Core Stocks vs Value Stocks, Mana yang Lebih Unggul?


Dalam dunia pasar modal – khususnya investasi di saham – dikenal istilah core stocks dan value stocks. Secara sederhana, core stocks, adalah saham-saham yang… sering dikategorikan sebagai saham blue-chip. Sedangkan value stocks, dapat dikatakan sebagai saham-saham yang diperdagangkan di bawah nilai intrinsic atau value-nya. Nah, sebagai seorang investor, saham-saham jenis apa saja yang sebaiknya dikoleksi?

 

Perbedaan Core Stocks dan Value Stocks

Seperti sudah dijelaskan sebelumnya, Core Stocks tidak sama dengan Value Stocks.

 

CORE STOCKS

Pertama, kita bahas terlebih dahulu mengenai Core Stocks. Jika Penulis dapat menuliskan beberapa ciri-ciri dari Core Stocks, maka akan seperti ini:

  1. Core Stocks Biasa Dikenal sebagai Saham Blue-Chip

Kita sering mendengar istilah saham blue-chip. Tetapi, sebenarnya apa itu saham blue-chip?

Tidak ada pengertian secara ilmiah ataupun pengertian secara spesific tentang apa itu saham blue-chip maupun karakteristik dari saham blue-chip, namun biasanya dikategorikan sebagai saham dengan Kapitalisasi Pasar > Rp 40 triliun.

Secara umum, core stocks maupun saham blue chip dianggap sebagai saham dari perusahaan-perusahaan besar maupun konglomerasi di suatu negara dengan background profitabilitas yang cenderung bertumbuh stabil, dan tidak berfluktuasi.

 

  1. Core Stocks Biasanya Jarang Dihargai Murah

Core stocks biasanya diperdagangkan di atas nilai normal perusahaan. Sebut saja beberapa nama perusahaan blue-chip yang sahamnya telah tercatat di Indonesia seperti:

  • PT Unilever Tbk (UNVR), saat artikel ini ditulis, UNVR diperdagangkan di harga Rp 44.750,- per saham, 46,18x P/E dan juga pada 67,29x PBV.
  • PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), saat artikel ini ditulis diperdangkan pada harga Rp 6.700,- per lembar saham, P/E 11,55x dan juga pada 1,65x PBV.
  • PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), saat artikel ini ditulis diperdagangkan pada harga Rp 4.170,- per lembar saham, P/E 18,62x dan juga pada 3,81x PBV.

Saham-saham blue-chip tersebut dapat dikategorikan memiliki kondisi keuangan perusahaan yang sehat pula. Dari sisi utang, cash flow setelah operasi, maupun profitabilitas, dapat dikatakan bahwa perusahaan-perusahaan blue chip dapat diacungi jempol.

Karena kestabilan dan positifnya laporan keuangan yang dapat diprediksi oleh para analis, biasanya core stocks cenderung bergerak dengan tidak fluktuatif dan cenderung lebih stabil pula. Di saat yang sama, perusahaan-perusahaan sejenis seperti ini biasanya sudah matang, memiliki fondasi perusahaan yang sangat kuat, dan juga solid dalam segi menggapai profit dalam operasional perusahaan.

 

  1. Penggunaan Core Stocks Untuk Jangka Panjang

Core stocks biasanya digunakan sebagai pegangan portfolio dengan tujuan jangka panjang seperti untuk warisan, dana pensiun, dana pendidikan anak, dan sebagainya.

Oleh karena karakteristiknya yang stabil dan cenderung memiliki fondasi yang kuat itulah yang menjadi alasan core stocks lebih baik digunakan sebagai pegangan jangka panjang.

 

VALUE STOCKS

Baik, kita sudah cukup melakukan pembahasan mengenai apa itu core stocks. Lalu selanjutnya, Selanjutnya, kita akan bahas mengenai Value Stocks.  Apa yang dimaksud dengan value stocks?

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, value stocks adalah saham yang diperdagangkan di bursa tetapi harganya masih berada di bawah nilai intrinsiknya.

Berbeda dengan core stocks, value stocks tidak selalu merupakan perusahaan yang memiliki fondasi bisnis yang bagus, tetapi bisa juga dikarenakan memiliki prospek yang baik di masa depan.

Sedikit contoh gambaran tentang value stocks, saham-saham yang tergabung ke dalam sini dapat memiliki perbandingan rasio seperti P/E dan PBV yang – cenderung lebih murah – dibandingkan dengan saham-saham core stocks.

Salah satu value investor ternama di Indonesia – Pak Lo Kheng Hong – Warren Buffet-nya Indonesia, bahkan memberi tips untuk membeli saham-saham value stocks dengan ratio P/E di bawah 5x, dan rasio PBV di bawah 1x.

Untuk value stocks, investor membeli saham yang diperdagangkan di bawah nilai intrinsiknya dan menjual saham tersebut ketika harga saham tersebut telah mencapai nilai intrinsiknya ataupun lebih. Tergantung cara scaling out tiap-tiap investor.

 

Apakah Core Stocks dan Value Stocks Sebaiknya Digabung Ke Dalam Satu Portfolio?

Banyak pertanyaan yang muncul ke Penulis terkait menggabungkan core stocks dan value stocks – belum lagi ditambah jika sang investor tersebut memiliki akun khusus untuk trading.

Sebenarnya tidak ada rumus terbaik dalam menentukan bagaimana komposisi portfolio terbaik seorang investor. Tetapi, menurut penulis, sebaiknya dalam memanage portfolio seorang investor, harus didasarkan pada tujuan-tujuan dari investor itu sendiri. Itulah kenapa, Penulis lebih menyarankan untuk memisahkan antara core stocks dan value stocks ke dalam portfolio yang berbeda.

Mengapa demikian? Karena, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, core stocks dan value stocks memiliki karakteristik dan akan menghasilkan hasil yang berbeda pula. Core stocks untuk jangka panjang dan cenderung lebih stabil, sementara value stocks lebih untuk saham-saham yang berada di bawah intrinsic valuenya, dan akan dijual ketika sudah mencapai intrinsic valuenya. Jika kedua jenis saham ini dimasukkan ke dalam satu portfolio yang sama, maka dapat menghasilkan bias dalam keputusan investasi seorang investor.

 

Bagaimana Alokasi Dana Untuk Berinvestasi di Core Stocks maupun Value Stocks?

Banyak sekali cara-cara maupun metode mengalokasikan dana yang kita punya ke dalam portfolio investasi kita. Termasuk dalam berinvestasi saham di core stocks maupun value stocks.

Untuk pemula, Penulis menyarankan untuk berinvestasi di core stocks terlebih dahulu untuk membiasakan diri dengan fluktuasi yang terjadi di pasar. Metode yang dapat digunakan untuk berinvestasi di core stocks pun ada beragam. Salah satu yang dapat penulis sarankan adalah sebuah metode yang disebut dollar cost averaging (DCA).

Secara singkat, metode DCA adalah sebuah metode berinvestasi di mana seorang investor menginvestasikan dananya secara rutin setiap periode. 

Contohnya, Anda memiliki dana untuk diinvestasikan setiap bulannya sebesar Rp 5 juta. Nah, Rp 5 juta tadi diinvestasikan setiap awal bulan – misalnya – ke saham-saham yang termasuk ke dalam Core Stocks. Setiap bulan. Rutin.

Penulis sudah menyebutkan beberapa contoh core stocks di penjelasan di atas. Tetapi, untuk memudahkan, Anda bisa memulai dari melihat sekeliling Anda, produk dari perusahaan apa yang sering kita gunakan dalam kegiatan sehari-hari? Carilah perusahaan-perusahaan yang bahkan Anda sendiri tidak asing lagi mendengar perusahaan tersebut. Contohnya seperti PT Unilever Indonesia (UNVR), PT Telekomunikasi Indonesia (TLKM), PT Indofood Sukses Makmur (INDF), PT Bank Central Asia (BBCA), PT Bank Mandiri (BMRI), dan masih banyak lagi perusahaan-perusahaan sekaliber perusahaan-perusahaan tadi di Indonesia.

 

Seiring dengan bertambahnya jam terbang dan skill seorang investor, barulah bisa masuk ke value stocks dengan tujuan untuk percepatan pertumbuhan nilai aset. Dengan membeli saham-saham yang undervalue, hal ini dapat mempercepat pertumbuhan nilai aset kita.

Sejarah sudah membuktikan beberapa orang terkaya di dunia berinvestasi saham menggunakan metode ini. Atau istilah yang lebih dikenal masyarakat adalah dengan metode value investing. Orang terkaya ke-3 di dunia sekarang, Warren Buffett, berinvestasi menggunakan metode value investing dengan membeli saham-saham value stocks ke dalam portfolionya.

Memang dibutuhkan skill dan jam terbang yang tinggi untuk menerapkan metode ini. Tetapi sejarah telah membuktikan bahwa metode ini terbukti dapat dikatakan menjadi salah satu metode terefektif dalam berinvestasi saham.

Kesimpulan

Berinvestasi di saham sekarang bukan lagi hal yang sulit seperti zaman dulu. Semua bisa dilakukan melalui smartphone kita. Hanya saja, berinvestasi saham kerap dilakukan tanpa knowledge yang cukup oleh para investor. Sehingga, bukannya malah menghasilkan keuntungan bagi para investor, tetapi kerap malah buntung.

Salah satu knowledge yang sebaiknya diketahui oleh para investor adalah terkait apakah sebaiknya berinvestasi di core stocks atau value stocks. Core stocks adalah perusahaan-perusahaan yang memiliki fundamental dan kinerja yang baik – tetapi diperdagangkan di harga premium dan jarang sekali di harga murah. Sedangkan value stocks adalah saham perusahaan-perusahaan yang diperdagangkan  di bawah nilai intrinsiknya.

Memang tidak ada rumusan yang menyatakan mana yang lebih baik. Tetapi, seperti yang telah dijelaskan di atas, sebaiknya untuk investor pemula menggunakan metode DCA di core stocks. Seiring dengan bertambahnya jam terbang dan skill seorang investor, barulah mulai masuk ke dalam berinvestasi ke value stocks dengan menggunakan metode value investing.

 

###

 

Info:

  • Monthly Investing Plan November 2019 akan segera terbit. Anda dapat memperolehnya di sini.
  • Cheat Sheet LK Q3 2019 akan segera terbit, Anda dapat memperolehnya di sini.
  • E-Book Quarter Outlook LK Q3 2019 akan segera terbit. Anda dapat memperolehnya di sini.
  • Jadwal Workshop :
    • Workshop & Advance Value Investing (Medan, 02 – 03 November 2019) dapat dilihat di sini.
    • Workshop & Advance Value Investing (Jakarta, 23 – 24 November 2019) dapat dilihat di sini.

 

Tags : Core Stocks vs Value Stocks | Core Stocks vs Value Stocks | Core Stocks vs Value Stocks | Core Stocks vs Value Stocks | Core Stocks vs Value Stocks | Core Stocks vs Value Stocks | Core Stocks vs Value Stocks | Core Stocks vs Value Stocks | Core Stocks vs Value Stocks | Core Stocks vs Value Stocks | Core Stocks vs Value Stocks |

You may also like

6 Comments

  • Yepi Setiawan
    October 28, 2019 at 10:26 AM

    Ko Rivan sepertinya yang di contohkan DCA itu untuk core stock ya bukan value stock, mungkin ? Artikel nya menyebutkan 5jt tiap bulan di investasikan setiap awal bulan ke saham-saham value stock

    • Rivan Kurniawan
      October 28, 2019 at 8:21 PM

      Oya betul, maksudnya contoh DCA itu untuk core stocks. Terima kasih koreksinya, sudah diperbaiki yaa..

  • Anthony
    October 28, 2019 at 10:29 AM

    Artikel yang sangat bagus, memberikan gambaran kepada pemula di investasi saham agar dapat menentukan tujuan dari awal dan cara mengeksekusi tujuannya itu. Untuk pendaftaran kelas basic dan advanced di Medan untuk November 19 ini apakah sudah tutup? Terima Kasih

    • Rivan Kurniawan
      October 28, 2019 at 8:22 PM

      Terima kasih semoga bermanfaat..

      Untuk kelas basic dan advance Value Investing Medan masih buka tapi tinggal beberapa seat lagi… Bisa registrasi di bit.ly/WorkshopValueInvesting atau hub Farhan di 0896-3045-2810 yaa..

  • TJUNG TJAM SAN
    October 28, 2019 at 7:08 PM

    Ada sedikit kesalahan penulisan di artikel ko rivan. Utk beli saham rutin khusus pemula 5 juta/bln. Itu seharusnya core stock bukan value stock

    • Rivan Kurniawan
      October 28, 2019 at 8:22 PM

      ya betul, itu harusnya untuk core stocks bukan value stock. Sudah diperbaiki juga di artikel. Terima kasih koreksinya yaa..

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Rivan adalah seorang Indonesia Value Investor yang memulai investasi sejak tahun 2008 ketika berusia 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, Rivan berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Berbekal pengalamannya, Rivan saat ini menjalani profesi sebagai Full Time Investor sekaligus praktisi di pasar modal. Saat ini, Rivan aktif mengadakan workshop dan pelatihan kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko di pasar saham.

Like Us On Facebook

Facebook Pagelike Widget

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Categories

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami