Peningkatan Kerja Sama antara Indonesia dan Uni Eropa, Apa saja Dampaknya?

Peningkatan Kerja Sama antara Indonesia dan Uni Eropa, Apa saja Dampaknya?


Indonesia sedang jor-joran meningkatkan kerja sama dan kolaborasi dengan berbagai negara di seluruh dunia untuk meningkatkan ekspor dan investasi. Sebelumnya, Indonesia sudah mencapai kesepakatan dengan Australia melalui IA-CEPA (Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement), dan sekarang Indonesia sedang merampungkan potensi kerja sama dengan Uni Eropa. Kira-kira, apa saja dampak yang akan ditimbulkan dari perjanjian ini ?

 

Kerja Sama Indonesia-Uni Eropa

Apabila dilihat dari sejarah perkembangan kerja sama antara Indonesia dan Uni Eropa, sebenarnya negara-negara di Eropa telah banyak melakukan kerja sama dengan Indonesia. Salah satu bukti konkrit yang terlihat adalah bahwa sekarang ada sekitar ±1.100 perusahaan Eropa yang berbasis di Indonesia, yang apabila di total secara keseluruhan, 1.100 perusahaan Eropa tadi telah berkontribusi dengan mempekerjakan ±1.1 juta WNI. Dari sini dapat dilihat bahwa sebenarnya tingkat kepercayaan dari pemain bisnis di Eropa terhadap Indonesia sudah cukup besar.

 

Sekarang, Indonesia telah menjajaki negosiasi dalam pengesahan I-EU CEPA (Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership). I-EU CEPA akan sangat berdampak positif terhadap tingkat kemajuan negara Indonesia, di mana hal ini didukung oleh pernyataan dari Duta Besar Indonesia bahwa CEPA akan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, PDB Indonesia, dan juga akan meningkatkan perdagangan antara kedua belah pihak. Sebagai informasi, Indonesia merupakan negara ASEAN pertama yang menandatangani Partnership and Cooperation Agreement (PCA) dengan Uni Eropa pada tahun 2009. Jadi bisa dilihat, bahwa secara historis Indonesia telah memiliki cukup banyak pengalaman dalam bekerja sama dengan negara-negara di Eropa.

Lebih lanjut, banyak juga studi yang menjelaskan bahwa kerja sama antara Indonesia dan Uni Eropa dapat meningkatkan pertumbuhan bagi Indonesia sebesar €5 miliar Euro atau setara dengan Rp 85.91 triliun per tahunnya. Tidak hanya secara pertumbuhan pendapatan, tetapi kerja sama tersebut juga akan meningkatkan ekspor Indonesia sebesar 18%.

Kami melihat hal ini menjadi potensi besar bagi Indonesia, terlebih setelah Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, Vincent Piket, menyatakan bahwa I-EU CEPA adalah salah satu prioritas utama Uni Eropa di tahun 2021 untuk dapat memulihkan kembali perekonomiannya. I-EU CEPA dapat mendorong pertumbuhan ekonomi di Uni Eropa pasca Covid-19, dan dapat menciptakan lapangan pekerjaan yang baru, serta di saat yang sama dapat meningkatkan foreign direct investment (FDI) dari Indonesia ke Eropa.

Perkembangan terbaru, perundingan I-EU CEPA terakhir terjadi pada tanggal 2 – 6 Desember 2020 lalu di Belgia, di mana hasilnya adalah 44% draft teks perjanjian telah disepakati. Sebagai informasi, pertemuan pada bulan Desember lalu adalah pertemuan ke-9, dan pertemuan selanjutnya akan dilaksanakan pada Maret 2021. Kedua belah pihak (Indonesia dan Uni Eropa) juga sama-sama mengharapkan bahwa keseluruhan perjanjian dapat diselesaikan pada tahun 2021 ini.

Nah, dalam artikel lainnya, Penulis juga sudah pernah membahas perihal kerja sama Indonesia dengan negara lainnya, yakni Australia. Kerja sama tersebut dikenal dengan sebutan IA-CEPA…

[Baca lagi : Kerja Sama IA-CEPA Berlaku, Apa Keuntungannya Bagi Indonesia ?]

 

Sektor yang akan Terdampak

  • Industri Kelapa Sawit

Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam. Salah satu yang terbesar adalah kelapa sawit, di mana Indonesia sebagai produsen CPO terbesar yang berkontribusi sebesar 45% terhadap total produksi dunia. Sejalan dengan hal tersebut, CPO merupakan salah satu komoditas ekspor terbesar di Indonesia, salah satunya untuk Eropa. Berikut adalah data ekspor minyak sawit Indonesia ke Eropa, di mana dapat dilihat bahwa apabila dibandingkan pada tahun 2018, ekspor minyak kelapa sawit ke Eropa mengalami penurunan pada tahun 2019. Hal ini disebabkan karena adanya pembatasan impor minyak kelapa sawit dari Indonesia oleh Eropa karena adanya isu lingkungan.

Ekspor Minyak Kelapa Sawit dari Indonesia ke Eropa. Source : Katadata – BPS.

Per tahun 2020, Piket juga mengklaim bahwa volume ekspor kelapa sawit dari Indonesia ke Eropa telah meningkat 10% YoY untuk periode Januari – Oktober 2020. Di mana apabila kemudian didukung juga dengan mulai meningkatnya harga komoditas CPO, maka total nilai ekspor CPO Indonesia ke Eropa bisa meningkat sampai 27%.

Hal ini memperkuat asumsi kita bahwa kita tidak bisa memungkiri CPO merupakan salah satu komoditas terpenting yang masih digunakan di dunia, tidak terkecuali Eropa, terutamanya sebagai bahan baku produksi. Uni Eropa juga sepakat untuk bekerja sama dengan Indonesia (dan Malaysia juga) untuk menyajikan minyak nabati yang berkelanjutan. Oleh karena itu, terciptanya kerja sama I-EU CEPA antara Indonesia dan Uni Eropa berpotensi meningkatkan ekspor Indonesia, salah satunya adalah komoditas CPO.

 

  • Infrastruktur

Memang belum banyak informasi yang diberikan, tetapi pihak Uni Eropa sudah menunjukkan komitmen untuk berinvestasi di infrastruktur Indonesia, terutama yang berkonsep pembangunan berkelanjutan (green infrastructure) ke depannya, melalui investasi sebesar Rp 653 miliar lewat PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) yang merupakan perusahaan infrastruktur di bawah Kementerian Keuangan.

Source : ec.europa.eu

Selain itu, pada tahun 2020 lalu juga terlihat komitmen Uni Eropa dalam pembangunan infrastruktur dengan ditanda tanganinya kesepakatan EU-Indonesia Cooperation Publication 2020, yang menyepakati pengembangan ekonomi hijau dalam rangka memajukan pembangunan berkelanjutan dan memitigasi efek perubahan iklim. Kemitraan tersebut akan berlangsung selama lebih dari 40 tahun yang meliputi kerja sama ekonomi, sistem kesehatan, pendidikan, inklusi sosial, perlindungan lingkungan, dan mengatasi krisis kesehatan dan perubahan iklim. Dari sini dapat dilihat komitmen Uni Eropa dan ke depannya, kami melihat potensi besar adanya potensi investasi besar dari Uni Eropa terkait dengan green infrastructure dengan adanya dorongan kerja sama dari perjanjian I-EU CEPA.

 

  • Sumber daya alam lainnya

Selain di sektor infrastruktur dan CPO, Uni Eropa juga telah mengatakan ketertarikan untuk berinvestasi di Indonesia karena kekayaan sumber daya alam yang dimilikinya. Terbaru, Uni Eropa secara spesifik mengatakan adanya potensi yang belum tergali untuk perdagangan dan investasi di Maluku, di mana komoditas yang menjadi bahan pembicaraan adalah seperti udang dan ikan (berkontribusi ±75% ekspor provinsi Maluku, atau setara dengan US$ 32.5 juta). Selain itu, Maluku juga memliki banyak sumber daya alam lainnya seperti rempah-rempah. Pihak Uni Eropa memaparkan persyaratan ekspor ikan dan udang dari Maluku, ke Eropa. Permintaan produk perikanan di Eropa terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Dengan pelanggan yang besar, Uni Eropa merupakan pilihan menarik bagi Maluku untuk memperluas dan mendiversifikasi pasar ekspornya.

Kami melihat bahwa potensi dari kerja sama antara Indonesia dan Uni Eropa ini tidak akan berhenti sampai di Maluku saja. Ke depannya, masih banyak potensi lain dari puluhan provinsi di Indonesia yang memiliki ciri khas masing-masing, yang masih besar potensinya, dan dapat meningkat seiring dengan peningkatan kerja sama dengan Uni Eropa. Bahkan untuk selanjutnya, kita masih harus menunggu perkembangan berikutnya, di mana yang terbaru akan dilaksanakan pada bulan Maret 2021.

 

Kesimpulan

Perkembangan zaman sekarang memaksa pemain di segala industri untuk mementingkan kolaborasi dibandingkan kompetisi, tak terkecuali sampai ke level negara. Menyikapi hal tersebut, Indonesia sedang gencar-gencarnya, juga dalam meningkatkan kerja sama bilateral dengan berbagai Negara. Di mana salah satu yang sedang difokuskan sekarang, adalah kerja sama dengan Uni Eropa dalam perjanjian  I-EU CEPA (Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership).

Kerja sama antara Indonesia dan Uni Eropa ini dapat meningkatkan pertumbuhan bagi Indonesia sebesar €5 miliar Euro atau setara dengan Rp 85.91 triliun per tahunnya. Tidak hanya secara pertumbuhan pendapatan, tetapi kerja sama tersebut juga akan meningkatkan ekspor Indonesia sebesar ±18%. Secara spesifik, beberapa sektor yang kami lihat dapat terdampak secara positif adalah: sektor CPO, sektor infrastruktur, dan juga sumber daya alam lainnya.

Adapun, draft yang baru disepakati baru 44%, sehingga untuk mengetahui dampak lebih lanjut dari kerja sama ini, kita masih harus menunggu perkembangan selanjutnya. Ya… rapat berikutnya akan dilaksanakan pada bulan Maret 2021.

 

Nah, bagi Anda yang memiliki keterbatasan waktu untuk bisa mengumpulkan informasi mengenai kinerja terbaru perusahaan, kini Anda bisa memanfaatkan Cheat Sheet sebagai alternatif yang dapat membantu menghemat waktu Anda untuk mengecek kinerja perusahaan yang saham nya Anda pegang. Yuk, dapatkan segera Cheat Sheet Q3 2020 di sini…

 

###

 

Info:

Tags : Kerja sama Indonesia dan Uni Eropa | Kerja sama Indonesia dan Uni Eropa | Kerja sama Indonesia dan Uni Eropa | Kerja sama Indonesia dan Uni Eropa | Kerja sama Indonesia dan Uni Eropa | Kerja sama Indonesia dan Uni Eropa | Kerja sama Indonesia dan Uni Eropa | Kerja sama Indonesia dan Uni Eropa

 

You may also like

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Rivan adalah seorang Indonesia Value Investor yang memulai investasi sejak tahun 2008 ketika berusia 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, Rivan berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Berbekal pengalamannya, Rivan saat ini menjalani profesi sebagai Full Time Investor sekaligus praktisi di pasar modal. Saat ini, Rivan aktif mengadakan workshop dan pelatihan kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko di pasar saham.

Like Us On Facebook

Facebook Pagelike Widget

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Categories

Share this Post

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami