Berinvestasi Pada Saham Defensif Di Tengah Ketidakpastian


Belakangan ini banyak terdengar tentang saham-saham defensif yang dinilai lebih baik untuk dijadikan sebagai investasi, di kala terjadinya pelemahan ekonomi. Apalagi beberapa waktu ini, Indonesia harus menghadapai pandemic Covid-19. Tak pelak, di tengah situasi seperti saat ini saham defensif disebut-sebut menjadi salah satu strategi diversifikasi saham yang paling aman dan menjadi salah satu jenis saham yang banyak dipilih oleh sebagian besar investor. Lantas apa yang dimaksud dengan saham defensif ? Dan seberapa relevannya menggunakan strategi berinvestasi saham defensif ini?

 

Mengenal Lebih dalam Tentang Saham Defensif

Dalam berinvestasi saham, ada baiknya jika kita tidak hanya membeli satu jenis saham dengan semua uang yang kita miliki. Akan lebih baik, jika kita juga membeli beberapa jenis saham yang berbeda guna meminimalisir risiko yang mungkin terjadi. Saham –saham yang dimaksud ini bisa berasal dari berbagai sektor yang berbeda, mengingat tidak semua saham akan mengalami kenaikan secara bersamaan.

Hal tersebut dikarenakan ada suatu sektor yang sedang mengalami kenaikan, namun di sisi lain juga ada sektor yang mungkin tengah mengalami penurunan. Inilah kenapa membeli saham dari berbagai sektor yang berbeda, bisa menjadi antisipasi terbaik bagi investor apalagi di situasi seperti sekarang ini. Strategi ini juga bisa disebut sebagai diversifikasi saham. Bahkan, ada salah satu kutipan yang dijadikan prinsip investasi sang investor ulung WB, bahwa :

Diversification is a protection against ignorance. It makes vey little sense for those who know what they’re doing.”

Nah dalam melakukan diversifikasi saham tersebut, kita juga bisa memilih salah satu saham dari saham-saham defensif. Lantas apa yang dimaksud dengan saham defensif ?

Saham defensif adalah saham perusahaan yang kinerjanya cenderung tidak terpengaruh, oleh kondisi perekonomian domestik maupun global yang sedang mengalami pelemahan. Sehingga saham defensif ini juga seringkali disebut sebagai saham non-siklikal, karena ketahanannya yang cukup baik dalam berbagai kondisi. Lantaran saham-saham defensif ini pada umumnya bergerak pada bidang usaha kebutuhan primer dan sekunder. Dengan begitu, produk-produk yang dihasilkan saham defensif ini akan terus dibutuhkan oleh konsumen setiap harinya. Mengindikasikan bahwa saham defensif dari perusahaan tersebut, sudah memiliki pangsa pasar yang kuat di dalam negeri. Sehingga permintaan akan terus ada walaupun perekonomian tengah melemah. Tidak heran jika, saham defensif ini menjadi salah satu jenis saham yang paling diandalkan oleh investor di pasar modal Indonesia, karena dinilai mampu menjaga kestabilan kinerja perusahaan meski di tengah tekanan ekonomi.

Saham defensif ini berbeda dengan saham-saham lain yang cenderung bergerak mengikuti siklus pergerakan ekonomi. Sebut saja contohnya, saham-saham sektor komoditas seperti batubara dan CPO. Saham-saham tersebut akan sangat bergantung dengan harga jual komoditas tertentu. Misalnya, ketika permintaan batubara mengalami penurunan, maka harga akan turun, imbasnya perusahaan akan tertekan sehingga laba perusahaan menurun. Akibatnya harga saham perusahaan-perusahaan sektor komoditas pun mengalami penurunan.

 

Contoh Perusahaan dengan Saham Defensif

Dari penjelasan di atas, setidaknya kita tahu bahwa tidak semua perusahaan memiliki saham yang sifatnya defensif. Lantaran defensifnya suatu saham, hanya bisa ditentukan pada jenis produk yang dikelola dan diproduksi oleh perusahaan. Berikut ini adalah beberapa industri yang masuk ke dalam kategori saham defensif, misalnya :

  • Perbankan. Sektor perbankan merupakan salah satu sektor yang defensive dikarenakan bank yang menjadi pusat keuangan akan tetap dibutuhkan dalam kondisi ekonomi apapun. Bahkan di dalam kondisi ekonomi terburuk pun, akan banyak nasabah yang memilih untuk menyimpang uang di dalam bank. Bank sendiri diuntungkan dengan hal ini karena Dana Pihak Ketiga (DPK) akan meningkat.
  • Perusahaan produsen kebutuhan pokok, perusahaan ini merupakan penghasil barang konsumen. Di mana perusahaan ini memiliki peran penting mulai dari memproduksi dan juga memasarkan bahan baku yang dibutuhkan oleh masyarakat. Kebutuhan tersebut bisa berupa kebutuhan pangan baik makanan maupun minuman, hingga pada kebutuhan harian seperti produk kebersihan rumah tangga. Dari jenis produk yang dihasilkannya itu, perusahaan mampu menghasilkan arus kas yang cenderung stabil.
  • Perusahaan yang bergerak pada sektor utilitas, sektor ini mencakup berbagai subsektor termasuk didalamnya mencakup listrik, air, dan gas. Dalam keadaan ekonomi apapun, listrik, air, dan gas akan tetap dibutuhkan dan permintaan akan tetap tinggi.
  • Perusahaan yang bergerak pada bidang kesehatan, baik untuk perusahaan farmasi yang memproduksi berbagai kebutuhan medis, dan juga rumah sakit yang memberikan pelayanan kesehatan. Secara historis kelompok ini dianggap sebagai perusahaan yang tergolong defensif, lantaran akan ada saja orang-orang yang membutuhkan perawatan serta obat-obatan.
  • Perusahaan yang bergerak pada bidang replacement market, untuk semua perusahaan yang begerak di bidang replacement market seperti komponen otomotif dan sparepart juga akan tetap bertahan. Lantaran pengguna kendaraan akan tetap membutuhkan perawatan suku cadang kendaraan.

Dari beberapa contoh saham defensif di atas, bisa dikatakan juga bahwa saham defensif ini lebih pantas dijadikan sebagai investasi jangka panjang. Dan lebih sesuai untuk dipegang oleh investor dengan profil risiko yang lebih rendah. Namun sebagai catatan penting untuk kita, rata-rata saham defensif ini harga sahamnya sudah tergolong tinggi dengan kapitalisasi pasar yang besar pula.

 

Saham Defensif VS Market

Di atas tadi sudah dijelaskan, bahwa saham defensif juga dikenal sebagai saham non-siklikal, karena ketahanannya yang cukup baik dalam berbagai kondisi. Meski demikian, juga perlu kita ingat bahwa saham defensif ini juga berisiko mengalami penurunan harga saham, terutama jika IHSG diterpa sentimen-sentimen negatif secara global maupun domestik.

Nah hal tersebut sangat lah sama dengan yang belakangan ini sedang terjadi di Indonesia. Jika kita flashback, IHSG sendiri tercatat mulai mengalami penurunan sejak bulan Februari 2020 kemarin. Padahal di awal Februari 2020, IHSG masih berada di atas 6000,-an. namun hingga menjelang habis bulan Februari 2020, IHSG justru terpuruk ke kisaran 5450,-an. Bahkan di bulan Maret 2020, IHSG masih terus mengalami penurunan secara signifikan dan sempat menyentuh level terendahnya di 4000,-an. Ya.. seperti yang kita tahu bahwa dalam beberapa bulan ini kita tengah mengalami tekanan ekonomi akibat pandemic Covid-19. Di mana pandemic ini cukup menekan kinerja IHSG, yang berdampak juga pada penurunan harga saham hampir di semua sektor.

Walaupun harga saham defensif juga mengikuti pergerakan IHSG yang menurun dalam beberapa waktu ke belakang. Menariknya harga saham-saham defensif ini memiliki peluang lebih cepat untuk pulih ketika kondisi sudah mulai membaik secara berangsur-angsur. Sebagai contohnya seperti di bawah ini :

Contoh saham defensif. Source : RTI Business

 

Dari ilustrasi di atas, terlihat jelas pergerakan harga saham defensif ini juga mengikuti pergerakan IHSG. Hal tersebut, menegaskan bahwa tidak menutup kemungkinan kinerja saham defensif juga mengalami penurunan. Lantaran saat ekonomi melemah, sudah tentu sebagian besar perusahaan akan terkena imbasnya tidak peduli sektor apapun itu. Artinya kinerja akan mengalami penurunan, seiring dengan konsumsi masyarakat yang juga menurun sehingga pendapatan perusahaan berpotensi tertekan.

Nah sebagai contohnya, beberapa saham defensif juga pernah mengalami penurunan ketika ekonomi bertumbuh stagnan di tahun 2017 kemarin..

[Baca lagi : Di Balik Lesunya Daya Beli Masyarakat dan Pertumbuhan Ekonomi yang Stagnan]

 

Situasi di atas setidaknya sama dengan yang terjadi di Indonesia, sejak pandemic Covid-19 muncul dan berimbas pada keluarnya aliran modal asing secara besar-besaran dari domestik. Sebagai contoh, tercatat aliran modal asing yang keluar dari Indonesia sejak awal tahun 2020 hingga per April 2020 kemarin mencapai Rp 159.38 triliun. (Source : https://katadata.co.id/berita/2020/04/24/bi-catat-modal-asing-keluar-ri-rp-159-t-sepanjang-2020-akibat-corona).

 

Seberapa Relevankah Strategi Berinvestasi Saham Defensif ?

Jika demikian, lantas seberapa relevannya kah jika kita menggunakan strategi berinvestasi saham defensif, setiap kali ekonomi mengalami pelemahan ?

Kembali lagi pada topik di atas, saham defensif ini memang seringkali menjadi andalan bagi para investor saham, terutama ketika ekonomi tengah lesu. Bahkan bisa dikatakan saham defensif ini biasanya mengalahkan kinerja saham cyclical lainnya saat ekonomi kurang baik. Namun seperti kondisi di atas, saham-saham defensif juga tidak selalu bisa menjadi penopang. Sehingga, pemakaian strategi berinvestasi saham defensif ini juga harus disesuaikan dengan situasi yang ada. Di lain sisi, kita juga perlu ingat kembali bahwa sampai saat ini, tidak ada satu teori manapun yang bisa menebak dan mudah diterapkan di pasar saham.

Adapun jika pasar saham tertekan akibat ekonomi yang melemah, strategi berinvestasi yang terbaik yang bisa kita lakukan adalah mengamankan portfolio kita. Salah satunya dengan melakukan rebalancing portfolio…

 

[Baca lagi : Tips Berinvestasi di Tengah Merebaknya Pandemic Covid-19]

 

 

Kesimpulan

Dari penjelasan di atas, kita bisa menarik kesimpulan bahwa saham defensif ini merupakan saham yang mampu tetap stabil meski berada disituasi yang tertekan sekalipun. Namun meski begitu, bukan berarti harga sahamnya akan tetap berada di posisi yang aman dan tidak seterusnya saham defensif juga bisa menopang ketika eknomi melemah.

Jadi lakukan sebaik mungkin diversifkasi saham kalian, tetap selalu melakukan analisis lebih dulu dan kenali fundamentalnya. Karena sangat disayangkan, jika kalian hanya membeli saham-saham defensif untuk mengamankan portfolio investasi dalam jangka pendek saja.

Nah, kira-kira menurut rekan investor sekalian, seberapa relevankah investasi saham-saham defensif untuk di saat-saat ini ?

 

###

 

Disclaimer : Penyebutan nama saham, tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, atau pun rekomendasi jual beli atau tahan untuk saham tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis.

 

Info:

 

Tags : Berinvestasi Saham Defensif | Berinvestasi Saham Defensif | Berinvestasi Saham Defensif | Berinvestasi Saham Defensif | Berinvestasi Saham Defensif | Berinvestasi Saham Defensif | Berinvestasi Saham Defensif

You may also like

2 Comments

  • Tahlib Gaffar
    May 25, 2020 at 1:56 PM

    Memang sih UNVR dlm memnuhi kebutuhan kita ga pernah ada habisnya .. blum lg berbagai inovasi dlm produknya.. tapi ya gt deh terlampau mahal hehehe.

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Rivan adalah seorang Indonesia Value Investor yang memulai investasi sejak tahun 2008 ketika berusia 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, Rivan berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Berbekal pengalamannya, Rivan saat ini menjalani profesi sebagai Full Time Investor sekaligus praktisi di pasar modal. Saat ini, Rivan aktif mengadakan workshop dan pelatihan kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko di pasar saham.

Like Us On Facebook

Facebook Pagelike Widget

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Categories

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami