Rupiah Menguat ke 14.000

Rupiah Menguat ke Rp 14.000,-an, Apakah Hanya Bersifat Sementara ?


Pasca terdepresiasi di sepanjang tahun 2018, kini otot Rupiah kembali mengalami penguatan sejak awal tahun. Kini dengan Rupiah Menguat ke 14.000, bagaimana proyeksi ke depan ? Setelah sebelumnya Rupiah sempat menyentuh level tertingginya di Rp 15.200,-an per USD pada Oktober 2018, Rupiah diprediksi semakin cemerlang di tahun 2019 ini. Kira-kira apakah dengan Rupiah Menguat ke 14.000, IHSG akan terus meningkat ? Ataukah dampaknya hanya akan berlangsung sementara saja ?

 

Latar Belakang Depresiasi Rupiah di 2018

Depresiasi Rupiah yang terus-menerus terjadi di 2018 kemarin, sempat menimbulkan kepanikan di sebagian besar masyarakat, terlebih untuk rekan-rekan investor. Mengingat dampak yang ditimbulkan oleh pelemahan Rupiah memang cukup mengganggu aktivitas ekonomi global di Indonesia. Depresiasi Rupiah terhadap Dollas AS yang terjadi sampai dengan Oktober 2018 kemarin, terus melemah hingga menyentuh level tertingginya di Rp 15.200,-an per USD. Level Rupiah tersebut menjadi tingkat terburuk sejak krisis ekonomi tahun 1998, bahkan terlemah sepanjang sejarah. Sebagai gambaran jelasnya, bisa dilihat pada screenshot di bawah ini :

 

Pergerakan Rupiah di sepanjang 2018. Source : tradingeconomics.com

 

Sebenarnya pelemahan Rupiah yang terjadi di tahun kemarin terdorong oleh sejumlah faktor, sehingga Rupiah harus terdepresiasi. Faktor-faktor itu mulai dari, The Fed yang menaikkan Fed Rate nya hingga 4x, mulai dari 1.25% – 1.50% di awal tahun 2018 menjadi 2.25% – 2.5% di akhir tahun 2018, menyusul kenaikan Fed Rate sebanyak 3x di tahun 2017. Keputusan The Fed tersebut membuat investor asing berbondong-bondong melakukan Net Sell dari Juni 2017 – Juni 2018, dengan total Net Sell dalam satu tahun mencapai Rp 111.1 triliun. Padahal investor asing sudah melakukan Net Buy dari tahun 2008 – 2016 dengan total Net Buy mencapai Rp 158 triliun. Hal itu mendorong investor asing jualan, lantaran The Fed yang menaikkan Fed Rate hingga 4x sepanjang 2018 kemarin. sebagai gambaran jelasnya bisa dilihat pada screenshot berikut ini :

 

Net Buy / Sell Investor Asing sepanjang tahun 2017 – 2018. Source : Market Outlook by RK

 

Di sisi lain BI terbilang telat untuk mengantisipasi kenaikan Fed Rate yang udah lebih dulu dinaikkan sejak tahun 2017. Di saat The Fed sudah menaikkan suku bunga acuan sebanyak 5x (dari 0.25% ke 2.0%), BI masih mempertahankan suku bunga acuan di level 4.25%. Adapun kenaikkan BI Rate baru dilakukan pasca pergantian Gubernur Bank Indonesia ke Perry Warjiyo resmi menggantikan Agus Martowardojo pada 3 April 2018. Sehingga BI baru memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan pada akhir Mei 2018.

Selain Fed Rate, faktor eksternal lain yang juga mempengaruhi pelemahan Rupiah juga dipicu oleh polemik perang dagang antara AS dan China yang menaikkan bea masuk produk dari kedua negara tersebut. Di mana AS akan mengenakan bea masuk barang yang di ekspor China. Begitupun dengan China yang juga berusaha mengenakan bea masuk terhadap sejumlah komoditas yang diimpor dari AS.

Tidak hanya itu saja, kondisi dari dalam negeri pun turut menjadi faktor yang mempengaruhi pelemahan Rupiah. Salah satunya adalah melebarnya defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit/CAD) hingga sekitar 3% dari GDP di 2019. Membesarnya CAD saat itu merupakan imbas dari defisit neraca perdagangan yang juga membesar. Dengan melebarnya defisit transaksi berjalan (CAD) semakin membuat rupiah rentan, yang akhirnya menambah tekanan ke nilai Rupiah terlebih lagi terhadap dollar AS.

 

Faktor yang Mempengaruhi Penguatan Rupiah (per November 2018)

Salah satu kondisi yang memberi dampak besar bagi pergerakan Rupiah adalah beredarnya prediksi bahwa AS akan mengalami resesi di tahun 2019 – 2020. Prediksi resesi AS muncul setelah spread antara yield obligasi tenor 2 tahun dan 10 tahun menipis hingga 0.11% di November 2018. Bahkan, Kurva yield obligasi AS tenor 2 tahun dan tenor 3 tahun telah berbalik atau telah terjadi inverted bond yield. Di mana pada saat itu, yield obligasi tenor 2 tahun lebih besar mencapai 2.73%. Sedangkan yield obligasi tenor 3 tahun justru hanya sekitar 2.72%.

Dalam waktu yang hampir bersamaan pun, AS juga mengalami kondisi government shutdown. Penghentian sementara kegiatan operasional pemerintah Federal AS yang dipicu oleh belum tersepakatinya RUU Anggaran AS. Tentunya situasi itu semakin memperburuk outlook perekonomian AS dengan perkiraan GDP melambat dari 3.0% menjadi 2.0% di 2019 ini.

Selain itu, perang dagang yang juga mulai mereda. Lantaran polemik itu baru menemui titik terangnya di mana kedua belah pihak saling sepakat untuk menghentikan penetapan tarif per 1 Januari 2019.

Dengan sejumlah sentimen di atas, banyak ekonom memprediksi bahwa The Fed kemungkinan besar tidak akan agresif menaikkan Fed Rate nya di tahun 2019 ini. Meskipun demikian, kabar ini masih simpang siur. Sebagian menyebutkan Fed Rate berencana menaikkan Fed Ratenya sebanyak 2x. Sebagian lagi menyebutkan tidak akan ada kenaikan Fed Rate di sepanjang 2019.

Hal tersebut membuat para aset management dan investor asing berpikir ulang untuk menempatkan dananya di US dengan berbagai ketidakpastian yang ada. Para asset management dan investor asing menarik kembali dana investasi mereka ke emerging market, seperti Indonesia.

Hal ini terlihat dari Net Buy yang dilakukan oleh investor asing di pasar saham. Dalam 3 bulan terakhir, investor asing sudah mulai melakukan Net Buy sebesar Rp 16 Triliun. Dan Rp 11 triliun di antaranya terjadi di bulan Januari 2019. Mulai masuknya capital inflow dari investor asing memberikan dampak positif bagi Rupiah, terutama awal tahun 2019. Hingga artikel ini ditulis, Rupiah masih bergerak stabil di kisaran Rp 14.000 hingga Rp 14.100. Di lain pihak, BI pun senantiasa berupaya menjaga nilai fundamental Rupiah di bawah Rp 14.000 per Dollar AS, sebagai gambarannya seperti berikut ini :

 

Pergerakan Rupiah di Awal 2019. Source : tradingeconomics.com

 

Prediksi Rupiah Ke Depannya ?

Jadi, kira-kira akan bagaimanakah pergerakan Rupiah ke depannya ? Jika ternyata sentimen negatif seperti perang dagang masih berlanjut, Fed Rate ternyata naik lagi, situasi shutdown AS ternyata masih berlanjut, bisa saja kondisi itu mendorong investor asing untuk menarik dana nya kembali keluar. Dampaknya pun Rupiah akan kembali melemah.

Namun jika sebaliknya yang terjadi, maka besar kemungkinan investor asing tetap menanamkan dananya di Indonesia lebih besar lagi. Sehingga Rupiah berpotensi stabil bahkan terus menguat.

Sementara dalam hal menjaga aliran modal asing dari aktivitas hot money, Pemerintah Indonesia pun kini tengah mengkaji kebijakan Reverse Tobin Tax. Kebijakan tersebut mengatur pajak untuk aliran modal asing yang disimpan di pasar keuangan Indonesia dalam waktu panjang. Penerapan kebijakan Reverse Tobin Tax sendiri, ditujukan agar dana asing yang sudah masuk ke Indonesia tidak mengalir keluar lagi. Sehingga bisa menjaga nilai tukar Rupiah tetap stabil terhadap Dollar AS.

 

Langkah Antisipasi Pemerintah

Dalam menjaga pergerakan nilai tukar Rupiah tetap stabil, pemerintah pun rupanya tak tinggal diam.  Hal tersebut dibuktikan dengan sejumlah inisiatif pemerintah yang dilakukan dengan mencanangkan program-program, guna memperkuat posisi Rupiah. Adapun salah satu langkah antisipasi pemerintah, ialah dengan menaikkan suku bunga acuan sebanyak 6x di sepanjang tahun 2018 kemarin, dengan kenaikan BI Rate yang terakhir di level 6.0%. Kenaikan BI Rate tersebut untuk tetap bisa menjaga stabilitas Rupiah, dan juga perekonomian domestik dari tekanan-tekanan global yang saat ini tengah terjadi.

Pemerintah pun turut berupaya untuk mengurangi import, dengan alternatif mengupayakan pemerataan biodiesel B20 untuk Public Service Obligation dan Non-Public Service Obligation. Kebijakan pemerataan biodiesel B20, disinyalir akan bisa mengurangi impor minyak mentah. Demikian halnya untuk bisa mengurangi import LPG, pemerintah pun menerapkan kebijakan DME yakni mengkonversi batubara menjadi Dimethyl Ether (DME) sebagai bahan bakar pengganti LPG.

Selain mengurangi jumlah import, pemerintah pun giat mengencangkan ekspor. Jika ekspor bisa meningkat, maka potensi arus likuiditas dari luar bisa terjaga dalam mendukung pertumbuhan ekonomi domestik. Untuk itu pemerintah melakukan sejumlah langkah seperti, swasembada jagung untuk bisa menjaga devisa negara. Tercatat di tahun 2014, Indonesia mengimpor jagung hingga mencapai USD 3.5 juta (setara dengan Rp 10 triliun), namun pemerintah segera menghentikan akses impor secara mendadak. Hasilnya pun, pemerintah berhasil membalikkan kondisi dengan mengekspor 380.000 ton di tahun 2017 dan 2018. Sebut saja, Indonesia berhasil mengekspor jagung yang jumlahnya lebih dari 100.000 ton ke Filipina yang berasal dari Gorontalo dan Sulawesi Selatan. Bahkan provinsi NTB pun menargetkan ekspor jagung hingga 300.000 ton ke Filipina, sebagai gambaran jelasnya seperti dibawah ini :

Pemerintah berhasil mengalihkan kondisi Indonesia menjadi net eksportir jagung, setelah sekian lama menjadi net importir jagung terbesar. Di lain pihak, pemerintah pun hingga kini masih mengupayakan peningkatan ekspor CPO maupun batubara. Untuk meningkatkan ekspor CPO, pemerintah bekerja sama dengan GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia). Sejak 2017 lalu, ekspor CPO di arahkan ke pasar non-tradisional (seperti : sejumlah negara di Timur Tengah dan Afrika). Setelah sebelumnya, target pasar CPO berada di Tiongkok, India, Amerika, Belanda, dan Jerman. Tidak hanya itu, pemerintah pun sedang mengupayakan keringanan bea masuk CPO ke India yang dinilai sangat tinggi.

Sedangkan untuk meningkatkan ekspor batubara lebih banyak, pemerintah memberikan berbagai stimulus bagi eksportir batubara, sehingga ekspo batubara ditargetkan hingga 100 juta ton. Apalagi posisi Indonesia sebagai salah satu pengekspor batubara terbesar di dunia, dengan tujuan ekspor utamanya di China dan India. Dalam kurun waktu sembilan bulan di tahun 2018 kemarin, eskpor batubara Indonesia ke China tercatat mencapai 89.7 juta ton. Tujuannya tidak lain, ialah untuk menggenjot devisa negara dan menopang CAD agar defisitnya tidak melebar.

 

Kesimpulan

Meskipun Rupiah saat ini kembali menguat, tetap saja sebagai investor tetap harus waspada terhadap sentimen-sentimen baik dalam negeri maupun luar negeri, yang berpotensi membuat Rupiah kembali bergerak melemah.

Selain pergerakan Rupiah, investor juga perlu memperhatikan indikator-indikator lain yang mempengaruhi pergerakan Rupiah seperti balance of trade, current account of defisit, hingga ke aliran dana masuk/keluar investor asing.

 

###

 

Info:

  • Monthly Investing Plan Februari 2019 sudah terbit. Anda dapat memperolehnya di sini.
  • Cheat Sheet LK Q3 2018 sudah terbit, Anda dapat memperolehnya di sini.
  • E-Book Quarter Outlook LK Q3 2018 sudah terbit. Anda dapat memperolehnya di sini.
  • Jadwal Workshop :
    • Workshop Ultimate Value Investing (Surabaya, 9 – 10 Februari 2019) dapat dilihat di sini.
    • Workshop Ultimate Value Investing (Medan, 23 – 24 Februari 2019) dapat dilihat di sini.

You may also like

1 Comment

  • Ferdinan
    February 11, 2019 at 11:50 AM

    Apakah Reverse Tobin Tax dapat dipastikan optimal untuk menahan modal asing tetap di indonesia dalam jangka waktu yang lama? dan apakah Reverse Tobin Tax ini tidak merugikan bagi Investor Asing?

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Rivan adalah seorang Indonesia Value Investor yang memulai investasi sejak tahun 2008 ketika berusia 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, Rivan berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Berbekal pengalamannya, Rivan saat ini menjalani profesi sebagai Full Time Investor sekaligus praktisi di pasar modal. Saat ini, Rivan aktif mengadakan workshop dan pelatihan kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko di pasar saham.

Like Us On Facebook

Facebook Pagelike Widget

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami