Harga Saham Terkoreksi Lebih Dari 60%, Bagaimanakah Prospek Bisnis BBNI Ke Depan ?


Pada tahun 2018 yang lalu, harga saham BBNI ini sempat menyentuh level tertingginya di 10100,-an. Sedangkan per artikel ini ditulis pada pertengahan Mei 2020, harga saham BBNI bergerak di kisaran 3700,-an. Artinya sepanjang 2 tahun terakhir ini, kinerja BBNI telah mengalami koreksi lebih dari 60% dari harga saham tertingginya. Bahkan per Maret 2020 kemarin, harga saham BBNI ini sempat jatuh ke level paling rendahnya di kisaran 3000,-an. Lantas apakah penurunan harga saham yang lebih dari 60% itu, sudah cukup menjadikan saham BBNI murah ? Dan bagaimana prospek bisnis BBNI ke depannya ?

 

Sekilas Tentang BBNI

BBNI merupakan salah satu perbankan milik BUMN di Indonesia, sekaligus menjadi bank komersial tertua dalam sejarah Indonesia. Di mana perusahaan ini resmi berdiri sejak Juli 1946, berperan sebagai Bank Sirkulasi yang bertanggung jawab menerbitkan dan mengelola mata uang Indonesia. Terhitung hingga saat ini, BBNI sudah memiliki lebih dari 1000 kantor cabang yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Bahkan termasuk cabang yang berada di luar negeri yang di antaranya Singapura, Hong Kong, Tokyo, New York, London, Yangon, dan Seoul. Tidak hanya itu saja, BBNI ini juga memiliki unit perbankan syariah, yang terhitung sejak tahun 2010 sudah melakukan spin off yakni BNI Syariah.

 

Source : Public Expose BBNI 2019

 

Perusahaan perbankan ini didirikan oleh Margono Djojohadikusumo, yang telah berjasa besar atas perkembangan bisnis perbankan di Indonesia. Termasuk dalam perkembangan BBNI, Margono sendiri juga berperan ganda sebagai direktur BBNI ke-1, dengan masa jabatan terhitung sejak 1946 – 1953. Di samping itu, Margono juga merupakan seorang pionir. Di mana ia telah berhasil menanamkan nilai-nilai dan cara pandang bisnis perbankan di Indonesia. Sekaligus menggantikan peranan De Javasche Bank pada era penjajahan.

 

Source : https://id.wikipedia.org/wiki/Margono_Djojohadikoesoemo

 

Koreksi Harga Saham BBNI

Tekanan yang menghampiri Bursa Efek Indonesia dalam beberapa bulan belakangan ini, memang cukup besar dampaknya. Lantaran hampir semua saham mengalami koreksi harga yang cukup dalam dan meninggalkan harga wajarnya. Sehingga banyak saham yang belakangan ini harganya menjadi lebih rendah dari nilai fundamentalnya. Adapun salah satu saham yang harga sahamnya terkoreksi cukup dalam adalah BBNI. Di mana harga saham BBNI saat ini menjadi yang paling rendah sepanjang lima tahun terakhir ini, sebagai ilustrasinya di bawah ini…

Harga saham BBNI dalam 5 tahun terakhir. Source : https://finance.yahoo.com/chart/BBNI.JK

Penurunan signifikan harga saham BBNI yang terjadi dalam waktu singkat tersebut, tentunya sangat berlebihan. Lantaran penurunan tersebut, merupakan imbas dari kekhawatiran pasar terhadap pandemi Covid-19 yang sudah menggerogoti pertumbuhan ekonomi sehingga melambat. Artinya penurunan yang terjadi, bukan berarti karena kinerja perusahaan terkait memang buruk. Lantas bagaimana dengan kinerja BBNI sendiri di sepanjang 2019 kemarin ?

 

Kinerja Fundamental BBNI

Di sepanjang tahun 2019 kemarin, kinerja keuangan BBNI ini masih terbilang baik. Lantaran bank BUMN ini masih mampu mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 8.6% YoY. Adapun untuk rincian pertumbuhan BBNI selama setahun kemarin, bisa dilihat berdasarkan Laporan Keuangan Kuartal IV-2019 yang sudah dirilis. Dalam laporan tahunannya BBNI tersebut, kita akan melihat kinerja BBNI berdasarkan sejumlah rasio yang digunakan oleh perbankan. Di antaranya sebagai berikut…

 

Capital Ratio

Rasio capital ini bisa dihitung dengan menggunakan Capital Adequacy Ratio (CAR). Dari rasio ini, kita bisa melihat bahwa kemampuan modal BBNI berdasarkan Capital Adequacy Ratio (CAR) ini mengalami peningkatan. Tercatat dari 18.51% di Kuartal IV-2018 meningkat menjadi 19.73% di Kuartal IV-2019. Pertumbuhan rasio ini telah menunjukkan adanya peningkatan daya tahan BBNI dalam menanggung risiko-risiko kerugian yang terjadi di sepanjang Kuartal IV-2019 kemarin. Dengan posisi Capital Adequacy Ratio (CAR) BBNI yang mencapai 19.73%, maka ini adalah CAR yang tertinggi bagi BBNI dalam empat tahun terakhir. Dengan begitu, ketahanan permodalan BBNI juga terbilang baik, karena ketahanan modal BBNI sudah berada di atas batas minimal CAR yang sebesar 14%.

BBNI Kuartal IV-2019

BBNI Kuartal IV-2018

Remarks

CAR / KPMM

19.73%

18.51%

Passed

Permodalan BBNI Kuartal IV-2019 VS Kuartal I-2018

 

Profitability Ratio 

Dengan CAR BBNI yang mengalami pertumbuhan, kini dari sisi profitabilitas pun BBNI juga membukukan sejumlah pertumbuhan yang baik. Terlihat dari pencapaian Laba Bersih BBNI dari Rp 15.02 triliun di Kuartal IV-2018, meningkat menjadi Rp 15.38 triliun di Kuartal IV-2019 (naik sekitar 2.5% YoY). Pertumbuhan itu juga disertai dengan peningkatan pada Pendapatan Bunga dari Rp 35.45 triliun di Kuartal IV-2018, meningkat menjadi Rp 36.6 triliun di Kuartal IV-2019 (naik sekitar 3.3%).

Sayangnya Pendapatan Non Bunga Bersih BBNI masih harus mengalami rugi sebesar Rp -18.6 triliiun per Kuartal IV-2019. Selain itu, ROE BBNI juga tercatat turun dari 16.10% di Kuartal IV-2018 menjadi 14.00% di Kuartal IV-2019. Meski menurun dari tahun sebelumnya, namun BBNI masih mampu menjaga ROE nya di posisi 14.00%. Menunjukkan bahwa kinerjanya masih mencatatkan pertumbuhan yang baik.

BBNI Kuartal IV-2019

BBNI Kuartal IV-2018

Remarks

Laba Bersih

Rp 15.38 triliun

Rp 15.02 triliun

Passed

Pendapatan Bunga Bersih

Rp 36.6 triliun

Rp 35.45 triliun

Passed

Pendapatan Non Bunga Bersih

Rp -18.6 triliun

Rp 17.8 triliun

Failed

ROE

14.00%

16.10%

Passed

Profitabilitas BBNI Kuartal IV-2019 VS Kuartal IV-2018

Asset Quality Ratio 

Sementara dari sisi asset quality, hingga kini BBNI masih mampu menjaga pertumbuhan kreditnya. Terlihat dari jumlah penyaluran kredit yang meningkat dari Rp 512.7 triliun di Kuartal IV-2018, menjadi Rp 556.7 triliun di Kuartal IV-2019 (naik sekitar 8.6% YoY). Meski penyaluran kredit meningkat, namun BBNI juga masih mampu menjaga kualitas kreditnya. Hal ini tercermin dari rasio NPL BBNI, berikut ini…

Tercatat NPL Gross BBNI 1.90% di Kuartal IV-2018 meningkat menjadi 2.27% di Kuartal IV-2019. NPL Gross ini menunjukkan bahwa jumlah kredit kurang lancar BBNI, mengalami kenaikan. Demikian pula dengan NPL Net BBNI 0.85% di Kuartal IV-2018 meningkat menjadi 1.25% di Kuartal IV-2019. NPL Net ini juga menunjukkan adanya jumlah kredit yang sudah jelas status macetnya, mengalami kenaikan. Meskipun terlihat meningkat dari sisi angka, namun pertumbuhan NPL BBNI ini masih berada di bawah peraturan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. Di mana penetapannya, NPL Gross <5% dan NPL Net <2%.

Besarnya penyaluran kredit BBNI tersebut, nampaknya sedikit berpengaruh pada angka BOPO BBNI yang mengalami kenaikan pada posisi 73.16%. Kendati demikian, angka BOPO tersebut masih belum jauh dari batas maksimalnya di 70%, yang mengindikasikan bahwa BBNI pada Kuartal IV-2019 kemarin BBNI belum berhasil melakukan efisiensi operasionalnya.

BBNI Kuartal IV-2019

BBNI Kuartal IV-2018

Remarks

Penyaluran Kredit

Rp 556.7 triliun Rp 512.7 triliun Passed

NPL Gross

2.27% 1.90% Passed
NPL Net 1.25% 0.85%

Passed

BOPO 73.16% 70.15%

Passed

Kualitas Kredit BBNI Kuartal IV-2019 VS Kuartal IV-2018

Rentability Ratio 

Dengan pertumbuhan kredit BBNI yang terjaga tadi, BBNI juga mencatatkan marjin bunga bersih atau Net Interest Margin yang terbilang tinggi di posisi 4.92% di Kuartal IV-2019. Meski jika dibandingkan dengan NIM sebelumnya, angka tersebut sedikit menurun dari 5.29% di Kuartal IV-2018.

Meski demikian, pertumbuhan NIM BBNI di Kuartal IV-2019 kemarin nampaknya juga tidak terlalu berpengaruh pada Loan to Deposit Ratio (LDR) BBNI. Lantaran LDR BBNI ini justru mengalami peningkatan dari 88.76% di Kuartal IV-2018, menjadi sebesar 91.54% di Kuartal IV-2019 kemarin. Seperti yang kita tahu, LDR ini mencerminkan perbandingan antara besarnya kredit yang disalurkan, dengan besarnya dana yang diterima dari pihak ketiga. Dengan LDR BBNI yang meningkat, setidaknya mengindikasikan bahwa dana yang diterima dari pihak ketiga bisa terserap dengan baik. Meski dalam bentuk kredit sekalipun.

Sementara dari sisi penghimpunan dana, rasio CASA BBNI yang merupakan pembanding antara Dana Murah (Tabungan + Giro) dengan Total Dana Pihak Ketiga (Tabungan + Giro + Deposito). Rasio CASA (Dana Murah) BBNI ini tercermin dengan meningkatnya Dana Pihak Ketiga. Tercatat DPK BBNI ini meningkat dari Rp 552.1 miliar di Kuartal IV-2018 menjadi Rp 582.4 miliar di Kuartal IV-2019. Seperti yang kita tahu, bahwa pertumbuhan DPK ini dikontribusi dari Dana Murah (Tabungan + Giro). Sehingga membuat rasio CASA BBNI meningkat dari 65.98% Kuartal IV-2018, menjadi 67.56% di Kuartal IV-2019 kemarin.

 

BBNI Kuartal IV-2019

BBNI Kuartal IV-2018

Remarks

NIM

4.92% 5.29% Passed

LDR

91.54% 88.76%

Passed

CASA 67.56% 65.98%

Passed

Efisiensi BBNI Kuartal IV-2019 VS Kuartal IV-2018

Dari sejumlah indikator di atas, setidaknya kita bisa melihat bahwa kinerja BBNI ini sebenarnya masih mampu mencatatkan kenaikan kinerja yang positif. Mulai dari meningkatnya penyaluran kredit, meningkatnya CAR BBNI, dan juga diikuti oleh meningkatnya LDR BBNI. Meskipun untuk rasio NPL dan NIM justru mencatatkan penurunan, namun setidaknya penurunan itu masih berada dalam kategori sehat.

Anyway, Penulis jadi ingat kalau 2 tahun yang lalu.. Penulis juga sudah pernah membahas mengenai kinerja BBNI ini. Nah, untuk mengulasnya kembali bisa melalui link di bawah ini yaaa…

[Baca lagi : Net Interest Margin Tertekan, Bagaimana Prospek BBNI Ke Depannya?]

Prospek BBNI Ke Depan

Dari penjelasan di atas, setidaknya kita bisa mengukur bahwa secara fundamental kinerja BBNI masih sangat positif. Jika demikian, bagaimana dengan prospek bisnis BBNI ke depan ?

BBNI sebagai perusahaan perbankan tertua di Indonesia, nampaknya tidak akan terhenti meski situasi sedang tidak mendukung, seperti sekarang ini. Hal ini terbukti, dari rencana ekspansi bisnis BBNI yang tertuang dalam Corporate Plan BBNI untuk tahun 2019 – 2023 mendatang. Di sepanjang tahun 2020 ini, adalah timeframe bagi BBNI melakukan ekspansi. Di mana BBNI akan berekspansi melalui digital korporat dan ritel ekosistem, mulai dari mengelola kualitas kredit dan meningkatkan kualitas nasabah. Tidak hanya itu saja, BBNI juga akan meningkatkan rasio CASA dan fee based income melalui peningkatan transaksi digital, dan kerjasama strategis.

Bahkan BBNI juga berencana menggandeng perusahaan fintech, agar transaksinya bisa disinergikan dengan cash management BBNI. Lebih jauh lagi ekspansi BBNI ini akan fokus mengoptimalkan ekspansi di wilayah kerja kantor cabang luar negeri yang sudah ada. Adapun cabang-cabang tersebut di antaranya Singapura, Hong Kong, Tokyo, London, Seoul, New York dengan rata-rata target pertumbuhan berkontribusi sekitar 10% di sepanjang tahun 2020 ini. Contoh ekspansi BBNI di luar negeri, misalnya untuk di kantor cabang BBNI yang di Singapura akan dioptimalkan untuk membidik pasar di Indochina yakni Vietnam, Thailand, dan Kamboja.

Kantor cabang BNI City Plaza Remittance Center – Singapura. Source : https://finance.detik.com/moneter/d-3144684/ini-penampakan-kantor-baru-bni-di-singapura

 

Sementara dari sisi pelayanan, BBNI akan ekspansi menggunakan Big Data dan Artificial Intelegence. Agar bisa melayani nasabah sesuai dengan karakteristiknya dan bisa menawarkan layanan sesuai dengan aktivitas online nasabah. Sehingga nantinya nasabah tidak perlu datang ke kantor cabang BBNI.

Di samping itu, BBNI juga akan melanjutkan rencana akuisisi untuk penambahan anak usaha di sepanjang tahun 2020. Di mana BBNI ini akan membuka pilihan untuk mengakuisisi bank buku kecil, khususnya untuk bank kelompok BUKU I dan II, dengan modal inti sekitar Rp 1 triliun. Tujuan BBNI mengakuisisi bank buku kecil ini, ialah untuk difokuskan ke segmen Digital yang belum sempat ditangani langsung oleh BBNI. Selain itu, akuisisi juga terbuka untuk di sektor asuransi, khususnya untuk asuransi kerugian dan modal ventura.

Conference pers paparan kinerja BBNI. Source : https://keuangan.kontan.co.id/news/bank-bni-bbni-buka-opsi-mengakuisisi-bank-kecil-tahun-2020-ini

 

Bahkan prospek BBNI ke depan juga semakin positif, setelah adanya angin segar dari relaksasi kredit dari Bank Indonesia. Seperti yang kita tahu, di tahun 2020 ini Bank Indonesia tercatat sudah 2x menurunkan suku bunga acuannya menjadi di level 4.5%, bahkan suku bunga acuan ini juga tetap dipertahankan. Setidaknya hal ini menjadi angin segar bagi perbankan dalam menyalurkan kreditnya, karena akan membuat bunga yang dibayarkan oleh para peminjam menjadi lebih ringan. Bahkan penurunan suku bunga acuan, juga membuat bunga deposito yang harus dibayarkan oleh bank menjadi lebih ringan.

 

Benarkah Harga Saham BBNI Murah ?

Dari uraian di atas, kita masih melihat bahwa secara fundamental pun BBNI ini masih sangat positif. Di tambah lagi dengan sejumlah prospek BBNI, yang masih sangat mendukung kinerja BBNI untuk sepanjang tahun ini. Lantas benarkah BBNI saat ini sudah murah ?

Per artikel ini ditulis, BBNI tengah diperdagangkan pada kisaran harga 3700-an. Dengan valuasi PER 4.50x dan PBV 0.56x. Valuasi yang berada di bawah standar histori nya BBNI tersebut, mengindikasikan bahwa BBNI saat ini memang sedang dihargai di bawah harga rata-ratanya. Apalagi dengan kinerja fundamentalnya yang sudah disebutkan di atas, saat ini memberikan Margin of Safety BBNI ini berada di level 60 – 70%.

Dengan perhitungan yang menunjukkan saham BBNI memang murah, tentu ini bisa menjadi momentum bagi investor mengoleksi saham BBNI. Meskipun kemungkinan untuk valuasi BBNI lebih rendah lagi tetap ada, namun setidaknya valuasi yang saat ini sudah cukup menarik untuk dimanfaatkan. Sehingga untuk mengantisipasi peluang harga lebih rendah lagi, kita bisa melakukan pembelian secara bertahap.

 

Kesimpulan

Harga saham BBNI ini yang terkoreksi cukup besar sekitar 60%, bukan dikarenakan oleh kinerja perusahaannya yang menurun. Melainkan memang imbas negatif dari pandemi Covid-19 belakangan ini. Hal tersebut, diperlihatkan dengan fundamental BBNI yang masih sehat. Di mana penyaluran kredit, CAR, dan LDR BBNI masih terus mengalami peningkatan. Meski terjadi penurunan pada NPL dan NIM BBNI. Kendati demikian, penurunan itu masihlah wajar karena berada dalam kategori sehat. Bahkan, prospek yang dimiliki BBNI juga tidak kalah positifnya. Sejalan dengan sejumlah rencana ekspansi perusahaan di sepanjang tahun ini, belum lagi dengan adanya relaksasi kredit yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia.

Sementara dari sisi valuasi, benar adanya harga saham BBNI memang sedang murah. Karena valuasi PER 4.50x dan PBV 0.56x, menunjukkan nilai BBNI yang berada di bawah standar histori nya selama ini. Di tambah lagi, dengan kinerja fundamentalnya yang positif sehingga BBNI memiliki MOS yang cukup besar di level 70%. Jadi bisa dikatakan, memang saat ini harga saham BBNI undervalued…

Kira-kira bagaimana dengan pendapat Anda mengenai kinerja BBNI di tahun kemarin dan untuk ke depannya ? So, Do Your Own Research…

###

Disclaimer : Penyebutan nama saham di atas tidak bermaksud untuk memberikan penilaian bagus buruk, atau pun rekomendasi jual beli atau tahan untuk saham tertentu. Tujuan pemberian contoh adalah untuk menunjukkan fakta yang menguatkan opini penulis.

 

Info:

 

You may also like

1 Comment

  • JT
    May 16, 2020 at 11:21 AM

    Bri lebih tua dri bni deh setau saya.

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Rivan adalah seorang Indonesia Value Investor yang memulai investasi sejak tahun 2008 ketika berusia 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, Rivan berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Berbekal pengalamannya, Rivan saat ini menjalani profesi sebagai Full Time Investor sekaligus praktisi di pasar modal. Saat ini, Rivan aktif mengadakan workshop dan pelatihan kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko di pasar saham.

Like Us On Facebook

Facebook Pagelike Widget

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Categories

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami