layakkah barang koleksi disebut instrumen investasi

Layakkah Barang Koleksi Disebut bagian dari Instrumen Investasi ?


Tidak sedikit di antara kita yang pasti memiliki sejumlah barang koleksi, baik dari jenis barang yang berharga atau pun yang tidak. Meskipun seringkali barang-barang koleksi masuk ke dalam golongan barang yang mempunyai nilai mahal. Lantaran barang koleksi dinilai sebagai barang yang bernilai tinggi bagi si kolektornya. Kondisi itu membuat sang kolekor tidak ragu untuk mengumpulkannya dalam jumlah yang banyak dan bahkan beraneka ragam. Kira-kira apakah dengan banyaknya jumlah barang koleksi yang dimiliki, sudah bisa disebut sebagai instrumen investasi ? Dan layakkah barang koleksi disebut sebagai instrumen investasi ?

Barang-barang koleksi tidak hanya dikenal karena nilainya yang tinggi, dan membuat harganya menjadi sangat mahal. Namun daya tarik dari barang koleksi ini karena juga dianggap sebagai barang yang sudah langka untuk ditemukan di masa modern seperti saat ini, kondisi itu membuat barang-barang koleksi itu menjadi edisi spesial bagi penggemarnya. Tak pelak membuat penggemar barang-barang koleksi mengklaim bahwa dirinya sudah melakukan sebuah investasi. Hanya karena barang koleksinya memiliki nilai yang cukup tinggi, dan bukan hal yang mustahil akan menjadikan seseorang kaya raya karena barang-barang koleksinya itu. Bahkan tak jarang ada kolektor yang menyebutkan, bahwa barang koleksinya bisa mengalahkan nilai dari sebuah instrumen investasi seperti halnya saham.

Namun nampaknya kolektor barang-barang tersebut lupa, bahwa barang-barang koleksi memiliki risiko yang cukup rentan, dan tidak bisa menjamin untuk memenuhi kebutuhan keuangan Anda di masa mendatang. Sejalan dengan pemenuhan kebutuhan Anda di masa-masa yang akan datang, pada dasarnya Anda hanya memiliki Aset Produktif dan Aset Konsumtif. Anda bisa membaca kembali artikelnya dengan klik gambar di bawah ini :

 

 

Nah berikut ini, adalah barang koleksi yang dianggap juga sebagai instrumen investasi

Barang koleksi yang bernilai tinggi biasanya tersedia dalam bentuk barang-barang seni dengan nilai artistik yang juga tinggi. Misalnya saja patung-patung yang menyerupai figur tertentu, benda jaman dahulu seperti macam-macam keris, atau bahkan koleksi beragam jenis perangko, tas bermerek, lukisan, jam antik, dan masih banyak yang lainnya lagi.

Melansir sebuah pengalaman dari Majalah Intisari Edisi Khusus Financial Planning – Desember 2005, Bapak Haryono Haryoguritno berusia 74 tahun merupakan seorang pecinta keris. Ia membeli keris dari seorang bangsawan Solo di tahun 1970, saat itu ia membeli keris tersebut hanya dengan harga Rp 500.000-. Berselang sekitar 25 tahun kemudian, keris tersebut ditawar oleh seorang kolektor lain dengan harga Rp 125 juta. Sehingga jika dihitung, maka harga keris sudah mengalami peningkatan hingga sekitar 250x lipat dari harga awalnya selama 25 tahun itu.

Namun meski begitu, apakah barang-barang koleksi itu bisa dikatakan sebagai instrumen investasi ? Meskipun barang koleksi bisa menjadi bagian dari produk investasi di masa depan, namun barang koleksi juga memiliki risiko yang tinggi.

 

Bedanya Instrumen Investasi VS Barang Koleksi

Pada dasarnya pengertian investasi adalah sebuah cara untuk bisa mencapai tujuan keuangan, dengan memanfaatkan peningkatan nilai dari sebuah instrumen investasi. Investasi dinilai akan memberikan keuntungan bagi pemiliknya, yakni investor. Dengan berinvestasi, seorang investor hanya akan menanamkan modalnya dan kemudian uang yang akan bekerja, sehingga bisa menghasilkan keuntungan bagi investor. Di tambah lagi dengan keunggulan investasi, yang memiliki hasil imbal balik di atas rata-rata pergerakan inflasi.

Tentu hal tersebut berbeda dengan barang koleksi meskipun akan menghasilkan keuntungan yang besar dikemudian hari dan mungkin mengalahkan keuntungan dari investasi jenis lain, seperti saham. Keuntungan besar dari barang koleksi tersebut, juga dipengaruhi oleh hobi yang senantiasa melibatkan emosi di dalamnya. Hal itu lah yang membuat harga jual barang koleksi bisa melambung tinggi, sehingga bukan hal mustahil jika ada kolektor yang suka pada barang koleksi tertentu berani membayar berapa pun harganya. Dengan kondisi seperti itu, untuk melakukan investasi pada barang koleksi akan lebih aman jika sudah memiliki penghasilan dan tabungan yang tersedia dalam waktu yang relatif lama.

Nah berikut ini ada faktor-faktor risiko yang ada dibalik investasi barang koleksi…

 

Barang Koleksi VS Investasi

#Barang Koleksi Tidak Likuid

Hal pertama yang menjadi risiko dari barang-barang koleksi, adalah tidak likuid. Hal itu dikarenakan sifatnya yang tidak bisa dijual dan dicairkan menjadi uang tunai dengan mudah dan cepat. Ketidakmudahan itu disebabkan oleh barang-barang koleksi yang sangat tersegmentasi, di mana peminatnya pun hanya berasal dari segmen kolektor saja. Itu pun umumnya, barang koleksi yang akan dijual harus ditawarkan kepada para koleksi sesama barang saja sehingga akan memungkinkan barang koleksi akan mendapatkan harga yang mahal. Sebaliknya jika pun ditawarkan ke orang yang bukan dari kalangan kolektor dengan harga termurah pun, belum tentu orang itu akan membelinya.

Kalau pun Anda mengandalkan barang koleksi, belum tentu di 15 tahun mendatang Anda akan mudah menemukan seorang kolektor yang mau membeli barang koleksi Anda dengan harga yang tinggi. Bahkan mungkin risikonya, Anda terpaksa menjualnya dengan harga yang lebih rendah dari perkiraan. Contohnya saja yang seringkali dianggap membuat kaya raya dalam waktu singkat, adalah keris yang dibanderol dengan harga tinggi hingga ratusan juta. Dan bahkan sebuah seni lukisan yang kadangkala juga dihargai dengan sangat mahal, tak jarang kita dengar ada sebuah lukisan yang ditawar hingga sebesar Rp 1 miliar hingga Rp 3 miliar. Namun perlu diingat untuk bisa menjualnya tidaklah mudah, karena tentu yang membelinya pun hanya orang yang menyukai barang-barang tersebut.

Hal itu tentu sangat berbeda jauh dengan investasi, di mana investasi bisa ditentukan jangka waktunya baik investasi jangka pendek maupun investasi jangka panjang. Hal itu untuk menyesuaikan dengan kebutuhan si investor. Misalnya saja untuk kebutuhan biaya pendidikan anak-anak Anda untuk 15 tahun ke depan. Dengan investasi Anda bisa memperkirakan bahwa Anda akan melakukan investasi dalam waktu yang panjang.

 

 

#Risiko yang Tidak Bisa Diukur

Risiko kedua dari barang koleksi yang tidak disadari oleh semua orang adalah, tidak adanya harga pasar yang terstandarisasi untuk menjaga nilai dari sebuah barang koleksi. Artinya fluktuasi barang koleksi tidak bisa diprediksikan, sehingga tidak ada tolak ukur yang jelas untuk risiko dari barang koleksi. Di sisi lain, Anda juga tidak bisa memperkirakan berapa besar risiko yang akan dihadapi jika berinvestasi di barang koleksi. Apalagi peminat barang koleksi sangat terbatas hanya pada sesama kolektor saja.

Kondisi itu tentu juga berbeda dengan investasi, lantaran pada umumnya risiko investasi bisa diprediksikan. Dan bahkan investasi saham sudah memiliki harga pasar dan juga harga sebenarnya. Di tambah lagi peminat investasi saat ini sudah sangat luas, dari berbagai kalangan dan tidak tersegmentasi.

 

#Barang Koleksi Tidak Punya Harga Pasar yang Jelas

Risiko ketiga dari barang koleksi adalah bukan termasuk barang yang bisa diperdagangkan dengan mudah dan bahkan secara umum seperti barang di Supermarket. Hal itu lebih dikarenakan, barang koleksi masuk ke dalam kategori tertentu yang tidak dimengerti oleh orang pada umumnya. Akan tetapi, barang koleksi tersebut memiliki makna tersendiri bagi kolektor barang bersangkutan. Sehingga barang koleksi bisa bernilai sangat mahal, karena dinilai langka ataupun dari sisi keistimewaan khususnya. Meski demikian, tidak akan semua orang akan mengerti mengenai keistimewaan barang koleksi tersebut.

Ambil saja contohnya : Keris. Tidak semua orang paham apa kelebihan dari keris tersebut, sehingga bisa ditawar dengan harga yang sangat mahal. Kalau pun harus disebut sebagai bagian dari investasi, namun tidak memiliki standar harga pasaran yang beredar dan dimengerti oleh orang pada umumnya. Sehingga akan cukup sulit menentukan harganya. Alasan lain yang bisa diterima terkait harga barang koleksi, adalah harganya yang fleksibel karena hanya ditentukan berdasarkan kesepakatan tawar-menawar antar pemilik dengan kolektor calon pembeli.

 

#Kolektor Barang Harus Terhubung dengan Komunitas yang Sama

Risiko keempat yang seringkali luput dari perhatian para kolektor barang adalah mereka harus berada dalam satu jaringan sebuah komunitas yang saling terhubung. Hal itu menjadi point penting untuk menjaga nilai (value) dari barang-barang koleksi mereka di mata orang lainnya. Seperti yang sudah Penulis sebutkan di atas, tidak semua orang mengerti nilai dari barang-barang koleksi. Sehingga untuk memudahkan pemilik menjual barang-barang koleksinya maka harus terhubung dengan orang-orang yang memiliki hobi sejenis dan minat yang sama terhadap jenis barang yang juga sama. Karena tanpa komunitas yang tepat, maka barang koleksi akan sulit dijual kembali. Hal itulah yang membuat barang koleksi kurang tepat jika dimasukkan ke dalam kategori instrumen investasi untuk masa depan.

 

#Harus Mengetahui Keistimewaan dari Barang Koleksi

Risiko kelima, berinvestasi pada barang koleksi nampaknya bukanlah suatu pilihan untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan keuangan di masa depan. Lantaran Anda sebagai kolektor barang, harus mengetahui persis bagaimana keistimewaan dan juga keunikan dari barang koleksi karena bisa saja ada barang dengan merek dan jenis yang sama. Hal itu berguna untuk menaikkan harga dari barang koleksi. Misalnya saja, meski barang sama tapi salah satu diantaranya punya nilai plus seperti pernah digunakan oleh orang terkenal. Bisa jadi hargarnya akan jauh berbeda. Tentu ini menjadi tantangan tersendiri bagi Anda yang beinvestasi di barang-barang koleksi.

 

Kesimpulan

Kita memang bebas memilih akan berinvestasi pada barang, aset, maupun instrumen apa saja, bahkan mungkin dengan barang-barang koleksi yang sudah dimiliki. Namun sepanjang pembahasan di atas, kita melihat bahwa tidak ada potensi kemudahan yang tersedia dalam barang-barang koleksi jika dijadikan sebagai investasi. Tidak seperti halnya kita berinvestasi pada instrumen investasi, salah satunya saham yang dengan mudah kita jual.

Apalagi dalam menjual barang-barang koleksi mungkin bisa saja terjual dengan harga yang sangat tinggi. Namun kita tetap perlu mempertimbangkan seberapa mudahnya produk investasi Anda bisa dijual kembali. Hal itu perlu dilakukan untuk menghindari risiko, jangan sampai Anda berinvestasi tapi justru Anda tidak bisa menjualnya hanya karena barangnya tersegmentasi dan sulit dijual.

Catatan penting bagi kita jika ingin berinvestasi melalui barang-barang koleksi, memang secara harga bisa saja melambung secara tiba-tiba. Kendati demikian, sangat disayangkan lantaran hingga saat ini tidak ada variabel yang pasti untuk bisa mengetahui apa yang menyebabka kenaikan harga pada barang-barang koleksi. Sehingga membuat barang koleksi kurang tepat jika disebut sebagai bagian dari instrumen investasi. Dan sampai saat ini, investasi pada instrumen saham lah yang masih menjadi pilihan yang lebih unggul untuk menjamin kesejahteraan para investor di masa depan.

 

###

 

Info:

  • Monthly Investing Plan September 2019 akan segera terbit. Anda dapat memperolehnya di¬†sini.
  • Cheat Sheet LK Q2 2019¬†sudah terbit, Anda dapat memperolehnya di¬†sini.
  • E-Book Quarter Outlook LK Q2 2019¬†sudah terbit. Anda dapat memperolehnya di¬†sini.
  • Jadwal¬†Workshop :
    • ¬†Workshop & Advance Value Investing (Jakarta, 31 Agustus – 1 September 2019) dapat dilihat di sini.

 

 

Tags : Layakkah barang koleksi disebut instrumen investasi | Layakkah barang koleksi disebut instrumen investasi | Layakkah barang koleksi disebut instrumen investasi | Layakkah barang koleksi disebut instrumen investasi | Layakkah barang koleksi disebut instrumen investasi | Layakkah barang koleksi disebut instrumen investasi

You may also like

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Rivan adalah seorang Indonesia Value Investor yang memulai investasi sejak tahun 2008 ketika berusia 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, Rivan berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Berbekal pengalamannya, Rivan saat ini menjalani profesi sebagai Full Time Investor sekaligus praktisi di pasar modal. Saat ini, Rivan aktif mengadakan workshop dan pelatihan kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko di pasar saham.

Like Us On Facebook

Facebook Pagelike Widget

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami

Translate ¬Ľ
error: Content is protected !!