Sejumlah Investor Besar Melakukan Aksi Jual Saham, Ada Apa Ya ?

Sejumlah Investor Besar Melakukan Aksi Jual Saham, Ada Apa Ya ?


Belakangan pasar saham di Indonesia secara berturut-turut dikejutkan dengan aksi jual saham sejumlah investor dunia. Tak pelak, aksi tersebut sempat menimbulkan kepanikan dan kegaduhan di antara para investor. Beberapa besar di antaranya berpendapat bahwa sejumlah investor tengah menyembunyikan alarm potensi kehancuran pasar yang lebih besar. Ya… prediksi tentang pasar ini salah satunya diakibatkan oleh merebaknya pandemi Covid-19, yang hingga kini masih terus terjadi. Pertanyaannya kini, siapa saja yang sudah melakukan aksi jual saham ? Dan apa motif penjualan saham tersebut, apakah ini berkaitan dengan potensi second wave ?

 

Aksi Jual Saham Sejumlah Investor

Pandemi Covid-19 yang sudah terjadi di Indonesia sejak Maret 2020 kemarin, benar-benar menjadi momok yang menakutkan bagi pasar saham dunia tahun ini, termasuk pula dengan pasar saham Indonesia. Ya, jika kita ingat lagi pada Maret 2020 lalu, IHSG harus terkoreksi hingga -15.34% secara MoM dan bahkan IHSG sempat 6x dihentikan perdagangannya.

Dengan anjloknya IHSG, dan Covid-19 yang terus mewabah di seluruh dunia dan menimbulkan kekhawatiran para investor. Tentu itu menimbulkan ancaman tersendiri, yakni krisis global yang banyak dibayangkan oleh para pemilik modal. Termasuk juga dengan krisis kesehatan, inilah yang mendorong hampir seluruh pemerintah negara di dunia menerapkan lockdown di negaranya masing-masing. Akibatnya, mata rantai ekonomi pun terputus dan terus melemah. Meskipun di berbagai negara besar sudah mengeluarkan kebijakan paket stimulus, guna meredam dampak ekonomi akibat wabah Covid-19. Namun nyatanya itu tak cukup meredam dan menekan aksi jual di pasar, apalagi setelah organisasi kesehatan dunia (WHO) menyatakan bahwa Covid-19 sebagai pandemi global.

Singkat kata, seperti yang belum lama ini terjadi investor di Indonesia dihebohkan dengan adanya aksi jual saham yang dilakukan secara bersamaan oleh lima direksi PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Rumor ini pun beredar luas ke khalayak investor dan menimbulkan berbagai spekulasi negatif terhadap BBCA… Kalau gitu, yuk simak pembahasan singkatnya…

 

  • Aksi Jual Saham Kelima Direksi BBCA

Saham BBCA dalam beberapa waktu kebelakang ramai diperbincangkan investor. Pasalnya, sebanyak lima (5) direksi PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) pada periode 7 Juli – 10 Juli 2020 kemarin, telah melakukan penjualan saham secara bersamaan. Adapun total hasil penjualan saham BBCA mencapai Rp 20.25 miliar, dengan tujuan penjualan yang dilaporkan ke otoritas bursa adalah investasi langsung. Awalnya aksi jual saham ini, diketahui dari surat laporan perubahan kepemilikan saham dari kelima direksi BBCA kepada OJK yang diunggah melalui halaman BEI. Di mana kelima direksi tersebut adalah Jahja Setiaatmadja selaku Direktur Utama, menjual saham senilai Rp 3.1 miliar. Henry Koenaifi selaku Direktur, menjual saham senilai Rp 6.28 miliar. Lianawaty Suwono selaku Direktur juga menjual saham senilai Rp 3.1 miliar, dan Rudy Susanto yang juga menjabat sebagai Direktur pun turut menjual saham senilai Rp 6.2 miliar. Termasuk dengan Erwan Yuris Ang yang menjabat sebagai Direktur Independen, menjual saham senilai Rp 1.56 miliar.

 

Source : http://www.theiconomics.com/capital-market/pekan-ini-direksi-bca-jual-saham-bbca-senilai-rp2027-miliar/

               

Dalam kasus ini, Jahja Setiaatmadja yang merupakan Direktur Utama BBCA, menyatakan bahwa penjualan saham BBCA tersebut adalah hal yang wajar dan hanya sebagai aksi korporasi biasa. Ia pun mengklaim bahwa aksinya itu sebagai upaya diversifikasi portfolionya, seperti halnya perumpamaan dalam investasi “Jangan meletakkan telur dalam satu keranjang basket”. Artinya kalau punya 10 telur jangan ditaruh di dalam 1 keranjang basket, kalau goyang maka akan pecah semua. Untuk itu, ia pun mengakui bahwa ia juga melakukan investasi di tempat lain, salah satunya yang belakangan ini ramai diperbincangkan publik yakni dengan membeli surat berharga negara (SBN). Keputusannya tersebut, tak lepas dari return SBN yang menarik. Sehingga ia sudah membeli SBN sekitar Rp 1 miliar dan tidak menutup kemungkinan ia akan membeli SBN lagi.

Padahal pada April 2020 yang lalu, Jahja Setiaatmadja yang merupakan Direktur Utama BBCA, sempat memborong saham untuk investasi jangka panjangnya dengan cukup signifikan. Tercatat pada 15 April 2020 Jahja melakuan penambahan saham sebesar 117.835 dengan harga sekitar Rp 27.829.07 atau setara Rp 3.28 miliar. Tujuan transaksi tersebut ia klaim untuk investasi jangka panjang.

 

Aksi Jual Saham Lainnya…

Terlepas dari hebohnya penjualan saham BBCA secara bersamaan itu… Sebenarnya jika kita buka mata lebih luas lagi, masih ada banyak aksi jual saham sejumlah investor. Nah beberapa di antaranya adalah :

  • Aksi Jual Saham Direktur Utama PT Krakatau Steel Tbk (KRAS)

Kira-kira satu bulan sebelum aksi jual saham BBCA mencuat. Di bulan Juni 2020 yang lalu, Direktur Utama PT Krakatau Steel Tbk (KRAS), yakni Silmy Karim diketahui telah melakukan penjualan sahamnya secara keseluruhan di perusahaan BUMN tersebut. Ya… Silmy Karim menjual sekitar 5.4 juta saham KRAS miliknya pada 11 Juni 2020, jumlah saham itu setara 0.028% dari total saham yang ditempatkan dan disetor KRAS. Penjualan saham KRAS dilakukan di range harga yang bervariasi sekitar Rp 278, Rp 280, Rp 282, dan Rp 283 per lembar saham. Setelah penjualan itu, kini kepemilikan Silmy di saham KRAS menjadi 0%.

Direktur Utama KRAS. Source : https://situsenergy.com/

Dampak aksi jual saham KRAS tersebut, turut menimbulkan berbagai macam spekulasi. Salah satunya rumor Silmy akan diganti dari posisinya sebagai direktur utama. Rumor ini beredar lantaran sejalan dengan adanya perombakan sejumlah jajaran direksi BUMN yang dilakukan oleh pemerintah, yang merupakan pemegang saham BUMN.

Merespon spekulasi tersebut, Silmy Karim menyatakan bahwa penjualan saham KRAS tidak ada kaitannya dengan pergantian posisi sebagai direktur utama. Melainkan memang untuk keperluan pribadi dan juga untuk likuiditas perusahaan. Bahkan ia pun menegaskan, bahwa ia turut melepas seluruh koleksi saham yang dimilikinya. Alasan lain penjualan saham KRAS, lantaran tidak mudah menjual aset tetap (fixed asset) di masa pandemi seperti sekarang ini. Karenanya, ia memilih untuk menjual salah satu instrumen yang likuid yakni saham untuk bisa memenuhi kebutuhannya. Sedangkan dari sisi perusahaan, setidaknya dengan adanya penjualan ini perusahaan bisa melakukan utilisasi dari kepemilikan saham yang baru.

Adapun sebelum menjual seluruh sahamnya di KRAS, Silmy Karim terakhir kali melakukan transaksi saham pada Januari 2020 untuk membeli dan menjual saham KRAS. Tercatat Silmy membeli 1.45 juta unit saham di harga Rp 292 dan Rp 258 per saham. Dan kemudian, melakukan penjualan sebanyak 737 ribu unit saham di harga Rp 262 per saham.

 

  • Aksi Jual Saham Jack Ma di Alibaba

Pendiri Alibaba Group Holding Ltd, Jack Ma pun dalam setahun terakhir ini terus mengurangi kepemilikan saham di Alibaba dari yang semula 6.4% kini menjadi hanya 4.8%. Di mana untuk 1.6% nya telah dilepas oleh Jack Ma, diperkirakan ia mendapatkan dana tunai sekitar USD 9.6 miliar atau setara Rp 138.12 triliun (kurs Rp 14.387/US$).

Pendiri Alibaba. Source : https://internationalinvestorclub.com/2019/09/11/pendiri-alibaba-jack-ma-resmi-pensiun-dari-posisi-chairman/

Penjualan saham tersebut dilakukan ketika Jack Ma memutuskan untuk mundur, dari posisinya di Alibaba sebagai Ketua Eksekutif pada September 2019 kemarin. Dan ia menarik diri dari bisnis e-commerce terbesar di China, untuk fokus pada kegiatan filantropi. Menariknya penjualan saham Alibaba ini dilakukan, setelah harga saham perusahaan melonjak sekitar 50%. Sayangnya, dalam aksi tersebut, Alibaba tak mempublikasikan berapa harga saham Alibaba saat Jack Ma menjual sebagian sahamnya tersebut. Bahkan perusahaan tersebut juga tak memberikan rincian kapan Jack Ma melakukan transaksi penjualan. Namun melansir www.cnnindonesia.com : jika berdasarkan harga pasar saat ini, saham tersebut bernilai US$ 8.2 miliar.

Setelah aksi jual saham tersebut, Alibaba kini hanya menguasai seperenam dari total penjualan seluruh ritel di China, dengan valuasi pasar sekitar US$ 705 miliar. Tidak hanya itu, Jack Ma pun tak lagi terlibat banyak dalam operasional Alibaba. Terlebih lagi sejak Daniel Zhang menggantikan posisi Jack Ma sebagai pimpinan Alibaba sejak September 2019 kemarin.

Source : https://internationalinvestorclub.com/2019/09/11/pendiri-alibaba-jack-ma-resmi-pensiun-dari-posisi-chairman/

 

  • Aksi Jual Saham Warren Buffett

Dan salah satu aksi jual saham yang juga heboh disepanjang tahun ini, datang dari sang investor kawakan Warren Buffett. Seperti kita tahu, sejak April 2020 kemarin WB ini terus melakukan penjualan sahamnya. Tercatat untuk saham sektor penerbangan yang dijual terdiri dari Delta Airlines, Inc. dan Southwest Airlines Co. Selain itu, WB juga menjual kepemilikan sahamnya di Bank of New York Mellon Corp. Selang satu bulan selanjutnya, WB pun kembali menjual saham US Bankcorp (USB) pada Mei 2020. Di bawah ini adalah gambaran kepemilikan saham WB yang sudah di jual selama periode April – Mei 2020 kemarin…

Aktifitas Korporasi Berkshire Hathaway. Source : https://www.sec.gov/

 

Dan selepas penjualan ke empat sahamnya tersebut, pada Juli 2020 ini, WB melalui perusahaan investasi miliknya Berkshire Hathaway kembali bergerak. Pasalnya belum lama ini Divisi Energi Berkshire Hathaway justru menggemparkan pelaku pasar, lantaran mengakuisisi perusahaan energi, yakni Dominion Power Energy. Akusisi tersebut nilainya sekitar US$ 4 miliar atau sekitar Rp 58 triliun (rata-rata kurs Rp 14.500/dolar). Namun dari transaksi ini, Berkhsire Hathaway juga akan menganggung utang sekitar US$ 5.7 miliar. Sehingga total nilai transaksi ditaksir mencapai US$ 10 miliar atau setara Rp 145.7 triliun per dolar AS (rata-rata kurs Rp 14.570).

Transaksi itu sudah mencakup > 7.700 mil (± 12.390 km) jalur transmisi gas alam dan ± 900 miliar kaki kubik penyimpanan gas. Termasuk juga dengan aset seperti saluran transmisi gas alam Dominion, kapasitas penyimpanan gas, dan kapasitas transportasi gas. Tidak hanya itu, WB juga memiliki bagian dari bisnis ekspor dan impor gas alam cair Dominion beserta fasilitas penyimpanannya. Berkshire Hathaway menargetkan proses akuisisi ini akan selesai pada Kuartal IV-2020 mendatang. Meski begitu, bukan WB jika berinvestasi tanpa alasan. Ya … Dominion Power Energy ini sudah memiliki >7 juta pelanggan energi di 20 negara bagian di AS, termasuk di Virginia, North dan South Carolina, Ohio dan Utah. Maka, setelah transaksi ini selesai Berkshire Hathaway Energy akan mendapatkan 100% dari transmisi Energi Dominion, Questar Pipeline dan Transmisi Gas Carolina, dan 50% dari sistem Transmisi Gas Iroquois.

Akuisisi tersebut, memang mengejutkan pelaku pasar, mengingat Berkshire ini sudah cukup lama tidak melakukan kegiatan akuisisi. Dan sebaliknya, Berkshire Hathaway ini lebih banyak menyimpan dana. Hal ini tercermin dari pernyataan WB pada pertemuan pemegang saham tahunannya pada Mei 2020 kemarin, ia mengungkapkan bahwa Berkshire sudah membangun rekor penyimpanan uang tunai senilai US$ 137 miliar. Penyimpanan uang ini terjadi karena WB melihat pasar keuangan yang merosot akibat pandemi Covid-19, dan belum ada kesepakatan yang menguntungkan. Namun nyatanya, Berkshire Hathaway diam-diam telah melakukan tahapan akuisisi terhadap perusahaan energi Dominion Power Energy.

 

  • Aksi Jual Saham Jeff Bezos di Amazon

Tak hanya WB, investor lain yang juga melakukan aksi jual saham adalah Pendiri sekaligus CEO Amazon, Jeff Bezos. Penjualan saham Amazon itu berlangsung sejak akhir Januari 2020 hingga awal Februari, di mana Jeff Bezos telah menjual 2 juta saham kepemilikannya di Amazon, dengan nilai sekitar USD 4 miliar atau setara Rp 54.7 triliun (asumsi kurs Rp 13.675 per USD). Dari penjualan saham tersebut, Jeff Bezos ini mendapatkan sekitar USD 3.2 miliar atau setara Rp 42.39 triliun setelah dikurangi pajak.

Dalam penjualan saham tersebut, Jeff Bezos pun telah terbuka kepada investor, bahwa ia akan menjual sebagian saham di Amazon guna mendanai perusahaan transportasi luar angkasa miliknya, yakni Blue Origin. Meski jumlah saham Amazon yang dimiliki Jeff Bezos telah berkurang 2 juta, namun ternyata itu hanya mengurangi sebagian kecil kepemilikannya. Di mana ia masih mempunyai sekitar 55.55 juta saham di Amazon.

Source : https://sains.kompas.com/

               

Apa Motif Aksi Jual Saham ?

Meski di atas tadi sudah disebutkan alasannya, namun nampaknya aksi jual saham yang dilakukan oleh para investor di atas tak lepas dari sejumlah potensi ke depannya. Khususnya untuk kondisi yang mungkin terjadi di Indonesia, seperti berikut ini :

Pertama, prediksi minusnya data makroekonomi Kuartal II-2020. Meski belum ada data resmi yang keluar, namun pemerintah sudah memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia Kuartal II-2020 akan tumbuh -4%. Jika prediksi ini benar, maka perekonomian Indonesia tidak hanya bertumbuh negatif namun juga anjlok. Penyebabnya tidak lain adalah pandemi Covid-19 yang hingga kini masih terus terjadi dan berdampak signifikan pada aktifitas ekonomi masyarakat. Apalagi setelah adanya PSBB diberbagai daerah, sepanjang April hingga Juni 2020 kemarin. Di mana imbasnya pertumbuhan ekonomi Kuartal I-2020 mengalami penurunan hingga 2.97%. Demikian pula dengan Dana Moneter Internasional (IMF) yang memprediksikan bahwa sebagian besar negara di dunia akan mengalami pertumbuhan negatif. Dengan pemulihan ekonomi yang diperkirakan bisa berlangsung di tahun 2021 mendatang.

GDP Annual Growth Rate. Source : https://tradingeconomics.com/indonesia/gdp-growth-annual

 

Demikian pula dengan indeks consumer confidence yang menunjukkan ekspektasi konsumen terhadap pendapatan dan lahan pekerjaan, yang dibandingkan dengan enam bulan sebelumnya. Indeks tersebut mengalami penurunan dari level 113.8 pada Maret 2020 hingga ke yang paling rendah di level 77.8 pada Mei 2020. Adapun level 83.8 pada Juni 2020, masih belum menunjukkan peningkatan yang signifikan meski sejumlah aktifitas ekonomi sudah mulai dilaksanakan kembali.

Consumer Confidence. Source : https://tradingeconomics.com/indonesia/consumer-confidence

 

Kedua, antisipasi second wave. Pelonggaran PSBB atau transisi yang sudah diterapkan sejak Juni 2020 kemarin, setidaknya sudah mengarahkan masyarakat ke fase new normal. Namun di saat yang sama, kita juga dihadapkan dengan adanya potensi second wave Covid-19 yang masih mungkin terjadi. Bukan hal yang tak mungkin terjadi, mengingat hingga kini angka infeksi Covid-19 masih terus terjadi. Sebagai ilustrasinya, Penulis akan menyajikan data penyebaran Covid-19 yang terjadi di Indonesia secara nasional, berikut ini : (Akumulasi angka akan terus berubah, ini adalah update angka per tanggal 21 Juli 2020)

Data Persebaran Covid-19 di Indonesia. Source : https://corona.jakarta.go.id/id/data-pemantauan

Ketiga, perekonomian Singapura negatif. Belum lama ini, Singapura dinyatakan resesi karena pertumbuhan ekonomi yang minus di level -41.2% per Kuartal II-2020. Status Singapura yang kini resesi, diumumkan langsung oleh Departemen Perdagangan dan Industri Singapura. Faktor utama yang menyebabkan Singapura resesi, karena adanya penerapan lockdown yang terus diperpanjang sehingga mengganggu aktifitas berbagai industri. Minusnya GDP Singapura saat ini menjadi kontraksi terbesar sepanjang sejarah Singapura.

Singapura GDP Growth Rate. Source : https://tradingeconomics.com/singapore/gdp-growth

Situasi Singapura saat ini, turut menjadi hal yang diperhatikan oleh pemerintah Indonesia. Setidaknya sebagai tolok ukur agar Indonesia tidak masuk ke jurang resesi, mulai dari menjaga tingkat konsumsi rumah tangga, menjaga peluang ekspor dan investasi.

 

Kesimpulan

Sejauh pembahasan kita di atas, kini kita kembali pada pertanyaan di awal. Siapa saja yang melakukan aksi jual saham ? Dan apa motif penjualan saham tersebut, apakah ini berkaitan dengan potensi second wave ?

Di atas tadi Penulis sempat menyebutkan hanya beberapa nama investor saja, yang sudah melakukan aksi jual saham mulai dari yang paling terbaru belakangan ini yakni Jahja Setiaatmadja Dirut BBCA dan keempat rekannya yang jual menjual saham BBCA. Namun sebelum itu, sebenarnya masih ada beberapa nama yang jugal melakukan aksi jual saham. Seperti Silmy Karim Dirut KRAS yang menjual seluruh sahamnya di KRAS. Termasuk aksi jual saham yang terjadi di luar negeri, misalnya saja Jack Ma yang menjual 1.6% saham di Alibaba. Lalu, WB yang juga berturut-turut menjual kepemilikan sahamnya di Delta Airlines dan Southwest Airlines. Disusul kemudian dengan menjual saham di Bank of New York Mellon Corp dan US Bankcorp (USB).

Meskipun mereka telah melakukan aksi jual atas saham yang mereka miliki, namun itu bukanlah alasan untuk kita ikut menjual saham yang kita pegang. Terlebih lagi kita bereaksi secara berlebihan dan tergesa-gesa. Memang tidak ada yang salah, jika kita sebagai investor mempertanyakan apa yang menjadi motif aksi jual saham tersebut. Namun alangkah baiknya jika kita tetap memperhatikan sentimen-sentimen yang ada, karena kita tak harus selalu ikut untuk jual saham. Terlebih lagi jika kita tahu tujuan investasi kita adalah untuk jangka panjang.

Bahkan sekalipun banyak rumor yang mengatakan bahwa secara data makroekonomi, Kuartal II-2020 akan minus. Namun selama kondisi fundamental saham perusahaan yang kita pegang sehat dan layak, kenapa tidak dipertahankan sesuai dengan tujuan investasi kita tadi ?

 

###

 

Info:

 

Tags : Aksi Jual Saham | Aksi Jual Saham | Aksi Jual Saham | Aksi Jual Saham | Aksi Jual Saham | Aksi Jual Saham | Aksi Jual Saham | Aksi Jual Saham | Aksi Jual Saham | Aksi Jual Saham | Aksi Jual Saham | Aksi Jual Saham

You may also like

1 Comment

  • Hartoko
    July 26, 2020 at 6:50 PM

    Terima kasih koh Rivan … paling tidak kesimpulan koh Rivan cukup melegakan saya (sebagai investor jangka panjang) untuk tetap mempertahankan saham yang kita miliki selama fundamentalnya bagus.

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Rivan adalah seorang Indonesia Value Investor yang memulai investasi sejak tahun 2008 ketika berusia 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, Rivan berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Berbekal pengalamannya, Rivan saat ini menjalani profesi sebagai Full Time Investor sekaligus praktisi di pasar modal. Saat ini, Rivan aktif mengadakan workshop dan pelatihan kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko di pasar saham.

Like Us On Facebook

Facebook Pagelike Widget

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Categories

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami