passive income dari saham

Berinvestasi Saham Ternyata Bisa Menjadi Passive Income Bagi Anda !


 

Artikel ini dipersembahkan oleh:

 

Passive Income

Ketika sedang merencanakan keuangan, Anda pasti sudah memikirkan bagaimana cara untuk mencapai kebebasan keuangan. Anda pun bertanya, apakah bisa mencapai kebebasan keuangan hanya dengan mengandalkan gaji saja?

Perlu Anda ketahui, bahwa gaji merupakan pendapatan aktif di mana untuk mendapatkannya Anda harus bekerja menukarkan tenaga dan waktu yang Anda miliki. Kemudian, Anda pun berkeinginan untuk mendapatkan kenaikan gaji. Tetapi, apakah kenaikan gaji mampu memenuhi kebutuhan dan juga rencana keuangan Anda kelak?

Bayangkan berapa lama lagi Anda akan menempati posisi manajer? Apa saja proses yang harus dilalui untuk menempati posisi manajer? Kemudian Anda menyadari bahwa ketika sudah berada di posisi manajer, waktu pensiun sudah semakin dekat. Hal ini menyebabkan Anda tidak bisa menikmati seutuhnya posisi Anda sebagai manajer.

Lantas, bagaimana solusinya?

Perlu Anda ketahui bahwa kebebasan keuangan dapat diraih dengan berbagai cara, selain mengandalkan gaji atau pendapatan aktif saja. Caranya adalah dengan memiliki pendapatan pasif. Pendapatan pasif ini bisa Anda dapatkan dari bisnis atau usaha yang dibangun dan dijalankan tanpa perlu menukarkan tenaga maupun waktu Anda.

Sederhananya, pendapatan pasif ini yang akan membantu jika Anda memutuskan untuk berhenti bekerja. Anda masih tetap memiliki pendapatan karena ada sistem yang bekerja mencairkan uang untuk Anda. Anda bisa memulainya dengan cara mengonversikan pendapatan aktif ke aset-aset yang dapat menghasilkan pendapatan untuk Anda. Aset tersebut dapat berupa sebuah mesin atau sistem bisnis. Anda dapat membuat sistem tersebut sendiri atau dengan membelinya.

Jika Anda tertarik untuk membuat sistem sendiri, maka Anda akan mengendalikan mesin bisnis dari A hingga Z. Beberapa kelemahannya ialah dibutuhkan kompetensi yang tinggi, didukung oleh tim, biaya yang cukup mahal, dan waktu yang relatif panjang. Contohnya saat Anda memutuskan untuk membuka bisnis toko baju. Bagaimana jika Anda membeli sistem? Jika membeli sistem, maka waktu yang dibutuhkan relatif singkat, instruksi A hingga Z sudah jelas, tetapi Anda tidak memiliki fleksibilitas untuk merubah sistem yang ada. Contohnya, ketika Anda membuka waralaba makanan cepat saji.

Selain itu, jika Anda lebih tertarik untuk membeli sistem, maka hal yang harus diketahui ialah dengan berinvestasi saham. Dengan begitu, Anda bisa mendapatkan pendapatan pasif. Bagaimana caranya?

 

Passive Income Dari Saham

Ketika berinvestasi saham, tentu saja Anda mengharapkan besaran keuntungan. Keuntungan atau tingkat pengembalian dari investasi saham ini bisa dibagi menjadi 2, yaitu Capital Gain dan Dividen. Capital Gain merupakan selisih harga jual lembar saham yang Anda miliki dikurangi harga beli lembar saham. Misalnya, Anda membeli saham Bank Rakyat Indonesia (BBRI) di harga Rp 2.900 dan Anda menjualnya di harga Rp 3.500. Maka, Capital Gain yang diperoleh adalah Rp 600 per lembar saham, atau dalam persentase sebesar 20%.

Selain dari Capital Gain, Anda juga bisa mendapatkan imbal hasil lainnya dalam bentuk DividenDividen ini merupakan bagian dari keuntungan perusahaan yang dibagikan kepada para pemegang saham. Sebagai investor saham, tentu saja Anda mengharapkan perusahaan yang dijadikan sebagai investasi mengalami keuntungan (laba) yang besar.

Jika perusahaan membukukan laba yang besar, maka perusahaan dapat membagikan laba kepada pemegang saham ke dalam bentuk DividenNah, Dividen ini yang bisa Anda jadikan sebagai passive income. Karena Anda akan mendapatkan keuntungan dari laba perusahaan tanpa harus menukarkan tenaga dan waktu yang Anda miliki.

Bagaimana cara menghitung Dividen? Jumlah Dividen yang dibagikan oleh perusahaan kepada pemegang saham ini merupakan selisih antara laba perusahaan dikurangi laba yang ditahan. Laba ditahan merupakan laba yang ditahan oleh perusahaan untuk membiayai ekspansinya di kemudian hari. Berikut adalah perhitungan Dividen:

  • Dividen = laba bersih – laba ditahan
  • Dividen per saham = dividen : jumlah saham yang beredar

 

Mana yang lebih baik ? Jumlah Dividen yang besar atau kecil ? Sebagai pemegang saham Anda pasti tahu bahwa terdapat 2 tipe investor, yaitu investor jangka pendek dan investor jangka panjang. Jika Anda merupakan seorang investor jangka pendek, tentu Anda mengharapkan Dividen yang besar. Begitu juga sebaliknya, jika Anda adalah seorang investor jangka panjang, Anda pasti tidak keberatan dengan dividen yang kecil selama perusahaan yang Anda investasikan dapat berekspansi.

Selain itu, Anda pun perlu menghitung dan mengetahui Dividend Payout Ratio, yang merupakan persentase Dividen terhadap laba bersih perusahaan. Perusahaan besar seperti HM Sampoerna (HMSP) atau Unilever Indonesia (UNVR) dikenal sebagai perusahaan yang Dividend Payout Ratio nya bisa mencapai 100%. Jadi, seluruh laba perusahaan dibagi pada pemegang sahamnya. Bagaimana jika perusahaan sebesar HMSP dan UNVR melakukan ekspansi? Tenang saja, perusahaan seperti HMSP dan UNVR memiliki jumlah kas yang besar, sehingga perusahaan tidak lagi membutuhkan laba untuk ditahan.

Perusahaan yang memiliki Dividend Payout Ratio kecil biasanya merupakan perusahaan yang sedang dalam masa ekspansi, sehingga perusahaan tersebut membutuhkan dana untuk membiayai ekspansi. Growth company umumnya memberikan Dividend Payout Ratio sekitar 20% hingga 50%. Selain Dividen Payout Ratio, Anda pun harus mengetahui Dividend Yield dari perusahaan yang Anda investasikan.

Dividend Yield adalah Dividen per saham yang dibagi harga pasar saham. Sederhananya, Dividend Yield adalah tingkat keuntungan yang diberikan oleh perusahaan tersebut. Contohnya, Anda memiliki saham Indofood CBP Sukses Makmur (ICBP) yang memberikan Dividen per saham sebesar Rp 500, di mana harga pasar saat ini adalah Rp 8.800.

Maka, dividend yield ICBP adalah 5%. Perusahaan yang memiliki Dividend Yield tinggi, maka harga sahamnya akan mengalami kenaikan terutama saat pengumuman Dividend.

Mana yang lebih penting di antara Dividend Payout Ratio dan Dividend Yield ? Jawabannya Dividend Yield, karena berkaitan dengan harga saham yang Anda miliki. Anda tentunya lebih menyukai perusahaan dengan tingkat Return yang lebih besar. Hal yang harus Anda ingat ialah tidak semua perusahaan yang memiliki Dividen Payout Ratio tinggi akan memiliki Dividend Yield yang tinggi pula.

However, bentuk Dividen pun dibagi menjadi dua, yaitu Dividen tunai dan Dividen saham. Dividen tunai ini diberikan dalam bentuk tunai, sedangkan Dividen saham membagikan saham gratis kepada para pemegang sahamnya. Di Indonesia sendiri, Dividen dalam bentuk tunai lebih banyak dilakukan. Sedangkan, Dividen saham akan diberikan jika posisi kas tidak memungkinkan untuk membagi Dividen tunai dan dapat meningkatkan jumlah saham yang beredar.

 

Sering Menganalisis akan Menguntungkan Anda

Jika tertarik memulai investasi saham, Anda harus sering menganalisis karena keuntungan lain berupa passive income dapat diperoleh. Analisis yang bisa Anda lakukan adalah Value Investing. Sudah banyak yang membahas mengenai hal ini, sehingga tidak sulit untuk mempelajarinya. Anda tidak perlu ragu lagi ketika memulai berinvestasi saham. Tidak hanya keuntungan Capital Gain saja yang akan didapatkan, keuntungan berupa Dividen pun bisa diperoleh dan bisa menjadi pendapatan pasif bagi Anda.

 

Setelah membaca artikel ini, saya yakin Anda telah mengetahui bahwa passive income bisa berasal dari saham…

 

 

Sumber Referensi:

  • Widya Yuliarti CFP®. 23 Oktober 2018. Menghasilkan Passive Income dari Saham, Apa Bisa?. https://www.finansialku.com/passive-income-modal-kecil/.

 

###

 

Info:

  • Monthly Investing Plan Februari 2019 sudah terbit. Anda dapat memperolehnya di sini.
  • Cheat Sheet LK Q4 2018 akan segera terbit, Anda dapat memperolehnya di sini.
  • E-Book Quarter Outlook LK Q4 2018 akan segera terbit. Anda dapat memperolehnya di sini.
  • Jadwal Workshop :
    • Workshop Ultimate Value Investing (Surabaya, 9 – 10 Februari 2019) dapat dilihat di sini.
    • Workshop Ultimate Value Investing (Medan, 23 – 24 Februari 2019) dapat dilihat di sini.

You may also like

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Rivan adalah seorang Indonesia Value Investor yang memulai investasi sejak tahun 2008 ketika berusia 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, Rivan berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Berbekal pengalamannya, Rivan saat ini menjalani profesi sebagai Full Time Investor sekaligus praktisi di pasar modal. Saat ini, Rivan aktif mengadakan workshop dan pelatihan kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko di pasar saham.

Like Us On Facebook

Facebook Pagelike Widget

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami

Translate »
error: Content is protected !!