Underrated Value Investor : Howard Marks

Underrated Value Investor : Howard Marks


Mungkin Anda sudah tidak asing apabila mendengar nama-nama investor yang terkenal seperti Warren Buffett, Charlie Munger, Ray Dalio, Peter Lynch, sampai ke Lo Kheng Hong. Tetapi, banyak juga investor lain di luar nama yang disebutkan tadi yang rupanya sangat inspiratif, di mana kita dapat belajar banyak hal dari sepak terjang investor-investor ini. Salah satu investor yang “relatif” tidak terlalu dikenal adalah Howard Marks. Kira-kira apa yang dapat kita pelajari dari Howard Marks?

 

Kita akan mengupas perjalanan investasi-nya dalam artikel berikut ini. Selamat membaca!

 

Profil Howard Marks

Howard Stanley Marks, atau biasa dikenal dengan nama Howard Marks adalah seorang investor dan penulis asal Amerika Serikat. Marks dikenal oleh publik setelah mendirikan Oaktree Capital Management, sebuah perusahaan investasi yang sekarang mengelola dana investasi sebesar US$ 124.7 miliar (setara IDR 1.989 triliun, apabila dibandingkan market cap IHSG yang sekitar IDR 7.000 triliun, maka dana investasi kelolaan Oaktree Capital Management setara dengan sekitar 28.4% IHSG).

Source : Forbes

Marks adalah seorang investor yang memang mengkonsentrasikan pendidikannya di aspek keuangan, di mana Marks memperoleh gelar Sarjana di Jurusan Ekonomi dan Spesialisasi Keuangan di Wharton School pada tahun 1967. Marks kemudian mengambil jurusan S2 (MBA), yang terkonsentrasi di Akuntansi dan Marketing di University of Chicago dan lulus pada tahun 1970.

Perjalanan karir Marks sendiri bisa dikatakan sebagai tipe yang sangat specialist, dibandingkan generalist, di mana Marks memfokuskan perjalanan karirnya di dunia investasi. Sembari berkuliah S2, Marks bekerja di salah satu perusahaan investasi perbankan terbesar di dunia, Citicorp, sebagai Equity Research Analyst (analis saham) dan juga sebagai Direktur Riset. Pada tahun 1978, Mark diangkat menjadi Vice President dan Senior Portfolio Manager di Citicorp Investment Management, karena kontribusi dan kiprah Marks yang impresif selama bekerja di Citicorp.

Marks menutup perjalanan karirnya di Citicorp pada tahun 1985, ketika Marks memutuskan resign dari perusahaan. Bukan tanpa sebab, Marks kemudian mendirikan sebuah perusahaan investasi bernama TCW Group dan menempati posisi Chief of Investment selama 10 tahun sampai tahun 1995. Bukan tanpa alasan Marks berhenti dari pekerjaannya di TCW Group, karena setelah keluar, Marks kemudian mendirikan Oaktree Capital Management, di mana Marks juga sekaligus menjadi Presiden Direktur-nya.

Perjalanan Investasi Howard Marks

Bersama dengan Oaktree Group, Marks telah sukses mencatatkan rata-rata return tahunan sebesar 19% (setelah fee) dalam 22 tahun terakhir. Hal itu menjadi sebuah pencapaian yang luar biasa mengingat rata-rata return deposito di Indonesia hanya berkisar 3% – 6% dalam beberapa tahun terakhir.

Lantas bagaimana Oaktree Group di bawah kepemimpinan Marks bisa mencatatkan keuntungan sebesar itu? Mari kita bahas perjalanan investasi Howard Marks melalui Oaktree Capital Management.

  • Sekilas Tentang Oaktree Capital Management

Oaktree Capital Management adalah perusahaan investasi yang terbentuk pada tahun 1995 dan fokus di investasi pada obligasi, properti, dan juga ke instrumen ekuitas (saham). Sejak tahun 1995, Oaktree Capital sekarang telah memiliki cabang di Los Angeles (kantor pusat), New York, Stamford, Houston, London, Paris, Frankfurt, Amsterdam, Dubin, Helsinki, Dubai, Hong Kong, Tokyo, Singapore, dan kota-kota besar lainnya. Oaktree Capital memiliki 39 manajer investasi dengan rata-rata pengalaman sebesar 25 tahun, yang apabila dijumlahkan menjadi total lebih dari 1000 tahun pengalaman industri.

Source : Oaktree Capital

Menjadi salah satu perusahaan investasi yang besar, Oaktree Capital memiliki filosofi investasi yang dibuat oleh para pendirinya sebagai berikut :

  1. Risk control
  2. Consistency
  3. Market inefficiency
  4. Specialization
  5. Bottom-up analysis
  6. Disavowal of market timing

Dari enam filosofi investasi Oaktree Capital tersebut, kemudian dilengkapi dengan prinsip bisnis yang juga menjadi fondasi dalam menangani klien, antara lain :

  1. Commonality of interests with clients
  2. Collaborative and cooperative culture
  3. Disciplined
  4. Opportunistic approach to the expansion of offerings

Dengan gabungan antara filosofi investasi dan prinsip bisnis perusahaan, Oaktree Capital telah berhasil meningkatkan dana kelolaan-nya (asset under management/AUM) dari US$ 5 miliar pada tahun 1995 menjadi US$140 miliar per September 2020 kemarin, atau setara dengan rata-rata pertumbuhan tahunan sebesar 14.2% selama 25 tahun. Dana kelolaan yang besar ini menjadi tanda kepercayaan klien kepada Oaktree Capital.

 

  • Dive deeper into Oaktree’s investment philosophy

Dengan kualitas dan kapabilitas yang dimiliki Oaktree Capital, tidak mengherankan bila Oaktree yang mencatatkan rata-rata return sebesar 19% dalam 22 tahun terakhir bisa mendapatkan kepercayaan dari klien yang tercermin dari jumlah AuM yang begitu tinggi. Howard Marks bersama Oaktree Capital pada dasarnya menganut ajaran value investing, yang mencari instrumen investasi yang undervalued. Untuk membahas bagaimana caranya Oaktree bisa mendapatkan return yang begitu atraktif, kita harus melihat filosofi investasi yang dibawa Howard Marks ke dalam perusahaannya:

  1. Second-level thinking & consistency

Howard Marks menekankan pola pikir second-level thinking dalam filosofi investasinya, atau yang biasa ia jelaskan sebagai “mengambil pertimbangan yang lebih berhati-hati dalam keputusan investasi”.  Marks menerangkan bahwa banyak investor yang dalam pengambilan keputusan investasinya dengan hanya pola pikir yang sederhana saja, tetapi tidak mengambil pendekatan pemikiran yang lebih dalam, sebut saja dalam konteks ini, second-level thinking. Marks menjelaskan bahwa untuk mencapai konsistensi dalam perjalanan investasi, diperlukan pola pikir yang lebih berhati-hati dan detail, tidak hanya mengikuti pasar saja.

  1. Market inefficiency

Teori market yang efisien menjelaskan bahwa harga instrumen investasi yang berada di pasaran setiap saat sudah menandakan harga yang sewajarnya. Hal ini mengimplikasikan setiap perubahan harga, misalnya di saham, itu sudah mengartikan intrinsic value-nya. Marks menjelaskan bahwa filosofi investasi-nya yang tidak langsung mempercayai 100% teori ini, karena dengan mempercayai bahwa market adalah efisien, artinya kita hampir tidak mungkin dapat mengungguli market. Marks menjelaskan bahwa masih ada “ruang kesalahan” dari teori ini yang telah dibuktikan oleh banyak investor hebat, di mana akan ada suatu sekuritas yang tidak efisien dan harganya jauh di bawah nilai wajarnya (undervalued). Inilah yang dapat dijadikan momentum peluang investasi yang baik bagi investor.

  1. Understanding risk

Marks menekankan bahwa adanya perbedaan antara risiko dan ketidakpastian. Memang, ketika kita melakukan sebuah investasi, hasil yang akan terjadi di masa depan belum tentu seperti yang kita perkirakan. Dalam konteks ini, yang menjadi pembeda antara risiko dan ketidakpastian adalah risiko dapat dikontrol, sedangkan ketidakpastian tidak dapat dikontrol. Lebih dalam tentang risiko, yang harus diperhatikan bukanlah risiko yang pernah terjadi di masa lalu, tetapi potensi risiko yang dapat terjadi di masa depan. Marks fokus pada hal yang bisa dikontrol, yakni risiko, dalam melakukan investasinya.

  1. Price-value relationship

Salah satu aspek terpenting dalam value investing adalah bagaimana kita bisa mendapatkan instumen yang berkualitas tetapi dengan harga yang terdiskon. Dalam hal ini terdapat adanya hubungan antara price dan value. Marks menjelaskan bahwa memang terlihat salah satu metode sukses investasi adalah dengan membeli instrumen yang sangat murah dan masih tetap ada risiko, yakni antara ada yang salah dengan analisa kita, masa depan bergerak berbeda dengan proyeksi kita, atau bahkan harga yang kita ekspektasikan tidak diterima di pasaran. Tetapi, Marks memiliki filosofi investasi jangka panjang, sehingga menurutnya, apapun metriks investasi yang digunakan, metode membeli instrumen investasi yang sangat murah dapat menjadi salah satu metode yang akan menghasilkan terbaik di antara metode lainnya.

  1. Investment cycle

Siklus. Tidak hanya pada sektor/industri tertentu yang memiliki siklus, tetapi Marks menjelaskan bahwa hampir segala sesuatu memiliki siklus. Siklus akan mendahului, dan tidak ada apapun yang hanya bergerak satu arah saja selamanya, pasti akan ada siklus. Marks berpesan bahwa hal yang sama akan terjadi dalam pasar keuangan, dan hal tersebut harus dipahami dan dipersiapkan. Marks juga menjelaskan bahwa kita tidak bisa berekspektasi bahwa perusahaan yang mendapatkan hasil yang positif akan selamanya mendapatkan kinerja yang baik. Akan ada masanya ketika sebuah perusahaan diterpa badai dan menghasilkan kinerja yang memuaskan, hal tersebut bisa terjadi. Jadi, pergerakan naik/turun di harga pasar adalah hal yang wajar. Apabila kita memang fokus untuk jangka panjang, hal ini seharusnya tidak mengganggu konsentrasi kita sebagai investor.

  1. Contrarian approach

Marks menjelaskan pendekatan investasi contrarian, yang biasa diartikan berlawanan dengan mayoritas (atau indeks saham). Marks memiliki konsep investasi kontrarian, di mana Marks mengatakan bahwa banyak peluang value investing terdapat ketika pasar sedang pesimis. Ketika pasar sedang pesimis dan terjadi bearish market, justru di saat itulah peluang besar untuk mendapatkan return maximal dengan risiko yang minimal bisa didapatkan oleh investor. Hal ini mungkin sudah tidak terlalu asing di telinga kita, karena filosofi ini juga mirip dengan filosofi Warren Buffett: “Be fearful when others are greedy, be greedy when others are fearful.

 

Kesimpulan

Howard Marks adalah salah satu investor hebat di zaman sekarang, yang mungkin namanya tidak terlalul terngiang seperti Warren Buffett atau seperti yang lainnya. Pencapaian Marks sendiri sangat luar biasa, mencatatkan return rata-rata per tahun sebesar 19% selama 22 tahun investasinya, jauh mengungguli imbal hasil dari instrumen investasi konvensional seperti deposito maupun obligasi negara.

Banyak hal yang bisa kita pelajari dari filosofi investasi Howard Marks, antara lain seperti: second-level thinking & consistency, market inefficiency, understanding risk, price-value relationship, investment cycle, dan juga contrarian approach.

 

 

Nah, untuk Anda yang ingin atau sedang menyusun investing plan Anda, tapi memiliki waktu yang terbatas untuk mengolah banyaknya informasi yang beredar, Anda bisa menggunakan Monthly Investing Plan edisi Januari 2021 yang telah terbit…

Monthly Investing Rivan Kurniawan

 

###

 

Info:

 

 

Tags : Underrated Value Investor Howard | Underrated Value Investor Howard | Underrated Value Investor Howard | Underrated Value Investor Howard | Underrated Value Investor Howard | Underrated Value Investor Howard | Underrated Value Investor Howard | Underrated Value Investor Howard | Underrated Value Investor Howard |

You may also like

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Rivan adalah seorang Indonesia Value Investor yang memulai investasi sejak tahun 2008 ketika berusia 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, Rivan berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Berbekal pengalamannya, Rivan saat ini menjalani profesi sebagai Full Time Investor sekaligus praktisi di pasar modal. Saat ini, Rivan aktif mengadakan workshop dan pelatihan kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko di pasar saham.

Like Us On Facebook

Facebook Pagelike Widget

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Categories

Share this Post

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami