Metode Beli Saham: Lebih Untung, Beli Saham Sekaligus atau Berkala ?


Ada banyak sekali metode dalam pengalokasian dana atau yang biasa kita kenal dengan money management. Begitu juga dengan berinvestasi saham, ada banyak cara dalam mengalokasikan dana dalam investasi saham untuk portfolio kita. Sehingga jika Anda ingin berinvestasi, Anda akan dihadapkan pada pilihan untuk beli saham secara sekaligus atau secara berkala? Kira-kira apakah Anda juga sudah tahu mengenai perbedaannya apa dan juga lebih menguntungkan yang mana?

 

Artikel ini dipersembahkan oleh:

Pandai Memulai Saham

Tidak semua orang pandai dalam membeli saham, tak sedikit juga investor yang harus menerima kerugian karena tidak tepat dalam membeli sebuah saham. Hal ini dapat terjadi karena investor telah terjebak dengan iming-iming imbal hasil yang tinggi dalam waktu yang singkat. Saham sendiri menjadi incaran demi mewujudkan impian atau keinginan untuk diri sendiri ataupun keluarga, maka dari itu seseorang membutuhkan perencanaan keuangan yang matang.

Salah satunya adalah instrumen investasi yang dapat digunakan untuk mewujudkan rencana tersebut secara jangka panjang. Awalnya, saham merupakan aset keuangan yang berbasis kertas (paper based asset), namun saat ini sudah berubah menjadi instrumen keuangan yang berbasis elektronik. Selain saham, yang beralih dari kertas menjadi elektronik adalah reksa dana, ETF (reksa dana yang bisa diperdagangkan di bursa), obligasi, waran, HMETD dan beberapa efek lainnya. Kenapa saham dapat dikatakan salah satu instrumen investasi jangka panjang? Hal ini karena saham dapat dengan mudah dipindahtangankan dengan potensi keuntungan atau imbal hasil yang tergolong tinggi.

Dalam berinvestasi saham, hal yang harus dipertimbangkan juga adalah faktor kemungkinan kerugian atau risiko. Penulis sempat menulis artikel terkait menghindari dan menurunkan kerugian di artikel berikut ini :

[ Baca lagi : Menghindari dan Menurunkan Kerugian dalam Berinvestasi ]

 

Metode dalam Beli Saham Secara Sekaligus dan Berkala

Ada dua metode yang bisa dilakukan dalam berinvestasi yaitu dengan cara menyetor sekaligus (lump sum) atau dicicil secara berkala (Dollar Cost Averaging). Sebelum memilih, yuk ketahui dulu dari kedua metode tersebut.

#1 Metode Lump Sum

Investasi lump sum adalah menyetor sejumlah dana besar di awal investasi dan membiarkan uang investasi tersebut bergerak naik turun mengikuti perkembangan pasar, tanpa melakukan tambahan investasi (top up) sampai investor memutuskan untuk mencairkannya.

Membeli saham secara sekaligus ini sangat bagus jika digunakan bagi investor yang mahir berinvestasi saham, dengan memahami kondisi situasi pasar dan mengetahui pergerakan harga, metode ini sangat menguntungkan. Tetapi metode membeli saham secara sekaligus ini kurang cocok jika digunakan di tengah pasar yang cenderung berfluktuasi, seperti contoh ilustrasi di bawah ini:

Seseorang investor bernama Thomas membeli saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) di harga Rp5.000/saham sebanyak 50 lot (5.000 unit saham) dengan dikenakan fee beli 0,15%.  Sehingga uang yang dibutuhkan untuk membeli saham tersebut senilai Rp25.037.500, hasil dari: Rp5.000 x 5.000 x 100 unit saham, ditambah biaya 0,15%. Seiring waktu berjalan, saham tersebut ternyata mengalami penurunan karena banyak dijual pelaku pasar karena kondisi ekonomi kedepannya dirasa kurang baik. Setelah 3 bulan harganya turun menjadi Rp4.500/saham.

Lalu 5 bulan kemudian, harganya kembali naik menuju harga awalnya di level Rp5.000/saham. Dengan begitu, dapat dikatakan Thomas tidak memperoleh keuntungan apa-apa karena harganya berfluktuasi selama periode tersebut. Bahkan Thomas mengalami kerugian atas investasinya karena dibebankan biaya pembelian atau fee 0,15%.

 

#2 Metode Dollar Cost Averaging/DCA

Investasi berkala yang dikenal sebagai Dollar Cost Averaging (DCA), pemodal dapat membeli produk investasi secara teratur atau berkala dengan nominal investasi yang biasanya tetap pada setiap periode pembelian, serta tanpa melihat kondisi pasar.  Metode ini sangat baik untuk mengurangi fluktuasi harga sebuah saham dalam memaksimalkan keuntungan dari Investasi saham. Yuk simak ilustrasinya di bawah ini:

Thomas selalu menyisihkan gajinya sebesar Rp1.000.000/bulan untuk membeli saham BBRI, yang awalnya berada di harga Rp5.000/saham. Ternyata saham tersebut mengalami penurunan seiring berjalannya waktu, karena faktor dalam negeri dan kondisi global yang kurang kondusif. Di bulan kedua, harga sahamnya turun menjadi Rp4.750/unit. Thomas kembali membeli saham tersebut dengan jumlah yang sama yaitu Rp1.000.000.

 

Pada bulan ketiga harga sahamnya masih mengalami penurunan, kali ini berada pada level Rp 4.500/unit dan Thomas pun kembali membeli saham BBRI tersebut senilai Rp1.000.000. Bulan keempat harga sahamnya mengalami kenaikan menjadi Rp4.750/unit. Thomas kembali membeli saham itu dengan uang Rp 1.000.000. Sehingga dalam lima bulan itu, jika dirata-ratakan harga sahamnya menjadi Rp 4.807/unit (5.000+4.750+4.500+4.750+5.000:5), Thomas mendapat keuntungan sebesar 3,85% yang setara dengan Rp 192.500.

Nah sudah tahu kan bagaimana perbedaan dari metode lump sum dan metode DCA ? Lantas, setelah membaca artikel di atas Anda akan memilih metode Beli Saham secara Sekaligus atau Berkala?

 

Sumber Referensi:

  • Nisrina Mustika, S.I.Kom. 16 Agustus 2019. Lebih Untung yang Mana, Beli Saham Sekaligus atau Berkala?.¬†https://www.finansialku.com/beli-saham-sekaligus-atau-berkala/

 

###

 

Info:

  • Monthly Investing Plan November 2019 akan segera terbit. Anda dapat memperolehnya di¬†sini.
  • Cheat Sheet LK Q3 2019¬†akan segera terbit, Anda dapat memperolehnya di¬†sini.
  • E-Book Quarter Outlook LK Q3 2019¬†akan segera terbit. Anda dapat memperolehnya di¬†sini.
  • Jadwal¬†Workshop :
    • Workshop & Advance Value Investing (Medan, 02 – 03 November 2019)¬†dapat dilihat di sini.
    • Workshop & Advance Value Investing (Jakarta, 23 – 24 November 2019)¬†dapat dilihat di sini.

 

Tags : Metode Beli Saham | Metode Beli Saham | Metode Beli Saham | Metode Beli Saham | Metode Beli Saham | Metode Beli Saham | Metode Beli Saham | Metode Beli Saham | Metode Beli Saham | Metode Beli Saham | Metode Beli Saham | Metode Beli Saham | Metode Beli Saham | Metode Beli Saham | Metode Beli Saham | 

You may also like

1 Comment

  • Lukman
    October 25, 2019 at 4:11 PM

    tentu yang berkala, agar bisa mendapatkan profit.
    tapi aku mau tanya, yang DCA kenapa tidak kena fee transaksi ya min?

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Rivan adalah seorang Indonesia Value Investor yang memulai investasi sejak tahun 2008 ketika berusia 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, Rivan berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Berbekal pengalamannya, Rivan saat ini menjalani profesi sebagai Full Time Investor sekaligus praktisi di pasar modal. Saat ini, Rivan aktif mengadakan workshop dan pelatihan kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko di pasar saham.

Like Us On Facebook

Facebook Pagelike Widget

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Categories

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami