Harga CPO Semakin Tertekan, Gara-Gara Virus Corona ?


Pada awal tahun 2019, harga CPO sempat menyentuh level tertingginya di RM 2.800/ton. Namun memasuki pertengahan Februari 2020 harga CPO kembali melemah ke level RM 2.400/ton. Banyak pihak yang mengaitkan penurunan harga CPO ini dengan wabah virus corona yang sudah memakan korban lebih dari 2000 jiwa.

Apa hubungannya antara virus Corona dengan melemahnya harga CPO ? Dan emiten CPO apa saja yang terpengaruh wabah virus corona ini ?

 

Update Penyebaran Wabah Virus Corona

Sebelum kita membahas mengenai hubungan antara Virus Corona dan menurunnya harga CPO, Penulis ingin membahas sedikit mengenai update virus Corona ini. Saat ini penyebaran wabah virus corona memang sangat cepat bahkan melampaui virus SARS. Di mana pada saat artikel tersebut ditulis, jumlah korban meninggal akibat virus ini sudah tembus lebih dari 1.700 jiwa (dan terus bertambah hingga saat ini). Bahkan korban yang meninggal juga sudah terjadi di luar China, yakni di Hong Kong, Filipina, Taiwan, Jepang, dan juga Perancis. China yang awalnya memberlakukan kebijakan lockdown untuk di beberapa kotanya. Kini China kembali harus memperketat lalu lintas keluar masuk warganya, untuk mencegah penyebaran wabah virus corona. Salah satunya dengan memberlakukan aturan, di mana bagi setiap orang yang datang ke China wajib menjalankan karantina selama 14 hari.

Petugas merawat pasien di Pusat Konferensi dan Pameran Internasional Wuhan ‚Äď China. Source : https://katadata.co.id/berita/2020/02/17/korban-tewas-corona-1770-orang-tiongkok-batasi-lalu-lintas-warga

 

China pun sampai sekarang masih berupaya menangani penyebaran wabah virus corona, agar bisa memulihkan aktivitas ekonomi yang sempat terhenti. Mulai dari Bank Sentral China, yang akan menghancurkan uang kertas yang sudah terinfeksi wabah virus corona. Ataupun disterilisasi dengan disinfektan. Jika nantinya uang kertas harus disterilisasi, bank-bank bersangkutan diminta tidak mengedarkan kembali uang kertas selama 14 hari. Uang kertas yang dimaksud, adalah uang yang sudah beredar di sekitar rumah sakit, transportasi umum, ataupun pasar tradisional sampai modern.

Bahkan penanganan wabah virus corona saat ini sudah dibantu oleh WHO langsung, melalui Strategic Preparedness and Response Plan (SPRP). Dengan periode pelaksanaan, terhitung dari Februari hingga April 2020. Jika nantinya dalam rentang waktu tersebut, wabah virus corona gagal ditangani. Maka akan berdampak buruk tidak hanya bagi perekonomian saja, namun harga sejumlah komoditas juga semakin terpukul.

Anyway beberapa waktu lalu, Penulis sudah pernah membahas mengenai dampak wabah virus corona terhadap pasar saham secara keseluruhan. Anda bisa baca terlebih dahulu artikelnya pada link di bawah ini :

 

[Baca lagi : Tertekan Wabah Virus Corona, Bagaimana Dampak Terhadap Pasar Saham ?]

 

 

Update Harga Komoditas CPO

Setelah sempat menyentuh level tertingginya di RM 2.800/ton, harga CPO kembali melemah ke level RM 2.400/ton pada pertengahan bulan Februari 2020. Sebagai gambaran lebih jelasnya seperti di bawah ini :

Harga CPO bergerak di kisaran level RM 2.300 ‚Äď RM 2.500. Source : https://tradingeconomics.com/commodity/palm-oil

 

Demikian halnya dengan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit, yang terus mengalami penurunan sejak awal Januari 2020 ini. Adapun untuk periode Februari 2020, harga TBS ini kembali mengalami penurunan pada setiap kelompok umur kelapa sawit. Penurunan itu sekitar Rp 50.68 per kg atau sekitar Rp 1.800,-an per kg. Bahkan berdasarkan data dari Kementerian Perdagangan, tercatat bahwa harga referensi CPO pada Februari 2020 berada di kisaran sebesar US$ 750/metrik ton hingga US$ 839.69/metrik ton. Penurunan harga TBS periode tersebut, disebabkan oleh adanya penurunan harga jual CPO dan kernel dari seluruh perusahaan.

 

Hubungan Virus Corona dan Menurunnya Harga CPO

Tidak bisa dipungkiri, harga CPO yang tertekan belakangan ini salah satunya juga dipengaruhi oleh sentimen merebaknya wabah virus corona di Wuhan – China. Virus corona yang menyebar hingga ke luar China itu, turut menimbulkan kekhawatiran pasar global.

Sebenarnya apa hubungan nya antara menurunnya harga CPO dengan Virus Corona ? Berikut adalah penjelasannya. Indonesia selama tiga tahun kebelakang, sudah menjadi produsen sekaligus eksportir CPO terbesar di dunia. Pangsa pasar CPO Indonesia hingga akhir 2019 kemarin, diperkirakan berada di kisaran 47% atau setara 34 juta ton terhadap kebutuhan konsumsi CPO global. Dan salah satu negara yang mengkonsumsi CPO Indonesia dalam porsi yang besar adalah Tiongkok atau China. Memang konsumsi China masih di bawah India dan Uni Eropa, namun porsi nya tetap masih sangat besar, yaitu sekitar 15% dari total produksi Indonesia. Sebagai gambaran lebih jelasnya, ada pada grafik di bawah ini :

 

Tujuan Ekspor CPO terbesar Indonesia. Source : https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2019/08/08/inilah-10-negara-tujuan-utama-ekspor-cpo-pada-2019

 

China sendiri adalah salah satu negara yang lebih memanfaatkan bahan bakar dengan campuran biodiesel. Sehingga China membutuhkan supply CPO yang tidak sedikit. Adapun untuk lebih memperjelas kebutuhan konsumsi CPO di masing-masing negara, bisa dilihat pada grafik di bawah ini :

Tingkat Konsumsi CPO Terbesar di Dunia. Source : https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2019/12/16/10-negara-dengan-konsumsi-minyak-sawit-terbesar-dunia

 

Berdasarkan grafik di atas, terlihat bahwa kebutuhan CPO tertinggi ditempati oleh Indonesia yang mencapai sekitar 12.75 juta ton atau sekitar 17% dari total konsumsi dunia yang mencapai 74.48 juta ton. Sementara untuk kebutuhan CPO tertinggi kedua ditempati oleh India, mencapai 10.19 juta ton atau sekitar 13.68%. Dan kebutuhan CPO tertinggi ketiga ditempati oleh China, sebesar 7.22 juta ton atau sekitar 9.7% dari total kebutuhan CPO.

Dengan China menjadi importir CPO terbesar ketiga, tentu merebaknya wabah virus corona ini akan mengganggu arus ekspor CPO Indonesia ke China. Hal ini menjadi sentimen negatif, khususnya bagi industri CPO nasional. Risikonya mungkin akan sama seperti saat CPO Indonesia tidak diserap oleh India karena bea masuk CPO ke India yang mahal, serta Uni Eropa karena kampanye negatif Kelapa Sawit.

Anyway, Anda bisa kembali membaca mengenai update tarif bea masuk dari India pada link di bawah ini :

[Baca lagi : India Turunkan Tarif Bea Masuk CPO, Bagaimana Prospek Sektor CPO di Tahun 2020?]

 

Kesimpulan

Harga komoditas CPO yang mengalami pelemahan beberapa waktu ini. Selain masih dibayang-bayangi oleh bea masuk India yang tinggi dan kampanye anti sawit oleh Uni Eropa, ditambah lagi dengan tekanan yang disebabkan oleh merebaknya wabah virus corona di Wuhan – China. Pasalnya wabah virus corona, yang sudah menyebabkan angka kematian yang sudah tembus lebih dari 2000 korban jiwa, membuat aktivitas impor CPO juga terganggu. Tak pelak, sentimen tersebut menjadi penggerak utama harga CPO belakangan ini. Imbasnya pasar global khawatir, termasuk juga para pelaku pasar domestik.

Wajar saja, lantaran China adalah pengkonsumsi CPO terbesar ketiga. Sejalan dengan komoditas CPO, yang menjadi salah satu produk ekspor yang diandalkan Indonesia. Maka dengan kondisi China yang saat ini, hampir dapat dipastikan akan mempengaruhi permintaan CPO dari China ke Indonesia akan semakin menurun. Itu artinya akan mengancam kinerja sejumlah emiten industri CPO Indonesia yang melakukan ekspor CPO ke China.

Untuk saat ini, katalis positif yang bisa mengangkat kembali harga CPO adalah penerapan B30, yang akan terus dikembangkan ke depannya. Namun alangkah Anda lebih waspada saat ini, mengingat ekspor masih lebih mendominasi konsumsi CPO ketimbang konsumsi domestik.

               

###

 

Info:

  • Monthly Investing Plan Maret 2020¬†telah¬†terbit. Anda dapat memperolehnya di¬†sini.
  • Cheat Sheet LK Q3 2019¬†telah terbit, Anda dapat memperolehnya di¬†sini.
  • E-Book Quarter Outlook LK Q3 2019¬†telah terbit. Anda dapat memperolehnya di¬†sini.
  • Jadwal¬†Workshop :¬†
    • Workshop & Advance Value Investing (Jakarta, 14 – 15 Maret 2020)¬†dapat dilihat di¬†sini.
Tags : Harga CPO Tertekan | Harga CPO Tertekan | Harga CPO Tertekan | Harga CPO Tertekan | Harga CPO Tertekan | Harga CPO Tertekan | Harga CPO Tertekan | Harga CPO Tertekan | Harga CPO Tertekan | Harga CPO Tertekan | Harga CPO Tertekan | Harga CPO Tertekan | Harga CPO Tertekan | Harga CPO Tertekan |

You may also like

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Rivan adalah seorang Indonesia Value Investor yang memulai investasi sejak tahun 2008 ketika berusia 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, Rivan berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Berbekal pengalamannya, Rivan saat ini menjalani profesi sebagai Full Time Investor sekaligus praktisi di pasar modal. Saat ini, Rivan aktif mengadakan workshop dan pelatihan kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko di pasar saham.

Like Us On Facebook

Facebook Pagelike Widget

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Categories

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami

Translate ¬Ľ
error: Content is protected !!