Harga Saham Turun 30%, Apakah MYOR Layak Dikoleksi ?


Selama 1 tahun terakhir ini, harga saham MYOR yang sempat berada di harga saham 3100 an di Juli 2018, terus menurun hingga sempat mencapai harga 2100 an di Juli 2019, sebelum akhirnya rebound ke 2400 an dalam beberapa waktu terakhir ini. Hal ini membuat sejumlah investor retail menjadi bertanya-tanya, apa penyebab penurunan harga saham perusahaan yang bergerak di bidang FMCG ini? Apakah penurunan harga saham MYOR ini disebabkan karena penurunan fundamental? Dan apakah penurunan harga sahamnya bisa disebut opportunity ?

Sekilas Perusahaan MYOR

PT Mayora Indah Tbk resmi didirikan pada tahun 1977, dengan lokasi pabrik pertama di Tangerang dan memiliki target pasar untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya. Seiring dengan perkembangannya, akhirnya perusahaan ini melakukan Penawaran Umum Perdana pada tahun 1990 dan resmi memakai kode perdagangan MYOR. Pencatatan saham itu dilakukan di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya. Sekaligus memperbarui target pasarnya dengan menyasar lingkup konsumen Asean, dan juga ke negara-negara Asia lainnya. Hingga saat ini, produknya sudah tersebar merata di 5 benua dunia.

 

Adapun sampai saat ini MYOR bersama entitas anak usahanya, memproduksi produknya secara umum ke dalam 2 kategori yakni makanan dan minuman olahan. Dari kedua kategori tersebut, dalam produksinya dilaksanakan oleh 6 divisi berbeda : Biskuit, Kembang Gula, Wafer, Coklat, Kopi, dan Makanan Kesehatan. Namun tidak semua produk Mayora Group dikonsolidasikan ke bawah MYOR, seperti Le Minerale dan Teh Pucuk Harum. Kedua produk tersebut dikonsolidasikan ke bawah PT Tirta Fresindo Jaya, yang merupakan sister company dari MYOR namun masih dimiliki pemegang saham yang sama. Sebagai gambaran jelasnya, produk-produk yang dikonsolidasikan ke MYOR bisa Anda lihat langsung pada screenshot di bawah ini :

Pembagian 6 Divisi Produk. Source : Laporan Tahunan MYOR 2018

 

Apakah Penurunan Harga Saham MYOR Disebabkan Penurunan Kinerja Fundamental ?

Seperti disebutkan di atas, harga saham MYOR terus merosot dari Rp 3100 an di Juli 2018 menjadi Rp 2100 an di Juli 2019, sebelum rebound ke 2400 an dalam beberapa waktu belakangan ini. Apakah penurunan harga sahamnya disebabkan oleh penurunan kinerja fundamentalnya ? Oke untuk lebih jelasnya kita lihat perkembangan terbaru kinerja MYOR.

Pada saat artikel ini dirilis, MYOR baru saja merilis Laporan Keuangan Q2 2019 nya. Dalam kinerja laporan keuangan yang terbaru, MYOR ternyata mencatatkan pertumbuhan yang cukup positif, baik dari sisi Pendapatan maupun Laba Bersih nya di sepanjang semester I-2019 ini. Kinerja MYOR masih terbilang positif, dengan kenaikan Revenue dari Rp 10.8 triliun di semester I 2018 menjadi Rp 12.0 triliun di semester I 2019, atau meningkat 11.1% YoY. Peningkatan Pendapatan MYOR pada Kuartal II-2019 ini, tidak terlepas dari kontribusi Penjualan Lokal yang menjadi penyumbang utama bagi Pendapatan MYOR yakni sebesar 42.5% atau sekitar Rp 6.9 triliun. Dan kontribusi kedua dari Penjualan Ekspor yakni sebesar 57.5% atau sekitar Rp 5.1 triliun. Sebagai gambaran lebih jelasnya bisa terlihat pada screenshot di bawah ini :

Kontribusi Penjualan MYOR. Source : Laporan Kuartal II-2019

 

Demikian pula secara bottom line, MYOR mencatatkan perolehan Net Profit sebesar Rp 807 miliar per Semester I 2019, atau meningkat 10% YoY dibandingkan perolehan Net Profit Rp 735.8 miliar di Semester I 2018 lalu.

Bahkan kalau kita tarik pencapaian MYOR dari 9 tahun terakhir, terhitung dari Laporan Keuangan 2011 – Q2 2019. Terlihat memang MYOR ini konsisten mencatatkan kenaikan Pendapatan dari Rp 9.4 triliun di tahun 2011, saat ini menjadi Rp 24 triliun (Annualized) Kuartal II-2019. Dengan rata-rata pertumbuhan CAGR sekitar 12.4%.

Pertumbuhan Pendapatan MYOR 2011 – 2019. Source : Cheat Sheet

[Klik untuk Berlangganan Cheat Sheet]

 

Sejalan dengan Pendapatan, Gross Profit dan Operating Profit MYOR juga termasuk konsisten terus meningkat dalam 9 tahun terakhir berkat sejumlah efisiensi yang dilakukan oleh MYOR. Demikian pula, Gross Profit Margin (GPM) MYOR juga konsisten meningkat, termasuk meningkat dari 27% di tahun 2018, saat ini menjadi 30% per tahun 2019.

Gross Profit MYOR 2011 – 2019. Source : Cheat Sheet

[Klik untuk Berlangganan Cheat Sheet]

 

Operating Profit MYOR 2011 – 2019. Source : Cheat Sheet

[Klik untuk Berlangganan Cheat Sheet]

 

Demikian juga dengan Laba Bersih yang senantiasa meningkat dari Rp 471 miliar di tahun 2011, menjadi Rp 1.6 triliun (Annualized) Kuartal II-2019. Atau dengan rata-rata pertumbuhan CAGR sekitar 16.7%.

Laba Bersih MYOR 2011 – 2019. Source : Cheat Sheet

[Klik untuk Berlangganan Cheat Sheet]

               

Sedikit catatan bagi Anda, meskipun secara nominal meningkat namun perolehan Laba Bersih MYOR ini masih termasuk rendah bila dibandingkan dengan Pendapatan MYOR. Hal itu terlihat dari Net Profit Margin (NPM) MYOR yang berada di kisaran 6.7%. Selama 9 tahun terakhir ini pun, NPM MYOR tidak pernah bergerak jauh dari kisaran 6 – 8 % per tahun nya. Demikian pula meskipun Gross Profit Margin (GPM) MYOR ini meningkat, namun tidak berpengaruh banyak terhadap NPM yang cenderung stagnan. Lebih jelasnya seperti di bawah ini :

NPM masih cenderung stagnan di kisaran 7%. Source : Cheat Sheet.

[Klik untuk Berlangganan Cheat Sheet]

 

Salah satu hal yang menyebabkan Net Profit Margin (NPM) MYOR tertekan adalah disebabkan adanya kenaikan beban bunga sekitar 18.66% dari Rp 209 miliar per Kuartal II 2018 menjadi Rp 248 miliar per Kuartal II-2019. Di waktu yang bersamaan MYOR juga harus menanggung kerugian selisih kurs sebesar Rp 103 miliar per Kuartal II-2019, padahal di periode yang sama tahun 2018 kemarin MYOR masih mencatatkan Laba selisih kurs sebesar Rp 156 miliar. Sebagai gambarannya seperti di bawah ini :

Beban Lain-lain MYOR. Source : Laporan Keuangan Kuartal II-2019

 

Risiko MYOR

Jika melihat kinerjanya pada pembahasan di atas, secara keseluruhan bisa dikatakan bahwa kinerja MYOR ini cukup positif. Kendati demikian, bukan berarti kinerja saham MYOR ini lepas dari sejumlah risiko.

Salah satu risiko yang dihadapi MYOR adalah risiko kurs mata uang asing. MYOR termasuk emiten yang dipengaruhi oleh kurs mata uang asing, di mana kondisi MYOR ini justru berbanding terbalik dengan perusahaan lain pada umumnya. Jika perusahaan lain akan dirugikan ketika Rupiah melemah, dan sebaliknya akan diuntungkan ketika Rupiah menguat. Beda halnya dengan MYOR, yang justru akan diuntungkan ketika Rupiah melemah dan sebaliknya akan dirugikan ketika Rupiah menguat. Lho kenapa MYOR ini justru memiliki kondisi yang terbalik dari perusahaan lain ?

Kondisi tersebut terjadi, lantaran MYOR ini memiliki sejumlah Aset dalam mata uang asing yang nilainya jauh lebih besar dibandingkan dengan Liabilitas dalam mata uang USD. Atau dalam bahasa yang sederhana, Aset USD MYOR jauh lebih besar daripada utang USD nya. Adapun sebagai gambarannya pada Laporan Keuangan Kuartal II-2019, pada bagian khusus di Risiko Mata Uang Asing. Di mana MYOR mempunyai Aset dalam mata uang asing yang setara Rp 3.4 triliun. Sedangkan Liabilitas dalam mata uang asing hanya setara Rp 32.2 miliar. Berikut ini adalah perbandingannya :

Perbandingan Aset dan Liabilitas dalam USD. Source : Laporan Keuangan Kuartal II-2019

 

Dengan begitu, jika Rupiah menguat seperti saat ini pada kisaran Rp 13.900 dan USD melemah, maka seluruh Aset dalam mata uang asing nilainya akan berkurang. Hal ini yang menjelaskan mengapa MYOR mencatatkan kerugian selisih kurs sebesar Rp 103 miliar per Kuartal II-2019, padahal di periode yang sama tahun 2018 kemarin MYOR masih mencatatkan Laba selisih kurs sebesar Rp 156 miliar.

               

Prospek Bisnis MYOR Ke Depan

Jika tadi kita sudah mengulas bagaimana kinerja fundamental dan segala risiko yang mungkin dihadapi oleh MYOR. Baiknya kini juga diimbangin dengan seperti apa prospek bisnis MYOR ke depannya. Dengan pencapaian kinerja yang konsisten meningkat setiap tahunnya itu, peluang bisnis MYOR ke depannya masih terbuka lebar, di antaranya :

Pertama, MYOR senantiasa berinovasi mengembangkan aneka ragam produk-produk baru, guna meningkatkan jumlah permintaan. Sekaligus akan tetap fokus di segmen pasar menengah ke bawah.

Kedua, kontribusi dari pasar ekspor masih bisa mengimbangi permintaan dari pasar lokal. Lantaran segmen pasar ekspor memang menjadi nilai lebih bagi prospek MYOR, bahkan bisa menjadi alternatif untuk meminimalisir risiko fluktuasi kurs bila sewaktu-waktu USD mengalami penguatan terhadap Rupiah. Hal itu juga seiring dengan rencana MYOR yang akan menggenjot pasar ekspornya terutama untuk wilayah Timur Tengah dan Eropa Barat.

Ketiga, MYOR juga akan melanjutkan ekspansi penjualan produk kopi nya ke Filipina yang sudah menjadi salah satu penopang pertumbuhan kinerja MYOR untuk ke depannya. Kondisi itu semakin mendapat dukungan setelah pemerintah Indonesia dan Filipina mencapai kesepakatan bilateral ekspor dan impor antar kedua negara. Di mana MYOR sendiri sudah memanfaatkan kondisi itu dengan membeli sebanyak 1.100 ton kelapa dari Filipina.

 

Harga Saham Turun 30%, Apakah bisa disebut Opportunity ?

Setelah mempertimbangkan kinerja fundamental, potensi, dan risiko MYOR di atas, bagaimana dengan kinerja harga sahamnya? Nah ini adalah bagian yang menarik. Di mana ternyata selama 1 tahun terakhir ini, harga saham MYOR terlihat turun dari 3100 an menuju ke 2100 an (- 30%), sebelum akhirnya rebound ke 2400 an belakangan ini. Kalau memang kinerja MYOR bagus seperti dijelaskan di atas, lalu kenapa harga sahamnya turun sampai 30% ?

 

Pergerakan Saham MYOR. Source : RTI Business 

               

Jawabannya sebenarnya simple saja. Meskipun kinerja sebuah perusahaan terbilang bagus, namun jika valuasi harga sahamnya terlalu mahal, maka yaa pada akhirnya akan turun juga. Termasuk MYOR ini ketika harga sahamnya berada di 3100 an pada Juli 2018, dengan Earnings Per Share yang saat itu mencapai Rp 77 / lembar dan Book Value per Share yang mencapai Rp 373 / lembar, mencerminkan PER 40x dan PBV 8.3x !! dan menjadikannya sebagai salah satu saham premium di BEI.

Stock Split 1 : 25 yang dilakukan MYOR di Agustus 2016 juga menjadi fackor yang membuat harga saham MYOR terus diburu oleh investor retail yang tadinya tidak bisa membeli karena harganya yang terlalu mahal, menjadi terjangkau setelah stocksplit 1 : 25 tadi. Misal saat di bulan Agustus 2016 tersebut, sebelum stocksplit harga saham MYOR adalah di kisaran Rp 27.500 / lembar, maka investor harus merogoh kocek Rp 2.75 juta untuk membeli 1 lot MYOR di 2016. Setelah stock split 1 : 25, harga sahamnya menjadi Rp 1.100 / lembar, maka investor hanya perlu merogoh kocek Rp 110.000 untuk membeli 1 lot MYOR.

Bagaimana dengan saat ini ? Apakah dengan harga sahamnya yang sudah turun sekitar 30% dalam setahun terakhir merupakan opportunity ? Well kita coba cek valuasinya saat ini. Harga saham MYOR ketika artikel ini di tulis berada di kisaran 2400-an. Dengan Earnings Per Share yang saat ini sebesar Rp 72 / lembar dan Price to Book Value yang saat ini sebesar Rp 409 / lembar mencerminkan valuasi PER 33.2x dan PBV 5.9x. Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun secara historical price harga saham MYOR terlihat cukup murah, namun secara valuasi tentu saham MYOR ini juga belum bisa dikategorikan undervalued.

Di sisi lain memang secara historical, kita hampir tidak pernah menemukan MYOR berada pada Valuasi PER yang terlalu murah. Mengingat hingga saat ini pun pencapaian kinerja dan reputasi MYOR yang tergolong sangat positif. Adapun jika kita melihat Valuasi PER MYOR dari tahun 2011 hingga per Juli 2019, kita hampir tidak pernah bisa mendapatkan MYOR let say pada PER < 10x. Karena sepanjang 2011 – 2019, valuasi MYOR hampir selalu berada pada valuasi premium, yaitu di PER 20 – 35x.

PER MYOR 2011 – 2019. Source : Cheat Sheet

[Klik untuk Berlangganan Cheat Sheet]

 

Jadi kesimpulannya, level harga yang bisa dikatakan cukup aman adalah jika Anda masuk ke MYOR ini let say pada valuasi PER < 20x. Itu artinya, dengan EPS MYOR yang saat ini berada di Rp 72 / lembar, maka MYOR akan berada pada valuasi PER < 20x, jika harga sahamnya berada pada kisaran Rp 72 X 20 = Rp 1400 an. Well, we never know apakah penurunan harga saham MYOR akan terus ke level 1400 an, atau terhenti di 2100 an.

Atau Anda masuk ke MYOR ini dengan cara melakukan scaling in (masuk secara bertahap). Jadi katakanlah Anda masuk ke MYOR ini di 2400 an, nanti kalau misalkan harga sahamnya ternyata benar-benar turun ke < 2000 atau benar sampai ke < 1500, maka Anda jangan cut loss, melainkan lakukan average down secara berkala (which is adalah esensi dari program Yuk Nabung Saham).

 

Kesimpulan

Sampai dengan semester I-2019 ini, MYOR masih mencatatkan peningkatan kinerja yang positif, dengan kenaikan baik dari segi Pendapatan, Gross Profit, Operating Profit, dan Net Profit. Sayangnya kenaikan Net Profit secara nominal tersebut tidak diiringi dengan pertumbuhan Net Profit Margin (NPM) nya yang justru stagnan di kisaran 7%, lantaran MYOR harus menanggung kenaikan beban bunga dan juga kerugian selisih kurs pada Kuartal II-2019 ini.

Meskipun MYOR mampu mencatatkan kinerja yang positif, namun bukan berarti MYOR bebas dari risiko. Salah satu risiko yang dihadapi MYOR adalah MYOR akan mengalami kerugian selisih kurs mata uang asing jika Rupiah bergerak menguat. Hal iu terjadi karena MYOR mempunyai Aset USD yang lebih besar daripada utang USD nya.

Kabar baiknya yang juga menjadi peluang untuk mendukung perkembangan bisnis MYOR ke depannya. Karena MYOR ini tidak berhenti berinovasi dalam perihal produk-produknya, bahkan MYOR juga akan menggenjot pasar ekspornya terutama di wilayah Timuar Tengah dan Eropa Barat. Dan terakhir, MYOR juga kan terus konsisten mengembangkan ekspansinya produk kopi ke Filipina.

Sayangnya, penurunan harga saham MYOR sekitar 30% selama 1 tahun terakhir ini meskipun membuat harga sahamnya terlihat murah secara historical, tidak serta merta membuat harga sahamnya murah secara nilai (undervalued). Pada saat harga sahamnya saat ini berada di Rp 2400 an, membuat MYOR saat ini diperdagangkan pada PER 33.2x dan PBV 5.9x. Meskipun demikian, MYOR ini memang hampir tidak pernah saham diperdagangkan secara murah. Oleh karenanya, jika tujuan Anda adalah untuk menabung saham MYOR dalam jangka Panjang, Anda tetap bisa masuk dengan melakukan scaling in. Namun jika Anda melihat dari sudut pandang Value Investing, maka Anda bisa masuk ke MYOR pada saat valuasinya berada pada PER < 20x.

 

###

 

Info:

  • Monthly Investing Plan Agustus 2019 akan segera terbit. Anda dapat memperolehnya di sini.
  • Cheat Sheet LK Q2 2019 akan segera terbit, Anda dapat memperolehnya di sini.
  • E-Book Quarter Outlook LK Q2 2019 akan segera terbit. Anda dapat memperolehnya di sini.
  • Jadwal Workshop :
    •  Workshop & Advance Value Investing (Jakarta, 3 – 4 Agustus 2019) dapat dilihat di sini.

 

You may also like

2 Comments

  • Damar
    August 1, 2019 at 3:12 PM

    saya mau tanya Pak kira2 selain MYOR saham apalagi ya yang akan diuntungkan ketika kurs Rupiah melemah?

  • Rio Ridwan M
    October 10, 2019 at 7:54 AM

    Artikel yang sangat berguna. Terimakasih pak.

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Rivan adalah seorang Indonesia Value Investor yang memulai investasi sejak tahun 2008 ketika berusia 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, Rivan berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Berbekal pengalamannya, Rivan saat ini menjalani profesi sebagai Full Time Investor sekaligus praktisi di pasar modal. Saat ini, Rivan aktif mengadakan workshop dan pelatihan kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko di pasar saham.

Like Us On Facebook

Facebook Pagelike Widget

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Categories

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami