Ketika Ekonomi Lesu, Apa yang Sebaiknya Dilakukan Investor ?


Pertumbuhan ekonomi global tahun 2020, diprediksikan mengalami resesi lantaran pertumbuhan ekonomi yang melambat. Salah satu pemicunya adalah karena pandemi Covid-19 yang telah menyebar luas ke sejumlah negara, dan mendorong terjadinya pelaksanaan lockdown guna menekan laju penyebaran Covid-19. Sayangnya hal ini justru menimbulkan dampak negatif terhadap semua elemen ekonomi, tak terkecuali bagi para pelaku pasar. Lantas apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang investor ketika ekonomi tengah lesu seperti sekarang ini ?

Pelemahan Ekonomi

Dalam pertumbuhan ekonomi akan ada siklus, di mana ekonomi mengalami kenaikan maupun penurunan. Bahkan tidak ada satu negara manapun yang bisa lolos dari siklus ekonomi tersebut, dan seberapa lama siklus tersebut terjadi juga tidak bisa dipastikan. Karena bisa saja, suatu negara mengalami pelemahan ekonomi selama beberapa tahun dan kemudian bangkit lagi. Berkaca dari krisis ekonomi di tahun 1998 silam, di mana nilai saham dan Rupiah harus anjlok secara signifikan. Namun setelah itu, ekonomi mulai pulih kembali dan bahkan lebih baik dari tahun sebelum krisis ekonomi melanda Indonesia. Artinya, hingga kini baik negara maju maupun negara berkembang pasti sama-sama akan melewati siklus ekonomi ini.

Apalagi belum lama ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksikan oleh IMF akan mencatatkan penurunan pertumbuhan sekitar 0.5% YoY di sepanjang tahun 2020 ini. Prediksi tersebut, tidak lepas dari pengaruh Covid-19 yang membuat Indonesia menerapkan lockdown hingga batas waktu yang tidak ditentukan. Akibatnya laju pertumbuhan ekonomi Indonesia, saat ini cukup tertekan. Meskipun sampai saat ini, masih belum ada pernyataan resmi dari pemerintah yang menyatakan bahwa benar adanya Indonesia menuju ke arah resesi..

 

[Baca lagi : Potensi Resesi Ekonomi di Tahun 2020, Apakah Benar-Benar akan Terjadi?]

 

Dengan melemahnya ekonomi, tentu saja efeknya tidak hanya berdampak pada sektor riil saja. Melainkan juga pada para pelaku pasar, khususnya investor saham. Meski demikian, sebaiknya para investor tetap tenang dan tidak panik. Mengingat situasi yang tengah terjadi saat ini, juga sedang dialami oleh semua orang di dunia. Sehingga sebagai investor, kita bisa melakukan langkah yang tepat untuk menyikapinya.

Lantas bagaimana sebaiknya langkah yang diambil oleh investor ketika ekonomi lesu ?

 

Tips yang bisa dilakukan investor ketika ekonomi lesu

Dalam situasi ekonomi lesu seperti sekarang, bukan hal yang tidak mungkin investor akan menghadapi berbagai situasi yang tidak menyenangkan. Apalagi berbicara mengenai krisis ekonomi, yang tidak lepas dari dampak yang terjadi. Adapun dampak yang paling terasa adalah keadaan keuangan pribadi kita. Untuk mengantisipasi hal tersebut, dan sekaligus untuk bisa bertahan dalam kondisi ekonomi lesu ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh investor agar tidak salah langkah dalam menyikapinya. Di antaranya adalah :

Pertama, seorang investor harus bisa menekan besaran pengeluaran. Mengingat dalam situasi ekonomi lesu ini, pendapatan seorang investor juga bisa berpotensi menurun. Terlebih lagi jika Anda sebagai investor, yang juga masih bekerja di suatu perusahaan. Bukan hal yang tidak mungkin, jika perusahaan tempat Anda bekerja mengalami penurunan permintaan barang atau jasa. Akibatnya, pendapatan perusahaan mengalami penurunan dan bisa mendorong perusahaan mengambil keputusan strategis. Dengan asumsi terburuk, Anda tidak menerima pendapatan yang semestinya.

Oleh karena itu, menekan pengeluaran menjadi hal yang penting dilakukan agar Anda tetap bisa mengamankan dana investasi. Karena dalam bahasa sederhananya, tidak mudah mendapatkan uang dalam situasi sulit. Sehingga mau tidak mau, kita harus mengendalikannya dari sisi pengeluaran. Sebagai contohnya :

Pak Heri dan keluarganya yang biasanya mengeluarkan uang Rp 30.000 – 40.000 per orang untuk satu kali makan siang. Artinya dalam waktu satu bulan, setidaknya membutuhkan sekitar Rp 3.000.000 Kali ini harus bisa mengendalikan sisi pengeluarannya, dengan misalkan memasak nasi dan lauk sendiri di rumah agar lebih hemat (selain lebih terjaga kebersihannya). Jika Pak Heri bisa menghemat 50% misalkan, maka Pak Heri bisa mengurangi pengeluaran Rp 1.500.000 untuk kebutuhan lainnya.

 

Kedua, menyediakan dana darurat. Jika sudah berhasil menekan pengeluaran, langkah selanjutnya yang bisa dilakukan adalah mengelola dan menahan cash yang ada untuk dana darurat. Tujuannya tidak lain adalah untuk memenuhi kebutuhan mendasar selama resesi berlangsung, sekaligus bisa menangkap peluang investasi ketika tersedia. Dengan begitu, akan lebih baik jika cash ini ditahan dan tidak digunakan terkecuali dalam keadaan mendesak. Mengingat cash ini juga bisa menjadi simpanan dalam jangka pendek, setidaknya sampai kondisi ekonomi mulai pulih.

Meskipun secara historis, seringkali menunjukkan bahwa keadaan ekonomi yang lesu bisa pulih dengan cepat. Namun perlu diingat, tidak ada jaminan hal itu bisa cepat terjadi bahkan oleh seorang ahli ekonomi sekalipun. Oleh karenanya, dalam situasi ini penghematan merupakan langkah yang sangat tepat. Penghematan yang dimaksudkan adalah lebih bijak lagi dalam mengendalikan pengeluaran sehari-hari. Misalnya dengan cara menunda keinginan, belanja hanya berdasarkan skala prioritas.

 

 

Ketiga, usahakan untuk tidak menambah utang baru. Dengan memiliki cash yang tersedia, bukan berarti kita bisa menambah utang baru. Dalam situasi sekarang ini, menambah utang sangatlah tidak dianjurkan. Apalagi di waktu yang sama, sejumlah lembaga keuangan sedang melakukan restrukturisasi kredit. Bahkan ada yang menangguhkan pembayarannya, setidaknya sampai situasi membaik.

 

[Baca lagi : OJK Berlakukan Restrukturisasi Kredit, Bagaimana Dampaknya Terhadap Emiten Perbankan?]

 

 

Oleh karena itu, juga akan lebih baik jika dalam sementara waktu ini kita mengurangi menggunakan kartu kredit, guna menjaga arus keuangan tetap lebih stabil. Mengingat penggunaan kartu kredit ini sama saja menambah pos utang baru bagi pengeluaran. Apalagi seperti yang sudah kita tahu, bahwa dalam utang, sudah tentu diikuti oleh kewajiban pembayaran untuk mengembalikan pokok dan bunga utang yang disetujui. Dengan  demikian, akan lebih baik jika ditunda dan disesuaikan dengan kemampuan menyelesaikan kewajibannya.

 

Keempat, mengikuti perkembangan riil pasar. Setelah kita mengelola dana yang kita miliki saat ini, langkah selanjutnya yang bisa kita lakukan adalah dengan mengikuti perkembangan riil pasar. Adapun salah satu contoh yang bisa dliakukan saat ini, adalah memantau kinerja emiten melalui laporan keuangan yang sudah dirilis. Sebagai tolak ukur dalam menganalisa seberapa besar dampak ekonomi yang lesu terhadap kinerja emiten. Apakah cukup baik, buruk, atau mungkin justru sama sekali tidak terdampak pandemi Covid-19. Mengingat tidak semua emiten dirugikan, sebaliknya juga ada emiten yang justru diuntungkan.

 

Kelima, tingkatkan rasa dan sikap yang positif. Dalam situasi yang tidak pasti ini, sikap optimis memang lebih baik dan dibutuhkan. Namun jika tidak dikelola dengan baik, sikap optimis ini justru bisa membawa seorang investor pada tindakan spekulatif dan semakin merugi. Sebagai contohnya : Pak Heri sangatlah optimis bahwa bulan selanjutnya nilai tukar Rupiah bisa membaik. Sehingga sebagai investor tidak membuat skema lindung nilai. Namun ternyata, nilai tukar Rupiah justru melemah. Tindakan ini termasuk spekulasi, dan menimbulkan kerugian. Padahal dalam situasi semacam ini, lebih baik meningkatkan sikap positif daripada sikap optimis.

 

Kesimpulan

Dari penjelasan di atas, setidaknya hingga sejauh ini kita kembali diingatkan bahwa perekonomian juga memiliki siklusnya sendiri. Bahkan meski perekonomian global telah mengalami pertumbuhan yang cukup baik sejak terjadinya resesi di tahun 2009 kemarin. Bukan berarti kalau resesi ini tidak akan muncul lagi.

Oleh karenanya, kita sebagai investor perlu melakukan tindakan yang tepat ketika ekonomi lesu. Di mana kita bisa mengantisipasi situasi-situasi yang tidak kita inginkan, sehingga kita masih bisa berinvestasi dengan mengikuti perkembangan riil pasar.

Demikian, beberapa tindakan yang bisa kita lakukan sebagai investor ketika menghadapi ekonomi lesu seperti sekarang ini..

Nah kita-kira hingga sejauh ini, tindakan positif apa saja yang sudah Anda lakukan di tengah pandemi Covid-19 ?

 

###

 

Info:

 

 

 

Tags : Ketika Ekonomi Lesu | Ketika Ekonomi Lesu | Ketika Ekonomi Lesu | Ketika Ekonomi Lesu | Ketika Ekonomi Lesu | Ketika Ekonomi Lesu | Ketika Ekonomi Lesu | Ketika Ekonomi Lesu | Ketika Ekonomi Lesu

You may also like

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Rivan adalah seorang Indonesia Value Investor yang memulai investasi sejak tahun 2008 ketika berusia 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, Rivan berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Berbekal pengalamannya, Rivan saat ini menjalani profesi sebagai Full Time Investor sekaligus praktisi di pasar modal. Saat ini, Rivan aktif mengadakan workshop dan pelatihan kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko di pasar saham.

Like Us On Facebook

Facebook Pagelike Widget

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Categories

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami