Ekonomi AS dan China Bertumbuh Negatif, Bagaimana Proyeksi ke Depan?


Pandemi Covid-19 menyebar di seluruh dunia. Seiring dengan meningkatnya jumlah orang yang terkena Covid-19, angka pengangguran juga meningkat. Pendapatan menurun, mulai dari individu sampai pendapatan negara. Terbaru, rilis data ekonomi mengeluarkan data pertumbuhan ekonomi dua negara dengan perekonomian terbesar di dunia – Amerika Serikat mengalami kontraksi -4.8% YoY di Q1 2020, dan China mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi sebesar -6.8% YoY di Q1 2020. Apakah perlambatan pertumbuhan ekonomi ini akan berpengaruh ke pertumbuhan GDP Indonesia?

 

Pertumbuhan GDP China

Ekonomi China mengalami kontraksi yang tajam sebesar -6.8% YoY pada 3 bulan pertama di 2020. Perlambatan pertumbuhan ekonomi di China ini dapat mengindikasikan adanya sinyal perlambatan perekonomian juga bagi seluruh dunia. Karena China sebagai negara dengan perekonomian terbesar ke – 2 di dunia. Perlambatan ekonomi ini terjadi karena adanya wabah dari Coronavirus yang telah menyebar ke seluruh dunia. Sebagai informasi, pertumbuhan perekonomian yang negatif di China terakhir kali terjadi pada tahun 1992.

 

GDP Kuartalan China

Sumber: CNBC

 

Dikutip dari China’s National Bureau of Statistics (BPS – nya China), yang merilis data perekonomian China. Menunjukkan bahwa mayoritas data makro ekonomi China mengalami penurunan, mulai dari produksi industri, penjualan retail, investasi sampai ke ekspor dan impor. Pada Q1 2020, produksi industri di China mengalami penurunan -8.4% YoY, penjualan retail dari sektor consumer goods turun -19% YoY, bahkan investasi di China juga mengalami penurunan sebesar -16.1% YoY. Dan terakhir, ekspor dan impor mengalami kontraksi sebesar -6.4% YoY. Semua data makro ekonomi di China yang barusan disajikan, meskipun telah diprediksi akan mengalami penurunan, namun semua data tadi tercatat lebih parah dari prediksi para ekonom sebelumnya.

Sebagai negara dengan perekonomian terbesar ke – 2 di dunia. Tentu saja data perekonomian di China, dijadikan patokan dan barometer bagi negara-negara lain yang juga bekerja sama atau juga terkena dampak Covid-19 di negaranya. Baik secara langsung maupun tidak langsung, masif maupun tidak masif. Penulis juga akan membahas terkait perekonomian AS yang menyusut dibagian sub-bab selanjutnya. Namun sebelum itu, kita juga perlu tahu beberapa negara lainnya yang juga sangat terdampak Covid-19. Ternyata ikut mengalami kontraksi ekonomi yang dalam per kuartal I-2020 ini, sebut saja Perancis (-5.8% YoY), Spanyol (-5.2% YoY), Italia (-4.7%) dan negara-negara di Zona Eropa yang juga mengalami penurunan -3.8% YoY.

Salah satu aspek yang dapat diperhatikan terkait perekomian – tidak hanya di China. Tetapi juga di seluruh dunia – adalah angka pengangguran. Di China sendiri, dikutip dari China’s National Bureau of Statistics (NBS) mencatatkan angka pengangguran mencapat 6.2% pada Februari 2020 – meningkat dari 5.2% pada Desember 2019. Artinya, dari Desember 2019 sampai pada Februari 2020 kemarin, ada peningkatan 5 juta orang yang kehilangan pekerjaannya. Bahkan, menurut analisa beberapa pakar, angka tersebut tidak tepat karena survey tersebut hanya menggunakan sample dari 120.000 pekerjaan atau setara 0.03% dari total pekerja nasional. Bahkan, dikutip dari majalah Caixin di China, ada tambahan 20 juta orang yang dipecat di UMKM di China. Memang, China tidak mempublikasikan angka pengangguran totalnya seperti kebanyakan negara yang lainnya. Tetapi, dari sini kita bisa memperkirakan bahwa angka pengangguran di China lebih besar dibandingkan yang dipublikasikan oleh NBS.

Jumlah pengangguran mengindikasikan jumlah orang yang pendapatannya terhenti atau menjadi tidak berpenghasilan. Jumlah pengangguran tentu saja berkorelasi dengan jumlah konsumsi dalam suatu negara. Dengan meningkatnya jumlah pengangguran, maka dapat diasumsikan juga pertumbuhan perekonomian akan masih melambat dikarenakan tidak terjadi konsumsi atau perputaran roda perekonomian.

Apakah setelah kontraksi di Q1 2020, di kuartal selanjutnya perekonomian akan kembali normal dan mengalami peningkatan lagi?

Well, terkait apakah perekonomian akan kembali normal atau tidaknya tentu saja tidak ada yang bisa memastikan. Bahkan, dikutip dari CNN, perekonomian China masih jauh untuk kembali ke normal. Hal ini dikarenakan di China sendiri, yang kurva jumlah kasusnya telah melandai, masih memberikan restriction atau larangan di berbagai kota – termasuk kota-kota yang status lockdown-nya sudah dicabut. Hal ini mengakibatkan industri dan ekspor di China juga belum kembali normal. Jadi, menurut Penulis, untuk mengembalikan perekonomian ke sedia kala masih membutuhkan waktu lagi.

 

Kurva Kasus Covid-19 yang Aktif di China

Sumber: worldometers.info

 

Pertumbuhan GDP Amerika Serikat

Data perekonomian di Amerika Serikat pun tidak lebih baik dari China. Per kuartal I-2020 kemarin, Amerika Serikat mencatatkan kontraksi perekonomian sebesar -4.8% YoY. Di mana penurunan pertumbuhan ekonomi ini lebih dalam dibandingkan prediksi ekonom dari Dow Jones yang memprediksikan penurunan GDP sebesar -3.5%. Perolehan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat ini merupakan pertumbuhan negatif pertama sejak Q1 2014 yang kala itu GDP AS mengalami penurunan -1.1% YoY. Penurunan GDP Amerika Serikat terbesar terjadi pada saat krisis pada 2008 di mana saat itu GDP AS mengalami kontraksi sebesar -8.4%.

 

GDP Amerika Serikat

Source : Financial Times

 

Faktor yang menekan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat adalah konsumsi, investasi non-residential, dan juga ekspor. Konsumsi di Amerika Serikat yang berbobot 67% dari total GDP, mengalami kontraksi sebesar -7.6% YoY pada Q1 2020. Dikarenakan banyaknya toko-toko yang tutup dan mengakibatkan konsumsi menurun. Penurunan konsumsi ini merupakan penurunan yang terbesar sejak 1980. Begitu pun dengan ekspor yang mengalami penurunan -8.7% YoY, dan import juga mengalami penurunan -1.3% YoY. Termasuk juga di dalamnya ada penurunan -30% YoY di sektor jasa. Meskipun pada kuartal pertama lockdown hanya dilakukan selama 2 minggu, dampaknya sangat terasa dan diprediksi dampaknya akan lebih parah dibandingkan ketika World War II.

Selain banyak ditutupnya usaha dan toko-toko, jumlah pengangguran di Amerika Serikat juga terus bertambah. Pada bulan Maret 2020, jumlah pengangguran di Amerika Serikat mencapai 4.4% dan merupakan yang tertinggi sejak Agustus 2017. Bahkan, dikutip dari CNBC, dalam data pengangguran mingguan yang dirilis di Amerika serikat per 30 April lalu menunjukkan adanya 30.3 juta pengangguran di Amerika Serikat. Ada kemungkinan jumlah pengangguran ini juga akan terus meningkat ke depannya. Menurut John Powell, bos The Fed, angka pengangguran akan bertambah mencapai di atas 10% ke depannya. Dikarenakan masih adanya kebijakan untuk menerapkan social distancing di masyarakat.

Dengan penurunan GDP di Amerika Serikat, China dan beberapa negara lainnya yang terdampak secara Covid-19 secara signifikan. Lantas bagaimana dengan pertumbuhan GDP Indonesia nantinya?

 

Pertumbuhan GDP Indonesia

Indonesia juga tak luput dari pandemic Covid-19. Per artikel ini ditulis, Indonesia telah mencatatkan lebih dari 10.000 kasus Covid-19 di Indonesia dan terus bertambah hari demi hari. Penurunan pertumbuhan perekonomian di China dan Amerika Serikat juga menjadi lampu merah bagi perekonomian Indonesia, karena China dan Amerika Serikat merupakan tujuan ekspor utama dari Indonesia.

 

Tujuan Ekspor Indonesia (per November 2019)

Sumber : Kompas, diolah

 

Turunnya perekonomian di Amerika Serikat dan China akan berdampak secara langsung terhadap perekonomian Indonesia. Dampaknya, ekspor Indonesia akan mengalami penurunan karena 2 negara ini merupakan target utama ekspor Indonesia. Well, sebenarnya tidak hanya ke 2 negara tadi saja. Karena hampir semua negara pasti terkena dampak dari Covid-19, dan mengakibatkan perdagangan internasional antar negara menjadi terhambat.

Tidak hanya terkait ekspor impor, GDP di Indonesia memiliki komponen lainnya seperti investasi, belanja pemerintah dan juga konsumsi. Seperti negara-negara lainnya, Indonesia juga menerapkan aturan tentang social distancing dan di Indonesia juga ada aturan tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar atau biasa disingkat PSBB. Yang artinya, akan ada batasan dan limitasi dari kegiatan sehari-hari masyarakat dan dampak yang terbesar tentu saja adalah adanya pengurangan konsumsi oleh masyarakat.

Sebagai informasi, Indonesia merupakan negara yang konsumtif. Konsumsi masyarakat berkontribusi sebesar sekitar 60% dari total GDP Indonesia. Artinya, mayoritas GDP Indonesia cukup bergantung terhadap konsumsi masyarakat, dibandingkan faktor-faktor lain seperti investasi, ekspor impor dan belanja pemerintah. Jadi, apabila konsumsi masyakarat menurun, dapat hampir dipastikan GDP Indonesia juga akan mengalami penurunan.

Tidak hanya karena PSBB, beberapa indikator lain seperti angka pengangguran di Indonesia pun juga hampir dipastikan akan meningkat. Di luar tutupnya banyak toko dan usaha di Indonesia, pemerintah Indonesia pun memprediksi jumlah pengangguran di Indonesia bisa naik sebesar 5.2 juta orang. Berdasarkan data dari BPS, jumlah pengangguran per Februari 2015 tercatat sebanyak 7.45 juta orang dan terus mengalami penurunan sampai per Agustus 2019 kemarin jumlah pengangguran tinggal 7.05 juta orang. Menurut Sri Mulyani, potensi peningkatan angka pengangguran dikarenakan Covid-19 akan berimplikasi terhadap kenaikan jumlah penduduk miskin hingga 3.78 juta orang.

Indonesia yang pertumbuhan ekonominya terjaga di kisaran 5%, diprediksi oleh IMF akan mencatatkan penurunan pertumbuhan menjadi hanya sekitar 0.5% YoY pada tahun 2020. Hal itu diakibatkan oleh wabah Covid-19. Meskipun diproyeksikan melambat, sebenarnya proyeksi ini masih tergolong baik. Apabila dibandingkan dengan proyeksi ke negara-negara tentangga seperti Malaysia yang diproyeksikan -1.7% dan Thailand yang diproyeksikan pertumbuhan ekonominya akan mengalami kontraksi sebesar -6.7% YoY pada tahun 2020.

 

Kesimpulan

Isu kesehatan pandemic Covid-19 yang telah menyebar ke seluruh dunia tidak hanya menjadi isu bagi dunia kesehatan saja. Tetapi ke hampir segala aspek termasuk perekonomian. Di mulai dari China, pandemic Covid-19 telah menyebar ke seluruh dunia dan menyebabkan perlambatan pertumbuhan ekonomi secara masif. Ekonomi China kontraksi -6.8% YoY. Ekonomi Amerika Serikat kontraksi -4.8% YoY. Belum lagi beberapa negara lain di Eropa seperti Perancis (-5.8% YoY), Spanyol (-5.2% YoY), Italia (-4.7%) dan Zona Eropa yang mengalami penurunan sebesar -3.8% YoY dikarenakan Covid-19 ini.

Perlambatan di negara-negara ini tentu saja akan berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia, di mana China dan Amerika Serikat merupakan mitra dagang Indonesia yang terbesar. Artinya, nilai ekspor Indonesia akan mengalami penurunan karena adanya perlambatan ekspor ke dua negara ini. Tidak hanya dari sisi ekspor, konsumsi yang berkontribusi sekitar 60% terhadap GDP Indonesia pun hampir bisa dipastikan mengalami penurunan karena adanya penerapan social distancing dan PSBB di Indonesia. Berbagai lembaga keuangan internasional juga memprediksi akan terjadi pelemahan pertumbuhan ekonomi di Indonesia pada tahun 2020.

 

###

 

Info:

 

 

Tags : Ekonomi AS dan China | Ekonomi AS dan China | Ekonomi AS dan China | Ekonomi AS dan China | Ekonomi AS dan China | Ekonomi AS dan China | Ekonomi AS dan China | Ekonomi AS dan China | Ekonomi AS dan China | Ekonomi AS dan China

You may also like

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Rivan adalah seorang Indonesia Value Investor yang memulai investasi sejak tahun 2008 ketika berusia 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, Rivan berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Berbekal pengalamannya, Rivan saat ini menjalani profesi sebagai Full Time Investor sekaligus praktisi di pasar modal. Saat ini, Rivan aktif mengadakan workshop dan pelatihan kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko di pasar saham.

Like Us On Facebook

Facebook Pagelike Widget

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Categories

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami