GDP Indonesia 2020 -2.07%. Apakah Bisa Pulih di 2021 ?

GDP Indonesia 2020 -2.07%. Apakah Bisa Pulih di 2021 ?


Awal bulan Februari 2021 lalu Indonesia melalui Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja merilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia selama tahun 2020, dan hasilnya adalah ekonomi Indonesia menyusut sebesar -2.07% YoY. Tidak terlalu mengejutkan, mengingat tahun 2020 adalah tahun yang menantang, terutama setelah dunia diserang oleh pandemic Covid-19 yang memperlambat roda perekonomian. Melihat ekonomi Indonesia yang melambat pada tahun 2020, apakah dapat pulih pada tahun 2021 ?

 

Snapshot: Perekonomian Indonesia di 2020

Perekonomian Indonesia mengalami penyusutan sebesar -2.07% selama tahun 2020, menandakan penurunan ekonomi terdalam yang pernah di alami Indonesia sejak krisis keuangan pada tahun 1998. Secara spesifik, perekonomian Indonesia selama 4 kuartal terakhir memang mengalami perlambatan dibandingkan pertumbuhan pada hampir 20 tahun sebelumnya. Pelemahan ekonomi Indonesia mulai terlihat pada kuartal I-2020 lalu, di mana Indonesia yang biasanya mencatatkan pertumbuhan ekonomi di angka ±5%, hanya mencatatkan pertumbuhan sebesar 2.97%, dilanjutkan dengan penurunan terbesar Indonesia pada kuartal II-2020 yang mengalami penurunan sebesar -5.32% YoY, -3.49% pada kuartal III-2020, dan ditutup dengan -2.07% YoY per akhir tahun 2020.

Historis Pertumbuhan Ekonomi Indonesia. Source : Tradingeconomics

 

GDP Indonesia berdasarkan Komponen

Perekonomian Indonesia diukur menggunakan beberapa indikator: 1) Konsumsi, 2) Investasi, 3) Belanja pemerintah, dan 4) Net ekspor yang dilakukan Negara. Atau bisa diilustrasikan dengan formula sebagai berikut :

Pada tahun 2020 lalu, beberapa indikator utama yang dicatatkan Indonesia antara lain:

  1. Konsumsi rumah tangga -3.61% YoY.
  2. Investasi turun -6.15% YoY.
  3. Pengeluaran negara meningkat +1.76% YoY.
  4. Ekspor barang dan jasa turun -7.21%, tetapi impor turun lebih dalam sebesar -13.52%.

Apabila kita melihat data di atas, dapat dilihat bahwa hampir semua komponen yang menjadi katalis pendorong GDP mengalami penurunan. Hal ini disebabkan karena adanya pandemi Covid-19 yang menghambat pertumbuhan ekonomi negara.

Secara kontribusi, apabila kita melihat data historis maka konsumsi berkontribusi sekitar 55% – 60% terhadap total perekonomian, belanja pemerintah sekitar 8% – 10%, investasi sebesar 30% – 33%, dan sisanya sekitar 1% – 3% disumbangkan dari net ekspor (import). Apabila dilihat dari strukturalnya, dapat Anda perhatikan bahwa Indonesia adalah negara yang sangat bergantung terhadap konsumsi. Jadi bisa Anda bayangkan apabila konsumsi di Indonesia mengalami penurunan, maka dampaknya akan sangat besar terhadap perekonomian.

Apakah penurunan ekonomi Indonesia sebesar -2.07% termasuk buruk? Well, tidak juga. Apabila kita bandingkan dengan negara tetangga seperti Singapura (-3.8%), Thailand (-6.4%), dan Filipina (-8.3%), maka sebenarnya pencapaian Indonesia masih relatif lebih baik.

Komposisi yang pada akhirnya akan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi setiap negara akan berbeda-beda, yang pada akhirnya akan menyebabkan pendorong pertumbuhan ekonominya akan berbeda juga. Ambil Singapura sebagai contoh. Ekonomi Singapura didominasi oleh kegiatan ekspor-impor, di mana kegiatan ekspor-impor bisa berkontribusi lebih dari 50% dari total GDP-nya. Covid-19 yang memaksa seluruh negara untuk menutup kegiatan perekonomiannya, tentu saja menyebabkan Singapura yang sangat bergantung terhadap perdagangan internasional yang mendapati ekonominya menurun. Jadi, hikmahnya adalah bahwa pencapaian pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2020 lalu masih tergolong cukup baik.

Di minggu kedua Januari 2021 kemarin, Indonesia telah mulai melakukan vaksinasi yang ditandai dengan Presiden Jokowi sebagai orang Indonesia pertama yang melakukan vaksinasi dan ditayangkan di seluruh Indonesia. Pemerintah sendiri menargetkan akan memvaksinasi sekitar 180 juta masyarakat Indonesia sampai akhir tahun 2021. Di mana apabila hal ini dapat tercapai, tentu saja menjadi katalis positif dan berpotensi meningkatkan konsumsi masyarakat Indonesia pada tahun 2021.

Selain itu, Pemerintah juga terus memberlakukan peningkatan belanja pemerintah melalui program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Di mana program PEN pada tahun 2012 diprediksi dapat mencapai Rp 690 triliun, tercatat naik sekitar Rp 110 triliun dari realisasi PEN pada tahun 2020 yang sebesar Rp 579.8 triliun. Dana PEN sebesar Rp 690 triliun ini adalah setara dengan 4.5% dari GDP tahun 2020. Dengan adanya suntikan PEN, diharapkan juga dapat meningkatkan ekonomi pada tahun 2021.

Dari sisi investasi dan pasar perdagangan internasional, kami melihat potensi pemulihan setelah dilakukannya vaksinasi. Terkhusus pada investasi, di tahun 2021 ini juga sudah kelihatan tanda-tanda yang positif, dimulai dari adanya investasi perusahaan besar ke Indonesia, hingga adanya program SWF pemerintah dan lain sebagainya.

Nah, berkaitan dengan program SWF, pembahasannya di bawah ini

SWF Indonesia Invesment Authority

[Baca lagi : SWF Indonesia Investment Authority (INA), jadi Alternatif Pembiayaan Nasional, Apa Bedanya dengan SWF di Negara Lain ?]

 

GDP Indonesia berdasarkan Wilayah

Kontribusi PDB per Wilayah. Source : BPS

Selanjutnya, apabila kita melihat kontribusi PDB di Indonesia berdasarkan wilayah pulau-pulau besar di Indonesia, maka urutannya adalah sebagai berikut :

  1. Jawa berkontribusi sebesar 58.75% terhadap total perekonomian;
  2. Sumatera sebesar 36%;
  3. Kalimantan sebesar 7.94%;
  4. Sulawesi sebesar 6.66%;
  5. Bali & Nusa Tenggara sebesar 2.94%, dan;
  6. Maluku & Papua sebesar 2.35%.

Dari data di atas, dapat dilihat bahwa dari 6 wilayah di Indonesia, 4 wilayah mengalami penurunan, yakni: Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Bali & Nusa Tenggara. Tetapi untuk 2 wilayah lain masih mencatatkan pertumbuhan ekonomi, yakni wilayah Sulawesi dan Maluku & Papua. Kita dapat melihat dari sini bahwa dampak penurunan perekonomian di Indonesia tidak merata.

Ada tiga insights yang dapat kami bagikan terkait dengan kontribusi GDP Indonesia berdasarkan wilayah:

  1. Spesifik untuk Bali & Nusa Tenggara, still long-road to full recovery

Sedikit pengecualian kepada Bali & Nusa Tenggara, karena ekonomi-nya yang sangat bertumpu kepada sektor pariwisata, kami melihat bahwa ada potensi perekonomian di wilayah ini masih akan soft dan belum bisa bertumbuh seperti sedia kala. Hal ini didukung juga oleh riset yang dilakukan oleh Bloomberg, yang mengatakan bahwa ada kemungkinan bahwa perjalanan travel baru akan kembali normal pada tahun 2023. Perlu diperhatikan di sini bahwa ini masih sebuah analisa, dan tentu saja ada potensi bahwa sektor pariwisata/travel akan pulih lebih cepat, tetapi kami masih merasa kemungkinan tersebut tergolong kecil, at least for now.

Source : Bloomberg

 

  1. Dalam jangka panjang, distribusi kontribusi perekonomian Indonesia akan menyebar ke wilayah lain. Kalimantan, misalnya.

Kami melihat “sentralisasi” pertumbuhan ekonomi yang sekarang cenderung berada di Jawa akan berubah dalam beberapa tahun ke depan. Tidak menutup kemungkinan juga bahwa shifting-nya akan mulai terlihat pada tahun 2021 ini. Bahkan, ketika terjadi pandemic Covid-19 ini kita juga sudah melihat bahwa masih ada beberapa wilayah yang mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang positif seperti Sulawesi dan Maluku & Papua. Ditambah lagi dengan adanya rencana relokasi ibukota Indonesia ke Kalimantan, kami melihat hal ini akan menjadi pendukung insights kami.

Apakah perekonominan di Jawa akan turun drastis? Kami melihat bahwa kontribusi Jawa terhadap total GDP nasional mungkin akan mengalami penurunan, tetapi tidak secara nominal. Hal ini disebabkan karena sudah banyak perusahaan yang menginvestasikan aset-asetnya di Jawa, dari sisi pabrik, kantor, dan sebagainya. Sehingga, meskipun dengan adanya re-lokasi ataupun pembangunan dan investasi baru yang akan terjadi dari beberapa perusahaan ke Kalimantan, dan bahkan tidak semuanya dari Jawa saja. Tentu hal ini akan dapat meningkatkan kontribusi GDP Kalimantan dan wilayah lainnya, sehingga tidak hanya “terpusat” di Pulau Jawa.

  1. Perekonomian wilayah yang turun paling dalam pada tahun 2020, akan meningkat paling tinggi pada tahun 2021 setelah vaksinasi. Ekonomi Indonesia positif pada tahun 2021.

Kami melihat potensi peningkatan ekonomi yang tinggi bagi wilayah-wilayah yang turun paling dalam pada tahun 2020: Jawa, Sumatera, Kalimantan (terkecuali Bali & Nusa Tenggara), yang disebabkan oleh 3 hal seperti pada poin berikut: 1) Vaksinasi yang sudah dimulai di Indonesia, 2) Akan tercapainya herd immunity di Indonesia, yang akan menyebabkan perubahan, 3) Perlahan tapi pasti, pola hidup dan kegiatan perekonomian akan kembali seperti semula.

Kebetulan dari wilayah-wilayah yang turun paling dalam juga adalah wilayah yang berkontribusi terbesar terhadap GDP Indonesia (80% terhadap total ekonomi Indonesia), maka hal ini akan menjadi pendorong ekonomi Indonesia secara keseluruhan pada tahun 2021. Kami melihat Indonesia akan mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang positif pada tahun 2021, berbanding terbalik terhadap penurunan ekonomi pada tahun 2020. Beberapa lembaga internasional seperti IMF, OECD, World Bank, juga memprediksi bahwa Indonesia akan mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang positif dalam range 4% – 5% YoY.

 

Kesimpulan

Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja merilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia selama tahun 2020, dan hasilnya adalah ekonomi Indonesia menyusut sebesar -2.07% YoY. Bukan pencapaian yang terlalu buruk, untuk negara yang GDP-nya didominasi oleh konsumsi (55% -n60% kontribusi terhadap GDP). Apabila dibandingkan dengan negara lain seperti Singapura (-3.8%), Thailand (-6.4%), dan Filipina (-8.3%), maka sebenarnya pencapaian Indonesia masih relatif lebih baik.

Kami melihat potensi perekonomian Indonesia akan mengalami pertumbuhan yang positif. Dari sisi konsumsi, belanja pemerintah, investasi, sampai ke nilai ekspor Indonesia. Ada tiga insights yang dapat kami sampaikan, antara lain: 1) Spesifik untuk Bali & Nusa Tenggara, still long-road to full recovery, 2) Dalam jangka panjang, distribusi kontribusi perekonomian Indonesia akan menyebar ke wilayah lain, dan 3) Perekonomian wilayah yang turun paling dalam pada tahun 2020, akan meningkat paling tinggi pada tahun 2021 setelah vaksinasi. Ekonomi Indonesia positif pada tahun 2021.

 

 

 

Dan, untuk Anda yang ingin atau sedang menyusun investing plan Anda, tapi memiliki waktu yang terbatas untuk mengolah banyaknya informasi yang beredar, Anda bisa menggunakan Monthly Investing Plan edisi Februari 2021 yang telah terbit…

 

###

 

Info:

 

 

Tags : GDP Indonesia 2020 -2.07% | GDP Indonesia 2020 -2.07% | GDP Indonesia 2020 -2.07% | GDP Indonesia 2020 -2.07% | GDP Indonesia 2020 -2.07% | GDP Indonesia 2020 -2.07% | GDP Indonesia 2020 -2.07% | GDP Indonesia 2020 -2.07% | GDP Indonesia 2020 -2.07% | GDP Indonesia 2020 -2.07%

You may also like

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Rivan adalah seorang Indonesia Value Investor yang memulai investasi sejak tahun 2008 ketika berusia 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, Rivan berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Berbekal pengalamannya, Rivan saat ini menjalani profesi sebagai Full Time Investor sekaligus praktisi di pasar modal. Saat ini, Rivan aktif mengadakan workshop dan pelatihan kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko di pasar saham.

Like Us On Facebook

Facebook Pagelike Widget

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Categories

Share this Post

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami