Dampak Harga Minyak Dunia yang Sempat Minus, Kok Bisa ?


Untuk pertama kalinya dalam sejarah, harga minyak dunia mengalami krisis. Setelah jatuhnya harga minyak acuan internasional WTI di Bursa Berjangka Nymex. Diikuti dengan menurunnya harga minyak internasional Brent di Bursa Berjangka ICE. Kondisi ini sangat memukul negara-negara yang berperan aktif didalamnya, apalagi sejak ±6 tahun kebelakang harga minyak mentah dunia memang sedang dalam trend menurun. Namun yang terjadi baru-baru ini sungguh mencengangkan dunia, mengingat dampaknya yang berpotensi besar secara global. Lantas akan bagaimanakah dampak yang ditimbulkan oleh minusnya harga acuan minyak mentah dunia ini ?

 

Latar Belakang Harga Minyak Dunia Minus

Harga minyak mentah berjangka AS untuk kontrak minyak WTI (West Texas Intermediate) bulan Mei 2020, harus jatuh >-100% ke posisi negatif di bawah USD 0 / barrel. Harga ini menjadi yang paling terendah sepanjang sejarah NYMEX, membuka perdagangan minyak berjangka pada 22 tahun silam. Adapun sebagai imbasnya, berdasarkan data Bloomberg : kontrak minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk Mei turun dan sempat menyentuh –USD 40.32/barel, sebelum akhirnya turun ke –USD 37.63/barel. Kontrak minyak WTI tersebut adalah kontrak minyak yang berakhir pada batas waktu 21 April 2020 kemarin. Dan bahkan untuk kontrak bulan Juni, tercatat bahwa harga minyak WTI ini berada di kisaran level USD 22/barel.

Minusnya harga minyak mentah WTI ini bukan hanya menjadi yang terburuk sepanjang sejarah NYMEX saja. Namun seperti yang kita tahu bahwa selama ±6 tahun ke belakang, harga minyak mentah memang sedang berada dalam trend bearishnya. Sebagai gambarannya bisa dilihat pada grafik di bawah ini :

Crude Oil WTI. Source : https://tradingeconomics.com/commodity/crude-oil

 

Penurunan drastis tersebut dipicu oleh penumpukan supply minyak, dikarenakan pemakaian minyak yang menurun – sedangkan di saat yang sama volume produksi minyak tetap sama. Akibatnya situasi tersebut, harga kontrak harus anjlok secara signifikan dan masuk ke teritori negatif. Alhasil membuat transaksi jual – beli minyak tidak berjalan seperti biasa, di mana biasanya penjual menerima pembayaran dari pembelinya. Namun kini dengan harga minyak yang minus, sebaliknya penjual harus melakukan pembayaran untuk setiap barel minyak pada si pembeli – agar si pembeli bisa membeli minyak WTI kontrak Mei 2020 mendatang.

Demikian halnya dengan harga minyak mentah jenis Brent, untuk acuan pasar Asia dan Eropa harus turun di bawah USD 20/barel per 21 April 2020. Penurunan harga minyak Brent ini menjadi pertama kalinya sepanjang ±19 tahun terakhir. Bursa Berjangka ICE mencatat, harga minyak Brent turun sekitar USD 2.51 ke level USD 21.50/barel.

Crude Oil Brent. Source : https://tradingeconomics.com/commodity/brent-crude-oil

 

Penurunan harga minyak ini pun sudah diprediksikan, seiring dengan meningkatnya pasokan minyak secara berlebih. Berdasarkan data CME Group yang memperhitungkan volume persediaan minyak pada Mei dan Juni 2020 adalah seperti berikut : volume minyak di bulan Mei 2020 adalah sebesar 126.400, jauh lebih rendah dibandingkan dengan volume minyak di bulan Juni 2020 mendatang yang mencapai ±800.000.

Seperti yang kita tahu, dengan situasi lockdown seperti sekarang. Hampir separuh besar masyarakat dunia harus berdiam diri di rumah akibat pandemi Covid-19 yang masih terus mewabah ke sejumlah negara. Tentu membuat negara mana pun, tidak akan membutuhkan minyak dalam waktu dekat-dekat ini. Terlebih lagi segala bentuk aktifitas perekonomian di sejumlah negara yang harus terpaksa dihentikan sementara waktu. Hal tersebut, semakin mendorong permintaan minyak berangsur-angsur menurun.

Sementara di waktu yang sama, produksi minyak sudah terlanjur berlebih sehingga terjadi oversupply – padahal tidak ada lagi tempat penyimpanan minyak, untuk bisa menampung dan menyimpan minyak lebih banyak lagi. Sebagai tambahan informasi saja, untuk menyimpan minyak mentah di AS dibutuhkan biaya dan ada regulasi tersendiri. Adapun berdasarkan laporan The Guardian hingga pertengahan April 2020 kemarin, sudah ada sekitar 160 juta barel minyak yang sisimpan dalam sebuh tanker raksasa. Penyimpanan minyak tahun ini menjadi yang terbesar sejak krisis tahun 2009, dengan volume minyak yang tersimpan saat ini lebih dari 100 juta barel. Hal-hal demikianlah yang membuat harga minyak mentah harus minus, dan bahkan permintaan minyak dunia ditaksir mengalami penurunan sekitar 9.3 juta barel/hari pada tahun ini.

 

Kebijakan OPEC+ Belum Bisa Mendongkrak Harga Minyak

Jika kita ingat, masih di bulan yang sama pada April 2020 kemarin. Organisasi negara-negara pengekspor minyak di dunia yang tergabung dalam OPEC, dan bersama OPEC+ telah mencapai kesepakatan untuk memangkas produksi minyak sebesar 9.7 juta barel/hari. Angka tersebut setara dengan 10% dari pasokan global terhitung dari bulan Mei hingga Juni 2020. Pemangkasan produksi yang dilakukan tahun ini merupakan upaya penurunan produksi minyak yang terbesar.

Pemicu terjadinya pemangkasan ini karena permintaan minyak diprediksikan masih akan menurun sekitar >10 juta barel/hari, seiring dengan ketidakpastian berakhirnya pandemi Covid-19. Di lain sisi, pemangkasan produksi minyak ini di nilai bisa membatasi penurunan harga minyak yang mungkin nyaris menyentuh level rendah di kisaran USD 10/barel, angka itu menjadi yang terendah semenjak krisis moneter tahun 1998.

Namun faktanya, tidak butuh waktu lama dari kesepakatan tersebut dicapai. Kita justru harus dicengangkan dengan minusnya harga minyak mentah dunia jenis WTI, yang kemudian juga diikuti oleh penurunan harga minyak jenis Brent. Minusnya harga minyak mentah dunia, menjadi bukti bahwa kebijakan OPEC yang ditempuh Arab, Rusia, beserta dengan negara produsen minyak lainnya tidaklah efektif untuk mengangkat harga minyak.

Padahal kebijakan pemangkasan produksi minyak sebesar 9.7 juta barel/hari, telah diikuti oleh sejumlah perusahaan seperti salah satunya perusahaan jasa energi Baker Hughes, yang menghentikan operasional sekitar 66 rig minyak sepanjang minggu ke – 4 bulan April 2020 kemarin. Penghentian tersebut menjadi pemangkasan produksi mingguan terbesar yang dilakukan perusahaan sejak tahun 2015.

 

Dampak Harga Minyak Dunia yang Sempat Minus

Jika demikian kondisinya, bagaimana dampaknya terhadap global ? Mengingat harga minyak mentah dunia yang jatuh ini, sudah pasti akan memberi tekanan bagi pasar minyak. Apalagi konsumsi bahan bakar kian hari semakin menurun, sedangkan volume minyak terus bertambah. Situasi ini akan semakin memberatkan negara-negara yang melakukan ekspor minyak.

Harga minyak yang untuk pertama kalinya minus, mengindikasikan pertumbuhan ekonomi global yang melambat sejak awal tahun. Sebagaimana kita tahu komoditas minyak yang berperan amat penting sebagai energi terbesar yang dikonsumsi dunia. Maka dengan kurangnya permintaan minyak mengindikasikan adanya penurunan produktifitas dari seluruh industri di dunia, pasca merebaknya pandemi Covid-19. Secara tidak langsung, penurunan produktifitas akan menyebabkan ekonomi tumbuh melambat di seluruh dunia.

Dari pertumbuhan yang melambat tersebut, sebagai salah satu contohnya adalah China yang menjadi negara pertama yang melaporkan kasus Covid-19, dengan catatan pertumbuhan ekonomi yang minus sebesar -6.8% YoY per kuartal I-2020. Sebelumnya, perekonomian China selalu mengalami pertumbuhan di atas 6% YoY. Dengan ekonomi China yang menurun, sangat terlihat besarnya dampak yang ditimbulkan oleh pandemi Covid-19. Adapun sebagai ilustrasinya, adalah seperti di bawah ini :

 

Pertumbuhan GDP China Minus. Source : https://tradingeconomics.com/china/gdp-growth-annual

 

Namun, meski China baru merilis laporan pertumbuhan GDP-nya. Justru tak lama dari itu, IMF justru sudah memproyeksikan seluruh negara yang terimbas pandemi Covid-19 setidaknya akan mengalami pertumbuhan ekonomi yang melambat. Tak pelak, perekonomian global turut diprrediksikan akan terkontraksi sekitar -3% YoY di tahun ini.

Kemudian, minusnya harga minyak mentah dunia saat ini setidaknya akan mempengaruhi penerimaan negara-negara yang memproduksi dan melakukan ekspor minyak. Mengingat hal tersebut akan mempengaruhi harga jual minyak, yang dijual negara-negara produsen minyak. Lantaran harga jual minyak akan semakin menurun, seiring dengan penurunan harga kontrak minyak yang minus. Sebagai contohnya, pendapatan negara-negara produsen setidaknya akan berbeda dengan harga minyak kontrak Mei 2020 yang berakhir pada –USD 37.63/barel, jika dibandingkan dengan harga minyak kontrak Juni 2020 yang sekarang berada di leel USD 20/barel.

Situasi tersebut, setidaknya akan membuat negara-negara produsen minyak ini berisiko. Karena pada bulan Mei 2020 nanti, negara produsen dan pengekspor minyak justru harus mengeluarkan biaya untuk setiap penjualan minyaknya, bukan mendapatkan pemasukan. Adapun negara-negara yang masuk ke dalam kategori negara eksportir minyak antara lain : Arab Saudi, Rusia, dan Amerika Serikat.

Pergerakan harga komoditas yang berkaitan erat dengan harga minyak, akan ikut tertekan. Sebagaimana yang kita tahu, komoditas yang paling banyak dibutuhkan oleh industri dunia selain minyak adalah batubara dan CPO. Dengan minusnya harga minyak mentah dunia, sudah pasti harga komoditas batubara dan CPO akan ikut tertekan. Misalnya saja harga batubara yang tertekan, mau tidak mau batubara akan diganti penggunaannya dengan minyak yang harga saat ini jauh lebih murah. Sebagai perbandingannya, harga minyak yang senilai USD 20/barel dibandingkan dengan harga batubara senilai USD 55.22/ton akan menyebabkan produsen yang menggunakan batubara berpindah memakai minyak. Perpindahan penggunaan sumber energi, setidaknya akan membuat volume permintaan batubara semakin berkurang, dan berimbas pada penurunan harga batubara. Di bawah ini adalah gambaran grafik harga batubara :

Grafik Harga Batubara. Source : https://tradingeconomics.com/commodity/coal

 

Dari grafik di atas terlihat bahwa harga batubara saat ini sedang mengalami penurunan, sejalan dengan mencuatnya kabar minusnya harga minyak mentah dunia. Demikian halnya dengan komoditas CPO yang juga tertekan akibat minusnya harga minyak. Dengan menurunnya volume permintaan minyak, mencerminkan pula penurunan volume permintaan CPO. Belum lagi hingga kini, komoditas CPO masih harus menghadapi black campaign. Lantaran CPO ini masih diboikot oleh sejumlah negara di Eropa karena dianggap merusak lingkungan. Sehingga tidak heran jika sampai saat ini harga CPO masih bergerak lemah, sebagai gambarannya adalah di bawah ini :

Grafik Harga CPO. Source : https://tradingeconomics.com/commodity/palm-oil

 

Kesimpulan

Harga minyak mentah jenis WTI untuk kontrak pengiriman bulan Mei 2020, untuk pertama kalinya sempat jatuh >-100% ke posisi negatif di level minus USD -37.63/barel. Kontrak minyak WTI tersebut adalah kontrak minyak yang berakhir pada batas waktu 21 April 2020 kemarin. Pemicu minusnya harga minyak WTI, karena pemakaian minyak yang menurun – sedangkan volume produksi minyak tetap sama. Akibatnya volume simpanan minyak pada posisi kontrak 21 April itu tidak habis hingga menjelang penutupan perdagangan, sedangkan harga acuan masih mengacu ke kontrak tersebut. Tidak hanya itu saja, dampak harga minyak dunia yang sempat minus membuat penjual harus melakukan pembayaran untuk setiap barel minyak pada si pembeli – agar si pembeli bisa membeli minyak WTI kontrak Mei 2020 mendatang.

 

Dengan harga minyak dunia yang minus USD -37.63/barel tersebut, setidaknya akan memberikan dampak negatif yang cukup besar secara global. Dan bahwa penurunan harga minyak itu telah mengkonfirmasi pertumbuhan ekonomi global yang melambat sejak awal tahun. Kemudian mempengaruhi penerimaan negara-negara yang memproduksi dan melakukan ekspor minyak, karena tidak hanya akan mengurangi harga jual minyaknya saja. Tapi juga mengharuskan negara eksportir untuk mengeluarkan biaya untuk setiap penjualan minyaknya.  Terakhir, harga minyak dunia yang minus akan mempengaruhi pergerakan harga komoditas yang semakin tertekan.

 

Nah kira-kira apakah ada pendapat lain lagi? Selain dampak-dampak yang sudah tertera di atas ?

 

###

 

Info:

 

Tags : Dampak Harga Minyak Dunia | Dampak Harga Minyak Dunia | Dampak Harga Minyak Dunia | Dampak Harga Minyak Dunia | Dampak Harga Minyak Dunia | Dampak Harga Minyak Dunia | Dampak Harga Minyak Dunia | Dampak Harga Minyak Dunia | Dampak Harga Minyak Dunia

You may also like

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Rivan adalah seorang Indonesia Value Investor yang memulai investasi sejak tahun 2008 ketika berusia 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, Rivan berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Berbekal pengalamannya, Rivan saat ini menjalani profesi sebagai Full Time Investor sekaligus praktisi di pasar modal. Saat ini, Rivan aktif mengadakan workshop dan pelatihan kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko di pasar saham.

Like Us On Facebook

Facebook Pagelike Widget

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Categories

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami