendapat banyak dukungan, baik dari ekonom maupun ketua Federal Reserves (Bank Sentral AS) – Jerome Powell. Pasalnya stimulus fiskal ini akan mendukung kebutuhan stimulus hingga benar-benar pandemi Covid-19 selesai. Dukungan juga datang dari para pejabat Joe Biden yang telah berhasil menduduki Senat dan DPR AS. Salah satunya, Ketua DPR – Nancy Pelosi dan Pemimpin Mayoritas Senat Chuck Schumer yang menilai positif stimulus Joe Biden itu. Tak heran, jika kemudian stimulus fiskal USD 1.9 triliun dinilai akan diloloskan oleh Kongres.

 

 

Ikuti Stock Market Mastery (Februari – Maret 2021) dapat dilihat di sini.

 

 

Apakah Kongres Loloskan Stimulus Fiskal USD 1.9 triliun ?

Pada 1 Februari 2021 kemarin, untuk pertama kalinya Joe Biden bertemu dengan sejumlah senator Partai Republik di Gedung Putih, guna mendorong wacana stimulus fiskal USD 1.9 triliun. Namun rupanya tidak ada kesepakatan yang berhasil dicapai dari kedua belah pihak. Pasalnya Kongres tidak mendukung stimulus fiskal USD 1.9 triliun, yang dinilai sangat besar. Sebenarnya tidak heran, jika stimulus Joe Biden ini belum diloloskan oleh Kongres. Mengingat Kongres tidak hanya fokus pada jumlah akhir stimulus, tetap juga fokus pada isi stimulus.

Biden berbicara dengan Senator Maine Susan Collins. Source : cnbcindonesia.com/wah-paket-stimulus-biden-rp-2600

 

Di mana sekitar sepuluh Senator dari Partai Republik melakukan perincian ulang terhadap stimulus fiskal Joe Biden, yang di mana seharusnya hanya sekitar USD 600 miliar – USD 618 miliar (setara Rp 900 triliun) saja. Salah satu Senator Republik yang kemudian mengajukan paket stimulus adalah Susan Collins dengan nilai stimulus sebesar USD 618 miliar. Sayangnya, tidak ada kesepakatan yang berhasil dicapai, sehingga baik pihak Joe Biden dan pihak Senator Partai Republik, akan kembali melanjutkan pembahasan hingga bisa mencapai kesepakatan terkait dengan wacana stimulus tersebut. Salah satu yang memberatkan diloloskannya stimulus Joe Biden ini adalah melebarnya defisit anggaran AS, di mana imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun yang menjadi acuan mengalami kenaikan hingga 1%, setelah sekian lama tertekan.

Meski ada penolakan itu, Joe Biden nampaknya tetap tidak akan mengendurkan respon krisis yang ia nilai sangat mendesak. Sebaliknya Joe Biden bersikukuh kembali mengajukan rancangan stimulus USD 1.9 triliun, tanpa mendapat dukungan dari Partai Republik. Lantaran Joe Biden menilai stimulus alternatif sebesar USD 618 miliar tidak akan cukup mengatasi penanganan pandemi Covid-19 yang sudah menimbulkan kerugian yang cukup besar.

Di lain sisi, Pemimpin Mayoritas Senat Chuck Schumer juga akan berupaya mendorong dan meyakinkan Senat, agar memungkinkan mendapat 50 suara Partai Demokrat untuk mengesahkan beberapa bagian dari rencana Joe Biden, tanpa melibatkan kerja sama dari Partai Republik. Rencana Chuck Schumer ini, sebelumnya juga sudah disampaikan ke Partai Republik dan anggota parlemen Demokrat lain. Terlepas dari berbagai upaya yang tengah dilakukan oleh Joe Biden dan para pejabatnya, bisa dipastikan update perkembangan stimulus fiskal dari Joe Biden ini akan sangat ditunggu-tunggu terus dan dicermati oleh seluruh pelaku pasar.

 

Potensi Dampak Stimulus Fiskal USD 1.9 Triliun

Bila nantinya wacana Joe Biden tersebut diloloskan oleh Kongres, sudah tentu akan berdampak memberikan dampak, baik itu untuk AS maupun negara lain. Dalam jangka pendek, jika nantinya wacana stimulus fiskal USD 1.9 triliun benar diloloskan dan terealisasi, tentu dampak terbesarnya adalah percepatan permulihan ekonomi bagi AS. Hal itu bisa tercemin dari beberapa kondisi : 1) Meningkatnya daya konsumsi masyarakat; 2) Arus kapitalisasi pasar keuangan yang meningkat di berbagai instrumen baik itu Obligasi, Pasar Uang, maupun Pasar Modal). Di mana akibatnya, sudah tentu akan membuat valuasi indeks pasar saham AS akan sangat mahal.

Sedangkan dampak dalam jangka panjangnya ialah, ketika sepanjang kenaikan indeks pasar saham AS, justru tidak diikuti dengan adanya peningkatan laba perusahaan-perusahaan di AS, atau pun tidak dibarengi dengan peningkatan GDP. Bukan tidak mungkin indeks pasar saham AS akan mengalami koreksi yang cukup signifikan. Seperti yang kita tahu, ketika indeks pasar saham AS terkoreksi, maka besar kemungkinan indeks pasar saham Indonesia – IHSG juga akan ikut terkoreksi. Mengingat, hingga kini hampir seluruh pelaku pasar masih seringkali mengaitkan pergerakan IHSG dengan sejumlah indeks AS seperti halnya Dow Jones.

 

Kesimpulan

Hingga per artikel ini ditulis, masih belum bisa diketahui akan seperti apa hasil dari wacana stimulus fiskal USD 1.9 triliun dari Joe Biden ini. Apalagi dengan nilainya yang sangat fantastis, sesuai dengan tujuannya untuk memperbaiki perekonomian AS. Kendati demikian, kita belum bisa berekspektasi terlalu jauh mengenai kelanjutan stimulus fiskal USD 1.9 triliun ini. Mengingat hal ini akan bergantung pada hasil keputusan Kongres, apakah stimulus yang dirancang Joe Biden akan disetujui atau tidak.

Jadi, kita tunggu update selanjutnya, semoga apa yang diputuskan akan berdampak positif terhadap pergerakan pasar saham Indonesia…

 

 

Anda yang memiliki keterbatasan waktu untuk bisa mengumpulkan informasi mengenai kinerja terbaru perusahaan, kini Anda bisa memanfaatkan Cheat Sheet sebagai alternatif yang dapat membantu menghemat waktu Anda untuk mengecek kinerja perusahaan yang saham nya Anda pegang. Yuk, dapatkan segera Cheat Sheet Q3 2020 di sini…

 

###

 

Info:

 

 

Tags : Joe Biden Berikan Stimulus Fiskal | Joe Biden Berikan Stimulus Fiskal | Joe Biden Berikan Stimulus Fiskal | Joe Biden Berikan Stimulus Fiskal | Joe Biden Berikan Stimulus Fiskal | Joe Biden Berikan Stimulus Fiskal | Joe Biden Berikan Stimulus Fiskal | Joe Biden Berikan Stimulus Fiskal

You may also like

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Rivan adalah seorang Indonesia Value Investor yang memulai investasi sejak tahun 2008 ketika berusia 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, Rivan berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Berbekal pengalamannya, Rivan saat ini menjalani profesi sebagai Full Time Investor sekaligus praktisi di pasar modal. Saat ini, Rivan aktif mengadakan workshop dan pelatihan kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko di pasar saham.

Like Us On Facebook

Facebook Pagelike Widget

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Categories

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami