LPCK Merevisi LK 2017 Setelah 2 Tahun, Jadi Sebenarnya LPCK Untung atau Rugi ?


Pada empat tahun kebelakang, harga saham LPCK sempat menduduki posisi tertinggi di kisaran 4200-an di tahun 2015. Namun kini harga saham LPCK harus terkoreksi dalam sekitar 70%, sehingga saat ini berada di kisaran 1200-an. Dan belum lama ini (tepatnya di Juni 2019), LPCK justru merevisi Laporan Keuangannya khususnya di tahun kerja 2017. Revisi tersebut telah mengubah pencapaian laba bersih Rp 366.7 miliar menjadi rugi bersih Rp 821.9 miliar. Lantas apa yang menyebabkan LPCK melakukan revisi Laporan Keuangannya ? Hal ini menimbulkan pertanyaan, jadi LPCK ini untung atau rugi ?

Pada Mei 2019 kemarin, Penulis sudah pernah mengangkat saham LPCK sebagai pembahasan dalam artikel. Pembahasan LPCK saat itu, terkait dengan tindakan right issue senilai USD 200 juta. Anda juga bisa mereview kembali pembahasannya melalui link di bawah ini :

[Baca lagi : Prospek LPCK Pasca Right Issue USD 200 Juta ?]

 

Nah, sebelum masuk pada pembahasan yang ingin disampaikan Penulis. Ada baiknya jika kita juga mengenal sekilas tentang LPCK ini…

 

Milestone LPCK

Berdiri dengan nama PT Desa Dekalb pada Mei 1987, dan kemudian mengubah namanya kembali menjadi PT Gunung Cermai Inti pada April 1988. Di tahun 1992, nama kembali diubah menjadi Pt Lippo City Development. Setelah itu pada September 1995 nama diubah menjadi PT Lippo Cikarang, dan pada April 1997 akhirnya nama tersebut dikukuhkan menjadi PT Lippo Cikarang Tbk.

Source : Public Expose LPCK 2019

 

LPCK hingga saat ini masih menjalankan sejumlah kegiatan usahanya, diantaranya :  pengembangan kota diantaranya pengembangan kawasan perumahan dan industri, pengembangan infrastruktur dan fasilitas umum, dan juga penyediaan jasa-jasa pendukung. Perusahaan properti tersebut, tercatat melakukan Penawaran Umum Perdana nya pada Juli 1997 di Bursa Efek Indonesia, dengan kode perdagangan LPCK. Adapun untuk struktur pembagian kepemilikan saham LPCK adalah seperti di bawah ini :

Source : Laporan Tahunan LPCK 2018

 

LPCK Revisi Laporan Keuangan 2017

Nah… ini adalah bagian yang menarik perhatian Penulis, dan barangkali hal ini luput dari perhatian sebagian besar para rekan-rekan investor. Ya, ini adalah kali kedua Penulis mengangkat LPCK sebagai pembahasan dalam artikel. Tidak banyak publik yang menyadari langkah LPCK yang melakukan revisi atau restatement dalam Laporan Keuangannya. Jika Anda bertanya, Laporan Keuangan yang manakah yang direvisi oleh LPCK ? Jawabannya adalah, LPCK merevisi Laporan Keuangan Tahun 2017 nya yang tercantum dalam Laporan Keuangan Tahun Buku 2018 kemarin. Revisi itupun dilakukan baru-baru ini, atau tepatnya pada Juni 2019 kemarin.

Untuk mengetahui detailnya, Anda bisa menelusurinya melalui https://www.idx.co.id/perusahaan-tercatat/laporan-keuangan-dan-tahunan/. Dan kemudian, Anda bisa mencari Laporan Keuangan tahun 2018 periode Tahunan. Adapun hasil gambarannya adalah sebagai berikut :

Source : www.idx.co.id

Dari hasil pencarian akan terlihat bahwa sebelumnya LPCK sudah lebih dulu menerbitkan Laporan Keuangan Tahunan 2018, namun akhirnya LPCK kembali menerbitkan Laporan Keuangan Tahunan 2018 nya yang disertai dengan ‚ÄúRestatement‚ÄĚ. Adapun yang direvisi dalam Laporan Keuangan Tahunan 2018 nya itu, adalah pada bagian Laporan Keuangan Tahunan 2017 nya. Lantas apa yang membedakan diantara keduanya ? Nah berikut ini adalah yang Penulis dapatkan setelah melakukan analisa terhadap Laporan Keuangan Tahunan 2018 LPCK tersebut. Fokuskan perhatian Anda pada angka-angka di tahun 2017.

#Sebelum Restatement : LPCK_Laporan Keuangan 31 Dec 2018.

 

#Sesudah Restatement : Restatement FS Lippo Cikarang 2018.

 

Dalam revisi yang dilakukan oleh LPCK tersebut, hasilnya cukuplah signifikan. Terlihat dari bagan di atas sebelum dilakukannya revisi. Perbedaan yang paling signifikan terletak pada jumlah Beban Usaha. Sebelum Restatement, jumlah beban usaha di 2017 adalah sebesar Rp 278.2 miliar. sementara setelah Restatement, jumlah beban usaha di 2017 melambung menjadi Rp 1.46 triliun ! Artinya jumlah beban usaha meningkat 5x lipat setelah Restatement !

Perubahan signifikan ini mempengaruhi pencapaian Laba LPCK Secara Negatif. Laba Usaha LPCK sebelum revisi tercatat masih sebesar Rp 353.4 miliar. Namun setelah revisi, Laba Usaha di tahun 2017 harus merugi sebesar Rp -845.3 miliar.

Secara bottomline, Laba Tahun Berjalan LPCK sebelum revisi tercatat sebesar Rp 368.4 miliar. Namun setelah revisi, Laba Tahun Berjalan 2017 justru merugi hingga Rp -820.3 miliar.

LPCK sebenarnya bukan hanya merevisi Laporan Keuangan 2017 nya, melainkan juga merevisi Laporan Keuangan 2018 nya. Di tahun 2018, LPCK juga merevisi Beban Usahanya. Sebelum Restatement, beban usaha 2018 tercatat Rp 305.0 miliar. Sementara setelah restatement, beban usaha 2018 menjadi Rp 386.0 miliar. Perubahan yang lebih signifikan terlihat pada pos Keuntungan Pencatatan Investasi Pada Entitas Asosiasi. Sebelum Restatement terdapat keuntungan Rp 2.35 triliun, sementara Setelah Restatement keuntungan tersebut turun jauh menjadi Rp 976 miliar saja. Hal tersebut membuat Laba Tahun Berjalan LPCK turun dari Rp 2.2 triliun menjadi Rp 2.0 triliun.

Dengan LPCK melakukan revisi terhadap Laporan Keuangan Tahun 2017 nya tersebut, justru membuat Laporan Keuangan Tahun 2017 nya berbalik arah dari sebelumnya untung malah menjadi rugi.

Anda mungkin bertanya, hal apa yang menyebabkan LPCK harus merevisi Laporan Keuangan nya ? Jawabannya Anda bisa temukan pada Catatan Kaki 43. Untuk lebih jelas dan supaya Penulis gak capek ngetik, Penulis screenshot saja yaa…

Source : Catatan Kaki 43 Restatement FS Lippo Cikarang 2018

 

Kasus yang sama : GIAA

Menyinggung masalah revisi Laporan Keuangan, nampaknya bukan hanya dilakukan oleh LPCK saja. Namun Anda  juga pastinya sudah familiar dengan yang dilakukan oleh PT Garuda Indonesia (GIAA). GIAA baru saja merevisi (restatement) Laporan Keuangan Tahun 2018 nya.

Sebelum melakukan revisi pada Laporan Keuangan Tahun 2018 nya, GIAA mencatatkan Laba Tahun Berjalan sebesar US$ 5 juta atau setara dengan Rp 70 miliar (kurs Rp 14.000). Dan setelah merevisi Laporan Keuangan nya, GIAA justru mencatatkan kerugian hingga sebesar US$ 175.028 juta atau setara dengan Rp 2.45 triliun. Dengan revisi dari untung menjadi rugi, GIAA melakukan penyesuaian sebesar US$ 180 juta dalam Laporan Keuangan Tahun 2018. Adapun revisi tersebut dilakukan sebagai bentuk tindak lanjut perusahaan atas hasil putusan regulator terkait Laporan kinerja Keuangan GIAA.

 

Kejanggalan dalam Revisi LK Tahun 2017

Revisi yang dilakukan oleh LPCK tersebut, cukup menimbulkan pertanyaan di benak Penulis untuk mengulik lebih dalam maksud dari revisi yang dilakukan. Sayangnya saat Penulis hendak mengulik lebih jauh, Penulis tidak dapat menemukan klarifikasi apapun terkait dengan revisi yang dilakukan oleh LPCK tersebut. Oleh karena itu, Penulis menarik hipotesa secara garis besar yakni :

Pertama, cukup aneh lantaran revisi Laporan Keuangan LPCK Tahun 2017 baru direvisi dalam waktu 2 tahun setelah terbit. Padahal sebaiknya revisi dilakukan dengan segera, mengingat revisi (koreksi atau penyajian kembali) Laporan Keuangan bisa disebabkan oleh sejumlah keadaan. Baik karena adanya kekeliruan perhitungan, kekeliruan penerapan kebijakan akuntansi, adanya penerapan kebijakan akuntansi yang baru, atau bahkan adanya perubahan estimasi akuntansi. Sedangkan dari sisi negatifnya, dimungkinkan bila ada kecurangan ataupun klaim untuk tujuan tertentu. Berkenaan dengan itu, aturan revisi Laporan Keuangan tertuang dalam aturan PSAK Nomor. 25.

Kedua, revisi yang dilakukan oleh LPCK ini tidak terekspos ke publik. Hal sederhana yang bisa dijadikan bukti adalah sebagai berikut :

Dengan keyword LPCK revisi Laporan Keuangan 2017, tidak ada berita klarifikasi apapun.

 

Tentu kasus LPCK tersebut agaknya berbeda dengan kasus revisi yang dilakukan oleh GIAA. Hal itu juga bisa dipengaruhi oleh status LPCK yang bukan BUMN seperti hal nya GIAA, sehingga apa yang dilakukan oleh LPCK mungkin dampaknya menjadi tidak terlalu besar. Kondisi yang cukup timpang jika dibandingkan dengan GIAA ketika melakukan revisi Laporan Keuangan Tahun 2018 nya. Rumor revisi tersebut langsung mencuat ke permukaan publik bahkan menjadi headline utama. Bahkan dengan mudahnya untuk menemukan klarifikasi terkait revisi Laporan Keuangan GIAA. Seperti berikut ini :

Dengan keyword GIAA revisi Laporan Keuangan 2018, beritanya ada di mana-mana.

 

Kesimpulan

Dalam pembahasan artikel kali ini, Penulis cukup yakin bahwa Penulis lah yang pertama kali membahas revisi Laporan Keuangan Tahun 2017 LPCK ini. Revisi yang dilakukan oleh LPCK justru membuat Laporan Keuangan Tahun 2017 nya berbalik arah dari sebelumnya untung malah menjadi rugi, dikarenakan pembebanan biaya iklan dan pemasaran serta perhitungan kembali atas laba pelepasan saham pada entitas anak, serta keuntungan pencatatan investasi asosiasi.

Penulis tetap berpendapat, seharusnya revisi dilakukan dengan segera dan tidak terpaut waktu yang terlampau lama hingga 2 tahun seperti yang dilakukan oleh LPCK ini. Seperti yang sudah disebutkan di atas, LPCK ini baru merevisi Laporan Keuangan 2017 nya pada Juni 2019 kemarin. Sehingga bukan hal yang tidak mungkin, jika Laporan Keuangan di tahun 2019 ini, bisa saja direvisi lagi beberapa tahun ke depan. Jadi, ngapain repot-repot dianalisa ?

 

###

Info:

  • Monthly Investing Plan September 2019 sudah terbit. Anda dapat memperolehnya di¬†sini.
  • Cheat Sheet LK Q2 2019¬†sudah terbit, Anda dapat memperolehnya di¬†sini.
  • E-Book Quarter Outlook LK Q2 2019¬†sudah terbit. Anda dapat memperolehnya di¬†sini.
  • Jadwal¬†Workshop :
    • Workshop & Advance Value Investing (Bali, 12 -13 Oktober 2019) dapat dilihat di sini.
    • Workshop & Advance Value Investing (Medan, 02 – 03 November 2019)¬†dapat dilihat di sini.
    • Workshop & Advance Value Investing (Jakarta, 23 – 24 November 2019)¬†dapat dilihat di sini.

 

Tags : LPCK Revisi LK 2017 | LPCK Revisi LK 2017 | LPCK Revisi LK 2017 | LPCK Revisi LK 2017 | LPCK Revisi LK 2017 | LPCK Revisi LK 2017 | LPCK Revisi LK 2017 | LPCK Revisi LK 2017 | LPCK Revisi LK 2017 | LPCK Revisi LK 2017 | LPCK Revisi LK 2017 | LPCK Revisi LK 2017 | LPCK Revisi LK 2017 | LPCK Revisi LK 2017 | LPCK Revisi LK 2017

You may also like

1 Comment

  • Cani
    September 9, 2019 at 9:27 AM

    Loh berarti harga sahamnya saat ini ga benar” murah dong yaa.. apalagi dari untung ke rugi.
    tapi apakah ada penalti pada emiten yg melakukan manipulasi LKnya??

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Rivan adalah seorang Indonesia Value Investor yang memulai investasi sejak tahun 2008 ketika berusia 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, Rivan berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Berbekal pengalamannya, Rivan saat ini menjalani profesi sebagai Full Time Investor sekaligus praktisi di pasar modal. Saat ini, Rivan aktif mengadakan workshop dan pelatihan kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko di pasar saham.

Like Us On Facebook

Facebook Pagelike Widget

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami