Kembangkan Konsesi dan Modular, Bagaimana Prospek WEGE ke Depan ?


Hingga kini WEGE masih menjadi salah satu saham yang harga sahamnya terus merosot. Hingga saat artikel ini ditulis, harga saham WEGE terpuruk di kisaran 160,-an – 170,-an per April 2020 ini. Padahal WEGE ini merupakan salah satu perusahaan di bidang konstruksi dengan banyak terobosan dalam pembangunan infrastruktur di Indonesia. Bahkan WEGE di masa pandemi virus corona seperti ini, juga didaulat untuk menjalankan beberapa proyek fasilitas kesehatan. Pertanyaannya, bagaimana dengan kinerja fundamental WEGE ? Dan bagaimana prospek bisnis WEGE di sepanjang tahun 2020 ini ?

 

Milestone WEGE

PT Wijaya Karya Bangunan Gedung Tbk (WEGE) adalah anak usaha dari induk usaha PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA). Sejak resmi berdiri pada Oktober 2008, WEGE sudah melayani kebutuhan pada bidang konstruksi bangunan gedung. Di tahun 2014, WEGE semakin berkomitmen mengembangkan usaha ke bisnis properti khususnya dalam investasi dan konsesi agar bisa mendapatkan recurring income berkelanjutan. Masuk pada tahun 2016 WEGE bersama dengan WIKA melakukan penggabungan Departemen Bangunan Gedung (DBG).

Untuk mendukung penggabungan tersebut, WEGE melakukan go public di tahun 2017 dengan resmi melantai di BEI. Adapun saat ini komposisi kepemilikan saham WEGE adalah seperti berikut :

Porsi Pemegang Saham WEGE per akhir Desember 2019. Source : Laporan Tahunan WEGE 2019

 

Dan pada 2019 kemarin, WEGE ini telah melakukan realisasi pengembangan lini bisnis Konstruksi Bangunan pada Off Site Konstruksi dan Konsesi, seperti di bawah ini :

 

Perkembangan bisnis WEGE. Source : Public Expose WEGE 2019

 

Proyek-Proyek WEGE Sepanjang Tahun 2019

Di sepanjang tahun 2019 kemarin WEGE berhasil menerima sejumlah proyek pembangunan, yang semakin memperkokoh posisi WEGE dalam jasa konstruksi gedung yang dipercaya. Sekaligus menandakan bahwa WEGE bukanlah emiten yang memilih pada satu jenis proyek tertentu saja. Melainkan dari berbagai proyek baik dari pemerintah, BUMN, maupun swasta. Adapun persentase proyek terbesar berasal dari BUMN yang sebesar 64%, swasta sebesar 27%, dan pemerintah sebesar 9%.

Dan di bawah ini adalah beberapa proyek yang diterima WEGE sepanjang tahun 2019 kemarin, di antaranya :

No.

Proyek

Klien

1. Perkantoran baru di Menteng untuk ditempati oleh Bank Mandiri Taspen dan tenant lainnya PT Bank Mandiri Tbk (BMRI)
2. Siapkan 2.000 unit Rumah Instan seperti villa dan bangunan semi permanen/restoran
3. Kontrak pembangunan Gedung Kampus II Universitas Muhammadiyah Lampung Universitas Muhammadiyah Lampung
4. Pengembangan Wisata Pantai Pulau Merah Pemkab Banyuwangi dan Kementerian BUMN
5. Pembangunan Transpark Cibubur CT Corp
6. Pembangunan pasar tradisional di Kota Bandung dengan konsep baru PD Pasar Bermartabat Kota Bandung
7. Proyek Jakarta International Stadion (JIS) Mandat Gubernur DKI dan/atau JakPro
8. Pembangunan Collins Boulevard – Tangerang Collins Boulevard Apartemen Serpong
9. Pembangunan Destinasi Wisata Baru, Teras Braga di Pusat Kota Bandung Kerjasama dengan Pemkot Bandung
10. Pembangunan Apartemen high-end The Pakubuwono Patra Kuningan Joint venture antara WIKA Realty dan Patra Jasa

 

Adapun jika dilihat dari realisasi kontrak dihadapi atau order book sepanjang tahun 2019, WEGE telah berhasil mencatatkan total order book sebesar Rp 17.42 triliun. Angka ini tumbuh dari order book Rp 16.41 triliun di tahun 2018. Order book WEGE terdiri dari kontrak bawaan (carry over) tahun 2018 yang sebesar Rp 7.70 triliun, dan kontrak baru (new contract) sebesar Rp 9.71 triliun.

Sementara untuk kontrak baru WEGE yang sebesar Rp 9.71 triliun, tumbuh dari kontrak baru senilai Rp 7.45 triliun di tahun 2018. Kontrak baru ini berasal dari beberapa sumber di antaranya : kontrak baru non-KSO sebesar Rp 6.39 miliar, kontrak baru KSO sebesar Rp 2.27 miliar, dan kontrak baru intern sebesar Rp1.04 miliar. Di bawah ini adalah ilustrasi pertumbuhan proyek WEGE dari tahun 2018 dan 2019…

Pencapaian Proyek WEGE di 2019. Source : Laporan Tahunan WEGE 2019

 

Kinerja Fundamental WEGE

Dari peningkatan kontrak proyek yang diterima WEGE sepanjang tahun lalu, setidaknya sudah membuat WEGE berhasil mencatatkan Pendapatan sebesar Rp 4.56 triliun per tahun 2019. Pendapatan tersebut terus bertumbuh sejak empat tahun yang lalu, dengan rata-rata pertumbuhan CAGR sekitar 33.3%. Sejalan dengan meningkatnya pendapatan, laba bersih WEGE juga mengalami peningkatan dari Rp 444 miliar di tahun 2018 atau naik sekitar 1.67% YoY menjadi Rp 452 miliar pada tahun 2019. Dengan rata-rata pertumbuhan CAGR sekitar 46.6%.

Pertumbuhan Net Profit WEGE. Source : Cheat Sheet Kuartal IV-2019

 

Demikian pula jika ditinjau dari arus kas nya, tercatat WEGE mencatatkan arus kas operasi yang positif sebesar Rp 139 miliar pada tahun 2019 kemarin. Bahkan di tahun sebelumnya (2018), WEGE mampu mencatatkan OCF sebesar Rp 879 miliar. Arus kas operasi WEGE yang positif tersebut, mengindikasikan bahwa WEGE mampu mengelola arus kasnya dengan sangat baik. Bahkan WEGE juga mampu mencatatkan arus kas investasi yang negatif, senilai -Rp 493 miliar per tahun 2019. Arus kas investasi WEGE menandakan WEGE selalu berinvestasi di aset-aset yang dibutuhkan seperti peralatan operasional.

Bahkan pada tahun 2019 kemarin, WEGE melakukan investasi pada beberapa aset perusahaan. Mulai dari penambahan investasi ventura bersama senilai Rp 190 miliar, dan penambahan penyertaan saham senilai Rp 124 miliar. Selain itu, WEGE juga berinvestasi melalui pembelian peralatan proyek senilai Rp 58.89 miliar, pembelian tanah senilai Rp 11.98 miliar, pembangunan gedung senilai Rp 9.95 miliar, pembelian peralatan kantor senilai Rp 3.05 miliar.

Penambahan Aset Tetap WEGE. Source : Laporan Tahunan WEGE 2019

 

Prospek WEGE ke Depan

Dari penjelasan di atas kita sudah bisa mengukur pencapaian kinerja WEGE yang cenderung positif sepanjang tahun 2019. Oleh karena itu, tidak heran jika pada tahun 2020 ini WEGE kembali menaikkan target perolehan nilai kontrak barunya yang mencapai Rp 14.9 triliun. Target nilai kontrak tersebut lebih tinggi dari target tahun 2019 yang sebesar Rp 11.98 triliun.

Menyusul dari target kontraknya tersebut, WEGE pun belum lama ini turut dilibatkan untuk mempercepat pembangunan beberapa proyek fasilitas kesehatan yang digunakan dalam penanganan pandemi virus corona yang belakangan ini mewabah. Salah satunya adalah permintaan dari Pertamedika IHC-Holding RS BUMN yang didukung oleh Kementerian BUMN dan induk usaha PT Pertamina, agar WEGE merenovasi bangunan RS Pertamina Jaya. Renovasi tersebut ditujukan untuk pengalihfungsian RSPJ menjadi RS Khusus pasian Covid-19 dan sekaligus tempat karantina.

Renovasi RSPJ Cempaka Putih tersebut, dibagi menjadi dua tahap : Pertama, WEGE mengerjakan proyek renovasi dan alih fungsi RSPJ Cempaka Putih – Jakarta Pusat menjadi RS Khusus Covid-19. Dalam prosesnya kemarin, WEGE melakukan pekerjaannya mulai dari arsitektur, instalasi MEP, dan finishing. Kedua, WEGE juga membangun proyek RS Lapangan menggunakan sistem modular, mulai dari struktur pondasi, arsitektur, pembangunan, MEP, dan finishing. RS Lapangan ini nantinya berkapasitas 90 tempat tidur, di halaman Hotel Patra Jasa – Jakarta Pusat. Tujuan pembangunan RS Lapangan ini adalah sebagai observasi dengan standar karantina Covid-19 di Pulau Galang – Kepulauan Riau.

Source : https://pasardana.id/news/2020/3/24/wege-garap-proyek-renovasi-rspj/

 

Berkaitan dengan Pulau Galang, WEGE juga mengerjakan Karantina Corona Modular di Pulau Galang. Targetnya tempat karantina ini bisa menampung lebih dari 360 pasien. Bahkan masih di lokasi yang sama, WEGE juga mengerjakan proyek renovasi bangsal lama bekas pengungsi Vietnam. Nantinya Bangsal ini akan dipakai sebagai hunian dokter, perawat, dan sarana umum. Selain daripada itu, WEGE juga mengerjakan proyek pembangunan Pertamedika Corona Center di Jakarta. Dalam proyek tersebut, WEGE menggunakan sistem modular agar waktu pengerjaan lebih cepat.

Dari proyek yang dikerjakan WEGE di atas, hampir semuanya menggunakan sistem modular. Sehingga WEGE sangat diandalkan, dalam pembangunan yang dibutuhkan dalam waktu darurat seperti sekarang ini. Sebagai catatan informasi, pembangunan dengan menggunakan sistem modular ini telah lama diaplikasikan oleh WEGE pada sejumlah proyek. Salah satunya seperti proyek relokasi Rumah dinas Angkatan Udara Halim. Ke depannya, WEGE akan mengembangkan sistem modular untuk pembangunan hotel, rest area commercial, dan lainnya.

Dan seperti yang sudah Penulis sebutkan di atas, bahwa WEGE juga akan melakukan transformasi bisnis properti ke konsesi. Hal itu tidak lepas dari tujuan WEGE agar bisa mendapatkan seluruh proyek konstruksi dari konsesi, dan akan menggenjot kontribusi bisnis barunya pada SBU Konsesi dan Modular tadi. Asal tahu saja, bisnis konsesi dan modular baru yang diterapkan oleh WEGE tersebut ialah sebagai strategi bisnis jangka panjang dengan rentang waktu 20-30 tahun melalui pendirian SPV (Special Purpose Vehicle). Sekaligus untuk menjadi salah satu sumber recurring income WEGE di tahun berikutnya, dengan target kontribusi sekitar 15% – 20%. Sangat menarik bukan potensi pendapatan berulang WEGE ini ?

Namun, tentu saja WEGE tidak lepas dari risiko. Sebagai perusahaan yang juga banyak mengerjakan proyek Gedung, kinerja WEGE juga tidak dapat dilepaskan dari situasi di industri properti. Bukan hal yang tidak mungkin, jika penurunan permintaan atas produk properti seperti gedung-gedung berskala besar, hunian berupa apartemen maupun rumah susun dapat memberikan pengaruh negatif bagi kinerja dan prospek usaha Perusahaan. Hingga saat ini, kita belum bisa melihat secara jelas seberapa besar dampak Covid 19 bagi industry property dan juga WEGE dalam hal ini.

 

WEGE Termasuk Undervalued ?

Apakah dengan harga sahamnya saat ini WEGE termasuk undervalued ? Jika dilihat dari harga saham nya, sebenarnya harga saham WEGE saat ini justru berada di bawah harga IPO nya yang senilai 290,-an pada tahun 2017 lalu. Seperti yang kita tahu, sejak memasuki awal tahun 2020 ini harga saham WEGE sedang dalam trend bearish. Bahkan sempat menyentuh level terendahnya di kisaran 128,-an pada awal April 2020 kemarin. Nah… Jika Anda ingat, pada tahun 2018 lalu Penulis sudah pernah membahas jumlah proyek yang diperoleh WEGE. Saat itu harga saham WEGE juga sedang terdiskon pada kisaran 220 – 230,-an..

[Baca lagi : Realisasi Kontrak Lebih Dari 80%, Akankah WEGE Bersinar?]

 

 

Tentu harga saham WEGE saat ini sangat terdiskon, ditambah lagi WEGE sedang ditransaksikan pada valuasi PER 3.5x dan PBV 0.65x. Artinya harga yang ditawarkan oleh WEGE saat ini adalah setengah dari nilai bukunya, maka harga ini tergolong undervalue.

 

Kesimpulan

Kembali pada pertanyaan di awal, bagaimana kinerja fundamental WEGE ? Dan bagaimana prospek bisnis WEGE di sepanjang tahun 2020 ini ?

Dari sejumlah fakta di atas, nampak bahwa kinerja WEGE saat ini akan lebih baik lagi ke depannya. Mengingat tingkat kepercayaan klien terhadap kinerja WEGE juga semakin tumbuh, seiring dengan semakin banyaknya proyek yang telah diselesaikan oleh WEGE. Tidak hanya itu saja, semenjak WEGE IPO pada empat tahun lalu perusahaan konstruksi ini selalu berhasil mencatatkan kinerja fundamental yang positif. Bahkan pada tahun 2019 kemarin, WEGE mencatatkan laba yang mengalami peningkatan sekitar 1.67% YoY menjadi Rp 452 miliar pada tahun 2019.

Tidak hanya kinerjanya saja yang positif, namun WEGE juga memiliki prospek yang juga positif. Seiring dengan catatan arus kas investasinya yang negatif senilai Rp -493 miliar per tahun 2019 kemarin. Hal ini dikarenakan, WEGE komitmen melakukan sejumlah investasi melalui aset-aset perusahaan yang dibutuhkan seperti peralatan operasional dan juga lahan.

Dengan demikian, WEGE memiliki prospek yang sangat baik ke depannya. Seperti yang sudah dijelaskan di atas, bahwa WEGE ke depannya akan melakukan transformasi bisnis properti ke konsesi. Bahkan WEGE juga sedang masif mengembangkan industri modular dalam pembangunan proyek-proyek yang dijalankannya. Sebagai contohnya, seperti beberapa waktu kemarin di mana WEGE dilibatkan dalam penanganan pandemi virus corona. WEGE ditunjuk untuk mengerjakan beberapa proyek fasilitas kesehatan, mulai dari renovasi RSPJ Cempaka Putih yang akan digunakan menjadi RS Khusus Covid-19, proyek RS Lapangan, proyek Karantina Corona Modular di Pulau Galang, dan juga proyek renovasi Bangsal lama bekas pengungsi Vietnam. Semua proyek tersebut dikerjakan oleh WEGE menggunakan sistem modular agar waktu pengerjaan lebih cepat.

Namun, untuk lebih amannya Anda bisa melihat sejauh apa Pandemic Covid 19 ini mempengaruhi kinerja WEGE di 2020 nanti. Anda bisa perhatikan perolehan kontrak baru WEGE, dan juga dampaknya terhadap kinerja keuangan nya nanti. Mengingat dalam waktu dekat, sejumlah perusahaan akan mulai merilis LK Q1 2020 nya, maka ada baiknya kita lihat dulu laporan keuangan nya yang terbaru.

Disclaimer : Penulisan artikel ini bukan rekomendasi untuk melakukan jual – beli suatu saham. Risiko investasi ada di tangan masing-masing. Do Your own Research…

 

###

 

Info:

 

 

Tags : Prospek WEGE | Prospek WEGE | Prospek WEGE | Prospek WEGE | Prospek WEGE | Prospek WEGE | Prospek WEGE | Prospek WEGE | Prospek WEGE | Prospek WEGE | Prospek WEGE | Prospek WEGE | Prospek WEGE

You may also like

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Rivan adalah seorang Indonesia Value Investor yang memulai investasi sejak tahun 2008 ketika berusia 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, Rivan berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Berbekal pengalamannya, Rivan saat ini menjalani profesi sebagai Full Time Investor sekaligus praktisi di pasar modal. Saat ini, Rivan aktif mengadakan workshop dan pelatihan kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko di pasar saham.

Like Us On Facebook

Facebook Pagelike Widget

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Categories

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami