4 Timing Membeli Saham, Kapan Saja Idealnya ?

4 Timing Membeli Saham, Kapan Saja Idealnya ?


Mempelajari bagaimana cara berinvestasi saham bagi para pemula, tidaklah mudah dan seringkali akan sangat membingungkan. Salah satu hal yang paling sering ditanyakan oleh investor adalah “kapan sebaiknya mulai membeli saham?” atau “kapan waktu terbaik berinvestasi saham?”. Pertanyaan-pertanyaan tersebut memang senantiasa muncul, apalagi jika Anda masih meraba-raba bagaimana karakter pasar saham di Indonesia. Nah, jadi kapan saja timing yang ideal untuk membeli saham ?

 

 

Artikel ini dipersembahkan oleh :

 

Pertimbangan Timing untuk Membeli Saham

Berinvestasi saham tidaklah semudah ketika Anda memutuskan untuk membeli emas batangan atau emas perhiasan yang dapat dibeli langsung ke toko, pegadaian ataupun bank. Pasalnya transaksi jual dan beli saham di Indonesia hanya bisa dilakukan melalui Bursa Efek Indonesia (BEI). Untuk itu mengetahui waktu yang tepat untuk membeli suatu saham perusahaan, akan membantu Anda memaksimalkan keuntungan yang dicapai. Tentunya, ini adalah salah satu strategi mudah dalam meminimalisir risiko kerugian…

Menariknya dalam berinvestasi saham, Anda akan menjumpai beberapa siklus yang sama sekali tidak bisa Anda prediksikan. Di mana, jika Anda membeli saham ketika harga sedang sideway atau justru saat downtrend, tentu efeknya akan berpengaruh pada perlambatan aset Anda.

Apalagi, masing-masing dari timing tersebut bisa terjadi dalam waktu yang berbeda-beda, bahkan juga bisa bersamaan.

4 Timing Membeli Saham yang Ideal

Untuk itu, langsung saja kita membahas timing membeli saham yang ideal, di mana hingga sejauh ini setidaknya waktu yang tepat membeli saham terbagi menjadi 4 timing, antara lain :

  1. Sektor Bisnisnya Sedang Hot

Jika sektor bisnis suatu emiten sedang mendapatkan ‘sentimen positif’, dimana sektornya sedang dalam keadaan baik-baiknya, maka saat tersebut investor bisa mulai memilih saham yang tepat untuk dikoleksi. Sektor bisnis yang paling cocok dijadikan sebagai salah satu contoh adalah batubara dari sektor tambang.

Umumnya, saham dari pertambangan batubara, punya karakter ‘saham kutu terbang’. Misalnya saja ketika sektornya sedang hot, dengan asumsi harga per metric ton mencapai US$100 lebih atau setara Rp 1.4 juta lebih), maka harga sahamnya pun mudah saja naik.

Bahkan, terkadang walau perusahaannya belum sanggup menunjukkan kinerjanya yang baik, para investor sudah ramai-ramai memborong sahamnya.

Sebagai informasi saja, sektor emiten yang sedang hot mempunyai daya ungkit yang kuat, sehingga mampu membuat harga saham tertentu naik signifikan dalam waktu singkat. Apalagi jika dibarengi dengan kemampuan perusahaan menghasilkan laba yang cemerlang di periode tersebut.

 

2. Emiten Baru Merilis Laporan Keuangan yang Memuaskan

Rilisnya sebuah Laporan Keuangan, bisa menjadi salah satu timing yang tepat untuk membeli maupun menjual suatu saham. Pasalnya, Laporan Keuangan emiten ini mencerminkan fundamental dari perusahaan itu sendiri. Seperti yang kita tahu, fundamental di sini merupakan hal mendasar yang terkait dari perusahaan itu sendiri, khususnya cerminan kinerja keuangan emiten. 

Sebuah emiten yang sanggup mencatatkan laba yang signifikan, anggaplah hingga 30% dalam satu periode, maka hal itu bisa menjadi salah satu clue (petunjuk) bahwa perusahaan sedang bertumbuh dengan baik dan sahamnya memiliki prospek yang baik juga ke depannya.

Itulah mengapa banyak investor saham, khususnya bagi yang berinvestasi menggunakan metode value investing sangat menjadikan momentum terbitnya Laporan Keuangan, sebagai patokan dasar untuk menilai baik tidaknya perusahaan yang akan dibeli sahamnya. Dan barulah setelah itu ia akan menilai harga wajar sahamnya.

Lantas pertanyaan berikutnya, adalah kenapa saham dari perusahaan yang labanya tinggi juga baik untuk dibeli? Ya, karena dalam rasio keuangan terutama untuk menghitung harga wajar saham sangat dipengaruhi oleh faktor fundamental emiten. Termasuk di dalamnya kemampuan perusahaan dalam menghasilkan nilai atas ekuitasnya atau yang dikenal juga dengan ROE (Return on Equity).

Bahkan bukan cuma itu saja, dalam pertimbangan rasio harga wajar sahamnya juga akan tampak menggiurkan jika perusahaan berhasil mencatatkan laba yang tinggi. Khususnya pada PER (Price to Earnings Ratio). Dimana, semakin tinggi labanya maka akan semakin murah harga sahamnya.

 

3. Sahamnya Baru Saja Anjlok karena Alasan yang Tidak Jelas

Hal ini bisa saja terjadi tanpa terduga, biasanya dalam setahun ada saja saham-saham bagus yang harganya jatuh tiba-tiba dalam sehari saja. Dan biasanya juga, alasannya kadang hanya karena rumor yang tidak jelas dari berbagai pemberitaan media online.

Nah, situasi ini bisa dimanfaatkan untuk kita memperhitungkan kelayakan saham emiten tersebut untuk dikoleksi. Dengan catatan, harganya memang sudah pada level yang bisa dikatakan murah.

Contoh sederhananya saja yang sudah pernah terjadi, per Februari 2017 saham PT Adhi Karya Tbk, yakni ADHI sempat juga terseret oleh berita miring. Berita miring tersebut, menyebutkan bahawa proyek LRT yang dikerjakan oleh ADHI terancam mangkrak gara-gara pernyataan Menteri Koordinator Luhut Pandjaitan yang sebenarnya bukan begitu maksudnya. Sebagai hasilnya, saat itu harga saham ADHI dari harga Rp 2.170 per lembar pun harus anjlok hingga ke level Rp 1.960. Situasi ini juga bisa dipertimbangkan sebagai timing yang tepat untuk mulai mengoleksi sahamnya. Dan setelah pasar sadar, beberapa hari kemudian harga saham ADHI akhirnya berhasil naik ke level Rp 2.370 per akhir Maret 2017.

Dalam hal ini, ada baiknya kita juga jangan melupakan bahwa harga saham tidak hanya akan digerakkan oleh rumor-rumor yang diberitakan oleh media massa. Namun, harga saham juga bisa digerakkan oleh segala macam bentuk regulasi atau kebijakan yang pemerintah buat.. yuk review kembali artikelnya…

[Baca lagi : Kebijakan Pemerintah Mampu Menggerakkan Harga Saham. Lho Bagaimana Bisa ?]

4. IHSG sedang ‘Rebound’

Ketika IHSG sedang sideway, apalagi sedang downtrend atau bearish, maka siapapun analisnya maka umumnya akan ramai-ramai memberi rekomendasi untuk menghindari saham tertentu di waktu itu. 

Akan tetapi, beda halnya kalau IHSG sedang rebound atau berbalik arah dari bearish menjadi bullish. Maka sebaliknya, akan banyak juga analis yang merekomendasikan untuk membeli saham yang valuasinya menarik dan punya trendline yang cantik juga.

Market-Bearish-2

 

Gunakan Timing Belanja Saham Saat Belajar Investasi Saham

4 timing membeli saham di atas, bisa Anda gunakan dan praktikkan saat Anda belajar  berinvestasi saham. Tentunya Anda juga harus menambah berbagai macam informasi lainnya, sebelum Anda mengambil keputusan untuk belanja saham. Hal ini akan membawa keuntungan bagi Anda jika Anda mau belajar lebih sungguh lagi.

 

 

Sumber Referensi:

  • Finansialku. Zulbiadi Latief. 2018. 4 Timing Belanja Saham yang Wajib Diketahui Investor Pemula. https://www.finansialku.com/timing-belanja-saham/amp/

 

Dan, untuk Anda yang ingin atau sedang menyusun investing plan Anda, tapi memiliki waktu yang terbatas untuk mengolah banyaknya informasi yang beredar, Anda bisa menggunakan Monthly Investing Plan edisi Februari 2021 yang akan segera terbit…

 

###

 

Info:

 

 

You may also like

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Rivan adalah seorang Indonesia Value Investor yang memulai investasi sejak tahun 2008 ketika berusia 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, Rivan berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Berbekal pengalamannya, Rivan saat ini menjalani profesi sebagai Full Time Investor sekaligus praktisi di pasar modal. Saat ini, Rivan aktif mengadakan workshop dan pelatihan kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko di pasar saham.

Like Us On Facebook

Facebook Pagelike Widget

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Categories

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami

Translate »
error: Content is protected !!