Suku Bunga Acuan Turun 50 bps dalam 2 bulan, Saatnya Beli Saham ?


Belakangan ini, salah satu berita yang menyita perhatian pasar adalah mengenai penurunan suku bunga acuan BI 7-Days Reverse Repo Rate (BI7DRR) – yang sering terhias di banyak headline surat kabar, portal berita, dan sebagainya. Di mana Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuan sebesar 50 bps (0,5%) hanya dalam waktu 2 bulan terakhir. Lantas, jika suku bunga acuan Indonesia dipangkas, apa saja dampak yang ditimbulkan?

 

Sikap Bank Indonesia yang cenderung dovish

Suku bunga acuan – seperti namanya – merupakan acuan penetapan suku bunga oleh bank sentral suatu negara kepada bank-bank umum lainnya. Jadi, suku bunga acuan menjadi acuan dan gambaran terkait berapa bunga yang harus ditetapkan oleh suatu bank. Bunga tersebut bisa berupa suku bunga tabungan, suku bunga deposito, suku bunga kredit, suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR), dan lain sebagainya.

Beberapa bulan terakhir terlihat bahwa Bank Indonesia cenderung melakukan sikap dovish – sikap  Bank Sentral suatu negara yang cenderung menahan atau menurunkan tingkat suku bunga acuan dari negara tersebut. Berbeda dengan tahun 2018 ketika tahun itu BI cenderung malah bersikap hawkish – sikap Bank Sentral suatu negara yang cenderung agresif dan ingin menaikkan tingkat suku bunga acuan dari negara tersebut – sampai menaikkan suku bunga acuan BI7DRR dari 4,25% sampai 6% di sepanjang 2018.

Indonesia’s BI7DRR (2018 – 2019). Source: tradingeconomics.com

Sikap Bank Indonesia yang dovish kemudian mengakibatkan BI7DRR turun 50 bps (0,5%) dalam kurun waktu 2 bulan pada bulan Juli dan Agustus 2019. Lantas. apa yang menyebabkan Bank Indonesia memutuskan menurunkan suku bunga acuan dalam 2 bulan terakhir ini ?

Salah satu penyebab Bank Indonesia akhirnya “berani” untuk menurunkan suku bunga acuan adalah didorong aksi The Fed yang juga mulai menurunkan suku bunga acuan Fed Rate di bulan Juli 2019 lalu sebesar 25bps dari 2.5 – 2.75% menjadi 2.25 – 2.5%. The Fed sendiri menghadapi tekanan yang cukup besar untuk menurunkan suku bunga terkait dengan perlambatan ekonomi yang dihadapi oleh US selama beberapa kuartal berikut ini. Jika Anda perhatikan tingkat pertumbuhan GDP US di bawah ini, Anda dapat melihat bahwa sejak Kuartal IV 2018 lalu hingga kuartal II 2019 ini, tingkat pertumbuhan US terus merosot. Salah satu penyebabnya ? Perang Dagang yang terus terjadi selama 1 tahun terakhir dengan China yang turut membuat tingkat pertumbuhan ekonomi merosot.

Growth Yearly GDP United States. Source: tradingeconomics.com

 

Perang dagang China – Amerika Serikat

Seperti disampaikan sebelumnya, salah satu penyebab penurunan ekonomi US (dan juga China) adalah karena terlibat dalam perang dagang. So, izinkan Penulis kembali membahas sedikit mengenai Perang Dagang ini.

Tahun 2019 kali ini kembali diwarnai dengan gejolak ekonomi yang disebabkan oleh perang dagang antara dua negara dengan perekonomian terkuat di dunia – China dan Amerika Serikat. Historically speaking, ketegangan antar dua negara ini sebenarnya telah terlihat sejak 2016, ketika Trump berkampanye sebagai calon presiden untuk melawan praktik “perdagangan tidak adil” yang dilakukan oleh China ketika rapat umum di Pennyslvania

 


Source: investing.com

Setelah Trump terpilih sebagai Presiden AS, Trump mengadakan pertemuan pertama dengan Presiden China, Xi Jinping, untuk melakukan perundingan 100 hari di Florida terkait perdagangan antar kedua negara. Dan sayangnya, perundingan 100 hari tersebut tidak membuahkan hasil yang positif.

Sampai sekarang, sudah banyak cara-cara negosiasi dalam perdagangan yang telah dilakukan negara Paman Sam dan Tirai Bambu ini, seperti pertemuan Trump dan Xi Jinping pada KTT G-20 di Osaka, Jepang, maupun melalui perundingan via online yang telah dilakukan, dan seperti yang terlihat, cara-cara negosiasi ini belum memberikan hasil yang positif.

Well, meskipun sudah melakukan beberapa cara perundingan dan pada awalnya terlihat membawa hasil yang menuju ke arah positif, Trump seringkali menghancurkan ekspektasi positif pasar dengan cara yang sederhana, yakni melalui tweet-nya. Ya, tweet Trump pada akun Twitternya.

Terbaru, pada 1 Agustus 2019 kemarin Amerika Serikat mengumumkan tariff baru 10% untuk barang-barang dari China sebesar USD 300 miliar yang akan mulai dilaksanakan pada 1 September 2019.

Hal ini direspon China dengan mengenakan tarif baru pada barang-barang dari AS sebesar 5-10% dan mulai berlaku juga pada 1 September 2019. Mendengar respon China, Trump merespon lagi dengan menaikkan tarif lagi menjadi 15% pada 1 September 2019, serta akan ada kenaikan tarif lagi dari 25% menjadi 30% mulai 1 Oktober 2019.

Dampak pembalasan pemberian tarif dari dan kepada dua negara dengan ekonomi terkuat satu sama lain ini mengakibatkan perlambatan ekonomi dunia.

Sebelumnya, Penulis telah menulis artikel tentang perang dagang antara AS – China beberapa waktu yang lalu. Untuk dapat menggali beberapa referensi, Anda dapat juga untuk membaca artikel tersebut pada link di bawah ini:

 

 

Perang dagang antara kedua negara inilah menyebabkan perlambatan ekonomi global, dan mempengaruhi semua negara yang bermitra dagang dengan keduanya. Nah, apa dampak pertikaian kedua negara ini ke ekonomi global dan termasuk di dalamnya Indonesia?

 

Perlambatan Ekonomi, Global, dan Domestik

Atas perang dagang yang terjadi selama setahun terakhir ini, memberikan dampak yang cukup signifikan pada pertumbuhan ekonomi global, termasuk Indonesia.

Sebagai gambaran pada bulan April 2019, International Monetary Fund (IMF) memprediksi pertumbuhan ekonomi global mencapai 3,3%. Namun pada bulan Juli kemarin, IMF memangkas prediksi tersebut menjadi sebesar 3,2%. Sentimen-sentimen negatif dan ketidakpastian ekonomi yang terjadi belakangan ini membuat IMF memangkas prediksinya. Sebut saja perang dagang yang baru saja dibahas, kondisi geopolitik, dan ada lagi isu brexit.

Dari dalam negeri, pertumbuhan GDP Indonesia di Q2 2019 tercatat sebesar 5,05% YoY dan 4,2% QoQ. Meskipun pertumbuhan GDP mengalami perlambatan dibandingkan dengan sebelum-sebelumnya, tetapi angka pertumbuhan ini masih dapat dikatakan masih cukup baik bila kita bandingkan dengan negara-negara lain di ASEAN yang rata-rata pertumbuhan GDP QoQ-nya berada di bawah 2%. Bahkan, Singapura mencatatkan pertumbuhan GDP negatif sebesar -3,3% QoQ.

Growth yearly GDP Indonesia. Source: tradingeconomics.com

 

Melihat kondisi perekonomian yang melambat, Bank Indonesia mulai mencari cara untuk menstimulus pertumbuhan ekonomi. Salah satunya adalah dengan menurunkan suku bunga acuan BI7DRR.

Di skala global, Bank Sentral terbesar di dunia, The Fed, juga telah mengambil langkah-langkah untuk mengantisipasi perlambatan ekonomi global. Bersikap dovish di tahun ini, The Fed juga telah menurunkan suku bunga acuannya, Fed Funds Rate, sebesar 0,25%. Tidak cuma Amerika Serikat dan Indonesia, banyak bank sentral negara lain yang juga menurunkan suku bunga acuannya karena menghadapi masalah yang serupa, perlambatan pertumbuhan ekonomi. Ambil saja Bank of India yang sampai bulan Agustus kemarin sudah memangkas suku bunga acuannya sebanyak 4x menjadi 5,4%. Bank Sentral Australia, Reserve Bank of Australia juga telah memangkas suku bunga acuan mereka dari 1,5% menjadi 1% selama tahun 2019.

Masuk ke poin penjelasan berikutnya, apa aja dampak penurunan suku bunga acuan sehingga bisa menopang pertumbuhan ekonomi?

 

Dampak penurunan suku bunga acuan

Seperti yang telah Penulis jabarkan di atas, suku bunga acuan digunakan sebagai acuan / patokan dalam pemberian bunga oleh bank-bank umum. Nah, di Indonesia, bank-bank umum tersebut menggunakan BI7DRR sebagai patokan.

Suku bunga yang terpengaruh antara lain suku bunga tabungan, suku bunga kredit, suku bunga deposito, pinjaman, dsb. Dengan menurunnya suku bunga acuan, ekspektasinya adalah untuk bank-bank umum juga menurunkan suku bunga tabungan mereka, suku bunga kredit, dan suku bunga tabungan untuk dapat meningkatkan konsumsi. Komponen dalam pertumbuhan ekonomi adalah konsumsi, yang berarti bila pertumbuhan ekonomi dapat terangkat bila tingkat konsumsi meningkat.

Memang hasilnya tidak akan terlihat dalam waktu singkat, tetapi dalam jangka waktu yang lebih panjang. Hingga sekarang, sudah ada beberapa bank yang menurunkan suku bunga kreditnya, salah satunya adalah PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI).

Source: Kontan.com

 

Dengan menurunkan suku bunga acuan, diharapkan juga masyarakat lebih banyak memegang cash dan melakukan konsumsi untuk membuat roda perekonomian lebih berjalan, hence menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang lebih baik.

 

Kredit Pemilikan Rumah (KPR)

Salah satu sektor yang diharapkan akan diuntungkan dengan penurunan suku bunga acuan BI adalah sektor property, di mana mayoritas masyarakat yang membeli rumah menggunakan skema KPR. Melalui pemangkasan suku bunga acuan, perlahan bank umum juga diharapkan akan ikut menurunkan suku bunga KPRnya. Menyebabkan masyarakat akan dapat membeli properti dengan bunga yang lebih murah. Hal ini diharapkan dapat mengulang kejayaan sektor properti.

Perlu Anda ketahui, sektor properti merupaan leading sector yang dapat menghasilkan domino effect ke banyak sektor lainnya. Melalui sektor properti, sektor semen juga terbantu karena membangun properti membutuhkan semen. Keramik, toilet, perabot rumah tangga, tenaga kerja, dan sektor-sektor lainnya, merupakan sektor-sektor yang akan terkena domino effect dari bertumbuhnya sektor properti.

Hal inilah yang diincar oleh Bank Indonesia untuk menstimulus pertumbuhan ekonomi melalui sektor properti.

 

 

Kesimpulan

Penurunan suku bunga acuan oleh banyak bank sentral di dunia dilakukan adalah sebagai langkah antisipasi yang ditimbulkan dari banyak ketidakpastian dan ekspektasi perlambatan ekonomi global. Isu-isu yang memperburuk kondisi ekonomi global seperti perang dagang antara dua negara dengan perekonomian terbesar di dunia, China – Amerika Serikat, menjadi pusat dari isu-isu ketidakpastian yang lain.

Bank Indonesia telah menurunkan suku bunga acuannya 2x sejauh ini, tetapi tidak menutup kemungkinan terjadi penurunan suku bunga acuan beberapa kali lagi ke depannya. Dampak yang dihrapkan dari penurunan suku bunga acuan ini adalah meningkatknya konsumsi masyarakat dan disokong oleh sektor properti.

Mengingat sektor properti merupakan leading sector yang dapat menghasilkan domino effect ke banyak sektor lainnya, diharapkan berkembangnya sektor properti dapat berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Di Indonesia sendiri, Penulis masih melihat prospek ekonomi yang cukup cerah ke depannya meskipun banyak sentiment negatif dari faktor external. Hal ini dibuktikan dari masih positifnya pertumbuhan ekonomi Indonesia dan konsumsi yang masih baik yang juga ditunjang oleh penurunan suku bunga acuan. Dari sisi investasi, Indonesia juga merupakan salah satu emerging market primadona terbaik yang dilirik investor asing, karena menmberikan imbal hasil return yang lebih tinggi dibanding negara-negara tetangga.

 

###

 

Info:

  • Monthly Investing Plan September 2019 sudah terbit. Anda dapat memperolehnya di sini.
  • Cheat Sheet LK Q2 2019 sudah terbit, Anda dapat memperolehnya di sini.
  • E-Book Quarter Outlook LK Q2 2019 sudah terbit. Anda dapat memperolehnya di sini.
  • Jadwal Workshop :
    • Workshop & Advance Value Investing (Bali, 12 -13 Oktober 2019) dapat dilihat di sini.
    • Workshop & Advance Value Investing (Medan, 02 – 03 November 2019) dapat dilihat di sini.
    • Workshop & Advance Value Investing (Jakarta, 23 – 24 November 2019) dapat dilihat di sini.

 

 

You may also like

3 Comments

  • Yuni
    September 2, 2019 at 2:22 PM

    Pak, jika BI rate diturunkan harapannya adalah masyarakat akan menjadi lebih konsumtif, tapi bagaimana jika masyarakat malah memindahkan/menggunakan uang mereka untuk berinvest, apakah BI rate akan diturunkan lagi?
    dan sektor apa saja yg terkena dari dampak turunnya BI rate?

    • Rivan Kurniawan
      September 7, 2019 at 5:45 AM

      Ketika BI Rate turun, masyarakat diharapkan bukan hanya lebih konsumtif, tetapi juga menggunakan uang untuk invest sehingga menggerakan pertumbuhan ekonomi.. Banyak sektor yang bisa terdampak positif dengan turunnya BI Rate… karena diharapkan akan menggerakkan perekonomian secara keseluruhan…

      • Obi
        September 16, 2019 at 6:07 PM

        Kalo investnya ke pasar saham, bukan ke sektor real, apakah juga akan mendorong pertumbuhan ekonomi?

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Rivan adalah seorang Indonesia Value Investor yang memulai investasi sejak tahun 2008 ketika berusia 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, Rivan berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Berbekal pengalamannya, Rivan saat ini menjalani profesi sebagai Full Time Investor sekaligus praktisi di pasar modal. Saat ini, Rivan aktif mengadakan workshop dan pelatihan kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko di pasar saham.

Like Us On Facebook

Facebook Pagelike Widget

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami