JPFA Resmi Akuisisi 100% Saham So Good, Sentimen Positif untuk JPFA ?


Salah satu saham yang bergerak di sektor poultry di Indonesia, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) baru saja melakukan akuisisi besar dengan mengakuisisi PT So Good Food dan So Good Food Manufacturing, perusahaan yang memproduksi produk brand So Good. JPFA dan anak usahanya PT Ciomas Adiswasta telah menandatangani perjanjian jual beli dengan Jupiter Foods Pte Ltd dan Annona Pte terkait pembelian 100% saham So Good Food. Jadi dengan akuisisi ini, apakah akan berdampak signifikan terhadap peningkatan pendapatan JPFA ke depannya ?

 

Company Profile JPFA

PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA), didirikan pada tanggal 18 Januari 1971 dengan nama PT Java Pelletizing Factory, Ltd. Pada awal pendiriannya, Perseroan memproduksi produk pelet kopra secara komersial. Pada tahun 1975, JPFA mulai merambah bisnis pakan ternak dan kemudian tahun 1982 memasuki bisnis pembibitan ayam. Pertumbuhan usaha JPFA semakin bertambah pesat setelah JPFA mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia pada tahun 1989 dan mengakuisisi 4 (empat) perusahaan pakan ternak pada tahun 1990. Serta mengubah nama perusahaan menjadi PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. Dengan mengembangkan industri peternakan yang terintegrasi, JPFA telah mengalami perkembangan yang sangat pesat dan saat ini tercatat sebagai salah satu perusahaan agri-food terbesar dan terkemuka di tanah air. JPFA juga memiliki reputasi sebagai penghasil protein hewani berkualitas dan terpercaya, yang dengan setia melayani kebutuhan serta menjadi kebanggaan Indonesia sejak tahun 1975.

 

Pemegang Saham JPFA. Source : Laporan Tahunan JPFA 2019

 

Per akhir tahun 2019 kemarin, mayoritas saham JPFA dimiliki oleh JAPFA Ltd, Credit Suisse AG Singapore Trust yang sebesar 52.43%. Kemudian diikuti oleh masyarakat yang memiliki 47.51% saham JPFA, dan sisanya sebesar 0.006% merupakan saham yang dibeli kembali (treasury stock).

 

 

JPFA adalah perusahaan yang bergerak di sektor downstream sampai upstream dan tidak terbatas kepada sektor poultry saja, tetapi juga sektor aquaculture, dan beef cattle. Di sektor upstream, JPFA memliki bisnis pakan ternak (feed) dan breeding, bisnis commercial farming di midstream. Dan terakhir ada juga processed food di bagian downstream. Semua segmen yang terintegrasi ini membuat JPFA memiliki bisnis yang lebih efisien untuk dijalani.

Perlu Anda ketahui juga, JPFA merupakan pemain di industri poultry terbesar ke-2 di Indonesia untuk bidang pakan ternak dan DOC, di mana JPFA memiliki 18 pabrik pakan, 78 peternakan pembibitan, dan 27 tempat penetasan di seluruh Indonesia. JPFA pun juga memiliki lebih dari 100 perusahaan peternakan dengan lebih dari 10.000 kontrak peternakan.

 

Kinerja Keuangan JPFA pada Q2 2020

Per Q2 2020 kemarin, JPFA mencatatkan penurunan total penjualan sebesar -7.30% YoY dari Rp 18.2 triliun pada Q2 2019 menjadi Rp 16.9 triliun pada Q2 2020. JPFA memiliki beberapa segmen pendapatan, seperti: peternakan komersial dan pengolahan hasil peternakan, pakan ternak, pembibitan ayam, budidaya perairan, peternakan sapi, dan segmen lainnya. Mayoritas dari segmen pendapatan JPFA ini mencatatkan penurunan penjualan, contohnya: segmen pakan ternak turun -20.8% YoY dari Rp 4.9 triliun menjadi Rp 5.5 triliun, segmen pembibitan ayam turun dari Rp 1.6 triliun menjadi Rp 1.1 triliun. Meskipun ada juga segmen yang mencatatkan peningkatan seperti segmen peternakan komersial yang meningkat tipis dari Rp 7.1  triliun menjadi Rp 7.4 triliun pada Q2 2020 atau telah mengalami peningkatan sebesar +3.4% YoY. Secara keseluruhan kinerja JPFA memang masih mencatatkan penurunan, tetapi perlu diingat adalah ini hasil yang dicatat di tengah pandemic Covid-19. Dan apabila dibandingkan dengan emiten sektor lain, maka penurunan JPFA ini masih tergolong sangat baik. Perlu Anda ketahui juga bahwa JPFA sendiri tergolong perusahaan yang konsisten mencatatkan peningkatan kinerja dari tahun 2011 sampai sekarang, di mana jika dirata-ratakan pendapatan JPFA setiap tahunnya selalu meningkat +9.8%.

Sejalan dengan penurunan pendapatan, COGS JPFA juga mengalami penurunan sebesar -5.2% YoY dari Rp 14.9 triliun menjadi Rp 14.1 triliun pada Q2 2020, menyebabkan laba kotor JPFA juga turun -16.4% YoY ke Rp 2.7 triliun pada Q2 2020. Selain itu, peningkatan biaya keuangan dari Rp 335.9 miliar menjadi Rp 405 miliar, JPFA mencatatkan penurunan laba bersih sebesar -81.29% YoY dari Rp 829.2 miliar pada Q2 2019 menjadi Rp 155.1 miliar pada Q2 2020. Memang secara persentase mungkin terlihat bahwa JPFA turun signifikan, tetapi dari segi kinerja pendapatan terlihat bahwa JPFA hanya mencatatkan penurunan penjualan utama sebesar -7% an saja. Dengan kata lain, tentu saja masih ada ruang bertumbuh untuk JPFA ke depannya.

Nah, dari sisi kesehatan keuangan, JPFA mencatatkan liquidity ratio sebesar 1.73x, cash ratio sebesar 0.3x dan DER sebesar 1.54x. Dari jangka pendek, dapat dilihat bahwa JPFA masih memiliki kemampuan membayar utang yang baik dengan LR sebesar 1.73x. Sedangkan untuk jangka panjang, JPFA sendiri sedang berencana untuk melakukan right issue sebesar 30% dari jumlah saham disetor atau sebanyak-banyaknya 3.52 miliar lembar saham. Jadi dapat dilihat memang JPFA mencatatkan penurunan kinerja pada Q2 2020 ini.

Pertanyaannya, dengan adanya akuisisi So Good, apakah akan menjadi pendorong pertumbuhan kinerja JPFA untuk jangka panjang?

 

JPFA Akuisisi So Good

PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) mengumumkan rencana akuisisi 100% saham PT So Good Food senilai Rp1.2 triliun. Akuisisi tersebut merupakan transaksi afiliasi karena kedua perusahaan dimiliki oleh pihak yang sama, Japfa Ltd. Di mana akuisisi saham tersebut tertuang dalam perjanjian jual beli bersyarat yang ditandatangani pada 28 Agustus 2020. JPFA dan anak usahanya, PT Ciomas Adisatwa resmi mengambil alih 100% saham So Good Food dari pihak Anona Pte Ltd dan Jupiter Foods Pte Ltd. Perlu Anda ketahui juga bahwa akuisisi ini juga termasuk pembelian saham sejumlah 1000 saham Seri A, atau setara 0.004% saham yang telah ditempatkan dan disetor dalam SGFM yang dimiliki oleh Jupiter. Nilai transaksi mencapai Rp 1.21 triliun dan bukan termasuk transaksi material karena hanya 10.6% dari total ekuitas JPFA.

 

 

Berdasarkan laporan JPFA kepada BEI pada 28 Agustus 2020, pembayaran akan dilakukan dalam dua bentuk. Pertama dibayar tunai pada 30 November 2020, terdiri dari Rp 363.18 miliar dari JPFA ke Jupiter plus Rp 18.2 juta, dan Rp 1.03 miliar dari Ciomas Adisatwa ke Anona. Kedua, pembayaran dilakukan dalam bentuk penerbitan promissory notes kepada Jupiter senilai Rp 849.89 miliar. Instrumen itu akan dibayar oleh JPFA berdasarkan permintaan Jupiter. Promissory note tersebut akan dikenakan bunga sejak 16 April 2021 sebesar JIBOR (1 bulan) +2.25% per tahun, yang dihitung per hari berdasarkan perhitungan per tahun 365 hari, sampai Promissorynote tersebut dibayar oleh JPFA.

Penulis mengutip pernyataan manajemen JPFA yang menyatakan bahwa akuisisi So Good adalah langkah strategis dalam memperluas bisnis hilir, yaitu dengan memperbesar kapasitas fasilitas produksi daging olahan. Selain itu, akuisisi juga dimaksudkan untuk meningkatkan pemasaran dan penjualan langsung produk olahan kepada konsumen.  Memang secara umum, akuisisi So Good Food akan membuat bisnis perunggasan Japfa di sektor hulu terintegrasi dengan sektor hilir. Transaksi pengambilalihan saham itu juga bagian dari strategi integrasi vertikal. Artinya, produksi lokal untuk konsumsi lokal.

Jadi, dengan total akuisisi sebesar Rp 1.2 triliun, perlu Anda ketahui juga bahwa pada Q2 2020 kemarin JPFA memiliki jumlah kas sebesar Rp 2.2 trliun. Di mana sebenarnya jumlah ini masih termasuk dapat dikeluarkan oleh JPFA. Langkah yang diambil oleh JPFA adalah dengan tidak menggunakan seluruh kas internal, tetapi pembayaran pertama dilakukan dengan kas sebesar sekitar Rp 370 miliar pada 30 November 2020 nanti. Sisanya akan dibayar oleh JPFA menggunakan promissory notes sebesar ~Rp 850 miliar, dengan bunganya baru dibayarkan mulai April 2020.

Penulis melihat ini sebagai langkah yang baik, mengingat bahwa JPFA sekarang sepertinya sedang menjaga kesediaan likuiditas perusahaan di tengah ketidakpastian Covid-19. Jadi dengan perusahaan menjaga level likuiditas, kas, dan tingkat utang perusahana ke minimum, tentu ini menjadi katalis yang positif bagi masa depan perusahaan.

 

Kesimpulan

PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA) yang didirikan pada tanggal 18 Januari 1971, adalah perusahaan yang bergerak di sektor downstream sampai upstream dan tidak terbatas kepada sektor poultry saja, tetapi juga sektor aquaculture, dan beef cattle. Di sektor upstream, PFA memliki bisnis pakan ternak (feed) dan breeding, bisnis commercial farming di midstream, dan terakhir ada juga processed food di bagian downstream. Semua segmen yang terintegrasi ini membuat JPFA memiliki bisnis yang lebih efisien untuk dijalani.

Pada bulan Agustus – September ini keluar berita, bahwa JPFA akan mengakuisisi perusahaan yang memproduksi brand So Good. Perlu Anda ketahui bahwa, ketika JPFA mengumumkan rencana akuisisi 100% saham PT So Good Food senilai Rp 1.2 triliun, akuisisi tersebut merupakan transaksi afiliasi karena kedua perusahaan dimiliki oleh pihak yang sama, Japfa Ltd. Menariknya, meskipun JPFA memiliki kas perusahaan sebesar Rp 2.2 triliun pada Q2 2020 kemarin, tetapi pembayaran yang dilakukan oleh JPFA adalah menggunakan dua tipe: Pertama dibayar tunai pada 30 November 2020, terdiri dari Rp 363.18 miliar dari JPFA ke Jupiter plus Rp 18.2 juta, dan sebesar Rp 1.03 miliar dari Ciomas Adisatwa ke Anona. Kedua, pembayaran dilakukan dalam bentuk penerbitan promissory notes kepada Jupiter senilai Rp 849.89 miliar.

Penulis percaya bahwa akuisisi So Good ini akan menjadi katalis positif bagi JPFA, karena So Good akan membuat bisnis perunggasan JPFA di sektor hulu terintegrasi dengan sektor hilir. Transaksi pengambilalihan saham itu juga bagian dari strategi integrasi vertikal. Artinya, produksi lokal untuk konsumsi lokal. Selain itu, akuisisi JPFA ini juga dapat memperbesar kapasitas fasilitas produksi daging olahan. Selain itu, akuisisi juga dimaksudkan untuk meningkatkan pemasaran dan penjualan langsung produk olahan kepada konsumen.

 

###

 

Info:

 

Tags : JPFA Akuisisi So Good | JPFA Akuisisi So Good | JPFA Akuisisi So Good | JPFA Akuisisi So Good | JPFA Akuisisi So Good | JPFA Akuisisi So Good | JPFA Akuisisi So Good | JPFA Akuisisi So Good | JPFA Akuisisi So Good | JPFA Akuisisi So Good | JPFA Akuisisi So Good | JPFA Akuisisi So Good | JPFA Akuisisi So Good 

You may also like

1 Comment

  • andrian
    September 24, 2020 at 3:17 AM

    wuih frozen food menggilaa

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Rivan adalah seorang Indonesia Value Investor yang memulai investasi sejak tahun 2008 ketika berusia 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, Rivan berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Berbekal pengalamannya, Rivan saat ini menjalani profesi sebagai Full Time Investor sekaligus praktisi di pasar modal. Saat ini, Rivan aktif mengadakan workshop dan pelatihan kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko di pasar saham.

Like Us On Facebook

Facebook Pagelike Widget

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Categories

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami