Direktur Jual Rugi Saham WSBP, Investor Retail Perlu Cut Loss juga ?


Harga saham WSBP saat ini sedang dalam trend bearish, padahal tiga tahun lalu harga saham WSBP tersebut sempat berada di posisi 630-an setelah IPO, dan kini harga saham WSBP justru harus turun hingga berada di titik terendahnya yakni di kisaran 330-an per September 2019. Artinya harga saham WSBP tersebut sudah mengalami penurunan hingga sebesar hampir 50%. Anjloknya harga saham WSBP itu diperburuk dengan adanya berita transaksi jual rugi saham yang dilakukan oleh Direktur WSBP. Seperti apa kronologi sebenarnya ? Dan bagaimana kinerja WSBP sendiri saat ini?

 

Sekilas Tentang WSBP

Berawal dari PT Waskita Karya (Persero) Tbk yang resmi mengoperasikan Divisi Precast pada tahun 2013, yang berfokus pada produksi Beton Precast dan Ready Mix untuk memenuhi kebutuhan produk beton Grup Waskita. Dan di tahun 2014, akhirnya PT Waskita Karya (Persero) Tbk mengambil kebijakan spin off Divisi Precast menjadi entitas usaha mandiri berbentuk Perseroan Terbatas. Melalui cara spin off tersebut, akhirnya terbentuklah perusahaan dengan nama PT Waskita Beton Precast yang secara resmi berdiri pada Oktober 2014. Selang dua tahun dari berdirinya, PT Waskita Beton Precast melakukan Penawaran Umum Perdana Saham pada September 2016. Dengan adanya Penawaran Umum Perdana Saham tersebut, WSBP resmi memperdagangkan 40% sahamnya di BEI. Adapun untuk kepemilikan saham terbesar dipegang oleh PT Waskita Karya (Persero) Tbk, yang merupakan perusahaan konstruksi BUMN terkemuka.

 

Source : Annual Report WSBP Tahun 2008

 

Bersamaan dengan proses IPO saat itu, PT Waskita Beton Precast secara otomatis juga telah menjadi Perusahaan Terbuka (Tbk)…

Source : Annual Report WSBP Tahun 2018

 

WSBP sendiri merupakan perusahaan yang bergerak dalam industri manufaktur Beton Precast dan Ready Mix. Sedangkan dalam menjalankan operasional usahanya, WSBP membagi segmen usahanya menjadi tiga bagian yakni : Beton Precast, Beton Ready Mix, dan Jasa Konstruksi yang meliputi kegiatan engineering, instalasi, jasa pemancang, konstruksi, dan jasa post tensioning.

Jika diatas tadi Penulis menyebutkan PT Waskita Karya (Persero) Tbk, atau yang dikenal dengan kode perdagangan saham WSKT merupakan entitas induk perusahaan dari WSBP. Dan hingga kini WSBP sudah menangani berbagai proyek baik dari pemerintah maupun swasta.

Dari uraian kilasan tentang WSBP diatas, nampaknya kinerja managemen dan operasionalnya cukup menarik. Apalagi WSBP ini menjadi perusahaan yang produknya melengkapi kebutuhan konstruksi yang belakangan ini sedang masif dikerjakan oleh pemerintah. Sayangnya ditengah-tengah kondisi tersebut, WSBP justru harus mengalami penurunan pada performa sahamnya. Ditambah lagi, Direktur WSBP baru saja melakukan jual rugi saham WSBP. Lantas bagaimana kronologinya ?

 

Direktur Jual Rugi Saham WSBP

Antonius Yulianto Tyas Nugroho selaku Direktur WSBP baru saja melakukan penjualan saham WSBP. Direktur WSBP tersebut terus menjual saham WSBP sampai hampir habis. Tidak hanya itu, hal lain yang cukup mengejutkan pelaku pasar adalah aksi jual saham WSBP yang dilakukan di harga yang lebih rendah dibandingkan dengan harga pembeliannya. Atau kita sebut saja sebagai jual rugi.

Terakhir, Yulianto yang merupakan Direktur WSBP tersebut sudah menjual sebanyak 1.581.000 saham pada 15 Agustus 2019. Di mana transaksi penjualan saham WSBP itu dilakukan pada kisaran harga Rp 350 per saham. Sehingga nilai transaksi penjualan saham WSBP sebesar Rp 500.05 juta.

Penjualan saham WSBP ini bukanlah kali pertamanya dilakukan oleh Yulianto. Adapun di sepanjang tahun ini, Yulianto sudah tercatat beberapa kali menggelar aksi jual saham WSBP.

  • Penjualan saham pertama, 12 Februari 2018 kemarin, Yulianto sudah pernah mengurangi kepemilikan sahamnya dengan menjual saham WSBP sebanyak 1.327.000 saham yang dilakukan pada harga Rp 458 per saham.
  • Penjualan saham kedua, pada 22 Maret 2019 kemarin, Yulianto sudah melancarkan aksi penjualan sahamnya sebesar 2.010.000 saham WSBP. Dengan rincian sebanyak 1.326.900 saham WSBP dijual di harga Rp 396 per saham, dan kemudian sebanyak 638.100 saham WSBP dilego di harga Rp 398 per saham.
  • Penjualan saham ketiga, pada 7 Mei 2019 di mana Yulianto kembali menjual saham WSBP sebanyak 1.405.800 saham di harga Rp 414 per saham.
  • Penjualan saham keempat, pada 9 Juli 2019 Yulianto lagi-lagi menjual saham WSBP sebanyak 1.820.000 saham WSBP, terdiri dari sebanyak 820.000 saham WSBP yang dijual di harga Rp 414 per saham dan sebanyak 1 juta saham dijual di harga Rp 412 per saham.
  • Penjualan saham kelima, pada 15 Agustus 2019, Yulianto melepas sebanyak 1.581.000 saham pada kisaran harga Rp 350 per saham.
  • Dan ada beberapa penjualan lain nya dengan jumlah lembar yang jauh lebih kecil dan harga yang bervariasi.

 

Itu artinya jika diakumulasikan maka Yulianto sudah menjual saham WSBP sebanyak 7.992.000 saham senilai Rp 3.24 miliar. Dan secara tidak langsung, rata-rata harga penjualan saham WSBP yang dilakukan oleh Yulianto adalah sebesar Rp 405.26 per saham. Setelah transaksi penjualan saham tersebut, kepemilkan Yulianto atas saham WSBP hanya tersisa 152.300 saham.

 

Lantas jika belakangan ini diketahui Yulianto menjual hampir habis kepemilikan sahamnya di WSBP, kira-kira kapan sebenarnya Yulianto melakukan transaksi pembelian saham WSBP ?

Sejak rumor jual rugi saham WSBP ini mencuat ke publik, Penulis pun turut mencari tahu kapan kali pertamanya Yulianto memiliki saham WSBP ini dari berbagai sumber.

  • Yulianto membeli saham WSBP untuk pertama kalinya pada 27 September 2016, setelah beberapa hari saham WSBP tercatat di BEI. Yulianto sendiri saat itu membeli sekitar 2 juta saham WSBP di harga Rp 530 per saham, itu berarti harga yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan harga IPO Waskita Beton Precast yang senilai Rp 490 per saham.
  • Kemudian untuk kedua kalinya pada 11 Januari 2017, Yulianto kembali menambah kepemilkan saham WSBP dengan membeli sebanyak 216.500 saham dengan rincian : Sebanyak 546.500 saham WSBP dibeli di harga Rp 585 per saham, sebanyak 670.000 saham dibeli di harga Rp 580 per saham.
  • Untuk ketiga kalinya pada 20 April 2017 pun, Yulianto kembali membeli sebanyak 980.000 saham WSBP dengan rincian : Sebanyak 500.000 saham WSBP dibeli di harga Rp 510 per saham dan juga sebanyak 480.000 saham WSBP dibeli di harga Rp 480 per saham.
  • Memasuki tahun 2018, pada 20 Februari 2018 Yulianto membeli 1 juta saham WSBP di harga Rp 490 per saham.
  • Di akhir Maret 2018, total kepemilikan Yulianto menambah kembali menjadi 1.037.800 saham WSBP.
  • Bahkan Yulianto masih terus menambah kepemilikannya pada 10 April 2018 dengan membeli sebanyak 900.000 saham WSBP di harga Rp 454 per saham.

 

Sehingga jika dijumlahkan secara keseluruhan, maka Yulianto sudah membeli saham WSBP sebanyak 8.144.300 per saham dengan nilai sekitar Rp 4.08 miliar.

Perbandingan Kepemilikan Yulianto Atas Saham WSBP 2017 VS 2018

 

Sayangnya pasca pembelian sejumlah saham WSBP, justru nilai kepemilikan atas saham WSBP semakin menurun. Hal itu terjadi karena, untuk bisa membeli sebanyak 8.14 juta saham WSBP Yulianto sudah menggelontorkan dana sekitar Rp 4.08 miliar. Angka tersebut tidak sebanding dengan hasil penjualan 7.99 juta saham WSBP, lantaran Yulianto hanya mendapatkan dana segar sebesar Rp 3.24 miliar. Artinya, Yulianto harus merugi sekitar Rp 840 juta dari penjualan saham WSBP tersebut

Sedangkan saat ini Yulianto masih memiliki sekitar 152.300 per saham. Jika diasumsikan dengan harga saham WSBP yang pada saat artikel ini ditulis ada di kisaran Rp 332 per saham, maka nilai saham WSBP tersebut hanyalah sebesar Rp 50.5 juta. Dengan begitu, hasil investasi atas saham WSBP lebih rendah dibandingkan dengan modal yang dikeluarkan untuk membeli saham WSBP.

 

Motif Penjualan Saham WSBP & Pengaruhnya ke Harga Saham WSBP

Setelah kita mengetahui kronologi pembelian dan penjualan saham Yulianto atas kepemilikannya di saham WSBP. Nampaknya juga perlu kita mengetahui apa yang menjadi motif penjualan saham WSBP yang dilakukan oleh Yulianto dalam beberapa waktu belakangan ini, apalagi penjualan saham nya tidak hanya dilakukan sekali saja.

Sejauh yang Penulis tangkap dari banyaknya berita yang beredar, penjualan atas kepemilikan saham Yulianto di WSBP lantaran Yulianto saat ini juga tengah mengupayakan pertumbuhan bisnis di bidang lain. Hasil penjualan saham WSBP tersebut akan digunakan untuk pengembangan bisnis lainnya yakni di bidang pariwisata, khususnya kuliner dan juga toko bunga. Di samping itu, Yulianto juga memiliki usaha restoran di Malang ‚Äď Jawa Timur.

Dan meskipun langkah Yulianto selaku Direktur WSBP menilai penjualan saham WSBP adalah langkah tepat untuk mengembangkan bisnisnya yang lain, dengan memanfaatkan dana segar dari penjualan saham WSBP. Namun nampaknya hal tersebut justru cukup berpengaruh terhadap pergerakan harga saham WSBP yang kini semakin anjlok. Di mana harga saham WSBP yang sempat berada di level tertinggi di 630-an pada 2017, harus terkoreksi hingga ke level 330-an per September 2019, atau turun sekitar -47%. Sebagai gambaran lebih jelasnya, seperti di bawah ini :

Source : RTI Business

 

Kendati demikian, Penulis sendiri melihat penurunan harga saham WSBP yang anjlok saat ini, nampaknya bukan hanya dipengaruhi oleh berita penjualan saham WSBP yang dilakukan oleh Yulianto semata. Namun juga disebabkan oleh faktor penurunan pada kinerja Laporan Keuangan WSBP pada Kuartal II-2019.

WSBP mencatatkan penurunan yang cukup besar pada Laba Bersih Tahun Berjalannya sekitar -45.45%, dari Rp 690.6 miliar per Kuartal II-2018 turun menjadi Rp 376.7 miliar di Kuartal II-2019. Turunnya Laba bersih WSBP tersebut, lantaran disebabkan oleh meningkatnya sejumlah beban pokok pendapatan di saat Pendapatan Usaha relatif flat. Menurunnya Pendapatan Usaha WSBP sendiri tidak dapat dilepaskan dari memburuknya pencapaian kontrak baru yang didapatkan oleh induknya, yaitu WSKT dalam 2 tahun terakhir (Penulis akan jelaskan lebih lanjut pada bagian selanjutnya).

Penyebab Turunnya Laba Bersih WSBP. Source : Laporan Keuangan WSBP Kuartal II-2019.

 

Prospek Saham WSBP ?

Jika kita berbicara mengenai prospek WSBP, kita tidak bisa melepaskan dari kinerja induknya, WSKT. Karena sekitar 65% pendapatan WSBP masih didapatkan dari induknya yaitu WSKT. Dan jika dilihat dari sisi kinerja induk usaha nya yakni WSKT, hal yang serupa juga nampak pada penurunan kinerja WSKT sepanjang Kuartal II-2019 kemarin.

Tercatat WSKT pun mengalami penurunan pada Pendapatan Usahanya sekitar -35.52% dari Rp 22.8 triliun per Kuartal II-2018 turun menjadi Rp 14.7 triliun di Kuartal II-2019. Sehingga WSKT hanya mampu mencatatkan Laba Periode Berjalan sebesar Rp 1.01 triliun di Kuartal II-2019. Angka tersebut mengalami penurunan sekitar -74.30% dari Laba Periode Berjalan sebesar Rp 3.93 triliun per Kuartal II-2018. Turunnya omset WSKT di Kuartal II-2019 kemarin, juga tidak terlepas dari Beban Keuangan yang membengkak sekitar 19.11% dari Rp 1.36 triliun per Kuartal II-2018 menjadi sebesar Rp 1.62 triliun di Kuartal II-2019 (karena hutang berbunga WSKT semakin lama semakin besar).

Penurunan Omset WSKT. Source : Laporan Keuangan WSKT Kuartal II-2019

 

Terlebih lagi penurunan omset WSKT tersebut, rupanya juga sejalan dengan jebloknya penerimaan kontrak proyek yang diperoleh oleh WSKT dalam 2 tahun terakhir. Sebagai gambaran jelasnya seperti berikut :

Penerimaan kontrak proyek WSKT anjlok. Source : Annual Report, diolah

 

Kesimpulan

Penurunan saham WSBP yang kini anjlok hingga ke kisaran terendahnya yakni di kisaran 330-an, bukan hanya dikarenakan oleh adanya penjualan saham WSBP yang dilakukan oleh Yulianto selaku Direktur dari WSBP. Memang harus diakui, penjualan saham dalam kondisi rugi yang dilakukan oleh Direktur WSBP, akan mempengaruhi pasar secara psikologis.

Namun bukan hanya itu, penurunan harga saham WSBP juga dipengaruhi oleh kinerja WSBP yang sepanjang Kuartal II-2019 kemarin mengalami penurunan pada pencapaian Laba nya. Di mana Laba Bersih Tahun Berjalan WSBP turun sekitar -45.45%, dari Rp 690.6 miliar per Kuartal II-2018 menjadi Rp 376.7 miliar di Kuartal II-2019.

Di samping itu pun, pencapaian kinerja WSBP juga tercermin oleh kinerja induk usahanya yakni WSKT yang juga mengalami penurunan omset. Lantaran WSKT harus menanggung Beban Keuangan yang membengkak sekitar 19.11% dari Rp 1.36 triliun per Kuartal II-2018 menjadi sebesar Rp 1.62 triliun di Kuartal II-2019. Dan juga sejalan dengan jebloknya penerimaan kontrak proyek yang diperoleh oleh WSKT hingga pertengahan tahun 2019 ini.

Jadi, apakah perlu cut loss atau tidak ? Jika kontrak baru WSBP (dan juga WSKT) tidak juga membaik di sisa tahun 2019 ini, maka lebih baik Anda kurangi position sizing Anda.. Namun jika kontrak baru WSBP (dan WSKT ) membaik di sisa tahun 2019 ini, maka Anda tetap hold saja sahamnya karena bisa berpeluang membaik di 2020 nanti..

 

###

 

Info:

  • Monthly Investing Plan September 2019 sudah terbit. Anda dapat memperolehnya di¬†sini.
  • Cheat Sheet LK Q2 2019¬†sudah terbit, Anda dapat memperolehnya di¬†sini.
  • E-Book Quarter Outlook LK Q2 2019¬†sudah terbit. Anda dapat memperolehnya di¬†sini.
  • Jadwal¬†Workshop :
    • Workshop & Advance Value Investing (Bali, 12 -13 Oktober 2019) dapat dilihat di sini.
    • Workshop & Advance Value Investing (Medan, 02 – 03 November 2019)¬†dapat dilihat di sini.
    • Workshop & Advance Value Investing (Jakarta, 23 – 24 November 2019)¬†dapat dilihat di sini.

 

Tags : Jual Rugi Saham WSBP | Jual Rugi Saham WSBP | Jual Rugi Saham WSBP | Jual Rugi Saham WSBP | Jual Rugi Saham WSBP | Jual Rugi Saham WSBP | Jual Rugi Saham WSBP | Jual Rugi Saham WSBP | Jual Rugi Saham WSBP | Jual Rugi Saham WSBP | Jual Rugi Saham WSBP | Jual Rugi Saham WSBP | Jual Rugi Saham WSBP

You may also like

1 Comment

  • Cikaa
    September 11, 2019 at 2:17 PM

    Saya masih binggung nih alasan dari Pak Yulianto, kenapa dia jual rugi?
    itu artinya dia sudah siap dengan segara loss yg dia akan terima.
    apakah dia tau bahwa WSBP tidak memiliki prospek yg cerah???

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Rivan adalah seorang Indonesia Value Investor yang memulai investasi sejak tahun 2008 ketika berusia 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, Rivan berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Berbekal pengalamannya, Rivan saat ini menjalani profesi sebagai Full Time Investor sekaligus praktisi di pasar modal. Saat ini, Rivan aktif mengadakan workshop dan pelatihan kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko di pasar saham.

Like Us On Facebook

Facebook Pagelike Widget

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami