Kenaikan Harga CPO Tertinggi dari 2012, Apa Dampaknya Terhadap Emiten Sektor CPO ?

Kenaikan Harga CPO Tertinggi dari 2012, Apa Dampaknya Terhadap Emiten Sektor CPO ?


Sejak memasuki tahun 2021 ini, harga CPO terus bergerak naik menandai kebangkitan sektor CPO, seiring dengan meningkatnya harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit dan kembali menguatnya harga intenasional. Hal tersebut menandai bangkitnya harga CPO setelah sebelumnya dalam beberapa periode terakhir berfluktuasi. Jika demikian, apakah bisa dikatakan bahwa kenaikan harga CPO ini dapat menjadi katalis positif bagi emiten-emiten CPO ?

 

Update Harga Komoditas CPO di Awal Tahun 2021

Sejak memasuki awal tahun 2021 ini, harga CPO rupanya masih terus melanjutkan penguatan harga hingga tembus ke MYR 3200/ton, bahkan sempat menyentuh harga tertinggi di MYR 3800/ton. Tak pelak, harga CPO per Januari kemarin, menjadi harga CPO yang tertinggi sejak tahun 2012. Pergerakan harga komoditas CPO yang dalam beberapa bulan terakhir meningkat bisa dilihat pada grafik di bawah…

Grafik Harga CPO Dunia update per 2 Februari 2021. Source : Tradingeconomics.com

Jika dilihat secara histori, maka harga CPO di awal tahun 2021 sudah menyentuh level tertingginya sejak harga CPO tahun 2012 yang berada di level MYR 3400/ton. Dan setelah itu harga CPO terus mengalami fluktuasi. Pergerakan harga CPO sejak tahun 2012 bisa terlihat dalam grafik di bawah ini…

Grafik Harga CPO Dunia update per 2 Februari 2021. Source : Tradingeconomics.com

Menariknya, berkenaan dengan harga CPO yang menyentuh level tertingginya tersebut, Bank Dunia pun memprediksikan bahwa harga CPO masih berpotensi naik di tahun-tahun mendatang. Adapun untuk di tahun 2021 ini, Bank Dunia memperhitungkan rata-rata harga CPO berada di sekitar US$ 723 per ton. Angka itu telah meningkat dari perkiraan rata-rata harga CPO di tahun 2020 kemarin yang sekitar US$ 710 per ton.

 

Kenaikan Harga CPO dan Dampaknya Terhadap Emiten

Selanjutnya, bagaimana dampaknya terhadap emiten di sektor CPO ? Dan emiten mana saja yang berpotensi terdampak ?

  • Pertama, PT Tunas Baru Lampung Tbk. (TBLA) yang memiliki bisnis CPO ini, kini sudah melakukan diversifikasi bisnis ke industri gula. Meski begitu, bisnis CPO TBLA ini masih berkontribusi besar, terlihat dari data di bawah ini…

Komposisi Pendapatan TBLA 9M20. Source : TBLA

Terlihat bahwa pendapatan terbesar TBLA saat ini lebih banyak dikontribusikan oleh gula sekitar 30.6%. Sedangkan, kontribusi lainnya berasal dari cooking oil dan biodiesel dengan total kontribusi sekitar ±54.3% dari total pendapatan. Dengan tambahan, sisa produk TBLA lainnya seperti PKO, stearine, dan lainnya merupakan produk turunan dari CPO, sehingga TBLA masih erat kaitannya dengan industri CPO. Itu artinya, harga CPO yang meningkat bisa berdampak positif terhadap TBLA. Apalagi, TBLA tidak hanya menjual cooking oil, tetapi juga biodiesel yang sekarang ini sedang sangat difokuskan oleh pemerintah. Bahkan dari sisi model bisnisnya pun sangat terintegrasi, sehingga peluang TBLA merasakan dampak positif dari kenaikan harga CPO sangatlah besar.

 

  • Kedua, PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) sebagai salah satu perusahaan kelapa sawit yang tidak menjual produk upstream CPO secara langsung kepada pelanggannya. Melainkan menjual CPO yang mayoritas penjualannya adalah dalam bentuk minyak dan lemak nabati (edible oil and fats/EOF). Seperti yang dijelaskan dalam ilustrasi di bawah…

Komposisi Penjualan SIMP. Source : SIMP

Meski demikian, harga EOF ini juga berpotensi berkolerasi positif dengan peningkatan harga CPO. Ditambah lagi, model bisnis SIMP yang memungkinkan adanya integrasi bisnis dari lini CPO ke produksi EOF. Namun, tetap saja sensitivitas terhadap pendapatan yang diperoleh tidak seperti CPO, karena peningkatan harga di produk EOF tidak sefluktuatif harga komoditas. Di lain sisi, penjualan SIMP ini sekitar 20% – 3-% penjualannya dilakukan ke induk usaha – Indofood Group yang bisa menyebabkan profitabilitas SIMP tidak semenarik penjualan ke pihak ketiga, seperti halnya perusahaan CPO lain. Oleh karenanya, kenaikan harga CPO terhadap SIMP dampak positifnya tidak akan terlalu besar, mengingat kontribusi penjualan dari segmen CPO hanya berkisar 20% saja.

 

  • Ketiga, PT London Sumatera Indonesia Tbk. (LSIP) menjual CPO sekitar ±76% dari total penjualannya ke SIMP. Meski berada dalam satu grup usaha, LSIP merupakan perusahaan yang menyuplai CPO ke “rekan perusahaannya”, yang berpotensi membuat pendapatannya tidak terlalu menarik karena adanya kemungkinan pemberian harga yang tidak maksimal. Karena akan menyebabkan profitabilitas perusahaan tidak setinggi seharusnya, untuk bisa menjaga cost perusahaan yang membeli produk LSIP.

Sales Mix LSIP by Product. Source : LSIP

Menariknya, meski begitu sekitar ±23% dari penjualan LSIP masih dilakukan kepada pihak ketiga, yang diprediksikan akan berdampak positif terhadap peningkatan harga CPO. Ditambah lagi, sekitar ±93% dari total penjualan LSIP adalah produk yang berhubungan dengan CPO, tentu ini menjadi poin plus bagi kinerja LSIP ke depannya.

 

  • Keempat, PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) merupakan perusahaan yang 100% penjualannya erat hubungannya dengan produk kelapa sawit baik itu CPO, PKO, maupun PK. Tentu kenaikan harga CPO akan menjadi katalis baik terhadap peningkatan kinerja SSMS ke depannya.

Sebagai tambahan informasi saja, sebelumnya SSMS ini juga melakukan penjualan TBS (tandan buah segar) yang diperoleh langsung dari perkebunan kelapa sawit. Artinya, SSMS ini bisa dikatakan sebagai salah satu perusahaan CPO yang merasakan dampak positif dari adanya kenaikan harga CPO. Namun perlu dicatat, jika sewaktu-waktu harga CPO mengalami penurunan, maka bukan tidak mungkin SSMS juga akan mengalami penurunan kinerja yang cukup dalam.

 

  • Kelima, PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) merupakan salah satu perusahaan CPO dengan ciri khas unik. Pertama, sekitar ±67% dari total penjualan DSNG dijual ke fixed customer secara langsung, yang di antaranya adalah SMAR, Wilmar, dan Kutai Refinery.

Terlihat bahwa DSNG menjual sekitar 67% produknya ke SMAR, Wilmar, dan Kutai yang dipimpin oleh SMAR dengan 35% dari total penjualan. Artinya, secara tidak langsung DSNG telah memiliki pelanggan tetap, bahkan bukan termasuk afiliasi perusahaan seperti yang terjadi pada SIMP dan LSIP, sehingga keuntungan perusahaan bisa dimaksimalkan sebaik mungkin.

Kedua, DSNG mendiversifikan bisnisnya ke industri kayu sekitar 16% dari total penjualan. DSNG juga membuat perusahaan joint venture bernama Tanjung Kreasi Parquet Industry (Teka) dngan Daiken Jepang. Dengan adanya diversifikasi ini, penjualan yang mayoritasnya berasal dari industri CPO, secara tidak langsung sudah bisa menopang risiko DSNG jika sewaktu-waktu harga CPO merosot. Adapun dari sisi kenaikan harga CPO, sudah tentu DSNG ini akan terdampak positif meski tidak terlalu besar.

Oya, jangan lupa juga emiten-emiten CPO di atas juga berpotensi mendapat dampak positif dari kenaikan kebutuhan CPO yang akan digunakan sebagai bahan baku biodiesel. Review kembali harga CPO di tahun 2018 yang lalu.

[Baca lagi : Bullish karena Kebijakan B20, Apakah Kenaikan Harga Saham Emiten CPO hanya Bersifat Sementara?]

 

 

Kesimpulan

Peningkatan harga CPO yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir, menjadi yang tertinggi dari tahun 2012. Tercatat ketika tahun 2012 harga CPO berada di level MYR 3400/ton, namun per awal tahun 2021 kemarin harga CPO mencapai level tertingginya di level MYR 3200/ton, bahkan sempat menyentuh harga tertinggi di MYR 3800/ton.

Dengan kenaikan harga CPO, diharapkan akan berdampak positif terhadap kinerja emiten di sektor CPO. Kendati masih ada harapan, namun jangan lupa untuk waspada terhadap faktor ekspor berkenaan dengan bea masuk CPO ke India dan kampanye anti sawit di Uni Eropa yang kapan saja bisa membuat harga CPO jatuh.

Semoga ke depannya prospek CPO dalam negeri semakin lebih baik lagi, sehingga dapat memacu kinerja emiten-emiten CPO…

 

 

Dan, untuk Anda yang ingin atau sedang menyusun investing plan Anda, tapi memiliki waktu yang terbatas untuk mengolah banyaknya informasi yang beredar, Anda bisa menggunakan Monthly Investing Plan edisi Februari 2021 yang telah terbit…

 

###

 

Info:

 

 

Tags : Kenaikan Harga CPO Tertinggi | Kenaikan Harga CPO Tertinggi | Kenaikan Harga CPO Tertinggi | Kenaikan Harga CPO Tertinggi | Kenaikan Harga CPO Tertinggi | Kenaikan Harga CPO Tertinggi | Kenaikan Harga CPO Tertinggi | Kenaikan Harga CPO Tertinggi | Kenaikan Harga CPO Tertinggi 

You may also like

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Rivan adalah seorang Indonesia Value Investor yang memulai investasi sejak tahun 2008 ketika berusia 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, Rivan berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Berbekal pengalamannya, Rivan saat ini menjalani profesi sebagai Full Time Investor sekaligus praktisi di pasar modal. Saat ini, Rivan aktif mengadakan workshop dan pelatihan kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko di pasar saham.

Like Us On Facebook

Facebook Pagelike Widget

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Categories

Share this Post

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami