BSDE Kerjasama dengan Mitbana Kembangkan Smart City Seluas 100 Hektar, Prospek Positif untuk BSDE?

BSDE Kerjasama dengan Mitbana Kembangkan Smart City Seluas 100 Hektar, Prospek Positif untuk BSDE?


Salah satu emiten properti terbesar di Indonesia, PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), kemarin baru saja mengumumkan kerja sama dengan perusahaan asal Singapura, Mitbana Pte Ltd, sebuah perusahaan joint venture dari Mitsubishi Corp dan Surbana Jurong Pte Ltd. Kerja sama BSDE dan Mitbana akan menghasilkan sebuah proyek yang berkonsep smart city dan juga Transit Oriented Development (TOD) di atas lahan seluas 100 hektar dan berlokasi di BSD City, Tangerang. Dengan kerja sama yang dilakukan ini, apakah menjadi prospek positif bagi saham BSDE ke depannya?

 

Profil Perusahaan BSDE

PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) adalah perusahaan property yang resmi didirikan pada tahun 1984 oleh konsorsium pemegang saham untuk mengembangkan BSD City. BSDE bergerak sebagai grup bisnis di bawah Sinar Mas Land dengan proyek andalannya, BSD City yang mengkombinasikan properti perumahan, bisnis dan komersial. Sejak saat itu perusahaan telah menjadi pengembang kota mandiri yang terdepan, bahkan sudah diakui sebagai rancangan kota paling ambisius di Indonesia. Selain itu, BSDE juga telah resmi melakukan IPO perdana dengan harga Rp 550/lembar saham di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2008.

Source: bsd.city

Secara umum, bisnis BSDE adalah: Pembangunan perumahan, perkantoran dan pusat niaga, perhotelan, serta kawasan perindustrian, pusat sarana olahraga, beserta fasilitas-fasilitasnya. Portfolio usaha yang dimiliki BSDE meliputi pembangunan jalan tol, pembangunan area perkantoran, pembangunan mall dan pembangunan kota mandiri, yang tersebar di beberapa daerah seperti Palembang, Balikpapan, Samarinda, Manado, Jakarta, Semarang, Surabaya, dan Makassar.

Beberapa proyek yang sedang dijalankan oleh BSDE antara lain:

  • Perkotaan Mandiri (Township):
  1. BSD City: Daerah Bogor, Surabaya dan Tangerang,
  2. Grand Wisata: Bekasi,
  3. Kota Wisata: Cibubur.

 

  • Residensial:
  1. Bale Tirtawana: Tangerang,
  2. Grand City: Balikpapan,
  3. Legend Wisata: Cibubur.

 

  • Project-project komersial:
  1. Foresta Business Loft,
  2. Pasar Modern,
  3. ICE, dan lain sebagainya di daerah BSD City.

 

  • Dan masih banyak project lain dengan nama-nama besar seperti:
  1. Green Office Park,
  2. Bakrie Tower,
  3. Sinar Mas Land Plaza,
  4. ITC,
  5. Mal Ambasador,
  6. AEON Mall,
  7. QBig,
  8. The Breeze, dan lainnya.

 

Kinerja Keuangan BSDE

Pada Q2 2020 kemarin, BSDE mencatatkan penurunan pendapatan sebesar -35.08% YoY dari Rp 3.6 triliun turun menjadi Rp 2.3 triliun pada Q2 2020. BSDE mencatatkan penurunan penjualan tanah dan bangunan sebesar -37.3% dari Rp 2.7 triliun turun menjadi Rp 1.7 triliun saja. Diikuti dengan penurunan pendapatan sewa sekitar -23.8% YoY, dari Rp 544.4 miliar menjadi Rp 414.7 miliar. Lalu, pendapatan hotel dan rekreasi area yang juga mengalami penurunan masing-masing sebesar -58% dan -73.7% YoY. Sampai ke bottom line, BSDE pun mencatatkan rugi bersih sebesar Rp 89.3 miliar, turun dari pencapaian laba bersih pada Q2 2019 lalu sebesar Rp 2 triliun.

Source: LK BSDE Q2 2020

 

Dengan hampir 50 project yang dimiliki oleh BSDE, penurunan pendapatan BSDE pada Q2 2020 ini disebabkan oleh adanya penurunan daya beli karena Covid-19. Meskipun BSDE masih mencatatkan rugi bersih pada Q2 2020 ini, perlu Anda ketahui bahwa setidaknya BSDE masih mencatatkan arus kas investasi (OCF) positif sebesar Rp 318.1 miliar pada Q2 2020. Hal ini mengindikasikan bahwa setidaknya kinerja arus kas BSDE juga masih menghasikan arus kas bagi perusahaan. Selain itu, BSDE juga mendapatkan tambahan dana segar sebesar Rp 4.3 triliun pada Q2 2020 dari sisi arus kas pendanaan (FCF), karena adanya penerimaan utang obligasi sebesar Rp 4 triliun dan juga adanya penerimaan atas peningkatan modal saham tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (non-HMETD) sebesar Rp 1.2 triliun. Hal lain yang jangan kita lupa juga, bahwa BSDE ini masih melakukan pembayaran utang bank jangka panjang sebesar Rp 581.9 miliar, melakukan pembayaran uang muka dividen sebesar Rp 75 miliar dan melakukan pembayaran bunga sebesar Rp 494.7 miliar.

Historis Pendapatan BSDE. Source: Cheat Sheet Q2 2020

[Klik, untuk Berlangganan Cheat Sheet Q2 2020]

Jadi secara singkat, dapat disimpulkan bahwa kinerja profitabilitas BSDE pada Q2 2020 ini memang mengalami penurunan yang drastis, disebabkan oleh Covid-19. Meskipun begitu, BSDE masih tetap bisa mencatatkan arus kas operasi yang positif dan juga masih mendapatkan dana segar dari aksi korporasi yang dilakukan. Selain itu, apabila dilihat secara historis, pendapatan BSD sebenarnya setiap tahun cenderung mengalami pertumbuhan (pada tahun 2017 terdapat penjualan besar langsung kepada pihak ketiga sebesar sekitar Rp 3 triliun).

 

Project ToD dan Smart City

Project Transit Oriented Development dan Smart City yang diusung oleh BSDE dan Mitbana, apakah akan berdampak positif bagi kinerja BSDE di masa depan ? Sebelumnya, Penulis ingin mengajak Anda untuk memahami terlebih dahulu apa itu konsep TOD dan smart city.

Yang pertama, konsep TOD. Transit oriented development adalah konsep property yang dirancang dengan menggabungkan area residensial dan komersial, ke dalam satu area yang didesain untuk memaksimalkan akses ke transportasi publik seperti commuter line, MRT, dan LRT. Umumnya, suatu lingkungan TOD mempunyai pusat area dengan stasiun transit atau stasiun pemberhentian (stasiun kereta, stasiun metro, pemberhentian bus dan sebagainya). Tak hanya itu, lingkungan TOD ini juga dikelilingi oleh infrastruktur yang mendukung kegiatan masyarakatnya seperti tempat tinggal, perkantoran, pusat perbelanjaaan. TOD sendiri didesain untuk menciptakan ruang kota yang lebih hidup yang berorientasi pada para pejalan kaki dan pengguna transportasi publik.

Berdasarkan Kementerian Agraria dan Tata Ruang / Badan Pertanahan Nasional RI (ATR/BPN) menyebutkan, bahwa pengembangan kawasan berorientasi transit atau TOD merupakan salah satu solusi permasalahan transportasi dan lingkungan di kawasan perkotaan, terutama kota-kota besar khususnya di DKI Jakarta.

Kelebihan dari adanya transit oriented development, dikutip dari The Transit Oriented Development Institute adalah sebagai berikut:

  1. Kualitas hidup penghuninya cenderung lebih baik utuk tinggal, bekerja dan bermain,
  2. Mobilitas yang menjadi lebih mudah karena dekat dengan transportasi publi
  3. Kemacetan lebih sedikit dibandingkan hunian dengan konsep lainnya,
  4. Nilai properti lebih tinggi dan stabil yang relatif menguntungkan bagi para investor,
  5. Gaya hidup yang dibangun juga lebih sehat, karena lebih banyak berjalan dibandingkan menggunakan kendaraan pribadi.

 

Berikutnya yang kedua tentang Smart City. Sebuah kota dapat dikatakan Smart City jika di dalamnya lengkap dengan infrastruktur dasar, juga memiliki sistem transportasi yang lebih efisien dan terintergrasi.  Sehingga meningkatkan mobilitas masyarakat. Konsep itu juga menciptakan kualitas hidup masyarakat yang terus meningkat, rumah dan bangunan yang hemat energi, bangunan ramah lingkungan dan memakai sumber energi terbarukan.

Source: acehtrend.com

 

Indonesia sendiri memiliki target untuk menuju 100 Smart City. Gerakan menuju 100 Smart City merupakan program bersama Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian PUPR, Bappenas dan Kantor Staf Kepresidenan. Gerakan tersebut bertujuan membimbing Kabupaten/Kota dalam menyusun Master Plan Smart City agar bisa lebih memaksimalkan pemanfaatan teknologi, baik dalam meningkatkan pelayanan masyarakat maupun mengakselerasikan potensi yang ada di masing-masing daerah.

 

Kesimpulan

Nah.. Kembali lagi ke kasus BSDE. Melihat dua potensi TOD dan Smart City di Indonesia, BSDE mengambil peluang ini untuk mengembangkan lahan luas yang dimilikinya (fun fact: BSDE merupakan emiten properti yang memiliki landbank terbesar ke-2 di Indonesia).

Master Plan BSD City. Source: Public Expose BSDE

Dapat dilihat dalam master plan BSD City, bahwa BSDE masih memiliki lahan sebesar 6000 hektar untuk dikelola, yang terdiri dari fase 1 – fase 3. Dengan adanya pengembangan TOD dan Smart City, bukan tidak mungkin bahwa konsep properti ini akan menjadi pembawa trend property di Indonesia untuk dikembangkan. Setidaknya, melalui aksi korporasi ini, BSDE akan memperkaya kembali portfolio produk BSDE.

 

###

 

Info:

 

Tags : BSDE Kerja Sama dengan Mitbana | BSDE Kerja Sama dengan Mitbana | BSDE Kerja Sama dengan Mitbana | BSDE Kerja Sama dengan Mitbana | BSDE Kerja Sama dengan Mitbana | BSDE Kerja Sama dengan Mitbana | BSDE Kerja Sama dengan Mitbana | BSDE Kerja Sama dengan Mitbana

You may also like

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Rivan adalah seorang Indonesia Value Investor yang memulai investasi sejak tahun 2008 ketika berusia 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, Rivan berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Berbekal pengalamannya, Rivan saat ini menjalani profesi sebagai Full Time Investor sekaligus praktisi di pasar modal. Saat ini, Rivan aktif mengadakan workshop dan pelatihan kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko di pasar saham.

Like Us On Facebook

Facebook Pagelike Widget

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Categories

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami