Prospek Sektor Perbankan Pasca Penurunan Suku Bunga Acuan ke 5%


Berbeda dari tahun 2018 di mana pemerintah cenderung bersikap hawkish dengan menaikkan suku bunga acuan sebanyak 6x dari 4,5% sampai ke 6%, di tahun 2019 ini pemerintah cenderung bersikap dovish. Dalam tahun ini sendiri, Bank Indonesia selaku bank sentral Indonesia sudah memangkas suku bunga acuan sebanyak 4x dari 6% ke 5%. Penurunan suku bunga acuan ini akan berdampak ke banyak sektor – dan tentu saja salah satunya adalah sektor perbankan. Mengingat bisnis model perbankan sangat bergantung kepada suku bunga, kira-kira bagaimana prospek sektor perbankan pasca penurunan suku bunga acuan yang terakhir ke 5%?

Source: https://www.tribunnews.com/bisnis/2019/05/23/operasional-bank-indonesia-tutup-3-7-juni-karena-libur-lebaran

 

Sekilas tentang sektor perbankan

Perbankan merupakan salah satu sub-sektor dari sektor utama : keuangan. Sektor perbankan sendiri merupakan sektor yang memiliki kapitalisasi pasar terbesar di bandingkan dengan sektor-sektor lainnya. Bagaimana tidak, emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar di Indonesia berasal dari sektor ini; PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). BBCA sendirian sudah mencakup kurang lebih 10% dari total Index Saham Gabungan (IHSG) saking besarnya kapitalisasi pasarnya (sekitar IDR 770 triliun). Tidak hanya itu, di sektor perbankan juga terdapat banyak bank-bank yang memiliki kapitalisasi pasar besar seperti PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) atau juga ada bank yang dapat menjangkau banyak nasabah sampai ke pelosok-pelosok seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI).

Dari sektor perbankan sendiri memiliki sistem bisnis model yang mengutamakan penjualan kredit. Penjualan kredit sendiri berarti adalah bank meminjamkan sejumlah dana kepada calon nasabah, yang kemudian akan dikembalikan lagi bersamaan dengan bunganya. Kredit dari perbankan tadi juga tidak hanya disalurkan ke satu-dua sektor, tetapi mencakup banyak sektor.

Dalam pemberian kredit, tadi sudah dibahas bahwa salah satu point krusialnya adalah bunga / interest rate. Nah, dengan diturunkannya suku bunga acuan dari 6% menjadi 5% dalam bulan-bulan terakhir ini, bagaimana kira-kira prospek saham di sektor perbankan menanggapi perubahan suku bunga acuan ini?

 

Penurunan suku bunga acuan BI 7-Days Reverse Repo Rate

Bank Indonesia 7-Days Reverse Repo Rate (BI7DRR) – merupakan suku bunga acuan yang menjadi patokan dalam pemberian bunga kredit kepada para calon nasabah bank. Di tahun 2019 ini, Bank Indonesia bersikap dovish dalam menyikapi penetapan suku bunga acuan. Sikap ini dilakukan juga karena berbagai pertimbangan terkait ekonomi domestik maupun global. Secara spesifik, ekonomi global juga sedang mengalami perlambatan pertumbuhan. Bank sentral terkuat di dunia, The Fed, juga bersikap dovish terhadap penetapan suku bunga acuan. Hal ini jugalah yang membuat Bank Indonesia juga benchmarking dengan Bank Sentral China.

Source: https://ekbis.sindonews.com/read/1310199/178/suku-bunga-acuan-naik-bagaimana-tingkat-bunga-kredit-1527672204

Di tahun 2019 ini, The Fed telah menurunkan suku bunga acuan sebanyak 3x dari yang sebelumnya 2,5% menjadi 1,75% saja. Penurunan suku bunga acuan ini juga terjadi di Indonesia, di mana Bank Indonesia telah menurunkan suku bunga acuan BI7DRR dari yang sebelumnya 6% ke 5%. Lantas, apa implikasi dari penurunan suku bunga acuan ini terhadap kinerja perbankan?

Kinerja Perbankan di Indonesia

Sebagai informasi, perbankan di Indonesia dibagi menjadi beberapa kelompok berdasarkan nilai aset yang dimiliki oleh bank-bank tadi. Pembagian ini diklasifikasikan menjadi apa yang disebut dengan BUKU (Bank Umum Kegiatan Usaha) yang kemudian dibagi menjadi 4 tingkatan BUKU. Penulis pernah membahas penjelasan tentang BUKU ini, Anda dapat membaca artikel tersebut dengan mengklik link atau foto di bawah ini :

Baca lagi : Mengenal Istilah Kategori BUKU

http://rivankurniawan.com/2017/09/29/mengenal-istilah-perbankan/

 

Bisnis perbankan bertopang kepada penyaluran kredit. Bank-bank menyalurkan kredit ke banyak sektor-sektor bisnis seperti kepada korporasi, UMKM, konsumer, dan pembiayaan syariah. Pendapatan ini disebut dengan pendapatan bunga. Namun Anda juga perlu tahu di luar itu, ada juga pendapatan perbankan yang bersumber di luar dari bunga ini atau yang biasa disebut dengan pendapatan non-bunga – meskipun kontribusi dari masing-masing pendapatan tadi berbeda antar tiap bank.

Lantas, apa pengaruhnya penurunan suku bunga acuan kepada kinerja perbankan?

Suku bunga acuan – dari namanya saja – digunakan untuk menjadi acuan bagi perbankan untuk menetapkan suku bunga dalam operasional bisnis mereka. Sebut saja dalam penyaluran Kredit Pemilikan Rumah (KPR), atau Kredit Kendaraan Bermotor (KKB), suku bunga yang ditetapkan oleh tiap bank harus mengacu pada suku bunga acuan dari Bank Indonesia.

Berikut Penulis lampirkan data suku bunga kredit (Prime Lending Rate) dari beberapa bank terbesar di Indonesia :

Nama Bank Kredit Korporasi Kredit Retail Kredit UMKM Kredit KPR
BBCA 9,75% 9,9% N/A 9,9%
BBRI 9,95% 9,9% 17,25% 9,9%
BBNI 9,95% 9,95% N/A 10,5%
BMRI 9,95% 9,95% 17,75% 10,25%

Source: Data dari website masing – masing bank per 31 Oktober 2019

Bank-bank umum akan mengikuti berubahnya suku bunga acuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia pada waktunya. Seperti pada tahun ini, beberapa bank di atas telah melakukan penurunan suku bunga kredit mereka – seiring dengan turunnya juga suku bunga acuan BI7DRR.

Selain bunga kredit, bank-bank juga akan menurunkan suku bunga produk perbankan yang lain – deposito

Source: https://kumparan.com/kumparanbisnis/ikuti-bi-rate-bca-turunkan-suku-bunga-deposito-1s8y3UgWYVO

 

Memang, tujuan yang ingin dicapai oleh Bank Indonesia melalui penurunan suku bunga acuan adalah untuk meningkatkan transaksi di pasar yang pada akhirnya dapat mendongkrak pertumbuhan perekonomian negara. Asumsinya, bila suku bunga diturunkan, orang akan cenderung untuk tidak menyimpan uangnya di Bank, dan malah cenderung untuk bertransaksi. Sama juga dengan deposito yang rate-nya turun atau lebih rendah dari sebelumnya. Meningkatnya transaksi yang dilakukan masyarakat berarti terjadi peningkatan demand. Peningkatan demand akan mendongkrak perekonomian negara.

Terjadinya perlambatan pertumbuhan ekonomi yang melanda dunia sekarang, memang tidak jarang untuk menemukan Bank Sentral negara-negara lain yang juga menurunkan suku bunga acuan mereka. Bahkan ada yang sampai suku bunga acuannya berada di bawah 0% seperti Switzerland dan Denmark yang suku bunga acuannya -0,75%, ataupun Swedia dan Jepang yang masing-masing suku bunga acuannya berada di angka -0,25% dan -0,1%.

Mengapa bank-bank sentral di dunia menurunkan suku bunga acuan bahkan sampai negatif? Hal ini dikarenakan pertumbuhan ekonomi di suatu negara didorong mayoritas oleh konsumsi. Negara yang konsumtif cenderung untuk menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dibandingkan negara yang sifat konsumtifnya terjaga. Dengan berkurangnya suku bunga acuan, masyarakat akan cenderung mengurangi simpanan maupun tabungan, dan memperbanyak pinjaman, karena rendahnya bunga tabungan dan bunga pinjaman yang lebih murah.

Dengan demikian, meskipun keuntungan bank dari selisih bunga (interest margin) lebih sedikit, tetapi jumlah permintaan kredit di perbankan justru meningkat dari segi kuantitasnya.

 

Update Kinerja sektor perbankan

Fungsi utama dari perbankan adalah sebagai penghimpun dan penyalur dana dari dan ke masyarakat. Ketika menghimpun dana dari masyarakat, bank-bank umum di Indonesia akan memberikan “bunga” kepada nasabah. Di saat yang sama, ketika bank menyalurkan dana ke masyarakat, masyarakat juga harus memberikan “bunga” kepada bank.

Komposisi dana murah di bank, atau yang biasa disebut dengan CASA (current account saving account) juga mempengaruhi kinerja bank-bank. CASA sendiri adalah rasio yang menghitung berapa dana murah (Tabungan + Giro) yang berhasil dihimpun bank dengan seluruh Dana Pihak Ketiga (Tabungan + Giro + Deposito)

FYI, tabungan dan giro disebut dana murah karena tabungan dan giro diberikan bunga yang relatif murah oleh bank. CASA ini kemudian dapat menekan cost of fund (COF) – semacam persentase modal bank dalam menyalurkan kredit – dari bank-bank menjadi rendah sehingga margin profitabilitas perbankan menjadi lebih tinggi. Tentu saja, semakin tinggi nilai CASA semakin baik, karena artinya pemberian “bunga murah” tadi lebih banyak dibandingkan “bunga mahal” dari produk perbankan yang lainnya.

Meskipun suku bunga acuan diturunkan, jasa-jasa perbankan juga akan tetap berjalan seperti biasa. Baik dari penghimpunan dana masyarakat tadi ke dalam bentuk tabungan, deposito ataupun giro, Sampai jasa penyaluran kredit dari bank ke masyarakat.

Di luar itu, dengan menurunnya suku bunga kredit dari perbankan juga akan menurunkan risiko gagal bayar dari debitur. Sebaliknya, jika suku bunga kredit masih tergolong tinggi, meningkat pula risiko gagal dari para debitur. Rate kredit perbankan sekarang telah disebutkan pada bagian di atas. Risiko gagal bayar ini dapat menurunkan rasio non-performing loan (NPL) dari bank-bank.

Terbaru menurut Tinjauan Kebijakan Moneter Bank Indonesia, rasio NPL di Indonesia masih cukup terjaga, yakni sekitar 2,6% (gross) dan 1,2% (net). Arti dari rasio NPL ini adalah misalnya, setiap ada kredit sebesar Rp 100 juta, ada kredit yang dianggap macet (atau tidak dibayar) sebesar Rp 2,6 juta (gross) atau sebesar Rp 1,2 juta. Jadi risiko kredit Perbankan di Indonesia masih sangat kecil.

Nilai NPL dianggap semakin bagus apabila nilainya semakin kecil. Karena, bila nilai NPL semakin kecil, mengindikasikan semua kredit perbankan lancar dibayarkan oleh debitur tadi.

Data historis NPL perbankan di Indonesia. Source: Bank Indonesia

Rasio lain yang perlu diperhatikan dari sektor perbankan adalah CAR (Capital Adequacy Ratio) atau yang biasa dikenal sebagai rasio kecukupan modal yang nantinya akan digunakan untuk mengatasi kemungkinan bank mengalami kerugian.

Secara umum, semakin besar nilai CAR yang dimiliki perbankan, maka semakin baik pula kemampuan perbankan dalam tingkat keamanan dan pemenuhan kewajiban bank kepada para nasabahnnya. Berdasarkan data terakhir dari Bank Indonesia, rasio CAR perbankan masih cukup terjaga pada angka 23,48% pada Agustus 2019.

Data historis CAR perbankan di Indonesia. Source: Bank Indonesia

 

Prospek Perbankan Pasca Penurunan Suku Bunga Acuan

Perlambatan ekonomi dunia tengah menghantui ekonomi dunia, tidak terkecuali Indonesia. Banyak cara yang dilakukan para pemangku kebijakan untuk tetap mempertahankan pertumbuhan ekonomi negara masing-masing. Tak terkecuali Indonesia, yang sampai artikel ini ditulis telah menurunkan suku bunga acuan sebanyak 4 kali dari 6.0% ke 5.0% selama tahun 2019 ini.

Suku bunga acuan merupakan acuan dari para bank di Indonesia dalam menetapkan suku bunga dalam operasional mereka, seperti deposito sampai ke suku bunga kredit. Memang, jika suku bunga acuan diturunkan, maka perbankan akan ikutan juga untuk menurunkan suku bunga acuannya. Secara umum, ketika suku bunga diturunkan, Bank akan diuntungkan karena penurunan suku bunga deposito. Bank juga memiliki ruang yang lebih besar untuk mempertahankan / menurunkan suku bunga kredit.

Di sisi lain, penurunan suku bunga acuan diharapkan akan menggairahkan debitur untuk meminjam dana dari bank, yang nantinya akan meningkatkan nilai penyaluran kredit oleh perbankan kepada masyarakat.  Di luar itu, dengan bunga kredit yang lebih rendah juga dapat menurunkan risiko gagal bayar dari pada debitur. Jadi, menurunnya suku bunga acuan justru dapat menjadi katalis positif bagi sektor perbankan.

Secara lebih luas dengan menurunnya suku bunga acuan, diharapkan akan menumbuhkan pertumbuhan ekonomi dan diharapkan juga dapat terhindar dari periode resesi.

Beberapa rasio yang juga tidak kalah penting untuk diperhatikan dalam menentukan kinerja perbankan adalah rasio dana murah – atau biasa dikenal dengan CASA (current account saving account) dan rasio kecukupan modal-   CAR (capital adequacy ratio).

 

###

 

Info:

  • Monthly Investing Plan November 2019 sudah terbit. Anda dapat memperolehnya di sini.
  • Cheat Sheet LK Q3 2019 akan segera terbit, Anda dapat memperolehnya di sini.
  • E-Book Quarter Outlook LK Q3 2019 akan segera terbit. Anda dapat memperolehnya di sini.
  • Jadwal Workshop :
    • Workshop & Advance Value Investing (Jakarta, 23 – 24 November 2019) dapat dilihat di sini.

 

Tags : Prospek Sektor Bank | Prospek Sektor Bank | Prospek Sektor Bank | Prospek Sektor Bank | Prospek Sektor Bank | Prospek Sektor Bank | Prospek Sektor Bank | Prospek Sektor Bank | Prospek Sektor Bank | Prospek Sektor Bank | Prospek Sektor Bank | Prospek Sektor Bank | Prospek Sektor Bank | Prospek Sektor Bank | Prospek Sektor Bank

You may also like

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Rivan adalah seorang Indonesia Value Investor yang memulai investasi sejak tahun 2008 ketika berusia 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, Rivan berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Berbekal pengalamannya, Rivan saat ini menjalani profesi sebagai Full Time Investor sekaligus praktisi di pasar modal. Saat ini, Rivan aktif mengadakan workshop dan pelatihan kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko di pasar saham.

Like Us On Facebook

Facebook Pagelike Widget

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Categories

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami