WB Jual Saham Bank Corp, Apakah juga Berdampak pada Perbankan di Indonesia ?


Setelah melakukan penjualan saham penerbangannya, selang beberapa waktu kemudian WB juga menjual kepemilikan sahamnya yang berada di US Bankcorp (USB) melalui Berkshire Hathaway. Kendati telah dijual Berkshire Hathaway masih memegang saham US Bankcorp, namun persentase nya saja yang berkurang yang semula 10% kini hanya tersisa 9%. Sayangnya dalam aksi WB tersebut, banyak pelaku pasar di Indonesia yang justru mengaitkan pengaruhnya terhadap sejumlah saham perbankan yang belakangan sempat anjlok. Jika demikian, apakah aksi jual saham WB pada US Bankcorp memberikan dampak yang juga dirasakan oleh perbankan Indonesia ?

 

Kronologi WB Jual Saham Bankcorp

Pada Mei 2020 kemarin, sepertinya sudah hampir seluruh investor tahu mengenai keputusan WB jual saham Bankcorp. Ya… beberapa waktu lalu anak usaha perusahaan investasi Berkshire Hathaway telah melakukan penjualan sebagian kepemilikan saham di U.S Bankcorp (USB).

Berdasarkan informasi Securities and Exchange Comission (SEC), Berkshire Hathaway telah menjual sebanyak 497.786 saham U.S Bancorp pada tanggal 11 dan 12 Mei 2020. Sehingga kepemilikan Berkshire di perusahaan perbankan tersebut, kini hanya tersisa 150.5 juta saham atau sudah turun di bawah 10%. Sebagai imbasnya, Berkshire Hathaway tidak perlu lagi melaporkan penjualan ataupun pembelian saham U.S Bankcorp ke SEC.

 

 

Adapun berdasarkan peraturan yang diterapkan oleh SEC, jika seseorang atau entitas perusahaan memiliki saham di suatu perusahaan publik berjumlah >10%, maka mereka berkewajiban untuk melaporkan setiap transaksi penjualan atau pembelian saham tersebut ke ESC.

Tidak hanya itu saja, keuntungan lain dengan kepemilkan Berkshire di saham U.S Bancorp yang sudah di bawah 10%, mereka kini bisa melakukan pengelolaan di saham ini tanpa harus diketahui publik. Lantaran Berkshire hanya perlu melaporkan kepemilikannya ke SEC pada setiap akhir periode.

Untuk lebih menegaskan apa yang Penulis muat terkait WB jual saham Bancorp, Penulis akan mengajak Anda untuk melihat detail penjualannya pada website resmi SEC yakni www.sec.gov. Website tersebut akan memuat segala aktifitas korporasi, yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan publik yang tercatat pada Bursa New York. Termasuk pula dengan aktifitas korporasi Berkshire Hathaway mulai dari informasi kepemilikan saham, rilisnya laporan keuangan per kuartal, hingga rilisnya laporan tahunan perusahaan, dan juga untuk informasi penting dari perusahaan publik yang tercatat. Dari website resmi SEC tersebutlah, kita bisa lebih mendapatkan data yang lebih valid terkait tindakan WB jual saham Bancorp.

Sebagai langkah pertama, Anda bisa mengakses www.sec.gov dan masuk pada halaman pertama seperti ini..

 

Setelah itu, lanjutkan scroll down sampai menemukan kotak yang berisi “Name of Ticker”. Dalam kotak tersebut, Anda bisa menuliskan “Berkshire Hathaway” yang kemudian akan muncul pilihan “Berkshire Hathaway INC (BRK-A)” atau “Berkshire Hathaway INC (BRK-B)”. Anda bisa memilih yang mana saja, dan selanjutnya klik tombol search..

 

Setelah step tadi selesai, Anda akan masuk pada halaman berjudul “EDGAR Search Results”. Di halaman ini kita sudah bisa melanjutkan satu step lagi untuk melihat detail transaksi jual-beli saham yang dilakukan oleh Berkshire Hathaway. Untuk itu, Anda bisa mengklik “Get Insider transactions for this reporting owner” yang sudah Penulis beri kotak panjang berwarna kuning seperti berikut :

 

Berikutnya, Anda akan berada pada halaman “Ownership Reports for Issuers”, di mana pada pada bagian kotak pertama akan terlihat nama saham U.S Bancorp dengan tanggal transaksinya pada 11 Mei 2020.

 

Sedangkan untuk detailnya, Anda bisa scroll down lagi ke bawah sampai ada tulisan “Items 1 – 80” dan scroll down lagi ke bawah sampai ketemu data U.S Bancrop, seperti berikut ini…

Data Transaksi Berkshire Hathaway. Source : https://www.sec.gov/cgi-bin/own-disp?action=getowner&CIK=0001067983

 

Dari data di atas, kita sudah mendapatkan data penjualan saham U.S Bancorp secara detail. Di mana untuk saham yang dijual menggunakan kode “D” yakni disposition, dan untuk saham yang dibeli menggunakan kode A yakni acquisition. Terlihat bahwa pada tanggal 11 – 12 Mei 2020, Berkshire Hathaway telah menjual saham Bancorp.

Bahkan sebelum ini, WB melalui Berkshire Hathaway juga telah menjual saham Bank of New York Mellon. Termasuk juga dengan saham Delta Airline, Southwest Airlines, dan lainnya. Terkait dengan penjualan Delta Airline dan Southwest Airlines, Penulis juga sudah pernah membahasnya pada artikel terpisah. Bagi Anda yang belum membacanya, Anda bisa membacanya melalui link di bawah ini …

 

[Baca lagi : Warren Buffett Jual Rugi Delta Airlines, Pelajaran Apa yang Bisa Dipetik ?]

 

 

Fenomena Ramainya Investor Asing Jual Saham Perbankan

Melihat tindakan WB yang jual saham Bankcorp, lantas apakah penjualan saham ini menjadi pemicu anjloknya harga saham bank-bank besar di Indonesia pada beberapa waktu kemarin ?

Seperti yang kita tahu, selepas WB jual saham Bankcorp pada tanggal 11 dan 12 Mei 2020 kemarin. Pada beberapa hari setelahnya, BEI secara berturut-turut justru diwarnai oleh keluarnya modal asing dari bursa. Tercatat investor asing telah melakukan penjualan saham dengan nilai bersih (net sell) mencapai Rp 774.35 miliar di seluruh pasar. Demikian halnya dengan penjualan saham dengan nilai bersih (net sell) mencapai Rp 796.88 miliar di pasar reguler. Sangat berbanding jauh, dengan pembelian saham di pasar negosiasi dan tunai yang saat itu tercatat sekitar Rp 22.53 miliar. (Notes : perolehan angka-angka di atas bisa mengalami perubahan kapan saja. Referensi di atas diambil, tidak jauh dari setelah mencuatnya penjualan saham U.S Bankcorp).

Dan hingga pertengahan Mei 2020 kemarin, investor asing tercatat paling banyak melakukan penjualan saham perbankan. Misalnya saja BBRI yang mencatatkan nilai bersih sebesar Rp 365.56 miliar, dan sepanjang tahun ini investor asing telah menjual saham BBRI mencapai Rp 5.33 triliun. Tidak hanya itu saja, saham perbankan lainnya yang juga menjadi sasaran jual asing adalah BBCA dengan nilai bersih sebesar Rp 82.71 miliar, dan total jual saham BBCA sepanjang tahun ini Rp 5.08 triliun. Kemudian, saham BMRI yang juga dilepas dari portfolio investor asing dengan nilai bersih sebesar Rp 65.85 miliar, dan total saham yang dilepas investor asing sepanjang tahun ini mencapai Rp 973.9 miliar.

Sebagai akibatnya harga saham BBRI, BBCA, dan BMRI harus mengalami penurunan, seperti yang terlihat pada gambar di bawah ini :

Source : RTI Business

Kendati demikian, Penulis tidak melihat anjloknya harga saham perbankan besar tersebut karena pengaruh dari WB jual saham Bankcorp. Lantas jika demikian, apa penyebabnya ?

 

WB Jual Saham Bankcorp vs Perbankan Indonesia

Keputusan WB jual saham Bankcorp yang belakangan banyak dikaitkan dengan anjloknya harga saham perbankan di Indonesia, cukup Penulis sayangkan. Di mana seharusnya, kita sebagai investor bisa berpikir lebih sehat untuk tidak menyamakan dan jangan pula disamakan situasi penurunan kinerja perbankan di AS, dengan kondisi kinerja perbankan di Indonesia. Mengingat hingga kini pun, perbankan di Indonesia masih tergolong sehat, baik untuk bank BUKU III dan bank BUKU IV.

Penurunan harga saham bank yang belakangan terjadi, sebenarnya tidak lepas dari kabar bahwa perbankan besar berpotensi menjadi bank Jangkar. Di mana belum lama ini pemerintah berencana akan menerapkan bank jangkar, guna menjaga kekuatan likuiditas perbankan yang bermasalah karena harus melakukan restrukturisasi kredit. Bagi Anda yang ingin tahu lebih deep mengenai bank jangkar, Anda juga bisa membaca artikelnya melalui link berikut ini :

 

[Baca lagi : Skema Bank Jangkar Siap Dilaksanakan, Apa itu Bank Jangkar dan Bagaimana Implementasinya ?]

 

 

Kabar penerapan Bank Jangkar itu, setidaknya sudah menimbulkan kekhawatiran bagi para investor, terutama bagi investor asing. Mereka merasa tidak aman atas risiko yang mungkin akan dihadapi oleh perbankan besar yang menjadi bagian Bank Jangkar. Kekhawatiran investor asing ini cukup beralasan, mengingat saat ini bank memiliki ruang yang terbilang “terbatas” untuk bisa memperluas portfolio pinjaman mereka. Apalagi saat ini perekonomian masih belum pulih sepenuhnya, pasca terdampak pandemi Covid-19. Meskipun secara berangsur-angsur kegiatan mulai kembali sediakala selama diberlakukannya new normal.

 

Kesimpulan

Well, bagaimana menurut Anda sekalian ? Jika kembali pada pertanyaan di atas, apakah aksi jual saham WB pada U.S Bankcorp memang memberi dampak yang juga dirasakan oleh perbankan Indonesia ?

Hingga sejauh ini, setidaknya Penulis bisa menarik kesimpulan. Bahwa apa yang diputuskan dan dilakukan WB melalui perusahaan investasi nya yakni Berkshire Hathaway, yang melakukan penjualan saham U.S Bankcorp sebanyak 497.786 lembar saham pada tanggal 11 dan 12 Mei 2020. Tidak lah memberikan dampak apapun terhadap situasi saham perbankan di Indonesia. Jelas situasi tersebut adalah dua hal yang berbeda, sehingga kita tidak bisa selalu menyamakan dengan apa yang terjadi pada saham-saham perbankan di AS, dengan saham perbankan di Indonesia. Apalagai secara fundamental, emiten sektor perbankan di Indonesia , baik bank buku III dan bank buku IV masih lah dalam kategori sehat.

Apalagi jika tadi Anda lihat sejumlah screenshot dari data SEC di atas, menunjukkan bahwa WB sang investor kawakan ini tidak hanya menjual saham perbankannya. Melainkan juga sejumlah saham dari sektor lainnya. Sedangkan anjloknya sejumlah harga saham perbankan besar di Indonesia belakangan ini, lebih diakibatkan oleh sentimen pemberlakuan bank Jangkar yang diklaim mampu menyokong likuiditas bank-bank lain yang mengalami masalah akibat restrukturisasi kredit dalam beberapa bulan ini.

 

###

 

Info:

 

 

Tags : WB Jual Saham Bankcorp | WB Jual Saham Bankcorp | WB Jual Saham Bankcorp | WB Jual Saham Bankcorp | WB Jual Saham Bankcorp | WB Jual Saham Bankcorp | WB Jual Saham Bankcorp | WB Jual Saham Bankcorp | WB Jual Saham Bankcorp | WB Jual Saham Bankcorp

You may also like

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Rivan adalah seorang Indonesia Value Investor yang memulai investasi sejak tahun 2008 ketika berusia 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, Rivan berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Berbekal pengalamannya, Rivan saat ini menjalani profesi sebagai Full Time Investor sekaligus praktisi di pasar modal. Saat ini, Rivan aktif mengadakan workshop dan pelatihan kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko di pasar saham.

Like Us On Facebook

Facebook Pagelike Widget

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Categories

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami