Pasca Akuisisi SMCB, Bagaimana Prospek SMGR Ke Depan ?


Sejak berita SMGR mengakuisisi SMCB mengemuka ke publik, market bereaksi positif di mana harga saham SMGR mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Setelah sebelumnya harga saham SMGR sempat terpuruk di harga 6700 an di Juli 2018, kini harga saham SMGR berada di 11000-an. Artinya harga saham SMGR ini telah mengalami kenaikan sekitar 70%. Pertanyaannya sekarang, apakah dengan SMGR mengakuisisi SMCB akan membuat kinerja SMGR bersinar ? dan bagaimana dengan prospek SMGR selanjutnya ?

 

 

SMGR secara resmi mengambil alih kepemilikan saham SMCB setelah menandatangani Perjanjian Pengikatan Jual Beli Bersyarat (Conditional Sales Purchase Agreement), yang disepakati pada 12 November 2018 kemarin. Adapun langkah akuisisi terhadap saham SMCB ini, dilakukan SMGR melalui entitas anak usaha nya yakni PT Semen Indonesia Industri Bangunan (SIIB). Dimana SMGR ini nantinya sebagai pemegang saham mayoritas di SIIB yang mencapai hampir 99% saham SIIB.

SIIB sendiri menjadi pembeli yang melaksanakan penandatangan Perjanjian antara SMGR dan SMCB. Kedua belah pihak sendiri sudah sepakat, dan secara resmi SMGR berhak mengambil alih sekitar 6.17 miliar lembar saham SMCB atau setara dengan 80.6% dari Lafarge Holcim, yang menjadi pemilik mayoritas SMCB dengan total nilai transaksi akuisisi yang cukup fantastis yaitu mencapai US$ 917 juta atau setara dengan Rp 13.47 triliun, sebagai harga pembelian untuk saham SMCB. Sebagai gambaran, nilai ini hampir setara dengan nilai akuisisi PGAS yang mengakuisisi 51% kepemilikan di Pertagas dengan nilai akuisisi sebesar Rp 16.6 Triliun.

 

Latar Belakang SMGR Akuisisi SMCB

Sebelum Penulis menjelaskan prospek SMGR ke depannya, Penulis akan menjelaskan terlebih dahulu latar belakang yang menjadi tujuan SMGR mengakuisisi kepemilikan saham di SMCB. SMCB merupakan produsen semen terbesar ketiga di Indonesia. SMCB adalah emiten yang masuk ke dalam LafargeHolcim Group. SMCB telah beroperasi dilebih dari 90 negara di seluruh dunia, dan sudah menguasai pangsa pasar yang mencapai 15.2%. Dengan kemampuan SMCB dalam kapasitas produksinya, yang mencapai 15 juta ton semen per tahun bersumber dari pabrik SMCB di Pulau Sumatra dan Jawa. Dimana kapasitas produksi SMCB ini setara sekitar 14% dari total kapasitas produksi nasional yang sebesar 110 juta ton.

 

 

SMCB pun lebih unggul dalam hal segmen geografis, lantaran SMCB memiliki pabrik sendiri yang beroperasi di wilayah Jakarta dan Jawa Barat. SMCB juga ternyata sudah memiliki teknologi bahan bakar dari limbah yang bisa disinergikan secara luas diseluruh fasilitas Semen Indonesia Group.

Dari pemaparan singkat mengenai profile SMCB di atas, bisa dikatakan sederhana nya tujuan dari akuisisi ini adalah sebagai upaya SMGR dalam mempertahankan dominasi nya di pasar semen nasional. Hal ini disebabkan karena pangsa pasar SMGR hingga saat ini di sejumlah wilayah masih cukup kalah dengan pangsa pasar usaha semen lainnya. Sebagai gambaran nya pangsa pasar SMGR di Jakarta dan Jawa Barat saja hanya sekitar 17%, berbeda jauh jika kita bandingkan pangsa pasar SMGR di wilayah lain yang rata-rata nya mencapai 40%. Seperti di Sumatera dan Papua yang menjadi pangsa pasar SMGR yang paling dominan.

SMGR sendiri terus berupaya mempertahankan pangsa pasar nya yang sudah luas, namun SMGR tidak serta merta melakukan ekspansi dengan membangun pabrik maupun menambahkan gudang nya melainkan dengan cara mengakuisisi kepemilikan saham di SMCB. Hal ini dilandasi karena SMGR melihat peluang market SMCB sudah terbentuk. Di mana SMCB ini sudah memiliki pangsa pasar yang kuat di wilayah Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Tengah. Sehingga dengan SMGR mengakuisisi SMCB, tentu kedua market SMCB tersebut akan berkontribusi terhadap kinerja SMGR.

Selain itu dari tujuan SMGR tersebut, masih ada 2 hal yang melatarbelakangi keputusan SMGR dalam mengambil alih kepemilikan saham SMCB. Berikut ini adalah hal-hal yang menyebabkan terjadinya akuisisi, pertama kondisi SMGR yang dalam beberapa bulan belakangan ini mengalami kelebihan produksi (over supply). Dimana pertumbuhan pasar domestik SMGR hanya sekitar 6% per tahun. Berdasarkan jumlah permintaan semen dalam pasar domestik, sudah lebih dulu mengalami penurunan sejak tahun 2013. Hal itulah yang membuat SMGR mengalami over supply. Dengan akuisisi ini, SMGR bisa segera mengatasi kelebihan pasonkan semen nya. hal ini karena meningkatnya penyerapan semen ke pasar yang berasal dari pangsa pasar milik SMCB. Sehingga dengan mengakuisisi kepemilikan saham di SMCB, maka permasalahan SMGR tersebut dapat teratasi dengan bertambah luas nya jaringan penjualan semen. Dengan beberapa poin yang Penulis kemukakan di atas, maka tidak heran jika SMGR memutuskan untuk mengambil alih kepemilikan di SMCB.

Sebaliknya jika kita melihat dari sisi SMCB yang melakukan divestasi terhadap kepemilkannya tersebut, SMCB juga diuntungkan lantaran SMCB sedang berupaya untuk meninjau ulang semua portofolio, sebagai strategi ditahun 2022. Di mana SMCB ingin turut membangun untuk pertumbuhan, dengan melakukan divestasi saham.

 

Prospek SMGR Pasca Akuisisi SMCB

Kembali pada pertanyaan diawal, apakah dengan SMGR mengakuisisi SMCB akan membuat kinerja SMGR bersinar ? dan bagaimana dengan prospek SMGR selanjutnya ?

Dari Penjelasan di atas, sekarang kita paham bahwa posisi SMGR saat ini semakin kokoh sebagai penguasa pasar semen domestik, pasca mengakusisi kepemilikan saham SMCB. Dengan SMGR berhasil mengakuisisi dan resmi mengambil alih kepemilikan saham SMCB, tentu dampak yang paling besar nya adalah terhadap pangsa pasar SMGR yang semakin berpotensi dalam memperbesar penjualan produk semen nya.

Selain itu, SMGR juga memperoleh semua aset yang dimiliki SMCB, di mana SMCB ini sudah memiliki 4 pabrik semen, 33 pabrik semen siap jadi, dan 2 tambang batu kapur. Sehingga kondisi ini menguntukan bagi SMGR, karena SMGR tidak perlu lagi membangun pabrik baru guna memperbesar produksinya.

Tidak hanya itu, SMGR juga bisa memperkuat posisi di beberapa area yang belum tercover. Misalkan, sebelum nya di atas sudah disebutkan bahwa SMGR memiliki pangsa pasar di Jawa Barat yang hanya sekitar 17%. Maka setelah mengakuisisi SMCB, SMGR bisa menggenjot penjualan nya diwilayah Jawa Barat yang menjadi wilayah pasar paling dominan bagi SMCB. Sehingga kedepannya SMGR akan memperoleh keuntungan dari wilayah Jawa Barat tersebut, tanpa perlu membangun pabrik. Namun SMGR berpeluang memasarkan semen nya di Jawa Barat.

 

Sumber Pendanaan SMGR Akuisisi SMCB

Akuisisi yang dilakukan SMGR terhadap kepemilikan saham SMCB, menelan dana yang tidak kecil yakni mencapai US$ 917 juta atau sekitar Rp 13.2 triliun. Sehingga SMGR membutuhkan dana yang bersumber dari pinjaman di Bank, guna membiayai pengambilalihan saham SMCB. Adapun langkah pendanaan yang ditempuh SMGR adalah dengan menandatangani perjanjian pinjaman terhadap sejumlah Bank asing yang mencapai US$ 1.28 miliar atau sekitar Rp 18.97 triliun. Pinjaman yang diajukan SMGR tersebut, memiliki tenor selama 24 bulan terhitung sejak ditandatangani nya perjanjian pada 12 November 2018 kemarin.

Penandatangan perjanjian pinjaman SMGR tersebut, dilakukan melalui entitas anak usaha nya yakni PT Semen Indonesia industri Bangunan (SIIB). Adapun pinjaman dana tersebut ditujukan ke beberapa bank diantaranya Bank BNP Paribas, Deutsche Bank AG Singapore Branch, Maybank Kim Eng Securities Ltd, MUFG Bank, serta Standard Chartered Bank.

Berdasarkan kondisi diatas dimana SMGR memperoleh dana akuisisi melalui pinjaman Bank, bisa jadi kedepannya akan cukup memberatkan neraca keuangan SMGR. Dimana Liabilitas SMGR ini semakin besar. Sebagai gambaran, saat ini total liabilitas SMGR adalah Rp 19.0 triliun per Kuartal III-2018. Dengan adanya pinjaman tersebut, maka setidaknya total liabilitas SMGR akan menjadi 2x lipat menjadi sekitar Rp 38 triliun. Jika kita bandingkan dengan ekuitas yang saat ini sebesar Rp 30.1 triliun per Kuartal III 2018, maka DER yang tadinya berada di sekitar 0.6x, dengan pinjaman ini DER nya akan berada di kisaran 1.3x.

Belum lagi lantaran pinjaman tersebut memiliki tenor yang mencapai 24 bulan, tentu akan membuat Beban Bunga dari pinjaman semakin meningkat. Sebagai gambaran saat ini SMGR dibebankan biaya bunga sebesar Rp 709 miliar per kuartal III 2018 (atau sekitar Rp 950 miliar per tahun), maka setidaknya menurut perhitungan kasar penulis, beban bunganya yang akan ditanggung SMGR ke depannya akan mencapai Rp 1.5 – 1.8 triliun per tahun.

Keputusan SMGR akuisisi SMCB, Tepatkah?

Meskipun pada bagian sebelumnya, Penulis mencoba memaparkan bahwa SMGR akan semakin mendominasi secara market share dan kapasitas produksi dengan akuisisi SMCB. Namun demikian, SMGR ini punya PR yang cukup besar untuk membenahi kinerja keuangan SMCB ini.

Adapun dari segi profitabilitas SMCB sendiri, sampai dengan Kuartal III-2018 ini memang mengalami Pencapaian Pendapatan sebesar Rp 7.3 triliun (atau sekitar Rp 9.8 triliun jika disetahunkan). Pencapaian ini meningkat tipis sekitar 5% YoY jika dibandingkan dengan Pendapatan SMCB ditahun 2017 yang sebesar Rp 9.3 triliun.

Namun sangat disayangkan, meskipun SMCB mampu mencapai Pendapatan yang meningkat. Justru SMCB tidak diiringi dengan Laba nya, dimana saat ini SMCB mengalami Rugi Bersih sebesar Rp 630 miliar (atau sekitar Rp 840 miliar jika disetahunkan). Rugi Bersih yang dialami SMCB ini sebenarnya sudah terjadi dalam 3 tahun terakhir ini.

Jadi meskipun SMGR akan menjadi besar seiring gabungnya kedua usaha semen tersebut, namun SMGR tetap harus berpikir keras guna mengembalikan kinerja keuangan SMCB agar bisa memperoleh Laba Bersih nya lagi. Sebagai gambaran Laba Bersih yang pernah dibukukan oleh SMCB dari tahun 2011 hingga 2015 berkisar Rp 1.3 triliun, sebelum akhirnya mengalami kerugian di 3 tahun terakhir.

 

Kesimpulan

Secara keseluruhan, Penulis berpendapat keputusan SMGR mengakuisisi kepemilikan saham SMCB sudah tepat, dan SMCB sendiri memang dapat memberikan lonjakan Penjualan semen bagi SMGR, hal ini karena terdorong dari market SMCB yang sudah terbentuk. Disertai dengan adanya tambahan kapasitas dari pabrik yang sudah dimiliki oleh SMCB di wilayah Jakarta maupun di Jawa Barat, serta jangkauan pasar secara geografis yang lebih luas karena SMCB juga sudah kuat pada segmentasi pasar nya.

Meskipun secara market share dan kapasitas produksi SMGR sudah diuntungkan dengan mengakuisisi SMCB. Bukan berarti SMGR akan berjalan mulus, hal ini karena SMGR dihadapkan pada tantangan profitabilitas SMCB yang dalam 3 tahun terakhir ini masih membukukan Rugi Bersih nya. Ditambah lagi, dengan kondisi bahwa dengan Pinjaman yang mencapai US$ 1.28 miliar atau sekitar Rp 18.97 triliun, dalam jangka pendek ini SMGR akan dihadapkan pada beban neraca keuangan yang meningkat.

 

###

 

Info:

  • Monthly Investing Plan Desember 2018 sudah terbit. Anda dapat memperolehnya di sini.
  • Cheat Sheet LK Q3 2018 sudah terbit, Anda dapat memperolehnya di sini.
  • E-Book Quarter Outlook LK Q3 2018 sudah terbit. Anda dapat memperolehnya di sini.
  • Jadwal Workshop :
    • Workshop Value Investing (Bandung, 8 Desember 2018) dapat dilihat di sini.

You may also like

1 Comment

  • Handy Jaya
    December 10, 2018 at 5:05 PM

    Nunggu jadwal workshop advance 2019 nih pak hehe

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Rivan adalah seorang Indonesia Value Investor yang memulai investasi sejak tahun 2008 ketika berusia 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, Rivan berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Berbekal pengalamannya, Rivan saat ini menjalani profesi sebagai Full Time Investor sekaligus praktisi di pasar modal. Saat ini, Rivan aktif mengadakan workshop dan pelatihan kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko di pasar saham.

Like Us On Facebook

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami