Tantangan Investor di Tahun 2020

Tantangan-Tantangan Apa Saja yang Perlu Diperhatikan Investor di Tahun 2020 ?


Memasuki bulan Februari 2020 ini, IHSG sudah terkoreksi sekitar -4.89% YTD per artikel ini ditulis. Dan bukan hanya IHSG, beberapa indeks lain pun mengalami hal yang sama. Sebut saja seperti, Hang Seng Index (Hong Kong) -4.39% YTD, dan juga Shanghai Index -7.64% YTD. Sejumlah negara juga merilis tingkat pertumbuhan ekonomi yang melambat. Dengan demikian, tahun 2020 ini nampaknya akan menjadi tahun yang menantang bagi para pelaku pasar. Lantas, hal-hal apa saja yang menjadi challenge di sepanjang tahun 2020, yang perlu diperhatikan para pelaku pasar ?

 

Tensi Ekonomi Global di Tahun 2020

Tantangan pasar modal di sepanjang tahun 2020 ini nampaknya masih cukup berat. Apalagi perekonomian global telah banyak diprediksikan akan mengalami pertumbuhan yang melambat. Tidak hanya itu saja, pelaku pasar juga semakin dibuat khawatir. Tepatnya setelah Dana Moneter Internasional (IMF) yang baru-baru ini justru kembali melakukan koreksi, terhadap ekonomi global di sepanjang tahun ini. Padahal sebelumnya, IMF sudah memprediksikan pertumbuhan ekonomi global di 3.4% pada Oktober 2019. Namun pada pertengahan Januari 2020 kemarin, IMF justru mengubah outlooknya menjadi lebih rendah hanya di 3.3%. Bahkan IMF juga menurunkan prediksi pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2021 dari yang awalnya sebesar 3.6%, kini turun jadi 3.4% saja.

Koreksi ini terjadi lantaran IMF merasa kurang optimis terhadap pemulihan ekonomi global tahun ini. Mengingat pertumbuhan ekonomi global yang melambat, lebih disebabkan oleh risiko dari ketegangan perdagangan dan juga geopolitik yang belakangan terus terjadi. Sudah tentu, kondisi global yang bergejolak tersebut menjadi sentimen negatif yang cukup mengkhawatirkan para pelaku pasar.

Sementara dari sisi domestik, juga turut menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku pasar dalam negeri. Meski sebenarnya pada awal tahun ini, optimisme pelaku pasar meningkat. Mengingat di sepanjang tahun ini, tidak ada momentum yang berpengaruh besar seperti pelaksanaan pemilu di tahun 2019 kemarin. Bahkan pada 24 Januari 2020 kemarin lembaga pemeringkat Fitch Ratings (Fitch), menegaskan peringkat sovereign credit rating Indonesia di level BBB/outlook stabil (Investment Grade). Artinya Fitch mengakui kondisi perekonomian Indonesia, yang berdaya tahan di tengah gejolak perekonomian global. Di mana prospek pertumbuhan ekonomi jangka menengah baik dan beban utang pemerintah yang relatif rendah, dibandingkan negara dengan rating yang sama. Namun faktanya, itu tidak cukup menurunkan kekhawatiran para pelaku pasar.

 

Tantangan-Tantangan yang Harus Dihadapi

Dari penjabaran di atas, terlihat bahwa pasar modal dalam negeri masih akan tertekan oleh sejumlah sentimen. Jika demikian, maka di bawah ini ada beberapa kondisi yang Penulis nilai akan menjadi tantangan yang harus diperhatikan oleh investor di sepanjang tahun 2020 ini…

  • Tantangan yang datang dari luar negeri

Pertama, perang dagang antara AS dan China, seperti yang kita tahu bahwa pada 15 Januari 2020 kemarin AS dan China sudah menandatangani kesepakatan perdagangan fase I. Kesepakatan tersebut dinilai sebagai terobosan, pasca dua tahun kebelakang saling melancarkan perang dagang. Adapun sebagai hasil dari kesepakatan dagang fase I itu, AS berjanji akan mengurangi tarif untuk produk-produk dari China. Di mana nantinya bea masuk sebesar 15% terhadap produk impor asal China senilai USD 120 miliar akan dipangkas menjadi 7.5%. Bahkan AS berpotensi untuk melepaskan China dari pajak tambahan terhadap barang-barangnya. Sebaliknya China juga sudah berkomitmen untuk membeli produk pertanian dari AS senilai USD 200 miliar dalam dua tahun ke depan.

Kendati demikian, AS dan China masih akan memasuki fase II kesepakatan dagang. Sebagai gambarannya, di fase II nanti kemungkinan besar AS dan China akan membahas masalah teknologi dan keamanan siber untuk mengakhiri perang dagang. Namun kondisi tersebut, masih belum bisa diproyeksikan akan seperti apa pelaksanaan maupun hasil kesepakatannya.

 

Kedua, tensi geopolitik antara AS dan Iran, belum selesai dengan China. AS kembali harus bermasalah geopolitik dengan Iran. Pasca terbunuhnya Jenderal Iran, Qassem Soleimani dalam serangan pesawat tanpa awak di Baghdad pada awal tahun 2020 ini. Tensi perang semakin meningkat, setelah muncul isu bahwa yang membunuh Jenderal Iran adalah bagian perintah dari Donal Trump selaku Presiden AS. Dan pada pertengahan Januari kemarin Trump menyatakan untuk menarik diri dari ancaman perang dengan Iran. Namun faktanya, tensi perang antara kedua negara ini masih berlanjut. Di mana AS justru mengirim sejumlah pasukan ke Iran, dan sebaliknya Iran pun juga melakukan serangan terhadap pangkalan militer dan kedutaan besar AS di Irak.

Bahkan belum lama ini, AS menuduh Iran berusaha memperoleh senjata nuklir. Selain itu, sanksi AS terhadap program nuklir Iran tidak akan berpengaruh terhadap AS. Maka tak heran jika tensi perang antara AS dan Iran semakin memanas.

 

Ketiga, kebijakan The Fed yang cenderung dovish. Pada akhir 2019 kemarin The Fed sudah memangkas suku bunga, sehingga Fed Fund Rate (FFR) dari 2.25% – 2.5% turun menjadi 1.5% – 1.75%. Pemangkasan suku bunga tersebut, menjadi isyarat bahwa keputusan moneter The Fed di sepanjang tahun 2020 ini tidak akan tunduk pada kebijakan perdagangan AS. Hal itu juga senada, dengan keputusan FOMC yang sepakat bahwa suku bunga tidak akan berubah, bahkan akan dipertahankan di posisi yang sama. Adapun sebagai alternatif lain jika sangat dibutuhkan, maka The Fed akan membuka kemungkinan untuk membeli sekuritas dengan kupon jangka pendek untuk mengurangi tekanan pasar uang.

Dengan Fed Fund Rate yang turun, itu artinya suku bunga sudah berada di level terendah. Bahkan untuk menurunkannya lagi sangat terbatas, sehingga The Fed dan Bank Sentral lain tidak lagi leluasa. ¬†The Fed sendiri tentunya berupaya menjaga stabilitas suku bunga agar tidak kembali menyentuh level 0%, seperti saat terjadinya krisis di tahun 2008 ‚Äď 2015. Adapun sebagai gambaran jelasnya, seperti di bawah ini :

Interest Rate AS dalam 10 tahun. Source : https://tradingeconomics.com/united-states/interest-rate

 

Tidak hanya itu saja, AS sendiri sudah banyak diprediksikan akan masuk pada fase resesi di tahun ini. Tentunya kondisi tersebut, semakin menegaskan bahwa perekonomian global akan semakin bergejolak. Untuk review kembali artikelnya, Anda bisa membacanya di bawah ini :

[Baca lagi : Potensi Resesi Ekonomi di Tahun 2020, Apakah Benar-Benar Akan Terjadi?]

 

 

Keempat, polemik Brexit yang masih berlanjut pada masa transisi 11 bulan ke depan. Pada 31 Januari 2020 kemarin, Inggris dengan tiga negara lainnya Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara akhirnya resmi keluar dari keanggotaannya di Uni Eropa. Pasca tiga tahun berturut-turut melakukan referendum dan negosiasi yang cukup alot. Dengan keluarnya Inggris dari Uni Eropa, di nilai sebagai akhir pertikaian politik yang sudah mengorbankan Theresa May, dan kini digantikan dengan Boris Johnson.

Namun meski sudah resmi keluar dari Uni Eropa, keempat kerajaan yang bersatu (United Kingdom / UK) itu masih harus menjalani masa transisi dalam waktu 11 bulan ke depan. Di mana UK harus taat pada kebijakan dan pengadilan Uni Eropa, dan mengharuskan UK mencari kesepakatan terbaik dengan Uni Eropa. Sayanganya masa transisi ini, justru dinilai menimbulkan ketidakpastian perekonomian global. Hal itu disebabkan oleh beberapa hal, seperti : bagaimana posisi UK pasca keluar dari UE, bagaimana hubungannya dengan perekonomian di Eropa, bahkan mekanisme bagaimana proses keluarnya belum disepakati. Sehingga kondisi tersebut tetap menjadi sentimen negatif bagi ekonomi secara global.

 

Kelima, AS akan segera menghadapi pemilu. Pemilihan umum presiden AS sudah memasuki tahunnya, rencananya pemilu akan diselenggarakan pada November 2020 mendatang. Adapun sebelum menjelang pemilu, AS akan melakukan serangkaian pemilihan pendahuluan dan kaukus kepresidenan, yang akan diadakan selama enam bulan pertama di tahun ini.

Sebagai tambahan informasi dari Penulis, kaukus (caucus) ini didefinisikan sebagai sebuah pertemuan dari para pendukung sebuah parpol. Kaukus ini diambil dari kenyataan penggunaan kata di AS. Terkait dengan itu, AS saat ini tengah menjalani beberapa proses kaukus untuk melihat kandidat potensial Presiden AS yang pantas melawan pihak petahana.

5 Pihak Oposisi Penantang Trump di Pemilu. Source : https://kumparan.com/kumparannews/5-bakal-calon-penantang-trump-di-pemilu-as-2020-1rk5Au9vWaa

Dalam pemilu nanti, Trump yang merupakan pihak petahana akan melawan sejumlah pihak oposisi, yang berasal dari berbagai latar belakang. Berikut ini adalah sejumlah nama pihak oposisi : Joe Biden, Julian Castro, Bill de Blasio, Tulsi Gabbard, dan Bernie Sanders. Mereka akan sama-sama bersaing untuk mendapatkan kursi kekuasaan di AS.

 

Keenam, Trump yang dikenakan impeachment oleh DPR AS dan dinyatakan tak bersalah. Sejak Trump diduga melakukan penyalahgunaan kekuasaan, dan akhirnya resmi dimakzulkan oleh DPR AS pada 18 Desember 2019. Sehingga dampaknya, pemerintahan AS terancam berhenti operasi alias government shutdown. Sedangkan Trump sendiri sudah melaksanakan beberapa kali sidang pemakzulan. Bahkan pada Februari kemarin, keputusan sidang pemakzulan menyatakan bahwa Trump dinyatakan tak bersalah atas dakwaan penyalahgunaan kekuasaan. Hasil tersebut semakin mempertegas, bahwa sidang pemakzulan Trump tersebut tidak bisa melengserkan Trump.

Trump dalam proses pemakzulan. Source : cnnindonesia.com/internasional

 

Ketujuh, merebaknya wabah virus corona. Baru-baru ini dunia digemparkan oleh merebaknya wabah virus corona yang terbilang sangat cepat. Virus corona ini berasal dari kota Wuhan di China, namun belakangan ini sudah menyebar ke beberapa negara bagian. Dan dampaknya pun cukup memukul bursa saham dunia, termasuk juga Asia. Tak pelak bursa saham Indonesia pun turut tertekan. Untuk mengulas dampak wabah virus corona terhadap IHSG di Indonesia, Anda bisa membaca artikelnya di link bawah ini :

[Baca lagi : Tertekan Wabah Virus Corona, Bagaimana Dampak Terhadap Pasar Saham?]

 

  • Tantangan yang datang dari dalam negeri

Pertama, neraca perdagangan Indonesia yang masih defisit. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, neraca perdagangan selama Desember 2019 kemarin tercatat mencapai US$ 28.2 juta. Penyebabnya tidak lain, adalah neraca minyak dan gas (migas) yang masih defisit sebesar US$ 9.34 miliar. Karena dipengaruhi oleh neraca minyak mentah yang juga defisit sebesar US$ 4 miliar, begitu juga dengan hasil minyak yang defisit sebesar US$ 11.72 milliar. Sedangkan untuk neraca non migas surplus sebesar US$ 6.39 miliar. Adapun untuk pencapaian ekspor di Desember 2019, meningkat sebesar US$ 14.47 miliar karena terdorong tumbuhnya ekspor minyak dan gas sebesar US$ 1.16 miliar. Demikian juga dengan ekspor non migas yang meningkat sebesar US$ 13.31 miliar. Sehingga jika diakumulasi, total pencapaian neraca perdagangan sepanjang tahun 2019 kemarin mengalami defisit sebesar US$ 3.2 miliar.

Lantas bagaimana peluang neraca dagang di tahun ini ? Penulis sendiri melihat neraca perdagangan masih mungkin akan defisit, karena penurunan harga di sejumlah komoditas. Sebagai gambaran, kita bisa lihat update harga dari masing-masing komoditas, seperti di bawah ini :

Harga Coal update Februari 2020. Source : https://tradingeconomics.com/commodity/coal

Dari grafik di atas terlihat bahwa harga batubara per Februari ini memang mengalami peningkatan, dengan Harga Batubara Acuan sebesar USD 66.89/ton. Dibandingkan Harga Batubara Acuan sebesar USD 65.9/ton di Januari kemarin. Namun perlu diingat, bahwa kenaikan HBA saat ini hanya sentimen dari berkurangnya pasokan batubara dari tambang China yang diakibatkan oleh wabah virus Corona. Sedangkan sentimen global sendiri hingga saat ini masih bergejolak, memungkinkan HBA akan kembali menurun.

 

Harga Nikel update Februari 2020. Source : https://tradingeconomics.com/commodity/nickel

Demikian pula dengan penurunan harga nikel. Kondisi itu semakin diperburuk dengan permintaan yang menurun, karena banyak pabrik baja di China tengah menjalani perawatan, akibat wabah virus corona. Padahal China merupakan konsumen logam terbesar di dunia. Sementara, di Indonesia pelarangan ekspor bijih nikel yang berlaku sejak awal tahun ini. Juga menjadi salah satu pemicu tertekannya harga nikel, lantaran larangan ekspor bijih nikel justru menimbulkan masalah. Di mana Uni Eropa melalui WTO melayangkan gugatan terhadap kebijakan yang dibuat oleh Indonesia. Dengan alasan kebijakan tersebut tidak adil, dan akan membatasi akses produsen Uni Eropa terhadap bijih nikel. Sebaliknya, Indonesia juga melayangkan gugatan atas kebijakan diskriminasi sawit melalui Renewable Energi Directive II dan Deregulated Regulation yang ditetapkan Uni Eropa.

 

Harga Rubber update Februari 2020. Source : https://tradingeconomics.com/commodity/rubber

Demikian juga dengan harga karet, yang nampaknya masih sulit untuk naik di tahun ini. Apalagi saat ini harga karet global semakin tertekan, akibat wabah virus corona yang menjadi sentimen negatif bagi pasar karet. Selain itu, untuk tingkat produksi sendiri akan dipengaruhi oleh cuaca di tahun ini.

 

Kedua, nilai tukar Rupiah. Dalam beberapa waktu ini, Rupiah memang dalam tren penguatan di kisaran Rp 13.600,-an hingga Rp 13.700,-an. Meski begitu, penguatan Rupiah ini harus memperhatikan sentimen perkembangan ekonomi global, seperti : semakin meningkatnya tensi geopolitik yang terjadi di luar negeri, lalu harga minyak mentah yang mungkin mengalami kenaikan, dan terakhir jika neraca perdagangan harus defisit lagi. Sebagai tambahan, jika Anda ingin mengulas kembali seperti apa prediksi pergerakan Rupiah di tahun ini. Anda bisa membaca kembali artikel Penulis, melalui link di bawah ini :

[Baca lagi : Rupiah Menguat hingga ke Level Rp 13.600,-an, Bagaimana Prediksi Nilai Tukar Rupiah di 2020?]

 

 

Ketiga, aliran modal asing (capital inflow) yang harus tetap terjaga. Seperti yang kita tahu, total akumulasi aliran modal asing yang masuk ke Indonesia sepanjang 2019 mencapai Rp 224.2 triliun. Sementara sejak awal tahun ini, aliran modal asing yang sudah masuk tercatat mencapai Rp 25.79 triliun per Januari kemarin. Walaupun aliran modal asing tersebut, tidak sebesar dengan aliran modal asing di tahun 2010. Namun arus aliran modal asing yang masuk ke Indonesia harus tetap terjaga, agar bisa menyokong penguatan Rupiah.

 

Kesimpulan

Setelah membahas berbagai tantangan yang harus diperhatikan oleh investor di sepanjang tahun, maka secara overall bisa dikatakan bahwa pertumbuhan ekonomi global memang akan mengalami perlambatan. Kendati demikian, untuk ekonomi dalam negeri terbilang beruntung karena lembaga pemeringkat Fitch Ratings (Fitch), kembali menegaskan peringkat sovereign credit rating Indonesia di level BBB/outlook stabil. Artinya kondisi perekonomian Indonesia sudah diakui berdaya tahan di tengah gejolak perekonomian global. Dengan demikian ekonomi domestik masih berpeluang terkendali. Untuk itu, akan lebih baik jika sebagai investor tetap memperhatikan sejumlah sentimen, yang mungkin menjadi tantangan-tantangan di sepanjang tahun ini. Agar risiko investasi di tengah gejolak seperti saat ini bisa diminimalisir.

 

###

Info:

  • Monthly Investing Plan Februari 2020¬†telah terbit, Anda dapat memperolehnya di¬†sini.
  • Cheat Sheet LK Q3 2019¬†telah terbit, Anda dapat memperolehnya di¬†sini.
  • E-Book Quarter Outlook LK Q3 2019¬†telah terbit. Anda dapat memperolehnya di¬†sini.
  • Jadwal¬†Workshop :¬†
    • Workshop & Advance Value Investing (Pontianak, 22 – 23 Februari 2020)¬†dapat dilihat di¬†sini.
    • Workshop & Advance Value Investing (Jakarta, 14 – 15 Maret 2020)¬†dapat dilihat di¬†sini.

 

Tags : Tantangan Investor di Tahun 2020 | Tantangan Investor di Tahun 2020 | Tantangan Investor di Tahun 2020 | Tantangan Investor di Tahun 2020 | Tantangan Investor di Tahun 2020 | Tantangan Investor di Tahun 2020 | Tantangan Investor di Tahun 2020 | Tantangan Investor di Tahun 2020 |

You may also like

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Rivan adalah seorang Indonesia Value Investor yang memulai investasi sejak tahun 2008 ketika berusia 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, Rivan berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Berbekal pengalamannya, Rivan saat ini menjalani profesi sebagai Full Time Investor sekaligus praktisi di pasar modal. Saat ini, Rivan aktif mengadakan workshop dan pelatihan kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko di pasar saham.

Like Us On Facebook

Facebook Pagelike Widget

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Categories

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami

Translate ¬Ľ
error: Content is protected !!