Mengenal Istilah Electoral College Dalam US Election

Mengenal Istilah Electoral College Dalam US Election


Politisi Partai Demokrat sekaligus mantan Wakil Presiden AS Joe Biden, akhirnya menempati posisi unggul dalam Pemilihan Presiden AS tahun 2021. Dan seperti yang kita tahu, Pemilu AS ini tidak seperti pemilu di beberapa negara seperti Indonesia. Dalam Pemilu AS ini, Presiden dan Wakil Presiden AS tidak pilih langsung oleh rakyat, melainkan dipilih oleh Elector yang menjadi penerima mandat partai. Dan semua kandidat, akan tetap melalui proses pemilihan Elector yang disebut dengan Electoral College. Lantas apa itu Electoral College ? Dan bagaimana penerapannya dalam Pemilu ?

 

Sejarah Electoral College

Sejarah pemilihan presiden AS menggunakan Electoral College ini dimulai sejak Amerika Serikat (AS) merdeka pada tahun 1776. Di mana sebagai negara yang baru merdeka, AS belum memiliki sistem pemilihan presiden yang jelas. Sehingga seringkali dalam pemilihan presiden menimbulkan perdebatan dan banyak menuai kontra, mulai dari sekelompok orang yang berpendapat bahwa Kongres tidak boleh ada hubungannya dengan pemilihan presiden, karena akan ada peluang untuk korupsi, sehingga pemilihan presiden harus dilakukan secara langsung atau popular vote. Sampai sebagiannya lagi menentang pemilihan presiden dengan popular vote, dengan beberapa alasan seperti : Pertama,  abad ke -18 dinilai kekurangan sumber daya untuk mendapatkan informasi lengkap tentang kandidat, terutama untuk di daerah pedesaan. Kedua, warga AS juga mengkhawatirkan adanya ‘massa demokratis’ yang cenderung keras dan menyesatkan negara. Ketiga, khawatir dengan presiden populis yang dianggap bisa ‘membahayakan’ jika berkuasa.

AS sendiri melakukan hampir berbagai metode pemilihan presiden atau badan eksekutif, mulai dari pemilihan langsung oleh legislatif, pemilihan langsung oleh gubernur, hingga ke metode lotre. Semua metode tadi dicoba, semata-mata agar AS bisa mempunyai sistem yang tepat ketika pemilihan presiden akan dilangsungkan.

Pada akhirnya, muncul metode yang didasarkan atas gagasan perantara pemilu. Bahwa, perantara tidak akan dipilih oleh Kongres ataupun dipilih oleh rakyat. Melainkan, masing-masing negara bagian akan menunjuk pemilih atau elector independen yang akan memberikan suara sebenarnya untuk mendapatkan kursi kepresidenan. Metode ini juga disebut untuk melindungi hak negara bagian, meningkatkan kemandirian dari eksekutif, dan menghindari pemilihan umum. Bahkan menariknya, dalam negosiasi ini dinyatakan bahwa Anggota Kongres secara tegas dilarang untuk menjadi pemilh. Di mana Konstitusi justru mewajibkan DPR dan Senat untuk melakukan penghitungan surat suara dari Electoral College.

Dalam mekanismenya, pemilihan presiden AS ini tidak dipilih melalui pemungutan suara langsung. Melainkan, melalui lembaga presiden yang akan dipilih oleh setiap negara bagian, sesuai aturan hukum masing-masing negara bagian. Pemilih juga akan mencoblos untuk elector dari negara bagian mereka tanpa membeda-bedakan antara surat suara untuk Presiden dan Wakil Presiden. Adapun ketentuan untuk kandidat, setidaknya harus mendapatkan suara (lembaga pemilih) mayoritas dari semua suara yang diberikan, maka akan memenangkan kursi kepresidenan. Diikuti pula, calon dengan jumlah suara terbesar kedua akan menjadi Wakil Presiden. Sebaliknya, bila tidak ada yang memperoleh mayoritas, maka pemilihan presiden akan ditentukan oleh Kongres yakni DPR untuk kandidat presiden, dan Senat untuk kandidat wakil presiden.

Hingga pada akhirnya di tahun 1796, AS bisa dikatakan berhasil untuk pertama kalinya dalam melaksanakan pemilihan presiden. Hal itu ditandai dengan terpilihnya John Adams sebagai Presiden dan Thomas Jefferson sebagai Wakil Presiden.

 

Masa Jabatan 4 Maret 1797 – 4 Maret 1801. Source : wikipedia.org/John_Adams

 

Jadi, Apa itu Electoral College ?

Dari sejarah singkat mengenai Electoral College di atas, setidaknya sekarang kita tahu, bahwa Electoral College adalah kelompok/lembaga Konstitusional yang memilih presiden dan wakil presiden AS. Jika, mengacu pada undang-undang yang ada, lembaga Elector College ini diatur dalam Pasal II Ayat 1 Konstitusi AS mengenai pemilihan lembaga presiden di semua negara bagian setiap empat tahun sekali. Dengan begitu, bisa diartikan bahwa Electoral College ini akan menjalankan tugasnya dalam memilih presiden dan wakil presiden, setelah beberapa pekan pemungutn suara dilakukan di negara bagian. Adapun untuk anggota-anggota Electoral College ini dicalonkan oleh partai politik di tingkat negara bagian.

Sedangkan untuk jumlah anggota Elector di setiap negara bagian, akan ditentukan oleh total populasi di masing-masing sebuah negara bagian. Bila mengacu pada aturan terdahulu, maka total rata-rata anggota elector besarnya sekitar ±538 orang sejak pemilihan presiden di tahun 1964. Tercatat negara dengan electoral college terbanyak adalah California (55), Texas (34), dan New York (31). Sementara negara bagian dengan jumlah penduduk paling sedikit adalah Alaska, Delaware, Montana, North Dakota, South Dakota, Vermont, Wyoming dan lainnya, setidaknya akan diwakilkan oleh minimal tiga orang. Setiap orang dalam lembaga ini memiliki satu hak suara. Artinya, syarat untuk kandidat presiden memenangkan kursi kepresidenan AS, setidaknya harus mendapatkan suara sekitar 270 atau lebih dari total 538 electoral.

Source : www.bbc.com

 

Apa Dampak Terbesar dari Electoral College ?

Mengacu pada penjelasan di atas, nah kira-kira bagaimana jika seorang kandidat presiden justru memenangkan suara bukan dari anggota Electoral College, apakah akan tetap menjadi presiden AS atau sebaliknya ?

Pada bagian ini, bisa dikatakan adalah dampak dari metode Electoral College dalam pemilihan presiden AS. Pasalnya, metode Electoral College yang sudah berjalan ±200 tahun ini, hanya akan memberikan peluang terbesar bagi kandidat yang bisa meraup suara terbanyak sekitar 270 atau lebih, seperti yang sudah dijelaskan di atas.

Itu artinya, ketika kandidat lainnya memenangkan suara populer mayoritas secara nasional di kalangan pemilih, namun gagal mendapatkan suara terbanyak sekitar 270 suara dari anggota Electoral College. Maka bisa saja, kandidat ini tidak terpilih jadi presiden dan kalah.

Hal ini telah dibuktikan, dari beberapa pemilihan presiden AS terakhir, di mana kursi kepresidenan AS ini justru dimenangkan oleh kandidat yang tidak mendapat suara terbanyak dari masyarakat. Sebut saja, beberapa kejadiannya …

  • John Quincy Adams, pada tahun 1824, terdapat empat kandidat presiden yakni Andrew Jackson, John Quincy Adams, William Crawford dan Henry Clay. Pada saat penghitungan suara, Andrew Jackson memenangkan suara populer dan Electoral College. Tetapi untuk memenangkan kursi kepresidenan, ia membutuhkan lebih banyak suara elektoral sekitar 32 suara lagi. Saat itu, dinyatakan tidak ada kandidat presiden yang memenangkan mayoritas suara elektoral, hingga Konstitusi mengirimkan suara ke DPR. Berdasarkan Amandemen ke-12, DPR hanya dapat memberi suara pada tiga peraih suara teratas, yang menghilangkan Clay dari pencalonan, tetapi tidak menghentikan Clay yang juga sebagai Ketua DPR. Kendati demikian, DPR memilih Adams sebagai presiden AS, meski nyatanya Jackson telah mengalahkan Adams dengan 99 suara elektoral menjadi 84.

John Quincy Adams

 

  • Rutherford B. Hayes, pemilihan presiden AS tahun 1876 diputuskan langsung melalui Kongres. Sayangnya, persaingan buruk terjadi antara Rutherford – Republik dan Samuel Tilden – Demokrat. Ketika suara dihitung, Tilden memenangkan 184 suara elektoral, tepat satu suara di bawah mayoritas yang dibutuhkan pada saat itu untuk memenangkan kursi kepresidenan. Sementara Rutherford memenangkan 165, tetapi 20 suara elektoral lagi masih dalam sengketa. Untuk mengatasi itu, Kongres pun membentuk Komisi Pemilihan Federal bipartisan yang terdiri dari perwakilan DPR, senator, dan hakim Mahkamah Agung. Komisi memberi 20 suara pemilihan yang disengketakan kepada Rutherford, yang memenangkan pemilihan dengan selisih tipis: 185 hingga 184. Padahal, Rutherford telah kehilangan suara populer dan suara elektoral. Akibatnya, sejarawan percaya bahwa ada kesepakatan yang ditengahi antara kedua pihak. Demokrat, yang bentengnya di Selatan, setuju untuk membiarkan Hayes menjadi presiden dengan imbalan bahwa pihak Republik berjanji untuk menarik semua pasukan federal dari bekas negara bagian Konfederasi.

Rutherford B. Hayes

 

  • Benjamin Harrison, pemilihan presiden tahun 1888 antara Grover Cleveland – Demokrat dengan Benjamin Harrison – Republik cukup sengit. Pasalnya, kedua partai menuduh kandidat lain membayar warga untuk memilih calon mereka. Yang disebut “floaters” atau pemilih tanpa loyalitas partai yang bisa dijual kepada penawar tertinggi. Di tengah persaingan itu, akhirnya Cleveland menguasai seluruh wilayah Selatan. Sedangkan Harrison memenangkan Utara dan Barat, termasuk negara bagian asal Cleveland, Indiana dengan selisih tipis. Dengan menyapu Selatan, Cleveland memenangkan suara populer dengan lebih dari 90.000 suara, tetapi dia masih kalah dalam pemilihan umum 233 banding 168.

Benjamin Harrison

 

  • George W. Bush, pemilihan presiden tahun 2000 juga tak kalah sengit, bahkan berlanjut ke Mahkamah Agung. Saat itu kandidatnya adalah George W. Bush – Republik yang bersaing dengan Al Gore – Demokrat. Pada malam pemilihan, hasilnya terlalu mendekati untuk disimpulkan di tiga negara bagian: Oregon, New Mexico dan Florida. Gore pun memenangkan Oregon dan New Mexico dengan margin paling tipis (hanya 366 suara di New Mexico), yang meninggalkan Florida untuk memutuskan kepresidenan. Sedangkan di Florida persaingan sangat dekat sehingga negara bagian mengharuskan penghitungan ulang. Sayangnya, Menteri Luar Negeri Florida Katherine Harris menyatakan Bush sebagai pemenang dengan 537 suara. Gore pun menggugat, dengan alasan bahwa tidak semua surat suara telah dihitung. Mahkamah Agung Florida memihak Gore, tetapi Bush mengajukan banding ke Mahkamah Agung AS, yang akhirnya memberi suara 5 : 4 untuk membatalkan keputusan pengadilan Florida dan menghentikan penghitungan ulang. Meski demikian, Bush tetap memenangkan Electoral College 271 : 266, sementara Gore akhirnya mendapatkan 500.000 lebih banyak suara dalam pemilihan umum.

George W. Bush

 

  • Donald Trump, dalam pemilihan presiden tahun 2016, Trump – Republik ini memperoleh selisih tiga juta suara di bawah pesaingnya, Hillary Clinton – Demokrat. Akhirnya tetap memenangkan kursi kepresidenan AS, lantaran Trump mengantongi suara terbanyak dari Electoral College. Kemenangan Trump ini terlepas dari fakta bahwa Hillary Clinton menerima lebih banyak suara sebesar 2.8 juta suara populer. Namun pada akhirnya, Trump yang tidak mendapatkan jutaan suara populer, justru memenangkan kursi kepresidenan karena Trump memegang 304 suara electoral college. Angka ini jauh lebih tinggi, daripada raihan Hillary Clinton 227 suara electoral college.

Donald Trump

 

Electoral College dalam Pemilihan Presiden AS 2020

Nah, metode Electoral College ini pun masih dilakukan hingga ke pemilihan presiden yang baru-baru ini telah dilaksanakan oleh AS. Di mana hasilnya, Joe Biden yang merupakan kandidat dari Partai Demokrat jauh lebih unggul dan mengalahkan Trump yang berasal dari Partai Republik. Joe Biden Presiden AS ke 46 ini, unggul dengan meraih 290 suara elektoral votes. Sementara Trump hanya mendapatkan 214 suara. Menariknya, Joe Biden telah menunjuk mantan regulator pasar derivatif Gary Gensler, yang memiliki reputasi tangguh di Wall Street, untuk mengerjakan rencana transisi untuk pengawasan industri keuangan. Nah, beberapa waktu sebelum artikel ini ditulis, Penulis sudah lebih dulu nih menulis artikel terkait dengan Joe Biden…

Arah Kebijakan Joe Biden

[Baca lagi : Melihat Arah Kebijakan Joe Biden, Jika Terpilih Menjadi Presiden AS…]

 

 Kesimpulan

Kembali lagi pada pertanyaan di atas, apa itu Electoral College ? Dan bagaimana penerapannya dalam Pemilu ?

Sejarah pemilihan presiden AS menggunakan Electoral College ini dimulai sejak Amerika Serikat (AS) merdeka pada tahun 1776. Saat itu, AS belum memiliki sistem pemilihan presiden yang jelas, bahkan AS sudah melakukan berbagai metode pemilihan presiden mulai dari pemilihan langsung oleh legislatif, pemilihan langsung oleh gubernur, hingga ke metode lotre. Semua metode tadi dicoba, semata-mata agar AS bisa mempunyai sistem yang tepat ketika pemilihan presiden akan dilangsungkan. Hingga akhirnya AS menerapkan metode Electoral College dalam pemilihan predisen dan wakil presiden AS. Lembaga presiden ini dilaksanakan di semua negara bagian setiap empat tahun sekali. Adapun untuk penerapannya, untuk jumlah anggota Elector di setiap negara bagian, akan ditentukan oleh total populasi di masing-masing sebuah negara bagian. Bila mengacu pada aturan terdahulu, maka total rata-rata anggota elector besarnya sekitar ±538 orang sejak. Artinya, persyaratan untuk kandidat presiden memenangkan kursi kepresidenan AS, setidaknya harus mendapatkan suara sekitar 270 atau lebih dari total 538 electoral.

Kendati demikian, electoral college ini bisa berdampak besar pada hasil pemilihan presiden, di mana pemenang pemilihan presiden akan tetap dimenangkan oleh mereka yang mengantongi suara electoral college yang lebih besar, dibandingkan dengan suara populer yang dihasilkan oleh masyarakat.

 

 

E-Book Quarter Outlook Q3 2020 telah terbit, dengan E-Book Quarter Outlook ini Anda bisa mengetahui saham apa saja yang memiliki fundamental bagus dan harganya masih terdiskon (undervalued). Yuk, dapatkan segera di E-Book Quarter Outlook

 

 

###

 

 

Info:

 

 

Tags : Istilah Electoral College | Istilah Electoral College | Istilah Electoral College | Istilah Electoral College | Istilah Electoral College | Istilah Electoral College | Istilah Electoral College | Istilah Electoral College | Istilah Electoral College | Istilah Electoral College | Istilah Electoral College | Istilah Electoral College

You may also like

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Rivan adalah seorang Indonesia Value Investor yang memulai investasi sejak tahun 2008 ketika berusia 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, Rivan berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Berbekal pengalamannya, Rivan saat ini menjalani profesi sebagai Full Time Investor sekaligus praktisi di pasar modal. Saat ini, Rivan aktif mengadakan workshop dan pelatihan kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko di pasar saham.

Like Us On Facebook

Facebook Pagelike Widget

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Categories

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami