JSMR kaji sekuritisasi asing

Cross Border Securitization dan Manfaatnya bagi JSMR


Di tahun 2018 kemarin JSMR berhasil mengantongi izin penerbitan DINFRA dari OJK. Setahun berselang, JSMR kini tengah mengkaji kelayakan alternatif sumber pendanaan baru yaitu Cross Border Securitization. Apa itu instrumen Cross Border Securitization ? Dan bagaimanakah progres JSMR dalam mengkaji instrumen tersebut sejauh ini ?

Anyway, Penulis sendiri sudah pernah mengulas penerbitan instrumen DINFRA oleh JSMR di tahun 2018 kemarin, yang merupakan instrumen investasi baru. Kalau Anda belum sempat membacanya, bisa baca terlebih dahulu artikelnya di link berikut ini :

 

[Baca lagi : Berhasil Kantongi izin DINFRA, Apa Manfaatnya Bagi JSMR ?]

 

–>JSMR Kaji Sekuritisasi Asing

Apa itu instrumen Cross Border Securitization ?

Cross Border Securitization merupakan sekuritisasi aset yang penerbitannya dilakukan di luar negeri. Sementara di Indonesia sendiri, disebut sebagai sekuritisasi asing. Secara konsep, skema tersebut tidak berbeda jauh dengan penerbitan sekuritisasi di dalam negeri. Penerbitan sekuritisasi aset ini adalah salah satu instrumen yang dapat digunakan untuk memenuhi pembiayaan infrastruktur. Bagi sejumlah perusahaan plat merah termasuk JSMR, sekuritisasi aset ini adalah model pembiayaan alternatif, yang cukup prospektif untuk dilakukan dalam pembiayaan infrastruktur.

Adapun sekuritisasi aset ini akan memberikan sejumlah dampak positif terhadap emiten yang menerbitkannya. Pertama, cross border securitization pembiayaan yang cukup efektif, di mana instrumen sekuritisasi ini tidak mempengaruhi nilai hutang (rasio gearing) perusahaan penerbit. Kedua, sekuritisasi ini hanya menggunakan aset produktif yang sudah ada untuk dijadikan dasar (underlying) dalam pembiayaan aset baru (greenfield/brownfield). Ketiga, perusahaan penerbit akan langsung menerima pembayaran di muka (upfront payment). Dan keempat, risiko terbatas dengan adanya pembatasan (ring fence) atas pendapatan dan cash flow perusahaan di masa mendatang. Artinya risiko pembayaran bisa diminimalisir (mitigasi).

Adapun aset yang bisa disekuritisasi adalah aset keuangan yang bisa dialihkan dalam rangka sekuritisasi aset. Terdiri dari kredit, tagihan yang timbul dari surat berharga, tagihan yang timbul di kemudian hari, dan aset keuangan lain yang setara. Dan aset keuangan yang dialihkan wajib memenuhi kriteria memiliki arus kas, dimiliki dan dalam pengendali kreditur asal, serta bisa dipindahtangankan dengan bebas kepada perusahaan penerbit.

Sehingga, hakikatnya penerbitan sekuritisasi ini adalah teknik pembiayaan yang dikumpulkan dan dikemas melalui sejumlah aset keuangan berupa piutang (tagihan) yang muncul dari transaksi perusahaan. Dari yang biasanya kurang likuid menjadi likuid karena bisa diperjualbelikan. Sekuritisasi aset ini berjalan dengan skema, pembatasan (ring fence) pendapatan di masa depan atas aset produktif.

Sekuritisasi aset ini akan diterbitkan berdasarkan aset produktif tertentu, dengan jangka waktu yang sudah ditetapkan dan diwajibkan untuk membayar kewajiban. Dengan kata lain, sekuritisasi aset adalah future cash flow dan aset, dari proyek infrastruktur yang bisa di sekuritisasi untuk memperoleh pembayaran di muka kepada perusahaan penerbit. Dan nantinya juga dipakai sebagai belanja modal.

Secara konsep, penerbitan Cross Border Securitization tidak berbeda jauh dengan penerbitan sekuritisasi di Indonesia. Instrumen pendanaan Cross Border Securitization ini berasal dari salah pasar di Eropa, yakni London Stock Exchange. Dan pendanaan ini akan dijajaki oleh investor asing. Akan tetapi keuggulan dari penerbitan Cross Border Securitization ini, dapat digunakan untuk pendanaan dalam jangka waktu panjang.

Instrumen Cross Border Securitization ini memungkinkan JSMR mendapat keuntungan seperti pangsa pasar yang lebih luas. Selain itu instrumen Cross Border Securitization juga memiliki basis investor yang lebih dalam. Sehingga ke depannya JSMR semakin berpotensi mendapatkan sumber pendanaan dalam jumlah yang lebih besar. Dan juga biaya untuk menerbitkan sekuritisasi ini menjadi lebih murah dengan hasil yang diperoleh oleh JSMR.

Jika JSMR berhasil menerbitkan instrumen Cross Border Securitization, ke depannya JSMR akan semakin terbuka peluang sekuritisasi aset, dengan aset dasar (underlying) di sejumlah ruas-ruas jalan tol yang potensial. Salah satunya adalah jalan tol Jakarta Outer Ring Road (JORR) dan jalan Tol Dalam Kota.

Adapun saat ini JSMR kaji sekuritisasi asing sudah sampai tahap diskusi awal. Sementara langkah JSMR untuk melakukan penerbitan instrumen lain di luar negeri sangat memungkinkan. Lantaran JSMR sendiri memperoleh dukungan dari kementerian BUMN untuk lebih leluasa memperbanyak alternatif produk pendanaan.

Terkait dengan JSMR kaji sekuritisasi asing saat ini, ternyata sebelumnya JSMR sendiri sudah pernah melakukan penerbitan Cross Border Securitization pada 2017. Skemanya sekuritisasi aset dan dibuat di Indonesia. Sebagai gambarannya, JSMR pernah menerbitkan sekuritisasi aset sebesar Rp 2 triliun untuk ruas tol Jakarta – Bogor – Ciawi (Jagorawi) pada 2017. Dan akhirnya JSMR berhak atas 40% pendapatan dari jalan tol Jagorawi, yang rata-rata pendapatannya mencapai Rp 700 miliar per tahun dalam jangka waktu 5 tahun. Selain itu, JSMR juga kembali menerbitkan obligasi global berdenominasi Rupiah yakni “Komodo Bond” sebesar Rp 4 triliun dengan permintaan hingga Rp 15 triliun.

Tidak hanya JSMR, Indonesia Power pun sudah pernah melakukan penerbitan sekuritisasi aset. Dan Indonesia Power pun berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp 4 triliun dengan aset dasar yang disekuritisasi, adalah aset keuangan yang merupakan bagian dari piutang penjualan ketenagalistrikan PLTU Suralaya unit 1-4.

 

Mengapa JSMR kembali membutuhkan alternatif sumber pendanaan ?

Dan terkait dengan itu, di sepanjang tahun 2019 ini JSMR telah berencana mengerjakan sejumlah proyek. Terkait dengan proyeknya tersebut, JSMR sendiri telah menganggarkan belanja modal sekitar Rp 30 triliun. Nantinya dana itu sebagian besarnya akan dipakai untuk pembangunan ruas tol baru. Sedangkan untuk dana lainnya yang berasal dari bank sekitar 70%. Sementara sisanya, akan diupayakan oleh JSMR melalui alternatif sumber pendanaan seperti yang saat ini dilakukan yaitu JSMR kaji sekuritisasi asing.

Adapun sejumlah proyek yang rencananya akan JSMR selesaikan di tahun ini, diantaranya :  jalan tol Jakarta Outer Ring Road 2 sepanjang 35,5 km, Kunciran – Serpong 11,20 km, Serpong – Cinere 10,1 km, Jakarta – Cikampek II Elevated 36,4 km, dan tol Pandaan- Malang sepanjang 38,48 km. Selain itu, JSMR juga akan menyelesaikan beberapa bagian dari jalan tol Medan – Kualanamu – Tebing Tinggi untuk segmen Tebing Tinggi- Sei Rampah sepanjang 9,1 km. Dan menyusul akan menyelesaikan jalan tol Balikpapan-Samarinda sepanjang 99,4 km. Serta tol Manado – Bitung sepanjang 39,9 km.

Sedangkan untuk proyek terbaru lainnya, JSMR berencana untuk menyiapkan empat proyek tol baru di wilayah pulau Jawa tahun ini. Tol tersebut akan dibangun di Gedebage-Tasikmalaya-Cilacap sepanjang 184,05 km, akses Patimban 37,7 km, Ciranjang-Padalarang 27,8 km, dan Semarang-Demak 37,7 km.

Tentunya dengan banyaknya proyek infrastruktur yang dikerjakan oleh JSMR, membuatnya harus menerbitkan alternatif sumber pendanaan. Semata-mata untuk mempercepat pembangunan infrastruktur yang direncanakan JSMR.

 

Kesimpulan

Meskipun JSMR telah menyediakan dana modal belanja sekitar Rp 30 triliun di tahun ini, JSMR tetap membutuhkan tambahan dana yang berasal dari alternatif pendanaan lainnya. Alternatif pendanaan ini dinilai menjadi solusi pembiayaan bagi JSMR, dalam menyelesaikan proyek-proyeknya.

Demikian halnya dengan yang saat ini dilakukan oleh JSMR kaji sekuritisasi asing. JSMR akan memperoleh keuntungan pendanaan untuk jangka panjang, dan JSMR pun akan menjajaki investor asing melalui penerbitan sekuritisasi asing ini. Tidak hanya itu, JSMR pun akan meraup keuntungan dengan berlakunya aset dasar (underlying) di kemudian hari.

 

###

 

Info:

  • Monthly Investing Plan April 2019 akan segera terbit. Anda dapat memperolehnya di sini.
  • Cheat Sheet LK Q4 2018 sudah terbit, Anda dapat memperolehnya di sini.
  • E-Book Quarter Outlook LK Q4 2018 sudah terbit. Anda dapat memperolehnya di sini.
  • Jadwal Workshop :
    • Stockademy Value Investing bersama TICMI (Jakarta, 13 April 2019) dapat dilihat di sini.
    • Ultimate Value Investing (Bali, 27 – 28 April 2019) dapat dilihat di sini.
Tags : JSMR Kaji Sekuritisasi Asing | JSMR Kaji Sekuritisasi Asing | JSMR Kaji Sekuritisasi Asing | JSMR Kaji Sekuritisasi Asing | JSMR Kaji Sekuritisasi Asing | JSMR Kaji Sekuritisasi Asing | JSMR Kaji Sekuritisasi Asing

You may also like

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Rivan adalah seorang Indonesia Value Investor yang memulai investasi sejak tahun 2008 ketika berusia 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, Rivan berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Berbekal pengalamannya, Rivan saat ini menjalani profesi sebagai Full Time Investor sekaligus praktisi di pasar modal. Saat ini, Rivan aktif mengadakan workshop dan pelatihan kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko di pasar saham.

Like Us On Facebook

Facebook Pagelike Widget

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami