Fakta Negara-Negara Yang Masuk Ke Dalam Jurang Resesi

Fakta Negara-Negara Yang Masuk Ke Dalam Jurang Resesi


Sejak pertengahan bulan Juli 2020, jumlah negara yang tercatat mengalami resesi ekonomi kian bertambah. Bahkan resesi yang dipicu oleh pandemi Covid-19 ini, sudah tak pandang bulu lagi, negara maju maupun negara berkembang tak bisa lolos dari jurang resesi. Hingga per artikel ini ditulis, tercatat sudah ada 31 negara yang terkonfirmasi masuk ke jurang resesi. Jika demikian situasinya, bagaimanakah fakta resesi di Indonesia ? Dan seperti apa juga, fakta negara-negara yang mengalami resesi di tahun ini ?

 

Resesi yang Telah Diprediksikan

Kontraksi ekonomi global yang cukup dalam belakangan ini, merupakan kondisi riil akibat pandemi Covid-19. Sejalan dengan itu, Bank Dunia pun menyatakan bahwa kontraksi ekonomi yang diakibatkan oleh Covid-19 ini adalah yang terparah sejak Perang Dunia II silam. Seharusnya hal tersebut, tak lagi perlu kita herankan. Mengingat saat pandemi Covid-19 mencapai puncak penyebaran pada Maret 2020 kemarin. Banyak negara di dunia yang memberlakukan kebijakan isolasi wilayah atau biasa dikenal dengan istilah “Lockdown”, dan kebijakan jaga jarak atau Physical Distancing”. Bahkan tidak sedikit negara, yang memperpanjang masa lockdown nya untuk menekan angka penyebaran Covid-19. Sebut saja di antaranya ialah India, Perancis, Spanyol, Arab Saudi, dan Malaysia. Termasuk dengan Indonesia, yang hingga per artikel ini ditulis juga masih memberlakukan PSBB transisi.

Sebagai akibatnya, aktivitas perekonomian di berbagai negara terganggu. Lantaran banyak sektor bisnis yang tidak bisa beroperasi secara normal dan beberapa di antaranya terpaksa dihentikan sementara waktu. Bahkan dampak luasnya, aktivitas konsumsi mengalami penurunan tajam. Disusul kemudian dengan produksi dan investasi yang terhambat. Sehingga perdagangan internasional harus mengalami penurunan drastis. Situasi demikianlah yang kian memicu kontraksi ekonomi yang cukup signifikan sejak Q1 2020.

Nah, berkenaan dengan sejumlah negara yang dinyatakan resesi. Di bawah ini Penulis sajikan screenshot beberapa negara di bagian Asia yang mencatatkan pertumbuhan ekonomi minus…

Rata-rata Pertumbuhan Ekonomi Asia Tenggara Minus per Q2-2020. Souce : https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2020/08/18/rata-rata-pertumbuhan-ekonomi-asia-tenggara-minus-pada-kuartal-ii-2020

 

Lantas bagaimanakah dengan fakta resesi di Indonesia ?

Fakta Resesi di Indonesia

Dari pembahasan di atas, setidaknya kita tahu apa penyebab pertumbuhan ekonomi Indonesia per Q2 2020 terkontraksi hingga -5.32% YoY per Q2 2020. Bahkan kontraksi ekonomi per Q2 2020, menjadi yang terendah sejak tahun 1998 silam. Di mana pada tahun 1998, perekonomian Indonesia pernah terkontraksi minus di level -13.13%, ketika krisis keuangan melanda Asia dan kemudian berdampak terhadap ekonomi dunia. Puncak kejatuhannya, ketika nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS turut memukul mundur perekonomian Indonesia. Saat itu, Rupiah harus anjlok cukup dalam dari kisaran Rp 2.000 menjadi Rp 17.000 per dolar AS. Dampaknya pun langsung dirasakan oleh khalayak luas, mulai dari banyaknya perusahaan-perusahaan yang gulung tikar, perbankan yang terbeli kredit macet, yang dampaknya sangat signifikan terhadap perekonomian Indonesia saat itu.

Akibatnya, tercatat pada Q1 1998 ekonomi terkontraksi hingga 4.47%. Bahkan kontraksi berlanjut sampai Q2 sebesar 13.47%, Q3 sebesar 15%, dan terakhir Q4 sebesar 17.93%. Tak berhenti di tahun 1998 saja, resesi masih berlanjut hingga ke tahun 1999. Berikut ini adalah ilustrasinya…

Pertumbuhan Kumulatif Ekonomi Indonesia Tahun 1998. Source : https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2018/05/21/20-tahun-setelah-reformasi-ekonomi-indonesia-tumbuh-sekitar-5

 

Bahkan, indikator ekonomi lainnya pun ikut terperosok, misalnya saja harga-harga barang yang naik tinggi memicu terjadinya hiperinflasi di level 77.63% pada tahun 1998. Di bawah ini adalah data yang Penulis lansir dari dua sumber berbeda, sebagai perbandingan…

Inflasi Tahun 1998. Source : https://databoks.katadata.co.id/ dan https://tradingeconomics.com/indonesia/inflation-cpi

 

Terlepas dari resesi Indonesia di tahun terdahulu. Penulis baru ingat pada September 2019, Penulis sudah pernah membahas potensi resesi di tahun 2020. Untuk itu ada baiknya, jika kita review kembali artikelnya…

[Baca lagi : Potensi Resesi Ekonomi di Tahun 2020, Apakah Benar-Benar akan Terjadi ?]

 

Faktanya, saat ini Indonesia benar-benar mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang terkontraksi hingga -5.32% YoY per Q2 2020. Demikian pula dengan GDP secara Kuartal terhadap Kuartal sebelumnya, yang juga terkontraksi di level -4.19% QoQ. Kontraksi ekonomi Indonesia per Q2 2020 tersebut, jauh lebih dalam dari apa yang diproyeksikan oleh pemerintah. Kendati demikian, kontraksi yang dialami Indonesia hanya disebut sebagai resesi teknikal.

Indonesia Resesi Teknikal

[Baca lagi : Mengapa Indonesia Disebut Mengalami Resesi Teknikal]

 

Jika itu yang terjadi di Indonesia, kira-kira bagaimana dengan fakta lain dari negara-negara yang masuk ke dalam jurang resesi ?

 

Fakta Resesi di Beberapa Negara Asia !?

Pada bagian ini, Penulis akan menunjukkan beberapa negara lain yang juga mencatatkan pertumbuhan ekonomi negatif dan kesemuanya dinyatakan resmi memasuki masa resesi. Di antaranya :

  • GDP Malaysia terkontraksi -17.1% YoY Per Q2 2020

Malaysia mencatatkan GDP yang terkontraksi hingga -17.1% YoY per Q2 2020. Dan secara Kuartalan juga terkontraksi sebesar -16.5% QoQ per Q2 2020. Adapun jika dilihat secara tahunan, GDP Malaysia per Q1 2020 masih tercatat positif, meski sudah sangat lambat di 0.7% YoY. Namun per Q2 2020, GDP Malaysia benar-benar anjlok cukup dalam hingga ke -17.1% YoY. Sedangkan secara QoQ, GDP Malaysia sudah lebih dulu negatif di -2% QoQ per Q1 2020. Barulah pada Q2 2020, GDP Malaysia anjlok hingga -16.5% YoY.

GDP Malaysia yang terkontraksi di Q2 2020, tidak lepas dari konsumsi rumah tangga yang turun 18.5% dan investasi yang juga turun 28.9%. Kontraksi juga terjadi di sektor jasa produksi, jasa dan manufaktur, serta pertambangan dan konstruksi.

GDP Malaysia YoY. Source : https://tradingeconomics.com/malaysia/gdp-growth-annual

GDP Malaysia QoQ. Source : https://tradingeconomics.com/malaysia/gdp-growth

 

  • GDP Filipina terkontraksi -16.5% YoY per Q2 2020

Filipina juga mencatatkan GDP yang terkontraksi untuk pertama kalinya dalam 29 tahun terakhir. Tercatat GDP tahunan Filipina terkontrasi di -16.5% YoY per Q2 2020, dan GDP Kuartalan juga terkontraksi sebesar -15.2% QoQ per Q2 2020.

Dan jika dilihat secara tahunan, GDP Filipina per Q1 2020 sudah tercatat dua kali negatif yakni di -0.7% YoY dan berlanjut pada Q2 2020 yang negatif lebih dalam -16.5% YoY. Secara kuartalan, GDP Filipina juga sudah tercatat sebanyak dua kali terkontraksi. Pada Q1 2020 terkontraksi -5.1% QoQ dan pada Q2 2020 terkontraksi lebih dalam -15.2% QoQ.

GDP Filipina YoY. Source : https://tradingeconomics.com/philippines/gdp-growth-annual

GDP Filipina QoQ. Source : https://tradingeconomics.com/philippines/gdp-growth

 

  • GDP Singapura terkontraksi -13.2% YoY per Q2 2020

Singapura juga mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang terkontraksi di -13.2% YoY per Q2 2020. Bahkan secara Kuartalan, justru lebih dalam hingga ke -42.9% QoQ per Q2 2020.

Adapun secara tahunan, GDP Singapura ini sudah tercatat dua kali negatif. Pada  Q1 2020 terkontraksi di -0.3% YoY, dan berlanjut pada Q2 2020 yang kembali negatif lebih dalam -13.2% YoY. Secara kuartalan, GDP Singapura juga tercatat terkontraksi sebanyak dua kali. Pada Q1 2020 terkontraksi -3.3% QoQ dan pada Q2 2020 terkontraksi lebih dalam mencapai -42.9% QoQ. Akibat resesi yang kini dialaminya, Singapura melakukan revisi perkiraan pertumbuhan ekonomi di tahun ini menjadi kisaran 5% hingga 7%.

GDP Singapura YoY. Source : https://tradingeconomics.com/singapore/gdp-growth-annual

GDP Singapura QoQ. Source : https://tradingeconomics.com/singapore/gdp-growth

 

  • GDP Thailand terkontraksi -12.2% YoY per Q2 2020

Ekonomi Thailand pada Q2 2020 juga terkontraksi -12.2% YoY, dan secara kuartalan juga minus di -9.7% QoQ per Q2 2020. Kontraksi ekonomi yang terjadi Thailand pada Q2 2020, menjadi penurunan paling tajam sejak krisis keuangan yang terjadi di Asia pada tahun 1998.

Adapun secara tahunan, GDP Thailand sudah tercatat dua kali negatif. Pada Q1 2020 terkontraksi di -2% YoY, dan berlanjut pada Q2 2020 yang kembali negatif lebih dalam -12.2% YoY. Sedangkan secara kuartalan, GDP Thailand bahkan sudah tercatat terkontraksi sebanyak tiga kali. Di mulai dari Q4 2019 terkontraksi -0.2% QoQ, selanjutnya pada Q1 2020 terkontraksi -2.5% QoQ, hingga pada Q2 2020 kontraksi lebih dalam di -9.7% QoQ. Dengan kondisi tersebut, pemerintah Thailand memprediksikan perekonomiannya di tahun ini akan terkoreksi sekitar 7.3% – 7.8%.

GDP Thailand YoY. Source : https://tradingeconomics.com/thailand/gdp-growth-annual

GDP Thailand QoQ. Source : https://tradingeconomics.com/thailand/gdp-growth

 

Fakta Resesi di Beberapa Benua Lain !?

  • GDP Amerika Serikat terkontraksi -9.1% YoY per Q2 2020

Negeri Paman Sam ini, turut mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang terkontraksi -9.1% YoY per Q2 2020. Bahkan secara Kuartalan, ekonomi juga terkontraksi lebih dalam hingga -31.7% QoQ per Q2 2020.

Adapun secara tahunan, GDP AS ini masih sempat tumbuh positif meski mulai melambat 0.3% YoY per Q1 2020. Barulah ekonomi tercatat anjlok hingga -9.1% per Q2 2020. Sedangkan secara Kuartalan, ekonomi AS sudah tercatat dua kali negatif. Pada Q1 2020 terkontraksi -5% QoQ, dan berlanjut pada Q2 2020 yang kembali negatif lebih dalam hingga -31.7% YoY. Kontraksi ekonomi AS tersebut, disebabkan oleh konsumsi rumah tangga yang tercatat mengalami penurunan hingga 34.6%.

GDP AS YoY. Source : https://tradingeconomics.com/united-states/gdp-growth-annual

GDP AS QoQ. Source : https://tradingeconomics.com/united-states/gdp-growth

 

  • GDP Inggris terkontraksi -21.7% YoY per Q2 2020

Inggris (United Kingdom) ini pun, turut mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang negatif. Tercatat GDP tahunan negatif -21.7% YoY per Q2 2020, dan GDP kuartalan negatif -20.4% QoQ per Q2 2020.

Bila dirinci, maka secara Tahunan GDP Inggris sudah dua kali negatif. Dari -1.7% YoY per Q1 2020, dan berlanjut lebih dalam -21.7% YoY per Q2 2020. Dan secara Kuartalan, GDP Inggris juga tercatat dua kali negatif sebesar -2.2% QoQ per Q1 2020. Kemudian GDP anjlok lebih dalam -20.4% QoQ per Q2 2020.

GDP Inggris YoY. Source : https://tradingeconomics.com/united-kingdom/gdp-growth-annual

GDP Inggris QoQ. Source : https://tradingeconomics.com/united-kingdom/gdp-growth

 

  • GDP Jerman terkontraksi -11.3% YoY per Q2 2020

Pertumbuhan ekonomi Jerman secara tahunan, harus terkontraksi -11.3% YoY per Q2 2020. Begitu pula secara kuartalan, juga terkontraksi -9.7% YoY per Q2 2020. Berdasarkan Kantor Statistik Federal, pertumbuhan GDP Jerman Q2 2020 menjadi yang paling terendah sejak tahun 1970.

Bila dirinci, maka secara Tahunan GDP Jerman sudah dua kali negatif. Dari -2.2% YoY per Q1 2020, dan berlanjut lebih dalam -11.3% YoY per Q2 2020. Secara Kuartalan, GDP Jerman juga tercatat dua kali negatif sebesar -2% QoQ per Q1 2020. Kemudian GDP anjlok lebih dalam lagi ke -9.7% QoQ per Q2 2020.

GDP Jerman YoY. Source : https://tradingeconomics.com/germany/gdp-growth-annual

GDP Jerman QoQ. Source : https://tradingeconomics.com/germany/gdp-growth

 

Adapun diluar daripada yang telah Penulis sebutkan di atas, masih ada banyak negara-negara lainnya yang juga tercatat negatif pada Q2 2020. Sebut saja di antaranya Jepang, Hong Kong, Polandia, Perancis, Spanyol, Austria, Belgia, Finlandia, Latvia, Lithuania, Belanda, Meksiko, Skotlandia, Italia, dan beberapa negara bagian lainnya.

Sejalan dengan penurunan pertumbuhan ekonomi global, IMF pun memprediksikan bahwa ekonomi dunia tahun ini akan terkontraksi lebih rendah lagi di -4.9% YoY. Padahal sebelumnya, IMF sempat memprediksikan bahwa ekonomi global bisa tumbuh positif di kisaran 3.0%.

 

Kesimpulan

Kembali pada pertanyaan di awal, bagaimanakah fakta resesi di Indonesia ? Dan seperti apa juga, fakta negara-negara yang mengalami resesi di tahun ini ?

Indonesia sendiri sebenarnya sudah tercatat mengalami resesi, berdasarkan pertumbuhan GDP YoY yang minus -5.32%, diikuti dengan GDP QoQ yang sudah minus secara dua kuartal berturut-turut -2.41% QoQ per Q1 2020 dan -4.19% QoQ per Q2 2020. Kendati demikian, Indonesia masih memiliki peluang besar untuk keluar dari bayang-bayang resesi, jika pada Q3 2020 mendatang GDP bisa kembali positif. Demikian pula dengan negara-negara lain yang tercatat resmi mengalami resesi pada Q2 2020 ini…

Kendati demikian, kita masih tetap perlu mewaspadai adanya beberapa faktor yang bisa menahan laju pertumbuhan ekonomi di kuartal selanjutnya. Mulai dari kebijakan pelonggaran lockdown yang memicu kemungkinan second wave atas Covid-19 lebih banyak dan lebih luas. Situasi tersebut, bukan tidak mungkin akan menghambat pemulihan ekonomi dan bangkitnya sektor tenaga kerja. Terlepas dari itu, tidak ada salahnya jika kita berharap pemerintah bisa mengatasi situasi pandemi ini dengan lebih bijaksana. Tentunya akan berpengaruh besar terhadap bangkitnya perekonomian…

 

###

 

Info:

 

Tags : Fakta Resesi Diberbagai Negara | Fakta Resesi Diberbagai Negara | Fakta Resesi Diberbagai Negara | Fakta Resesi Diberbagai Negara | Fakta Resesi Diberbagai Negara | Fakta Resesi Diberbagai Negara | Fakta Resesi Diberbagai Negara | Fakta Resesi Diberbagai Negara | Fakta Resesi Diberbagai Negara

You may also like

2 Comments

  • Toyo
    September 8, 2020 at 6:35 AM

    Semoga saja ekonomi kuartal ketiga ini bisa lebih pulih meskipun kabarnya corona meningkat lg. Dan mulai ada pembatasan lg dibeberapa tempt.

  • Yoghi
    September 10, 2020 at 2:22 PM

    senin depan tgl 14 sept, kabarnya bakalan psbb ketat lg.. terus klo begini udh pasti dong nggak resesi teknikal lagi ya kan.. media juga seharusnya udh ga ngalihin kabar lg.

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Rivan adalah seorang Indonesia Value Investor yang memulai investasi sejak tahun 2008 ketika berusia 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, Rivan berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Berbekal pengalamannya, Rivan saat ini menjalani profesi sebagai Full Time Investor sekaligus praktisi di pasar modal. Saat ini, Rivan aktif mengadakan workshop dan pelatihan kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko di pasar saham.

Like Us On Facebook

Facebook Pagelike Widget

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Categories

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami