Mengapa Indonesia Disebut Mengalami Resesi Teknikal ?

Mengapa Indonesia Disebut Mengalami Resesi Teknikal ?


Pada awal Agustus 2020 sejumlah negara sudah mengumumkan pertumbuhan ekonomi Q2 2020. Sayangnya hampir semua negara di dunia mencatatkan pertumbuhan ekonomi negatif, yang membuat negara-negara tersebut resmi dinyatakan mengalami resesi. Demikian halnya dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia, yang juga tercatat negatif di Q2 2020. Namun yang membedakannya di sini, Indonesia disebutkan hanya mengalami resesi teknikal. Penyebutan tersebut, tentu saja menimbulkan kebingungan. Pertanyaannya kini, apakah Indonesia mengalami resesi atau resesi teknikal ? Dan apa perbedaan antara keduanya ?

 

Pertumbuhan GDP Indonesia Q2 2020

Pada 5 Agustus 2020 kemarin, Badan Pusat Statistik (BPS) secara resmi merilis pertumbuhan GDP Indonesia Q2 2020 yang terkontraksi hingga minus di level -5.32% YoY. Demikian pula dengan GDP secara Kuartal terhadap Kuartal sebelumnya, yang juga terkontraksi di level -4.19% QoQ. Kontraksi ekonomi Q2 2020 tersebut, jauh lebih dalam dari apa yang diproyeksikan oleh pemerintah.

Secara YoY, pada Q1 2020 GDP Indonesia memang masih tumbuh positif, meski mulai melambat pada level 2.97% YoY. Selanjutnya baru di Q2 2020, GDP Indonesia tercatat -5.32%. Sebagai ilustrasinya seperti di bawah ini …

 

GDP Indonesia secara YoY. Source : https://tradingeconomics.com/indonesia/gdp-growth-annual

 

Sementara secara QoQ, GDP Indonesia sebenarnya sudah tercatat negatif sebesar -1.74% QoQ per Q4 2019. Berikutnya Indonesia masih mencatatkan pertumbuhan negatif sebesar -2.41% QoQ per Q1 2020, dan kembali negatif hingga -4.19% QoQ per Q2 2020. Artinya, pertumbuhan ekonomi Indonesia sudah bertumbuh negatif secara QoQ dalam 3 tahun terakhir.

GDP Indonesia secara QoQ. Source : https://tradingeconomics.com/indonesia/gdp-growth

 

Ilustrasi grafik di atas, menunjukkan bahwa GDP Indonesia Q2 2020 mengalami penurunan yang cukup dalam. Penurunan tersebut di mulai dari sisi produksi, untuk Lapangan Usaha Transportasi dan Pergudangan yang terkontraksi sebesar 30.84% YoY. Sedangkan dari sisi pengeluaran, untuk Komponen Ekspor Barang dan Jasa terkontraksi sekitar 11.66%. Serta Impor Barang dan Jasa juga terkontraksi sekitar 16.96%.

 

Indonesia Resesi Teknikal, Apa Betul ?

Seperti yang sudah di bahas pada bagian atas tadi, secara YoY, GDP Indonesia masih tercatat positif pada Q1 2020 dan baru minus di Q2 2020. Sedangkan secara QoQ, GDP Indonesia sudah mengalami penurunan selama tiga kuartal berturut-turut. Hal tersebutlah yang kemudian dijadikan patokan sebagai resesi teknikal, yang kemudian banyak media menggunakannya. Di bawah ini adalah screenshot penyebutan Indonesia mengalami resesi teknikal…

Source : https://www.google.com/indonesia+resmi+resesi+tekikal&oq=indonesia+resmi+resesi+teknikal

 

Kalau begitu, kira-kira apa sih yang dimaksud dengan resesi teknikal ?

                Secara sederhana resesi bisa dipahami sebagai suatu kondisi dari Produk Domestik Bruto (GDP) yang mengalami penurunan secara signifikan, dan biasanya terjadi selama beberapa kuartal berturut-turut maupun lebih dalam satu tahun. Atau dengan kata lain, GDP mengalami kontraksi secara kuartal berturut-turut maupun bertahun-tahun.  

                Sedangkan yang dimaksud dengan resesi teknikal, adalah ketika GDP mengalami minus dalam dua kuartal berturut-turut secara kuartalan, sehingga disebut sebagai resesi teknikal (technical recession). Bahkan sebenarnya, resesi teknikal secara konseptual tidak memiliki batasan baku.

Ilustrasi Resesi akibat Covid-19. Source : https://ayobandung.com/rcegah-resesi-jokowi-genjot-belanja-negara

 

MenKeu Sri Mulyani, dengan tegas menyatakan bahwa ukuran resesi seharusnya merujuk pada pertumbuhan ekonomi secara tahunan, bukan kuartalan seperti yang baru-baru ini terjadi. Dan jika dilihat berdasarkan pertumbuhan tahunan, maka perekonomian Indonesia baru pertama kali terkontraksi hingga -5.32% di Q2 2020. Ia pun menjelaskan, meskipun harus dikatakan Indonesia mengalami resesi teknikal, hal itu karena pertumbuhan ekonomi Q1 2020 yang terkontraksi sekitar 2% secara kuartalan menjadi 2.97%, dari yang semula sebesar 4.97% pada Q4 2019. Sehingga resesi teknikal yang belakangan ramai disematkan oleh berbagai media, bisa didefinisikan sebagai pertumbuhan GDP yang negatif dalam dua kuartal berturut-turut yang dilihat secara tahunan. Padahal sebenarnya, Indonesia saat ini tidak mengalami resesi teknikal.

Di luar daripada resesi teknikal yang menimbulkan kebingungan. Sebenarnya bila dipandang dari sisi positif, penyebutan resesi teknikal ini secara tidak langsung sudah menimbulkan optimisme khalayak luas. Bahwa sebenarnya perekonomian Indonesia masih baik-baik saja. Terlebih lagi, banyak di antara para Analyst Ekonom sudah memprediksikan apa yang terjadi di Indonesia per Q2 2020 ini, tidak akan berlangsung lama dan akan kembali recovery dalam waktu dekat. Semoga ya… tentu ini menjadi do’a terbaik bagi pulihnya perekonomian kita…

Terlepas dari Indonesia mengalami resesi teknikal… Lalu bagaimana dengan negara lain yang secara pertumbuhan ekonomi sama seperti Indonesia, namun resmi dinyatakan resesi dari sisi pemberitaan media ?

 

Pola Pertumbuhan Ekonomi AS dan Korea Selatan

Dalam pembahasan kali ini, Penulis akan membandingkan pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan Amerika Serikat dan Korea Selatan… Lho kenapa harus dua negara ini yang disandingkan dengan Indonesia Pak ? Nah, sebelum saya jawab, yuk simak perbandingannya..

                Dalam kasus resesi Q2 2020 ini, rasanya kita tahu bahwa ada banyak negara yang mencatatkan pertumbuhan ekonomi sehingga harus dinyatakan mengalami resesi. Kendati demikian, hal ini justru menimbulkan kebingungan lantaran ada beberapa negara yang pola pertumbuhan ekonomi Q2 2020 nya sama seperti Indonesia. Namun secara terbuka dinyatakan resmi mengalami resesi.

 

  • GDP Amerika Serikat Q2 2020

Sebut saja, Amerika Serikat yang ramai diberitakan resmi mengalami resesi. Padahal pola pertumbuhan ekonominya sama seperti di Indonesia. Secara YoY, pada Q1 2020 GDP AS memang masih tumbuh positif, meski mulai melambat pada level 0.3% YoY. Selanjutnya barulah di Q2 2020, GDP AS tercatat negatif di level -9.1% YoY. Berikut ini ilustrasinya…

GDP AS secara YoY. Source : https://tradingeconomics.com/united-states/gdp-growth-annual

 

Sedangkan secara QoQ, GDP AS ini sebenarnya sudah tercatat negatif selama dua kuartal berturut-turut. Tercatat negatif sebesar -5% QoQ pada Q1 2020, dan terus berlanjut negatif lebih dalam lagi hingga -31.7% QoQ pada Q2 2020. Kontraksi ekonomi yang dialami oleh AS ini terjadi pada konsumsi rumah tangga yang anjlok sekitar 34.6% YoY pada Q2 2020, sebagai imbas dari tekanan pandemi Covdi-19. Tak hanya itu, ekspor AS juga tertekan di 64% dan impor turun 53.4% selama Q2 2020. Berikut pertumbuhan GDP AS secara QoQ…

GDP AS secara QoQ. Source : https://tradingeconomics.com/united-states/gdp-growth

 

Dari kedua data GDP AS secara YoY dan QoQ, nampaknya tidak ada perbedaan mencolok dengan GDP Indonesia Q2 2020. Perbedaannya justru terletak dari sisi pemberitaan media, yang menegaskan bahwa AS resmi mengalami resesi…

Source : https://www.google.com/search?q=amerika+serikat+resmi+resesi

 

  • GDP Korea Selatan Q2 2020

Tak hanya AS, negara lainnya yang juga dinyatakan resmi resesi padahal pola perekonomiannya tidak jauh berbeda dari Indonesia, adalah Korea Selatan. Secara YoY, pada Q1 2020 GDP Korea Selatan ini memang masih tumbuh positif, meski mulai melambat pada level 1.4% YoY. Selanjutnya barulah di Q2 2020, GDP Korea Selatan tercatat negatif di level -2.9% YoY. Berikut ini ilustrasinya…

GDP AS secara YoY. Source : https://tradingeconomics.com/south-korea/gdp-growth-annual

Dan secara QoQ, GDP Korea Selatan juga sudah tercatat negatif selama dua kuartal berturut-turut. Tercatat GDP negatif sebesar -1.3% QoQ per Q1 2020, dan selanjutnya GDP kembali negatif hingga -3.3% QoQ pada Q2 2020. Resesi ini merupakan yang pertama kalinya terjadi pada perekonomian Korea Selatan, secara dua kuartal berturut-turut dalam 17 tahun terakhir. Berikut ilustrasinya…

GDP AS secara QoQ. Source : https://tradingeconomics.com/united-states/gdp-growth

Dari sisi pemberitaan media pun, Korea Selatan ini sama seperti AS, ya, banyak media berita yang menegaskan bahwa perekonomian Korea Selatan resmi mengalami resesi…

Source : https://www.google.com/search?q=korea+selatan+resmi+resesi&oq=korea+selatan+resmi+resesi

 

Kesimpulan

Terlepas dari perkara resesi vs resesi teknikal, sebenarnya Indonesia masih memiliki peluang untuk bisa memperbaiki perekonomiannya pada Q3 2020 ini. Dan hal lain yang patut kita syukuri, adalah negatifnya pertumbuhan GDP Indonesia Q2 2020 ini sudah diprediksikan jauh-jauh hari sebelumnya. Sehingga situasi yang belakangan terjadi, sudah bisa diantisipasi dengan lebih baik. Ke depannya, kita pun tentu berharap, agar pemerintah mampu mengambil kebijakan dengan lebih sigap untuk memperbesar peluang perbaikan GDP Indonesia pada Q3 2020 mendatang dan seterusnya.

Adapun secara psikologis, sebenarnya tanpa disadari penyebutan resesi teknikal ini sudah sangat membantu khalayak pasar untuk tidak terjerumus dalam keadaan “panic”. Sebagai hasilnya, hingga data ekonomi Indonesia Q2 2020 dirilis dan setelahnya pun, terlihat seluruh segmen masyarakat yang masih mampu menyikapinya dengan tenang. Tanpa dibayangi-bayangi oleh resesi…

Lantas gimana dengan Anda, memandang positif penyebutan resesi teknikal di atas ?

 

###

 

Info:

 

Tags : Indonesia Resesi Teknikal | Indonesia Resesi Teknikal | Indonesia Resesi Teknikal | Indonesia Resesi Teknikal | Indonesia Resesi Teknikal | Indonesia Resesi Teknikal | Indonesia Resesi Teknikal | Indonesia Resesi Teknikal | Indonesia Resesi Teknikal | Indonesia Resesi Teknikal | Indonesia Resesi Teknikal

You may also like

2 Comments

  • Riska
    September 9, 2020 at 9:14 AM

    nah ini nih salah satunya kenapa orang2 masih berasa baik2 ajaa, krn pengaruh ya Indonesia disebut cuma resesi teknikal. penyebutan ini bnr2 ngasih sugesti klo perekonomian kita tuh masih baik baik aja.. pdhl emang udh minus.. terima kasih Koh penjelasannya

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Rivan adalah seorang Indonesia Value Investor yang memulai investasi sejak tahun 2008 ketika berusia 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, Rivan berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Berbekal pengalamannya, Rivan saat ini menjalani profesi sebagai Full Time Investor sekaligus praktisi di pasar modal. Saat ini, Rivan aktif mengadakan workshop dan pelatihan kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko di pasar saham.

Like Us On Facebook

Facebook Pagelike Widget

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Categories

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami