harga saham LPPF terjun

Harga Saham LPPF Terjun Bebas Hingga -60%. Beli atau Jangan ?


LPPF merupakan salah satu emiten retail yang tercatat dalam anggota indeks LQ45. Sayangnya saat ini LPFF justru harus berada di peringkat pertama indeks LQ45 dengan penurunan harga saham yang cukup dalam sekitar -60%. Padahal di awal 2019 harga saham LPPF ini sempat berada di kisaran 7200-an, dan pada saat artikel ini ditulis harga sahamnya terkoreksi hingga ke 3000-an. Lantas apa yang menyebabkan harga sahamnya terkoreksi hingga sekitar -60% ? Dan bagaimana dengan kualitas kinerja fundamental LPFF ?

 

Sekilas Tentang LPPF

LPPF merupakan usaha yang bergelut dalam bidang retail, berdiri secara resmi pada Oktober 1958 silam. Adapun gerai pertama LPPF ini berada di Pasar Baru – Jakarta dengan menjual pakaian anak-anak. Selang beberapa tahun kemudian, LPPF mengubah alur retailnya menjadi department store modern pertama di Indonesia pada tahun 1972. Awalnya LPPF mendirikan PT Matahari Putra Prima Tbk di tahun 1986, bersamaan dengan Penawaran Umum Perdana di tahun 1992. LPPF mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Jakarta dan juga Bursa Efek Surabaya. Menyusul kemudian di Oktober 2009, Matahari dilepas dari  PT Matahari Putra Prima Tbk untuk menjadi entitas baru yakni PT Matahari Department Store Tbk. Berikut ini adalah bagan dari struktur pemegang saham di LPPF per 2018 kemarin :

Source : Laporan Tahunan LPPF 2018

 

LPPF sendiri sudah hampir 61 tahun lamanya menjadi salah satu pelopor dalam usaha retail di Indonesia, khususnya bergerak dalam penjualan sejumlah produk kebutuhan sehari-hari. Seperti halnya pakaian, aksesories, tas, sepatu, kosmetik, bahkan turut menyediakan sejumlah peralatan rumah tangga. Dan dalam perkembangannya hingga saat ini LPPF sudah mengoperasikan sekitar 159 gerai yang tersebar di 75 kota di Indonesia. Dan bahkan di tahun 2016, LPPF melengkapi perkembangannya gerainya tersebut dengan membuat platform digital untuk memenuhi fasilitas belanja online yakni  MATAHARI.com…

Source : https://www.matahari.com

                Bersamaan dengan itu, LPPF juga turut meluncurkan aplikasi online berbasis mobile yakni MatahariApp #StylishYou…

 

Ekspansi di Tahun 2019

Masifnya ekspansi yang dilakukan oleh LPPF di tahun ini adalah realisasi strategi di tahun 2018 kemarin. Di mana LPPF akan mewujudkan ekspansinya di tahun 2019 ini dengan membuka sejumlah gerai baru di Jakarta, Bandung, Cibubur, Surabaya, dan Medan. Di antaranya adalah pembukaan gerai 361” Mono Store tersebut dilakukan untuk menawarkan berbagai kebutuhan olahraga. Tidak tanggung-tanggung, LPPF di semester II-2019 ini juga berencana akan menambah dua gerai baru dengan format gerai yang besar.

Di samping itu, LPPF juga turut melakukan kolaborasi dengan eksklusif partner sebagai distributor di Indonesia. Diantaranya, pertama LPPF sudah resmi bekerjasama dengan perusahaan produsen sepatu olahraga terbesar asal China yakni 361 Degree International Limited, sebagai pemasok utama sepatu dan peralatan olahraga yang berbasis di Tiongkok. Rencananya hingga akhir tahun 2019 ini, LPPF akan siap meluncurkan seluruh prouk 361 Degress di seluruh rantai gerainya. Kedua, LPPF juga resmi bekerjasama dengan perusahaan fashion retail di Italia sejak Maret 2019 kemarin.

 

Kendala yang Dihadapi LPPF

Serangkaian kegiatan ekspansi yang dilakukan oleh LPPF tersebut, tidak serta merta lepas dari upaya LPPF yang mengupayakan pertahanan usaha retailnya di tengah maraknya bisnis online belakangan ini.

Namun ternyata hal tersebut tidak cukup untuk mengangkat harga saham LPPF. Penurunan harga saham LPPF selama 1 tahun kurang berjalan ini anjlok dari kisaran 7200-an per Januari 2019, dan harus terkoreksi hingga ke 3000-an per September 2019.

Pergerakan Harga Saham LPPF dari Awal Tahun 2019. Source : yahoofinance.com

 

Demikian pula jika kita tarik data lebih panjang dari tahun 2018 kemarin, kita akan menemukan bahwa harga saham LPPF juga mengalami penurunan dari posisi yang lebih tinggi yakni di kisaran Rp 10.000-an per Januari 2018.

 

#Penurunan Nilai Investasi di Mataharimall.com

Penyebab menurunnya performa saham LPPF juga didorong oleh sentimen di tahun 2018 kemarin. Di mana Laba yang dicatatkan oleh LPPF terus turun, meskipun ROE di tahun 2018 kemarin mencapai 60%. Laba Bersih LPPF di 2018 kemarin turun sekitar 42% YoY dari Rp 1.91 triliun per tahun 2017, menjadi Rp 1.1 triliun di 2018. Adapun salah satu penyebabnya adalah kerugian atas penurunan nilai investasi LPPF yang nilainya sebesar Rp 769.7 miliar, yang diinvestasikan pada PT Global Ecommerce Indonesia (GEI) sebagai pemilik situs online Mataharimall.com.

Sayangnya di tengah perjalanan, LPPF justru melakukan peninjauan kembali atas investasi ini dan menghasilkan pengakuan atas kerugian penurunan nilai sebesar Rp 769,7 miliar yang telah diakui pada laporan laba rugi konsolidasian. Kerugian penurunan nilai tersebutlah menekan laba yang dibukukan LPPF pada 2018, dan mempengaruhi performa saham LPPF.

 

#Persaingan Ketat Usaha Retail

Hingga saat ini, tidak bisa ditampik bahwa LPPF juga menjadi salah satu perusahaan bidang retail yang terkena imbas dari pertumbuhan bisnis retail belakangan ini, dengan sengitnya persaingan usaha yang sejenis. Belum lagi ditambah dengan adanya peralihan minat belanja dari offline ke online yang saat ini berkembang dengan sangat aktif. Apalagi saat ini sudah sangat menjamur sejumlah toko online yang berani menjajakan sejumlah produk fashion, seperti Salestock, Zilingo, dan lain sebagainya. Dengan keunggulan produk yang lebih variatif namun harga lebih kompetitif.

Tidak hanya dari toko-toko online saja, usaha retail saat ini juga harus menghadapi gempuran transaksi yang terjadi melalui saluran lain seperti halnya yang saat ini sedang booming adalah Instagram. Instagram kini sudah berubah fungsi, tak lagi sebagai media sosial saja namun juga sebagai media bisnis yang tentu kehadirannya dimanfaatkan oleh banyak reseller yang menjajakan barang jualannya di Instagram. Nampaknya hal tersebut menjadi momok yang mengkhawatirkan bagi pemain besar dalam usaha retail, seperti halnya yang sudah pernah Penulis angkat yakni tentang RALS..

 

 

Kinerja Fundamental LPPF

Dengan adanya ekspansi seharusnya kinerja keuangan LPPF sejalan mengalami pertumbuhan yang positif. Meskipun LPPF harus menghadapi persaingan dengan pasar online lainnya. Lantas bagaimana dengan kinerja LPPF di semester I-2019 ? Berdasarkan pencapaian kinerja LPPF dalam Laporan Keuangan Kuartal II-2019, Pendapatan Bersih LPPF relative flat sekitar 0.67% YoY dari Rp 5.91 triliun per Kuartal II-2018 menjadi Rp 5.95 triliun di Kuartal II-2019. Kenaikan Pendapatan LPPF tersebut tergolong minim secara YoY. Tidak hanya itu, LPPF juga harus menanggung Beban Pokok Pendapatan yang justru meningkat sekitar 2.7% dari Rp 2.16 triliun per Kuartal II-2018 menjadi Rp 2.22 triliun di Kuartal II-2019. Terlihat pada catatan kaki nomor 17 :

Kenaikan Beban Pokok Pendapatan. Source : Laporan Keuangan LPPF Kuartal II-2019

Demikian pula dengan Laba Operasi LPPF yang harus turun sekitar -11.90% YoY dari Rp 1.68 triliun per Kuartal II-2018 menjadi Rp 1.48 triliun di Kuartal II-2019. Turunnya Laba Operasi LPPF dikarenakan kenaikan pada Beban Usahanya sekitar 8.21% dari Rp 2.07 triliun per Kuartal II-2018 menjadi Rp 2.24 triliun di Kuartal II-2019.

Peningkatan Beban Usaha. Source : Laporan Keuangan LPPF Kuartal II-2019

 

Secara bottomline, LPPF juga mencatatkan Laba Bersih yang merosot hingga -13.43% YoY dari Rp 1.34 triliun per Kuartal II-2018 menjadi Rp 1.16 triliun di Kuartal II-2019.

Sejalan dengan kondisi LPPF yang terus merosot dari segi profitabilitas, kemampuan membayar utang LPPF juga melemah. Hal ini terlihat dari jumlah liabilitas yang per LK Q2 2019 mencapai Rp 3.51 triliun, jauh lebih besar ketimbang jumlah ekuitas yang per LK Q2 2019 hanya mencapai Rp 1.71 triliun. Jika kita hitung, maka Debt to Equity Ratio (DER) LPPF adalah sebesar 2.06x. Bagi emiten yang bergerak di industry retail, tentunya ini bukan indikator yang bagus.

 

LPPF di Harga 3.000, Layak Beli ?

Lalu apakah penurunan harga saham LPPF sebesar 60% ini merupakan opportunity ? Dengan asumsi bahwa pencapaian net profit LPPF turun 13% YoY dibandingkan dengan tahun sebelumnya, maka EPS LPPF yang di tahun 2018 sebesar Rp 391 / lembar, akan menjadi sekitar Rp 340 / lembar. Di harga 3000 an, kita akan dapatkan bahwa LPPF ini sekarang dihargai di PE 9x. Jika dibandingkan dengan tahun 2017 – 2018 di mana LPPF divaluasi pada PE 14 – 15x, maka valuasi per September 2019 ini memang lebih murah.

Meskipun terlihat murah, namun perlu diingat bahwa kinerja LPPF terus merosot 2 tahun belakangan ini, ditambah dengan jumlah hutang yang terus meningkat hingga 2x lipat ekuitasnya, membuat kemampuan membayar utang LPPF melemah dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Jadi menurut kacamata Penulis, meskipun terlihat murah namun bukan jaminan bahwa LPPF ini layak untuk investasi.

 

Kesimpulan

Penurunan harga saham LPPF terjadi sejak dua tahun ke belakang. Kinerjanya tertekan salah satunya karena penurunan nilai investasi dalam situs penjualan online Mataharimall.com. Hasilnya harga saham LPPF terus menurun hingga saat ini. Belum sempat bangkit harga sahamnya, hingga saat ini LPPF juga masih harus menghadapi persaingan antar usaha retail lainnya, ditambah lagi dengan maraknya usaha online dari berbagai situs produk fashion lainnya.

Penurunan harga sahamnya LPPF sekitar 60% dalam 1 tahun terakhir, memang membuat valuasinya terlihat lebih murah. Akan tetapi mempertimbangkan kinerjanya yang terus merosot dalam 2 tahun terakhir, ditambah dengan jumlah utang LPPF yang terus meningkat hingga 2x lipat ekuitas, nampaknya Anda perlu berpikir 2x sebelum memutuskan untuk masuk ke LPPF ini.

 

###

 

Info:

  • Monthly Investing Plan September 2019 sudah terbit. Anda dapat memperolehnya di sini.
  • Cheat Sheet LK Q2 2019 sudah terbit, Anda dapat memperolehnya di sini.
  • E-Book Quarter Outlook LK Q2 2019 sudah terbit. Anda dapat memperolehnya di sini.
  • Jadwal Workshop :
    • Workshop & Advance Value Investing (Bali, 12 -13 Oktober 2019) dapat dilihat di sini.
    • Workshop & Advance Value Investing (Medan, 02 – 03 November 2019) dapat dilihat di sini.
    • Workshop & Advance Value Investing (Jakarta, 23 – 24 November 2019) dapat dilihat di sini.

 

 

You may also like

4 Comments

  • John Thedy
    September 5, 2019 at 12:20 PM

    Maaf, bukannya DER itu melihat utang dengan perbandingannya ke ekuitas? setau saya, karna impairment loss akhir 2018, ekuitas LPPF turun dari 2.3T menjadi 1.7T, dan emang secara DER naek jadi 2. Tapi coba diperhatikan Q2-2019 dengan Q2-2018, bukannya utangnya secara nilai menurun? dan lagian utangnya itu isinya bukan utang berbunga, dan setiap tahun emang LPPF akan meningkatkan utang di Q2 kalo diperhatikan, mungkin mreka stock barang untuk lebaran hingga akhir tahun. Jadi saya rasa kurang tepat ya lihat DER, lebih baik lihat keseluruhan.

  • Chandra
    September 6, 2019 at 8:53 PM

    Sepertinya agak misleading, hampir 50% liabitilas nya adalah utang usaha yang berarti beli barang boleh ga bayar dulu dan dari hasil penjualan konsinyasi yang belum disetor. Dan ini dari dulu juga selalu segitu, ga ada naik 2x lipat. Yang penting kas yang masuk sampai akhir taun bisa buat bayar.
    Yang perlu diwaspadai itu debt yang berbunga seperti utang bank, yang mana cuma kecil 100M.
    Bisa dibilang LPPF ini ga punya debt. Tidak semua liabilitas itu debt.

    • Rivan Kurniawan
      September 7, 2019 at 5:38 AM

      Terima kasih telah berbagi pendapat.. Saya setuju dengan bagian tidak semua liabilitas itu menimbulkan bunga (interest bearing debt), tapi saya kurang setuju kalau utang tidak berbunga tidak perlu diwaspadai.. Dalam perspektif saya, utang berbunga dan tidak berbunga sama-sama perlu diwaspadai.. Masih ingat di tahun 2017 mengemuka berita tentang MPPA (kebetulan satu grup dengan LPPF) yang menunggak utang usaha kepada supplier nya ? Mirip dengan LPPF, sebagian besar liabilitas MPPA adalah utang usaha juga..

      • John Thedy
        September 8, 2019 at 12:08 AM

        Tapi masalahny pak, utang lppf 2019-Q2 menurun pak dari tahun lalu 2018-Q2. Dan merupakan utang Q2 terendah sepanjang 5 tahun terakhir. Tidak cocok saya rasa kalo mengatakan DER naek jd 2 sehingga harus hati2 ketika utang skrg adalah utang Q2 lppf terendah 5 tahun trakhir. Menurut saya utang sama skali bukan masalah lppf skrg ini melainkan cara ekspansi bisnis ditengah lesuny retail yg menjadi fokus utama, dan merupakan PR besar dari lppf skrg ini, mari kita lihat pembukaan monostore 361 dan OVS apakah tepat memasukan brand baru sbagai bentuk ekspansi bisnis di tengah lesuny retail. Kalau mau bilang cash, lppf ini setiap tahun cfo slalu positif 2T dan sanggup bayar dividen dengan dpr 50 persen lebih bahkan tahun ini sudah buyback 500anM serta dividen 900M, logikany cash is not the problem. Kalo terdesak cash buat utang, terlalu bodoh manajemen buat buyback segala dengan sedia dana 1.4T

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Rivan adalah seorang Indonesia Value Investor yang memulai investasi sejak tahun 2008 ketika berusia 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, Rivan berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Berbekal pengalamannya, Rivan saat ini menjalani profesi sebagai Full Time Investor sekaligus praktisi di pasar modal. Saat ini, Rivan aktif mengadakan workshop dan pelatihan kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko di pasar saham.

Like Us On Facebook

Facebook Pagelike Widget

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Categories

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami