Boris Jonhson dan No Deal Brexit

Apa Saja Yang Perlu Anda Ketahui tentang, Boris Johnson dan No-Deal Brexit ?


Inggris merupakan negara dengan GDP terbesar ke-6 di dunia, dan tertinggi ke-2 di Eropa setelah Jerman. Berlokasi di Benua Eropa, Inggris tergabung ke dalam organisasi antar pemerintahan dan supranasional yang beranggotakan negara-negara di Eropa – Uni Eropa. Inggris merupakan negara yang berbentuk Monarki, artinya segala urusan pemerintahan diurus oleh Perdana Menteri, tetapi yang menjadi symbol negara Inggris adalah sang Ratu Elizabeth II.

Per tanggal 23 Juli 2019, Inggris mengangkat Perdana Menteri baru – Boris Johnson – untuk menggantikan Perdana Menteri lama yang mengundurkan diri karena merasa tidak sanggup menyelesaikan isu Brexit – Theresa May.  Selama 6 minggu terakhir ini, Boris Johnson menggunakan metode-metode yang cukup… ekstrim, mungkin? Dalam menyelesaikan misinya untuk melakukan Brexit, baik itu deal / no deal.

Johnson sendiri memberikan deadline tanggal di mana Inggris akan keluar dari Uni Eropa – baik dengan kesepakatan ataupun tanpa kesepakatan – paling lambat tanggal 31 Oktober 2019. Artinya, masih ada kurang lebih 2 bulan lagi sebelum pengumuman final disebutkan sesuai dengan kata-kata Boris Johnson menjadi kenyataan.

Source: https://www.politicshome.com/news/uk/political-parties/news/106337/opposition-parties-agree-block-boris-johnsons-second-bid-force

 

Pertanyaannya, apa dampaknya terhadap Indonesia jika terjadi no-deal brexit ? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, izinkan penulis untuk membahas sedikit terkait latar belakang mengapa Inggris ingin keluar dari Uni Eropa. Check it out.

 

British Exit

Inggris menggelar sebuah referendum – semacam poling di mana semua warga negara yang usianya mencukupi boleh memberikan suara – pada tanggal 23 Juni 2016. Referendum ini membahas terkait keberlangsungan keterkaitan Inggris dengan Uni Eropa. Dari kegiatan referendum ini pemilih diberikan dua pilihan; tetap bersama UE (remain) atau meninggalkan UE (leave).

Source: https://www.hitbrother.com/brexit-british-exit-article-50-theresa-may-donald-tusk/

 

Hasilnya?

51,9% suara memberikan hasil untuk leave sedangkan sisanya 48,1% memilih untuk remain. Sebagai informasi, referendum ini diikuti oleh 71,8% warga usia pemilih, atau setara dengan lebih dari 30 juta orang di UK.

Jadi, sebenarnya sejak awal Inggris telah berencana melakukan Brexit dari 2016 tetapi terhambat banyak sekali halangan. Beberapa di antaranya antara lain penyesuaian kesepakatan jika Inggris ingin keluar dari Uni Eropa – seperti besaran dana yang harus dibayar sekitar £39 miliar atau setara dengan IDR 707 triliun.

Di luar itu, sudah ada kesepakatan juga tentang apa yang akan terjadi pada warga negara UE yang tinggal di Inggris, atau warga Inggris yang tinggal di UK. Ada juga periode transisi – yang akan memberikan kesempatan kepada kedua pihak agar tidak terjadi gangguan terhadap sektor usaha dan perdagangan baik di skala antar pihak maupun di level international.

Nah, masalahnya.. kesepatakan ini adalah sebuah deklarasi politik. Deklarasi politik artinya isinya nanti bisa berubah berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak, meskipun sudah ada syarat-syarat tentang dasar perundingan di masa depan. Hal inilah yang sedang terjadi di era Boris Johnson, di mana hasil dari referendum 2016 sudah mengarahkan Inggris untuk keluar dari UE, tetapi sampai sekarang juga masih belum juga terlaksana. Perdana menteri sebelum Johnson – Theresa May –  yang mengurusi Brexit juga mengundurkan diri dari posisinya karena merasa gagal merealisasikan Brexit ini.

Ketika Theresa May menjabat, May beberapa kali melakukan pemungutan suara di antara para anggota parlermen untuk menentukan apakah para anggota parlemen mendukung usulan hasil kesepatakan PM May untuk meninggalkan Uni Eropa atau British Exit. Hasilnya adalah semuanya ditolak oleh para anggota parlemen. Yang paling anyar adalah pemungutan suara terakhir ketika para anggota parlemen menolak dengan suara meyakinkan dengan perbandingan 432 anggota parlemen menolak Brexit, sedangkan 202 anggota parlement setuju untuk melakukan Brexit – berdasarkan kesepakatan oleh PM Theresa May dan Uni Eropa.

May akhirnya mundur dari jabatan Perdana Menteri dan digantikan oleh Boris Johnson – yang bertekad untuk menyelesaikan masalah Brexit ini paling lama pada 31 Oktober 2019, baik dengan maupun tanpa kesepakatan. Pertanyaan yang muncul adalah, bila Inggris keluar dari Uni Eropa, bagaimana dengan ketahanan perekonomiannya?

 

Sekilas tentang perekonomian Inggris

Pertumbuhan GDP tahunan Inggris. Source: tradingeconomics.com

 

Inggris merupakan negara dengan perekonomian terkuat ke-5 di dunia dan terkuat ke -2 di Eropa setelah Jerman. Tercatat pertumbuhan GDP tahunan Inggris mengalami perlambatan pada Q2 2019 kemarin menjadi 1,2% YoY dari yang sebelumnya mencapai 1,8% YoY. Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, pencapaian 1,2% YoY ini juga melambat jika dibandingkan dengan pencapaian 1,4% YoY di Q2 2018.

Sekilas GDP Inggris secara tahunan masih bertumbuh secara positif, tetapi menunjukkan tren perlambatan yang cukup signifikan jika kita lihat secara historikal. Sentimen external seperti perang dagang antara Cina-Amerika, juga menjadi pemicu perlambatan ekonomi Inggris. Belum lagi efek domino dari perang-dagang tersebut yang memicu kekhawatiran perlambatan ekonomi dunia. Oh ya, Penulis sempat membahas artikel tentang perang dagang sebelumnya. Anda dapat mengaksesnya melalui link di bawah ini:

 

 

Baik, di luar pertumbuhan GDP tahunan Inggris yang masih mengalami peningkatan, mari kita lihat data historikal pertumbuhan GDP secara kuartalan (QoQ).

               Pertumbunan GDP Kuartalan Inggris. Source: tradingeconomics.com

 

Dapat terlihat, pertumbuhan GDP Inggris di 2Q 2019 tidak bertumbuh, melainkan justru negatif sebesar -0,2% QoQ. Rilis data pertumbuhan GDP Kuartalan Inggris yang hasilnya negatif ini merupakan yang pertama kali sejak 4Q 2012. Setelah 7 tahun Inggris mencatatkan pertumbuhan GDP yang selalu positif, data yang terbaru malah mencatatkan pertumbuhan yang negatif. Hal ini mengkhawatirkan karena menunjukkan untuk pertama kalinya, pertumbuhan ekonomi yang negatif.

Eropa merupakan target export terbesar dan terpenting yang dimiliki oleh Inggris. Di saat yang sama, arus investasi asing di Inggris juga bersumber dari Eropa. Jika terjadi Brexit – baik melalui kesepakatan maupun tanpa kesepakatan – dikhawatirkan dapat membuat perekonomian Inggris yang sudah melemah saat ini justru menjadi lebih lemah lagi ke depannya.

 

Dampak Brexit terhadap Kondisi Perekonomian di Indonesia

Untuk sekarang, sebenarnya Inggris bukan menjadi salah satu mitra dagang utama Indonesia.

Nilai ekspor non-migas Indonesia menurut negara tujuan. Source: bps.go.id

 

Berdasarkan data dari bps.go.id, 3 negara terbesar mitra dagang Indonesia di Uni Eropa adalah Jerman, Belanda, dan Italia. Nah, pertanyaannya bila Inggris memang bukan mitra dagang utama Indonesia, apa dampak dari Brexit terhadap perekonomian Indonesia?

Menurut pandangan Penulis, secara tidak langsung Brexit tidak memberikan dampak negatif yang signifikan terhadap Indonesia. Bahkan, jika pemerintah dapat mengambil peluang, Brexit justru dapat berdampak positif terhadap perekonomian Indonesia.

Hal ini dikarenakan Indonesia dapat mengambil kesempatan ini untuk memacu ekspor ke Inggris lebih banyak lagi, dikarenakan Inggris – jika keluar dari Uni Eropa – dapat memicu sengketa dagang dengan negara-negara di Uni Eropa. Per tahun 2018, tercatat Indonesia mencatatkan surplus perdagangan sebesar USD 252 juta. Di mana nilai ini dapat memberikan hasil yang positif terhadap indikator ekonomi Indonesia seperti trade balance dan current account.

 

Kesimpulan

Brexit memang memicu ketegangan global, di tengah panas-panasnya isu perang dagang antara Amerika Serikat – China. Meskipun sudah diwacanakan sejak 2016, masih belum juga titik jalan keluar dari Brexit. Boris Johnson selaku Perdana Menteri Inggris pun sudah bertekad untuk mengeluarkan Inggris dari Uni Eropa, baik dengan maupun tanpa kesepakatan.

Dilihat dari kasat mata, untuk sekarang, sebenarnya dampak Brexit terhadap Indonesia secara langsung adalah relatif kecil. Mengingat Inggris bukanlah mitra dagang terbesar Indonesia di Uni Eropa, melainkan Jerman, Belanda, dan Italia. Namun, kita tetap harus mewaspadai dampak yang akan dirasakan Indonesia secara tidak langsung. Bila Brexit terjadi, ada kemungkinan akan terjadi perlambatan ekonomi di Uni Eropa yang menyebabkan permintaan dari Uni Eropa juga menurun. Jika ini yang terjadi, maka hal inilah yang akan berdampak ke Indonesia.

Sebaliknya, Brexit pun dapat berdampak positif ke Indonesia jika dimanfaatkan dengan baik. Dimaanfaatkan dengan baik artinya, Indonesia dapat memaksimalkan peluang tersebut untuk memperluas nilai ekspor Indonesia ke Inggris, yang akan memperkuat perekonomian Indonesia ke depannya.

 

###

 

Info:

  • Monthly Investing Plan September 2019 sudah terbit. Anda dapat memperolehnya di sini.
  • Cheat Sheet LK Q2 2019 sudah terbit, Anda dapat memperolehnya di sini.
  • E-Book Quarter Outlook LK Q2 2019 sudah terbit. Anda dapat memperolehnya di sini.
  • Jadwal Workshop :
    • Workshop & Advance Value Investing (Bali, 12 -13 Oktober 2019) dapat dilihat di sini.
    • Workshop & Advance Value Investing (Medan, 02 – 03 November 2019) dapat dilihat di sini.
    • Workshop & Advance Value Investing (Jakarta, 23 – 24 November 2019) dapat dilihat di sini.

 

 

Tags : Boris Jonhson dan No Deal Brexit | Boris Jonhson dan No Deal Brexit | Boris Jonhson dan No Deal Brexit | Boris Jonhson dan No Deal Brexit | Boris Jonhson dan No Deal Brexit | Boris Jonhson dan No Deal Brexit | Boris Jonhson dan No Deal Brexit | Boris Jonhson dan No Deal Brexit | Boris Jonhson dan No Deal Brexit

You may also like

1 Comment

  • Alex
    September 17, 2019 at 4:48 PM

    Mau revisi kalimat nih :

    Di luar itu, sudah ada kesepakatan juga tentang apa yang akan terjadi pada warga negara UE yang tinggal di Inggris, atau warga Inggris yang tinggal di “UK”

    Yang saya kasih tanda petik seharusnya “UE” pak 🙂

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Rivan adalah seorang Indonesia Value Investor yang memulai investasi sejak tahun 2008 ketika berusia 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, Rivan berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Berbekal pengalamannya, Rivan saat ini menjalani profesi sebagai Full Time Investor sekaligus praktisi di pasar modal. Saat ini, Rivan aktif mengadakan workshop dan pelatihan kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko di pasar saham.

Like Us On Facebook

Facebook Pagelike Widget

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami