Salah Satu Bisnis ROTI di Divestasi, Untung atau Buntung ?

Salah Satu Bisnis ROTI di Divestasi, Untung atau Buntung ?


Salah satu produsen roti tawar di Indonesia, PT Nippon Indosari Corpindo Tbk (ROTI) telah melakukan penjualan seluruh kepemilikan saham mereka di bisnis Filipina, Sarimonde Foods Corporation (SMFC), di mana ROTI memiliki 55% sahamnya. ROTI menjual kepada pemegang saham lainnya, Monde Nissin Corporation (MNC). Dengan dilakukannya aksi korporasi penjualan bisnis SMFC, apakah menjadi prospek yang positif bagi ROTI ke depannya ?

 

Company Profile ROTI

PT Nippon Indosari Corpindo Tbk (ROTI) dikenal dengan brand produk rotinya, “Sari Roti”. ROTI resmi berdiri pada 8 Maret 1995 dengan nama PT Nippon Indosari Corporation. Pada tahun 2003, nama Perseroan berubah dari PT Nippon Indosari Corporation menjadi PT Nippon Indosari Corpindo. Di tahun 2010, ROTI resmi melakukan IPO dan merubah status badan hukumnya menjadi perusahaan terbuka (Tbk) dengan perdagangan saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia. ROTI melakukan IPO pada tahun 2010 dengan merubah status badan hukumnya menjadi perusahaan terbuka (Tbk) dengan perdagangan saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia.

 

Pemegang Saham ROTI. Source : Laporan Tahunan ROTI 2019

 

Per akhir tahun 2019 kemarin, kepemilikan saham ROTI terbesar adalah dikuasai oleh pendiri dan pengendali ROTI yang menguasai 55.06% dari total saham ROTI. Pihak kedua adalah masyarakat yang memiliki 25.6% saham ROTI, 18.05% dipegang oleh Demeter Indo Investment Pte. Ltd. (KKR & Co. L.P.) dan sisanya 1.29% adalah saham treasury.

Perlu Anda ketahui bahwa pada tahun 2006, perseroan ini telah berhasil mendapatkan sertifikat HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point) yang merupakan sertifikat jaminan keamanan pangan. Sebagai bukti komitmen Perseroan dalam mengedepankan prinsip 3H (Halal, Healthy, Hygienic) pada setiap produk Sari Roti. Produk Sari Roti juga telah terdaftar melalui Badan BPOM Indonesia dam memperoleh sertifikat Halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Tak hanya itu, ROTI juga telah berhasil memperoleh beberapa penghargaan, di antaranya Top Brands,, Top Brand for Kids, Indonesia Original Brands, Investor Award, penghargaan dari Forbes Asia dan beberapa penghargaan lainnya.

 

 

 

Analisa Keuangan ROTI

Historical Pendapatan ROTI (2020 annualized). Source: Cheat Sheet Q2 2020. 

[Klik, untuk Berlangganan Cheat Sheet Q2 2020]

 

Pada Q2 2020 kemarin, ROTI mencatatkan peningkatan pendapatan sebesar +5.48% YoY dari Rp 1.5 triliun pada Q2 2019 lalu menjadi Rp 1.6 triliun per Q2 2020 ini. Peningkatan pendapatan ini disebabkan karena adanya peningkatan penjualan di segmen roti tawar (+16.17% YoY), sedangkan segmen lainnya mengalami penurunan (roti manis -11.37% YoY, kue -40.95% YoY). Jadi peningkatan pendapatan ROTI pada Q2 2020 ini meningkat karena adanya peningkatan utama dari segmen roti tawar. Sebagai kontributor utama terhadap total pendapatan perusahaan (~80% terhadap total pendapatan perusahaan).

 

Pendapatan ROTI per Q2 2020. Source : Laporan Keuangan ROTI Q2 2020

 

Meskipun secara pendapatan perusahaan mengalami peningkatan, laba bersih perusahaan mengalami sedikit penurunan (-9.86% YoY) dari Rp 101.4 miliar menjadi Rp 91.4 miliar pada Q2 2020. Penurunan laba bersih ini disebabkan adanya pengurangan pendapatan keuangan ROTI dari Rp 38.7 miliar menjadi Rp 23.5 miliar saja per Q2 2020. Selain itu, beban bunga (keuangan) perusahaan juga meningkat dari Rp 32.2 miliar menjadi Rp 40.8 miliar di Q2 2020.

Dari sisi kesehatan keuangan perusahaan, ROTI masih termasuk perusahaan yang memiliki kondisi keuangan yang sehat, karena pada Q2 2020 kemarin ROTI mencatatkan liquidity ratio 1.84x, cash ratio 1.1x, dan DER 0.72x. Lebih baik dibandingkan rata-rata perusahaan lain yang tercatat di BEI dengan rasio LR 1x, CR 0,3x dan DER 1x. Dengan kondisi seperti ini, dapat kita simpulan bahwa ROTI masih termasuk yang menghasilkan pertumbuhan keuntungan, bahkan pada masa sekarang dengan adanya Covid-19, ROTI masih mampu mencatatkan peningkatan pendapatan. Selain itu, kondisi keuangan ROTI juga tergolong masih sangat baik. Nah pertanyaannya, mengapa perusahaan melakukan divestasi anak usaha dan bagaimana kira-kira kondisi perusahaan setelah melakukan divesasti anak usahanya?

 

Divestasi Anak Usaha ROTI

Dikutip dari keterbukaan informasi BEI pada 9 September 2020 lalu, ROTI menyatakan telah melakukan divestasi saham pada anak usahanya yakni Sarimonde Foods Corporation (SMFC), sebuah perusahaan yang berdiri berdasarkan hukum negara di Filipina

Produsen Sari Roti tersebut telah menyetujui penjualan dan pengalihan seluruh sahamnya kepada MNC (Monde Nissin Corporation) yang telah sepakat untuk membeli dan menerima pengalihan dari ROTI atas seluruh 55% saham yang dimiliki ROTI. Divestasi kepemilikan saham ROTI atas anak usaha ROTI tersebut setara dengan nilai nominal Php 256.150.000 atau setara Rp 78.68 miliar, jika berpatokan pada kurs transaksi jual peso Filipina oleh Bank Indonesia sebesar Rp 307.15 per peso Filipina. ROTI juga menjelaskan, penyelesaian penjualan dan pengalihan saham tunduk pada terpenuhinya atau dikesampingkannya persyaratan pendahuluan yang telah disepakati dalam perjanjian jual beli saham.

Sebagai informasi, dikutip dari laporan keuangan perseroan per Juni 2020, SMFC adalah perusahaan yang beroperasi di Filipina sejak tahun 2016 dengan total aset sebesar Rp 606.78 miliar. Adapun, penjualan di wilayah Filipina memang hanya menyumbang 3.08% atau setara Rp 51.6 miliar dari total pendapatan perseroan pada periode semester pertama tahun ini yang sebesar Rp 1.67 triliun. Perlu Anda ketahui juga bahwa kontribusi penjualan di Filipina memang tidak terlalu besar terhadap total pendapatan perusahaan, yakni hanya sebesar 3.08% atau setara Rp 51.6 miliar saja selama Q2 2020 ini.

 


Pabrik ROTI di Filipina. Source: Bisnis.com

 

Berdasarkan informasi yang Penulis dapatkan, ROTI melakukan penjualan saham anak usahanya agar ROTI dapat lebih berkonsentrasi kepada pengembangan usaha ROTI di dalam negeri. Pertanyaan berikutnya adalah: Lalu, dana yang didapat dari penjualan anak usaha itu dipakai untuk apa nih kira-kira? Masih dari sumber yang sama, ROTI mengemukakan bahwa dana yang diperoleh dari penjualan saham di SMFC ini akan digunakan untuk menunjang kegiatan usaha ROTI.

Perlu Anda ketahui bahwa, sebelumnya, SMFC diharapkan dapat menghasilkan keuntungan pada tahun 2021. Sedangkan per Q2 2020, SMFC memang membukukan pendapatan Rp 52 miliar atau naik 20.9% YoY. Namun, bisnis roti di Filipina ini melaporkan rugi bersih Rp 38 miliar atau turun 58.8% YoY.  Pasca divestasi, berdasarkan perjanjian lisensi eksklusif SMFC akan terus berproduksi roti dengan merek Sari Roti. Sementara itu, divestasi ini akan menghasilkan kerugian satu kali sebesar Rp 26 miliar di tahun 2020. Jadi, dapat dilihat bahwa sebenarnya bisnis ROTI di Filipina bukannya membawa keuntungan, tetapi justru menyebabkan penurunan kinerja perusahaan secara keseluruhan.

Nah, kalau Anda ingat, pada tahun 2018 yang lalu Penulis juga sudah pernah membahas kinerja ROTI yang berupaya memperbaiki kinerja keuangan perusahaannya… yuk review kembali artikelnya…

 

[Baca lagi : Saham ROTI Terjun Bebas ke Harga Rp 1.000-an, Apakah Emiten ini Mulai Tidak Disukai Investor ?]

 

Kesimpulan

ROTI merupakan salah satu emiten di BEI yang dikenal dengan produk roti tawarnya dengan brand “Sari Roti”. Berdiri pada tahun 1995, ROTI telah berkembang menjadi perusahaan yang menguasai market share industri roti di Indonesia.

Pada bulan September 2020 ini, ROTI melakukan divestasi (penjualan saham) anak usahanya, yakni , Sarimonde Foods Corporation (SMFC), di mana ROTI memilii 55% sahamnya. Divestasi kepemilikan saham ROTI atas anak usaha ROTI tersebut setara dengan nilai nominal Php 256.150.000 atau Rp 78.68 miliar jika berpatokan pada kurs transaksi jual peso Filipina oleh Bank Indonesia sebesar Rp 307.15 per peso Filipina. ROTI juga menjelaskan, penyelesaian penjualan dan pengalihan saham tunduk pada terpenuhinya atau dikesampingkannya persyaratan pendahuluan yang telah disepakati dalam perjanjian jual beli saham. Apakah divestasi ini menguntungkan?

Perlu Anda ketahui bahwa kontribusi penjualan yang diberikan oleh SMFC di Filipina memang tidak terlalu besar terhadap total pendapatan perusahaan, yakni hanya sebesar 3.08% atau setara Rp 51.6 miliar saja selama Q2 2020 ini. Bahkan, bisnis roti di Filipina ini melaporkan rugi bersih Rp 38 miliar atau turun 58.8% YoY. Jadi, SMFC ini bukan menyumbang keuntungan, tetapi kerugian bagi ROTI.

Melalui aksi korporasi ini, Penulis melihat hal ini merupakan hal yang baik bagi ROTI ke depannya karena: 1) ROTI “membuang beban berat” perusahaan. 2) ROTI mendapatkan dana segar setara Rp 78 miliar yang dapat digunakan untuk berekspansi atau investasi ke bisnis yang lainnya. Dengan begitu, setidaknya bisa dikatakan bahwa divestasi yang dilakukan oleh ROTI tersebut besar kemungkinan akan menjadikan kinerja perusahaan lebih baik lagi. Tentunya perusahaan tidak lagi terbebani oleh Sarimonde Foods Corporation (SMFC).

Nah, gimana dengan pendapat kalian ? Apakah divestasi yang dilakukan ROTI akan berdampak lebih baik bagi perusahaan ?

 

###

 

 

Info:

 

Tags : Divestasi Anak Usaha ROTI | Divestasi Anak Usaha ROTI | Divestasi Anak Usaha ROTI | Divestasi Anak Usaha ROTI | Divestasi Anak Usaha ROTI | Divestasi Anak Usaha ROTI | Divestasi Anak Usaha ROTI | Divestasi Anak Usaha ROTI | Divestasi Anak Usaha ROTI | Divestasi Anak Usaha ROTI | Divestasi Anak Usaha ROTI

You may also like

2 Comments

  • Ryan F
    October 4, 2020 at 11:52 PM

    di bagian kesimpulan, ada baiknya ditulis PER dan PBV dari laporan keuangan real yg ada di idx
    mengingat third party program, aplikasi2 itu = 100 jt % bullshit

  • Anisa
    October 4, 2020 at 11:54 PM

    ya, itu cheat sheet yg dijual mas rivan asli kan ? bikin sendiri,
    NP ny pake laba yg di atribusikan kan ?
    jangan ikut2an third party program itu, butut abis

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Rivan adalah seorang Indonesia Value Investor yang memulai investasi sejak tahun 2008 ketika berusia 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, Rivan berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Berbekal pengalamannya, Rivan saat ini menjalani profesi sebagai Full Time Investor sekaligus praktisi di pasar modal. Saat ini, Rivan aktif mengadakan workshop dan pelatihan kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko di pasar saham.

Like Us On Facebook

Facebook Pagelike Widget

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Categories

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami