The Middle Income Trap in Millenial Era


Sebagian besar dari kita pasti pernah mendengar kata Aset. Dalam konteks personal finance, Aset adalah sumber daya yang dimiliki dan mempunyai nilai bagi kehidupan seseorang. Aset dapat berbentuk mulai dari kendaraan bermotor, tanah, rumah, hingga ke perlengkapan rumah tangga seperti halnya televisi, telepon seluler, pakaian, sepatu, dll. Sayangnya, dari keseluruhan aset tersebut tidak semuanya mampu menghasilkan pendapatan maupun keuntungan untuk Anda. Ada juga aset yang nilainya akan meningkat di kemudian hari. Dalam ilmu ekonomi, Aset dapat dibagi ke dalam dua kategori yakni Aset Produktif dan Aset Konsumtif. Apa perbedaan antara keduanya?

 

Definisi Aset Produktif dan Aset Konsumtif

Aset produktif merupakan aset yang nilainya meningkat di kemudian hari, dan bahkan bisa menghasilkan pendapatan yang berulang. Bahkan bisa menghasilkan pendapatan sekaligus keuntungan, karena memiliki nilai jual yang semakin tinggi daripada pada saat kita membelinya. Di sisi lain, aset produktif ini karakteristiknya cukup unik, karena ada beberapa aset yang bisa dikategorikan sebagai aset produktif dan juga konsumtif. Ketika benda-benda yang dikategorikan konsumtif, ternyata dapat menghasilkan sesuatu yang lebih bagi pemiliknya, maka bisa tergolong ke dalam aset produktif.

Sedangkan aset konsumtif dari sisi nilai akan menurun seiring dengan waktu, dan tidak dapat menghasilkan keuntungan kembali. Hal ini terjadi karena nilai dari aset konsumtif akan berkurang setiap periodenya. Berkurangnya nilai aset konsumtif ini bisa disebut dengan “Depresiasi” atau penyusutan. Aset konsumtif ini sendiri adalah barang yang umumnya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, dan karena untuk menunjang aktivitas setiap harinya maka risiko depresiasinya pun semakin besar. Di sisi lain, aset konsumtif ini memakan nilai uang yang sudah Anda investasikan karena ada faktor depresiasi seperti halnya kerusakan, berubah bentuknya sebuah aset dan lain sebagainya. Dari sisi kepuasan maka aset konsumtif memang bisa menghasilkan kepuasan untuk penggunanya. Akan tetapi jika bicara tentang masa depan, nilai nya akan berkurang karena depresiasi tadi.

 

Jenis-Jenis Aset Produktif dan Aset Konsumtif

Sebagai seorang investor, Anda perlu memahami perbedaan antara Aset Produktif dan Aset Konsumtif. Penulis akan menjelaskan lebih detail apa saja jenis investasi yang tergolong Aset Produktif, dan apa saja jenis investasi pada Aset Konsumtif.

  • Investasi pada Aset Produktif

Investasi pada aset produktif memiliki kemampuan untuk bertahan dalam periode inflasi, serta akan menghasilkan nilai yang lebih besar di masa yang akan datang. Jika Anda memutuskan berinvestasi pada jenis aset produktif ini maka Anda akan memperoleh keuntungan. Investasi pada aset produktif juga dapat menjadi sumber penghasilan yang berulang dan meningkat di masa depan.

Contoh dari aset produktif ini investasi pada Real Asset seperti emas, property, dan bisnis. Rumah tempat tinggal dapat termasuk Aset Produktif, karena meskipun saat ini tidak menghasilkan pendapatan namun secara nilai akan meningkat dari tahun ke tahun. Demikian pula, bisnis yang Anda miliki sekarang merupakan asset karena nilai dari bisnis juga dapat meningkat seiring dengan berkembangnya bisnis tersebut.

Selain Real Asset, asset produktif juga dapat berupa Paper Asset seperti investasi pada saham dan surat obligasi. investasi saham merupakan Aset Produktif, karena jika Anda membeli saham dari perusahaan yang memiliki fundamental yang baik, maka nilainya senantiasa akan meningkat dari waktu ke waktu. Tidak hanya itu, sebagai investor saham Anda pun bisa menjadikannya sebagai passive income, yang penjelasannya bisa Anda baca kembali di sini :

 

 

  • Investasi pada Aset Konsumtif

Sedangkan investasi pada aset jenis ini adalah sebuah aset yang tidak dapat menghasilkan pendapatan ataupun keuntungan di masa mendatang. Karena selain itu, untuk memelihara aset ini Anda harus mengeluarkan uang. Contoh sederhana yang dengan mudah dijumpai, di antaranya : gadget, mobil, dan luxury goods lainnya. Alasan yang membuat barang-barang di atas disebut sebagai aset tidak produktif, karena ketika membelinya hari ini maka harga di masa yang akan datang, nilainya akan semakin berkurang.

Anggap saja saat ini Anda membeli sebuah mobil baru dengan harga Rp 400 juta, selang setahun kemudian Anda berniat menjualnya.. kira-kira harganya akan semakin naik atau turun ? Seperti yang sudah Penulis sebutkan di atas meskipun itu mobil baru dan baru Anda pakai sekitar 4 bulan, maka itu sudah mobil bekas. Tentu harganya pun akan turun. Contoh lain adalah smartphone yang Anda gunakan untuk berkomunikasi, meskipun harga saat membelinya sangat mahal namun secara nilai akan turun. Terlebih lagi jika Anda ingin menjualnya, mungkin harga jualnya akan sangat jauh lebih murah.

 

Middle Class Income Trap

Mungkin Anda penasaran, kenapa Penulis yang biasanya membahas tentang analisa saham tiba-tiba menulis tentang artikel ini ? Penulis sebenarnya cukup prihatin melihat belakangan ini banyak bermunculan kaum middle class income (yang sebenarnya memiliki active income yang “lumayan”), namun tidak dibarengi dengan kecerdasan finansial.

Ketika pada middle class income ini memiliki active income yang meningkat dan di atas rata-rata, mereka jauh lebih memprioritaskan untuk membeli Aset Konsumtif, ketimbang Aset Produktif. Apalagi dengan jaman social media seperti sekarang ini, sepertinya memiliki gadget yang keren jauh lebih penting ketimbang investasi saham.

Tidak bisa dipungkiri, sekarang ini kita hidup di zaman di mana kaya atau tidaknya seseorang dinilai dari apa yang dikenakannya, atau dari apa yang dipakainya. Kalau seseorang mengenakan jam tangan mewah, mengendarai mobil mewah, mengenakan baju mahal, memposting liburan di luar negeri, ngemil cantik di coffee shop ternama, maka statusnya akan “meningkat” di kalangan teman-temannya. Akibatnya, banyak pula bermunculan kaum BPJS, atau “Budget Pas-Pasan Jiwa Sosialita”.

Sebaliknya, berapa banyak sih yang berpikir ketika Active Income nya meningkat, maka uang yang ada ditempatkan di Aset Produktif seperti investasi saham ? Memang ada sih, tapi jumlahnya mungkin masih jauh lebih sedikit ketimbang mereka yang memprioritaskan dana yang ada untuk Aset Konsumtif. Tapi Penulis yakin, kalau Anda adalah Pembaca setia RivanKurniawan.com ini, maka Anda termasuk yang memiliki kecerdasan finansial di atas rata-rata, serta memprioritaskan Aset Produktif ketimbang Aset Konsumtif.

Pak Rivan, memangnya kita gak boleh yah untuk punya Aset Konsumtif ? Apakah semua dana kita harus untuk Aset Produktif ? Well, Adam Khoo dalam bukunya The Secret of Self Made Millionaire mengatakan bahwa orang-orang terkaya di dunia menggunakan uang yang mereka miliki untuk berinvestasi di Aset Produktif terlebih dahulu. Mereka mengembangkan nilai di Aset Produktif ini sedemikian rupa dan menghasilkan Passive Income dari Aset Produktif tersebut. Ketika Passive Income yang dihasilkan dari Aset Produktif tadi sudah sedemikian besar, barulah mereka menggunakannya untuk membeli Aset Konsumtif. Ini yang membedakan antara orang yang benar-benar kaya, dan orang yang hanya terlihat kaya. Seperti salah satu prinsip yang Penulis pegang : The Goal is To Be Rich, Not To Look Rich.

 

Kesimpulan

Anda sekarang seharusnya lebih memahami bahwa tidak semua asset yang anda miliki nilainya akan meningkat di masa yang akan datang. Sebagai seorang investor, Anda perlu memahami asset mana yang menghasilkan nilai yang lebih tinggi di masa yang akan datang (Aset Produktif). Dan asset mana yang nilainya justru akan berkurang di masa yang akan datang (Aset Konsumtif).

Penulis berharap Anda yang sudah membaca artikel ini akan lebih bijak dalam menggunakan dana yang Anda miliki. Sedikit tips dari Penulis, coba lakukan analisa singkat sebelum melakukan pembelian aset : Apakah nilai aset tersebut akan naik atau justru akan turun di masa depan ? Lalu apakah aset yang kita pilih itu dapat menghasilkan uang di kemudian hari ? Selain itu, coba hitung lebih banyak mana antara aset produktif dan aset konsumtif yang Anda miliki saat ini ?

Ingat bahwa orang-orang terkaya di dunia memprioritaskan untuk membeli Aset Produktif terlebih dahulu. Sampai pada saatnya Aset Produktif tadi memberikan passive income yang lebih dari cukup, barulah mereka menggunakannya untuk membeli Aset Konsumtif. So, be smart ya guys..

 

###

 

Info:

  • Monthly Investing Plan Mei 2019 akan segera terbit. Anda dapat memperolehnya di sini.
  • Cheat Sheet LK Q4 2018 sudah terbit, Anda dapat memperolehnya di sini.
  • E-Book Quarter Outlook LK Q4 2018 sudah terbit. Anda dapat memperolehnya di sini.
  • Jadwal Workshop :
    • Stockademy Value Investing bersama TICMI (Jakarta, 11 Mei 2019) dapat dilihat di sini.

Tags : Middle Income Trap adalah | Middle Income Trap adalah | Middle Income Trap adalah | Middle Income Trap adalah | Middle Income Trap adalah | Middle Income Trap adalah | Middle Income Trap adalah | Middle Income Trap adalah | Middle Income Trap adalah

You may also like

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Rivan adalah seorang Indonesia Value Investor yang memulai investasi sejak tahun 2008 ketika berusia 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, Rivan berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Berbekal pengalamannya, Rivan saat ini menjalani profesi sebagai Full Time Investor sekaligus praktisi di pasar modal. Saat ini, Rivan aktif mengadakan workshop dan pelatihan kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko di pasar saham.

Like Us On Facebook

Facebook Pagelike Widget

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami