harga saham UNTR turun 50%

Harga Saham Turun 50% Dari Harga Tertingginya, Apakah UNTR sudah layak untuk Dikoleksi ?


Beberapa waktu belakangan ini terlihat salah satu saham LQ45 yang tercatat di Bursa Efek Indonesia, PT United Tractor Tbk (UNTR), mengalami penurunan harga yang cukup dalam. Harga saham perusahaan yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh PT Astra International Tbk ini pernah mencapai Rp 40,425 per lembar saham. Tetapi, sampai akhir Agustus harga saham UNTR berada di kisaran Rp 20.000 an. Apakah penurunan harga yang dalam ini juga mempengaruhi value perusahaan UNTR?

Anyway, UNTR dapat dikategorikan masuk ke dalam salah satu saham “Blue Chip”, Anda bisa membaca kembali artikel mengenai apa itu saham Blue Chip pada link di bawah ini:

  

 

[Baca Lagi : Keunggulan Saham Blue Chip]

 

 

Company Profile UNTR

PT United Tractors Tbk atau yang biasa dikenal sebagai UNTR di pasar saham, merupakan perusahaan yang bergerak di bidang distribusi alat berat dan merupakan yang terbesar di Indonesia. UNTR menjual produk dari brand-brand terkenal di dunia seperti Komatsu, UD Trucks, Scania, Bomag, Tadano, dan Komatsu Forest. Di luar distribusi alat berat, UNTR telah mengembangkan usahanya ke beberapa sektor seperti kontraktor penambangan, pertambangan batu bara, pertambangan emas, industri dan konstruksi.

UNTR didirikan pada tanggal 13 Oktober 1972 dan mencatatkan IPO perdana pada tanggal 19 September 1989. UNTR merupakan anak usaha dari PT Astra International Tbk (ticker: ASII), yang dikenal sebagai salah satu grup usaha terbesar di Indonesia.

UNTR memulai bisnisnya di tahun 1972 dengan menawarkan produk dari brand-brand terpercaya seperti Komatsu, UD Trucks, Scania, Bomag, dan Tadano. Baru sejak 2015, UNTR mulai memasuki industri konstruksi, yaitu sebagai kontraktor umum melalui akuisisi PT Acset Indonusa Tbk (ticker: ACST). Kemudian di tahun 2018,  UNTR melalui anak usahanya PT Danusa Tambang Nusantara menyelesaikan akuisisi PT Agincourt Resources (PTAR), perusahaan yang bergerak di bidang eksplorasi, penambangan, dan pengolahan mineral emas di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.

 

Kinerja Terhambat oleh Penurunan di Industri Batu Bara?

UNTR memiliki 5 lini bisnis sebagai sumber pendapatan utama. Secara detail, kontribusi masing-masing lini usaha terdahadap total pendapatan bersih perseroan yakni kontraktor penambangan 44%, mesin konstruksi 28%, pertambangan batu bara 16%, pertambangan emas 8%, dan industri konstruksi 4%.

Lini bisnis kontraktor penambangan dan pertambangan batu bara sendiri berkontribusi sekitar 60% dari total pendapatan bersih perusahaan. Perang dagang antara Cina dan Amerika menyebabkan permintaan perekonomian dunia melemah, tentu saja industri batu bara terkena dampaknya juga. FYI, China merupakan importir terbesar batu bara di dunia. Secara rata-rata, Cina mengimpor 10-15% kebutuhan batu baranya, sedangkan sisa 85-90%-nya menggunakan batu bara dari domestik.

Meningkatnya tensi perang dagang menyebabkan China untuk mengurangi impor batu baranya menjadi sekitar 5-10%, jadi China yang sebelumnya mengimpor 10-15% kebutuhan batu baranya, kini hanya mengimpor ±5% dari kebutuhan batu baranya saja – yang kemudian menyebabkan harga batu bara jatuh. Perlu Anda ketahui sebelumnya, batu bara merupakan komoditas sumber energi yang untuk sekarang masih paling banyak dipakai di seluruh dunia dengan mencapai persentase sebesar ±38% dari semua sumber daya yang ada.

Nah, Indonesia sebagai salah satu negara pengekspor batu bara tentu saja terkena dampaknya. Lebih spesifik lagi, UNTR yang merupakan kontraktor penambangan batu bara, memiliki bisnis pertambangan batu bara, dan penjualan mesin konstruksi yang mayoritas ke segmen batu bara juga terkena dampak dari peristiwa ini. Bagian penurunan pendapatan yang diterima UNTR karena peristiwa ini akan dibahas lebih detil pada bagian setelah ini.

 

Kinerja Keuangan UNTR selama Semester 1-2019

Setelah melihat kondisi pergerakan harga saham UNTR yang terus turun, sebagai seorang investor alangkah baiknya jika kita tidak berasumsi tanpa menggunakan data pendukung yang kuat untuk mendukung argument kita. Maka dari itu, alangkah baiknya lagi jika kita melihat bagaimana kinerja UNTR selama semester 1 di 2019 kemarin berdasarkan Laporan Keuangan Kuartal 2-2019.

Secara keseluruhan, pendapatan bersih yang diterima UNTR selama semester 1-2019 kemarin mencapai Rp 43.3 triliun, atau mengalami peningkatan sebesar 11% YoY jika dibandingkan dengan pendapatan pada semester 1-2018 yang mencapai Rp 38.9 triliun. Dilihat sekilas juga laba bersih UNTR di semester 1-2019 tercatat juga sebesar IDR 5.57 triliun, meningkat tipis 1.8% YoY dari laba bersih di semester 1-2018 sebesar IDR 5.47 triliun. Eh sebentar, kalau begitu.. pendapatannya meningkat, labanya juga meningkat, lantas kenapa harga sahamnya turun?

Source: Laporan Keuangan UNTR Semester 1-2019

 

 

Ternyata setelah ditilik lebih lanjut, meskipun UNTR mencatatkan pertumbuhan laba bersih secara YoY, namun UNTR mengalami penurunan laba bersih secara QoQ. Berdasarkan situs RTI, tercatat laba bersih per saham UNTR di kuartal 2-2019 hanya IDR 699, turun dari kuartal 1-2019 di mana saat itu tercatat sebesar IDR 818, atau turun sebesar 14.55% QoQ. Jadi, meskipun secara semesteran terlihat laba UNTR masih meningkat tipis, sebenarnya itu ditopang oleh kinerja di kuartal 1-2019 yang meningkat, dan di kuartal 2-2019 terjadi penurunan kinerja.

 

Kontribusi pendapatan UNTR dari tiap lini bisnis. Source: UNTR Public Expose 26 Agustus 2019

 

Sampai dengan semester I 2019, lini bisnis kontraktor penambangan masih menjadi kontributor terbesar dengan menyumbang IDR 19,2 triliun ke perusahaan. Kemudian disusul oleh dengan mesin konstruksi sebesar IDR 12,08 triliun. Di posisi 3 ditempati oleh lini bisnis pertambangan batu bara yang dimiliki UNTR sebesar IDR 6,79 triliun. Nah, sumber pemasukan yang keempat merupakan kontributor terbaru dalam meningkatkan pendapatan perusahaan, yakni di lini bisnis pendapatan emas di mana lini bisnis terbaru ini menyumbang pendapatan sebesar IDR 3,6 triliun. Dan yang terakhir adalah dari bisnis industri konstruksi yang menyumbang IDR 1,5 triliun.

Dari semua lini bisnis UNTR, yang mengalami penurunan pendapatan yang cukup signfikan adalah bagian penjualan mesin konstruksi yang menurun dari IDR 13,85 triliun pada tahun lalu menjadi hanya tinggal IDR 12,08 triliun atau menurun sebesar kurang lebih 12,77%. Perusahaan melaporkan penurunan penjualan alat berat perseroan dari yang sebelumnya mencapai 2.400 unit per semester 1-2018 menjadi tinggal 1,917 unit per semester 2-2019.

Meskipun terjadi penurunan di sektor mesin konstruksi, segmen bisnis UNTR yang lain justru mencatatkan peningkatan. Lihat saja dari segmen kontraktor pertambangan, di mana sampai akhir kuartal 2-2019 kemarin, UNTR mencatatkan peningkatan pendapatan sebesar 10,51% YoY. Segmen pertambangan batu bara juga mencatatkan peningkatan sebesar 13,31% YoY dari sebelumnya. Lini bisnis pertambangan emas juga menjadi sumber pendapatan yang baru bagi perusahaan sebesar IDR 3,6 triliun.

Terjadinya peningkatan pendapatan bersih tetapi tidak diikuti peningkatan laba bersih berarti adanya beban di akun (atau akun-akun) yang lain yang menghambat pertumbuhan laba bersih. Dalam kasus UNTR kali ini, beban tersebut ada pada beban umum dan administrasi yang naik sebesar 23.89% dari tahun lalu, dari IDR 1,46 triliun menjadi IDR 1,82 triliun.

Beban keuangan meningkat signifikan sebesar 129,07% dari IDR 490,6 miliar menjadi IDR 1,12 trilun. Detail dari meningkatnya beban keuangan ini disebabkan oleh beban bunga pinjaman bank yang meningkat 211,58% dan biaya bank yang juga meroket 105.63%.

Oleh karena itu, meskipun secara pendapatan bersih UNTR mencatatkan peningkatan sebesar 11,23% menjadi IDR 43,32 triliun, tetapi di bagian laba bersih malah terlihat menurun karena peningkatan beban perusahaan lebih tinggi dari peningkatan pendapatan perusahaan.

Profitabilitas UNTR. Source : Laporan Keuangan Kuartal II-2019 UNTR

 

Hal lain yang perlu diperhatikan dari laporan keuangan UNTR ini adalah meningkatnya pinjaman bank jangka panjang UNTR dari posisi IDR 2.9 triliun pada akhir Desember 2018 menjadi IDR 11.5 triliun per akhir kuartal 2-2019 kemarin. Pihak UNTR mengatakan bahwa utang bank tersebut agak digunakan untuk membiayai modal kerja, belanja modal, dan keperluan pendanaan umum lainnya juga. Tapi, jangan lupa juga untuk melihat utang jangka pendek UNTR yang berkurang sekitar IDR 8 triliun dari posisi terakhir di Desember 2018 sebesar IDR 48,7 triliun menjadi IDR 40,7 triliun sampai akhir Juni 2019. Hal ini berarti telah terjadi penurunan di utang jangka pendek dan peningkatan di utang jangka panjang.

Perbandingan antara utang jangka pendek dengan aset lancar (Liquidity Ratio) masih sebesar 1,37x (jumlah aset lancar masih bisa menutupi hutang jangka pendek)

Rasio hutang terhadap ekuitas sebesar 1,03x, masih sedikit di atas angka 1, tetapi jika dilihat dari sumber hutangnya mayoritas merupakan hutang jangka panjang yang juga tertekan oleh faktor external perusahaan.

Kendati demikian, terjadi penurunan di bagian arus kas operasi UNTR per kuartal 2-2019 ini. Berdasarkan laporan keuangan kuartal 2-2019,  arus kas operasi UNTR tercatat IDR 2,1 triliun, mengalami penurunan sebesar 33,38% dari arus kas operasi pada kuartal 2-2018 lalu. Terjadinya penurunan arus kas operasi ini disebabkan oleh meningkatnya pembayaran kepada supplier sebesar 14,58% menjadi IDR 33 triliun di kuartal 2-2019 dari IDR 28,8 triliun pada kuartal 2-2018 kemarin.

Selain itu, terjadi juga peningkatan pembayaran pajak penghasilan badan sebesar 124,2% dari IDR 1,78 triliun pada kuartal 2-2018 menjadi IDR 3,99 triliun pada kuartal 2-2019. Jadi, meskipun terjadi peningkatan pendapatan, tetapi pada laporan arus kas operasi UNTR justru tertekan karena adanya peningkatan pembayaran ke supplier dan pembayaran pajak.

Bagaimana dengan valuasinya ? Di harga 20.000 an ketika artikel ini ditulis, UNTR diperdagangkan dalam 6,75x P/E dan 1,31x PBV. Sebagai perbandingan, UNTR pernah diperdagangkan pada P/E sekitar 11-14 pada 2018 kemarin.

 

Kesimpulan

Sejauh ini penulis melihat bahwa penurunan yang terjadi pada saham UNTR bukan dikarenakan melemahnya dari operasional perusahaan, melainkan terjadi karena faktor external. Seperti yang sedang panas dibicarakan belakangan ini yakni tentang perang dagang antara China dan Amerika – dua negara dengan perekonomian terkuat di dunia – yang menyebabkan perlambatan ekonomi di seluruh dunia. Terlebih, komoditas batu bara juga terkena dampaknya.

UNTR sebagai perusahaan yang sources of revenuenya sangat terpengaruh oleh industri batu bara (untuk saat ini), sangat terkena dampaknya. Tapi, dapat dilihat UNTR sudah sebelumnya mengantisipasi pelemahan ini dengan melakukan ekspansi ke pertambangan emas, meskipun pertambangan emas baru berkontribusi sebesar 8% dari total pendapatan bersih UNTR.

Ke depannya, perusahaan juga mulai mengekspansi strategis ke bidang non-batu bara thermal, dan mendiversifikasi portfolionya yang berimbang dan dapat menghasilkan sustainable earning contribution (pendapatan yang berkelanjutan dan stabil).

Dari segi valuasi, untuk sekarang ketika UNTR diperdagangkan pada P/E sekitar 6,75x dan PBV 1,31x,  UNTR dapat dikatakan murah, karena UNTR pernah diperdagangkan pada P/E di 12-16x secara historisnya. Penulis juga masih melihat prospek bisnis yang cukup baik bagi UNTR untuk beberapa tahun ke depannya, mengingat strategi dan main business yang dijalankan sekarang masih cukup sustain.

Jadi, apakah value UNTR juga turun mengikuti penurunan yang terjadi pada harga sahamnya? Setelah Anda membaca ulasan dalam artikel ini, dapat disimpulkan bahwa harga saham UNTR yang mengalami penurunan sedalam 50% ini ternyata tidak tercermin sama di laporan keuangannya.

Lalu apakah saham UNTR saat ini layak untuk dikoleksi ? Pertanyaan ini sebenarnya sudah banyak diajukan oleh member Monthly Investing Plan (bit.ly/DaftarMIP) ketika saham UNTR waktu itu masih berada di kisaran Rp 26.000 – 28.000 per lembar saham di awal 2019, dan waktu itu Penulis mengatakan tidak. Setengah tahun berselang, saat ini harga sahamnya turun ke 20.000 an.

Penulis sendiri masih belum menganggap harga Rp 20.000 ini menarik, karena kalau kita bicara industry batubara dan sektor lain yang terkait di dalamnya, harga penurunan nya bisa turun sampai berapapun. Dalam hal ini, Penulis sama tidak tahunya dengan Anda apakah harga Rp 20.000 ini sudah bottom atau belum. Namun yang Penulis tahu belum ada alasan yang kuat untuk masuk ke UNTR saat ini karena secara harga batubara yang masih terus menurun sampai dengan saat ini dan belum ada tanda-tanda membaik ke depannya. Jadi meskipun Anda masuk di Rp 20.000 an, mungkin penurunannya sudah agak terbatas namun tidak berarti harga sahamnya akan langsung naik.

So, kalau Anda termasuk orang yang sabar, maka Anda boleh saja mulai mencicil masuk di UNTR ini. Namun kalau Anda bukan termasuk orang yang sabar, tunggu saja sampai indikator bahwa industry batubara membaik mulai muncul ke permukaan.

 

Disclaimer : Artikel ini bukan ajakan jual atau beli, Keputusan ada di tangan Investor masing-masing. Do Your Own Research.

 

###

 

Info:

  • Monthly Investing Plan September 2019 akan segera terbit. Anda dapat memperolehnya di sini.
  • Cheat Sheet LK Q2 2019 sudah terbit, Anda dapat memperolehnya di sini.
  • E-Book Quarter Outlook LK Q2 2019 sudah terbit. Anda dapat memperolehnya di sini.
  • Jadwal Workshop :
    •  Workshop & Advance Value Investing (Jakarta, 31 Agustus – 1 September 2019) dapat dilihat di sini.

 

 

Tags : Harga Saham UNTR Turun 50% | Harga Saham UNTR Turun 50% | Harga Saham UNTR Turun 50% | Harga Saham UNTR Turun 50% | Harga Saham UNTR Turun 50% | Harga Saham UNTR Turun 50% | Harga Saham UNTR Turun 50% | Harga Saham UNTR Turun 50% | Harga Saham UNTR Turun 50% | Harga Saham UNTR Turun 50%

You may also like

1 Comment

  • Erwin
    August 27, 2019 at 4:53 PM

    Thanks Pak, harganya memang masih kurang murah. dan belum ada tanda2 batu bara akan recovery.
    jadi kami sabar menunggu sampai ada tanda2 membaik saja.
    batu bara sulit ditebak

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Rivan adalah seorang Indonesia Value Investor yang memulai investasi sejak tahun 2008 ketika berusia 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, Rivan berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Berbekal pengalamannya, Rivan saat ini menjalani profesi sebagai Full Time Investor sekaligus praktisi di pasar modal. Saat ini, Rivan aktif mengadakan workshop dan pelatihan kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko di pasar saham.

Like Us On Facebook

Facebook Pagelike Widget

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Categories

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami