Karyawan tinggal 6 orang, bagaimana nasib BTEL saat ini?


Masih ingat dengan BTEL ? PT Bakrie Telecom (BTEL) baru saja merilis laporan keuangan semester I-2019. Dalam laporan keuangan semester I-2019 yang baru dirilis ini, BTEL kembali merugi Rp 91.7 miliar. Ini artinya sejak 2011 – 2019, BTEL selalu merugi dan tidak pernah mencatatkan keuntungan. Padahal 10 tahun lalu, BTEL memiliki “pelanggan fanatik” dengan kartu Esia nya. Bagaimana nasib BTEL saat ini?

 

Company Profile

Didirikan pada tahun 1993 dengan nama PT Radio Telepon Indonesia, PT Bakrie Telecom (BTEL) adalah sebuah perusahaan yang bergerak sebagai penyedia jasa wireless telecommunications network. Beberapa produk dan jasa dari BTEL yang mungkin Anda semua kenal adalah seperti Esia, Wifone, EsialTel, dan Wimode. BTEL memiliki wilayah operasional meliputi Jakarta, beberapa wilayah di Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan.

Source: http://staging.stptower.net/id/

 

Salah satu emiten yang tergabung dalam Bakrie Group ini mulai menjalankan bisnis melalui layanan FWA (Fixed Wireless Access) sejak 1993. Kemudian, sejak than 2003, BTEL mengimplementasikan teknologi CDMA dan EVDO Rev-A, menyediakan layanan FWA lagi dengan merek “Esia” dan juga berekspansi menyediakan layanan BWA (Broadband Wireless Access) dengan merek “Esia Max-D”.

Pada tahun 2018, BTEL melalui anak usahanya fokus untuk melayani pelanggan korporat dan pelanggan yang berada di high rise building, serta juga mulai untuk memperkenalkan produk untuk UKM dan residensial dengan merek “Prima King”. Disebutkan dalam Public Expose, mereka melakukan “transformasi bisnis”

 

Apa Kabar BTEL Saat ini ?

Mungkin sebagian dari Anda terutama yang sudah mulai masuk ke pasar modal sejak 2008, masih ingat dengan sepak terjang BTEL, yang dulu juga dikenal sebagai bagian dari Bakrie 7 (Atau biasa disingkat B7 bersama dengan BUMI, BNBR, DEWA, ENRG, ELTY, dan UNSP).

Utang BTEL yang menggunung membuat kinerja BTEL terus merugi. Bukan hanya merugi, BTEL bahkan harus mencatatkan defisiensi modal. Sebagai gambaran di 2011 ekuitas BTEL masih sebesar Rp 4.3 triliun, namun sejak 2013 BTEL mencatatkan defisiensi modal sebesar Rp 1.0 triliun. Defisiensi modal ini terus membesar karena BTEL juga tak kunjung mencatatkan profit. Bahkan di Kuartal II 2019 ini, defisiensi modal BTEL tercatat mencapai Rp 15.4 triliun.

Defisiensi Modal BTEL sejak 2013. Source : LK BTEL diolah dalam Cheat Sheet

[Klik untuk Berlangganan Cheat Sheet]

 

Apa itu defisiensi modal ? Gampangnya kalau Anda buka usaha kedai warung kopi dengan modal Rp 100 juta, dan ternyata let say dalam 5 tahun beroperasi Anda malah merugi Rp 200 juta, maka Anda mengalami defisiensi modal Rp 100 juta.

Demikian pula dengan Pendapatan BTEL yang mulai berhenti beroperasi sejak tiga tahun terakhir membuat Pendapatan BTEL menurun signifikan. Per tahun 2019 ini, pendapatan BTEL hanya mencapai Rp 9 miliar. Padahal Anda tahu berapa pendapatan BTEL di 2011 silam ? Rp 3.2 triliun ! Anda bisa bayangkan bahwa BTEL yang dulu sempat digadang-gadang menjadi pemain utama di segmen CDMA, ternyata sekarang nasibnya semakin tidak jelas.

Revenue BTEL 2011 – 2019. Source : LK BTEL diolah dalam Cheat Sheet

[Klik untuk Berlangganan Cheat Sheet]

 

Penurunan pendapatan BTEL secara signifikan sebenarnya bukan suatu hal yang mengherankan. Namun salah satu bagian yang mengundang perhatian Penulis adalah di bagian beban karyawan. Beban karyawan BTEL di semester I-2019 tercatat sebesar IDR 4,12 miliar, mengalami peningkatan sebesar 114,61% dari beban karyawan pada semester I-2018 kemarin yang hanya sebesar IDR 1,9 miliar.

Padahal, jika kita lihat catatan kaki bagian 1G, tercatat bahwa BTEL hanya memiliki 6 karyawan. Kalau kita hitung secara bodoh, maka setiap karyawan BTEL mendapatkan upah bulanan sebesar Rp 4.12 miliar / 6 karyawan / 6 bulan = Rp 114.6 juta ! Angka yang cukup fenomenal. Perlu dicatat bahwa karyawan yang dimaksud di sini bukan Dewan Komisaris dan Dewan Direksi loh. Well, angka ini muncul dan terdapat tulisan “tidak diaudit” juga sih..

 

 

BTEL juga masih menyisakan hutang yang sangat besar. Total liabilitas BTEL masih tercatat Rp 16.1 triliun baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka Panjang, termasuk utang wesel Rp 5.4 triliun. Jumlah hutang ini belum termasuk beban bunga, di mana BTEL mencatatkan beban bunga sebesar IDR 217.2 miliar hingga semester I 2019 ini, naik lebih dari 100% juga dari semester I-2018 yang “hanya” sebesar IDR 106.9 miliar.

Harga sahamnya ? Jangan ditanya. Kalau dulu di 2011 an harga saham BTEL sempat mencapai Rp 260 di akhir 2011, harga sahamnya terus turun ke titik terendah 50 dan masih tidur Panjang hingga saat ini.

Harga saham BTEL. Source investing.com

 

 

Spekulasi Rugi Bersih BTEL Menurun ?

Perhitungan sampai bottom line pun dihasilkan dengan BTEL mencatatkan rugi bersih sebesar IDR 91,75 miliar pada semester I-2019 ini. Meskipun terlihat telah cukup membaik dari rugi bersih periode sebelumnya pada semester I-2018, tetapi yang berkontribusi terhadap penurunan rugi ini adalah selisih bersih kurs mata uang.

Pada semester I-2018, BTEL mengalami “kerugian” yang sangat besar karena pada pos selisih kurs ini BTEL mencatatkan kerugian sebesar IDR 431,89 miliar. Angka yang sangat besar sekali. Nah, pada tahun ini, angka tersebut justru berbalik positif dari yang dulunya sempat defisit sangat dalam, malah menjadi surplus. Tercatat, “laba” yang didapat melalui selisih kurs ini menjadi surplus IDR 131,46 miliar.

Pendapatan (beban) lain-lain. Source: Lapkeu BTEL Semester I-2019

               

Tapi, yang perlu diperhatikan adalah, perbaikan menjadi hasil akhir rugi bersih tadi bukan merupakan hasil dari operasional perusahaan, melainkan dari faktor external. Jadi, jika, sutu waktu BTEL mencatatkan kenaikan laba / penurunan kerugian, bukan berarti semata-mata kita dapat berasumsi bahwa kinerja BTEL telah membaik. Tidak. Kebetulan saja nilai kurs sedang memberi angina segar kepada “laporan” BTEL. Hmm.. meskipun kali ini selisih kurs sangat menguntungkan BTEL, tetapi masih saja tercatat rugi yang cukup dalam..

 

Huawei membeli (menambah) saham BTEL?

Manajemen BTEL mengungkapkan bahwa PT Huawei Tech Investment ke depannya akan menjadi pemegang saham terbesar perusahaan – setelah semua urusan termasuk restrukturisasi perusahaan dan juga konversi obligasi wajib konversi (OWK) yang akan segera dirampungkan terlebih dahulu – selesai.

Huawei memang sudah menjadi pemegang saham BTEL melaui skema OWK juga pada tahun 2017 silam. Per Maret 2019, tercatat Huawei memiliki share sebesar 16,83% di BTEL. Sedangkan, saham BTEL dimiliki oleh mayoritas adalah milik masyarakat / public sebesar 57,96%.

BTEL sedang menunggu proses restrukturisasi utang perusahaan melalui PKPU (Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang) di Amerika Serikat yang dikenal sebagai chapter 15. Melalui PKPU, utang perusahaan nantinya akan dieslesaikan melalui porsi tunai dan surat-surat berharga ekuitas – dalam kasus ini Obligasi Wajib Konversi (OWK). Jadi, dengan kredit memiliki OWK, nantinya kreditur dapat mengkonversikan OWK ini menjadi saham BTEL. Masa konversi OWK ini pun sampai 2024.

Source: http://cdc.ittelkom-pwt.ac.id/pt-huawei-tech-investment-full-time/

 

Huawei telah mengkonversi OWK-nya ke dalam 6,18 miliar lembar saham senilai IDR 1,23 triliun pada tahun 2017 silam – yang menyebabkan Huawei sekarang memiliki porsi saham BTEL sebesar 16,83%.

Jika seluruh kreditur mengkonversikan OWK mereka semua menjadi saham BTEL, ada kemungkinan Huawei menjadi pemegang saham terbesar di BTEL. Well, kita tunggu saja tanggal mainnya dan hasil pengumumannya.

 

Bisnis BTEL ke depannya

Sejak 2018, BTEL mengklaim telah melakukan “transformasi bisnis” sebagai penyedia layanan telekomunikasi untuk pelanggan korporat, UKM dan residensial. Pelanggan korporat yang diincar pun cukup spesific, yakni pelanggan yang berlokasi di high rise building ataupun pada bangunan tingkat tinggi. BTEL meningkatkan layanan solusi komunikasi bagi perkantoran di lokasi tersebut.

Source: Public Expose BTEL

Di luar bisnis tersebut, BTEL telah menyiapkan organisasi dalam rangka transformasi. Beberapa operasional BTEL yang sedang berjalan adalah di bagian penyedia jasa layanan komunikasi, dan juga contact center. Bisnis BTEL berencana untuk dikembangkan menjadi divisi infrastruktur media yang akan running untuk masuk ke pasar digital TV.

Persiapan transformasi bisnis BTEL. Source: Public Expose BTEL

 

Kesimpulan

BTEL merupakan salah satu perusahaan dari Bakrie Group. Penurunan kinerja dan hutang yang melilit membuat BTEL harus terus mencatatkan kerugian. Bahkan sejak 3 tahun terakhir, BTEL harus mulai menghentikan operasional nya dan hanya menyisakan 6 karyawan. Harga saham BTEL yang cukup lama berada di harga terendah Bursa, yaitu IDR 50 / lembar.

Penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa kondisi perusahaan BTEL adalah tidak sehat. Baik dari segi bisnis, dan juga dengan kondisi keuangannya. Hal ini dapat dilihat salah satunya adalah dari perbandingan yang paling sederhana antara total asset dan total utang, BTEL hanya memiliki aset sekitar IDR 700 miliar, sementara utang BTEL mencapai kurang lebih IDR 16 triliun. Ekuitas nya ? Negatif 15.4 triliun (defisiensi modal). Hal inilah yang disinyalir berbahaya bagi Penulis untuk berinvestasi di BTEL .

Meskipun mendapatkan angin segar dan sedang melakukan restrukturisasi utang, kondisi keuangan BTEL yang sebelumnya juga akan terbawa. Oleh karena itu, meskipun terdapat rumor yang mengatakan bahwa Huawei akan masuk ke BTEL, Penulis tidak terlalu menaruh harapan yang terlalu tinggi karena telah mengetahui kondisi “kesehatan” perusahaan BTEL seperti apa.

Pak, iseng banget sih nulis tentang BTEL ? Iyaa untuk membalikkan nostalgia investor angkatan 2008 an yang dulu demen banget bolak balik trading di BTEL dan B7 lainnya. Kamu juga ?

 

###

 

Info:

  • Monthly Investing Plan Oktober 2019 akan segera terbit. Anda dapat memperolehnya di sini.
  • Cheat Sheet LK Q2 2019 sudah terbit, Anda dapat memperolehnya di sini.
  • E-Book Quarter Outlook LK Q2 2019 sudah terbit. Anda dapat memperolehnya di sini.
  • Jadwal Workshop :
    • Workshop & Advance Value Investing (Bali, 12 -13 Oktober 2019) dapat dilihat di sini.
    • Workshop & Advance Value Investing (Medan, 02 – 03 November 2019) dapat dilihat di sini.
    • Workshop & Advance Value Investing (Jakarta, 23 – 24 November 2019) dapat dilihat di sini.

 

You may also like

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Rivan adalah seorang Indonesia Value Investor yang memulai investasi sejak tahun 2008 ketika berusia 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, Rivan berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Berbekal pengalamannya, Rivan saat ini menjalani profesi sebagai Full Time Investor sekaligus praktisi di pasar modal. Saat ini, Rivan aktif mengadakan workshop dan pelatihan kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko di pasar saham.

Like Us On Facebook

Facebook Pagelike Widget

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami