Terbeban Di Bisnis Agrikultur, Apakah INDF Bisa Bangkit ?


Belakangan ini kinerja profitabilitas INDF sedang menurun, khususnya pada segmen Agribisnis nya di sepanjang tahun 2018 berjalan. Pasal nya saat ini segmen Agribisnis milik INDF tengah dihadapkan pada sejumlah tantangan, termasuk harga CPO yang terus menurun. Kondisi tersebut turut mempengaruhi harga saham INDF, yang selama ini memiliki valuasi yang cukup premium. Harga saham INDF yang di akhir tahun 2017 kemarin masih berada di 8500-an, saat ini harga saham INDF berkisar di angka 5000-an. Lantas dengan kinerja segmen Agribisnis INDF yang saat ini tengah menurun… Apakah INDF bisa bangkit kembali ke depannya ?

Sebelum kita membahas lebih jauh, di tahun 2017 kemarin Penulis sudah pernah mengulas tentang Lini Bisnis INDF nya yang begitu luas. Ada baik nya jika Anda me-review kembali pembahasan INDF pada artikel sebelumnya. Anda bisa membaca nya pada Link dibawah ini :

 

[Baca Lagi : Memahami Value Chain Indofood Group]

 

Faktor Menurun nya Profitabilitas Segmen Agribisnis

INDF dalam kegiatan operasional nya memiliki model bisnis yang terdiri dari empat kelompok grup bisnis, antara lain : Produk Consumer Goods, Bogasari Group, Agribisnis, dan Distribusi. Dari keempat kelompok grup bisnis tersebut, hanya segmen Agribisnis yang mengelola bisnis perkebunan dan pengolahan kelapa sawit milik INDF. Jika Anda sudah membaca kembali artikel Value Chain Indofood di atas, maka segmen Agribisnis ini dikelola oleh anak usahanya yaitu PT Salim Ivomas Pratama (SIMP) dan PT London Sumatera Indonesia (LSIP).

Dan seperti dikemukakan pada awal artikel, segmen Agribisnis inilah yang saat ini sedang tertekan. Dengan tertekan nya segmen Agribisnis saat ini, membuat kinerja INDF menurun dan bisa memicu pertumbuhan INDF yang melambat. Pertanyaan nya, faktor apa yang mempengaruhi menurunnya kinerja segmen Agribisnis INDF ?

Ada beberapa faktor yang menyebabkan menurunnya kinerja segmen Agribisnis INDF tersebut. Faktor Pertama yang menyebabkan kinerja segmen Agribisnis INDF menurun adalah penurunan harga minyak kelapa sawit itu sendiri. Turunnya harga minyak kelapa sawit terjadi sepanjang tahun 2018 ini. Setelah sebelumnya harga CPO terkonsolidasi di MYR 2200 – 2300 / MT, per hari ini harga CPO drop ke titik terendah MYR 1750 – 1760 / MT, atau hampir mencapai titik terendah dalam 10 tahun terakhir, di mana pada tahun 2009 sempat mencapai MYR 1500 / MT.

Penyebab harga minyak kelapa sawit (CPO) terus menurun tidak terlepas dari dampak penurunan harga minyak mentah utama di dunia yang juga sedang mengalami penurunan. Penurunan harga minyak dunia sendiri memang sedang mengalami penurunan diakibatkan adanya oversupply minyak mentah dari negara-negara penghasil minyak terbesar dunia seperti AS, Arab Saudi, dan Rusia yang menunjukkan peningkatan produksi minyak mentah domestik. Sehingga dengan adanya kenaikan supply minyak mentah tersebut, turut membuat harga CPO menjadi turun. Hal ini dikarenakan biofuel merupakan salah satu substitusi utama bagi Bahan Bakar Minyak (BBM).

Hampir disemua lini usaha perkebunan, disertai volume penjualan minyak kelapa sawit nasional yang juga turun sekitar 12% secara tahunan membuat penjualan segmentasi plantations ini melemah. Gambaran menurun nya harga minyak kelapa sawit atau Crude Palm Oil sepanjang tahun 2018 bisa dilihat pada screenshot berikut :

 

Grafik Penurunan Harga CPO dalam 1 Tahun Terakhir. Source : tradingeconomics.com

 

Faktor kedua yang menyebabkan menurunnya kinerja Agribisnis INDF adalah penurunan volume tandan buah segar (TBS). Hal ini terjadi karena terimbas perubahan cuaca yang buruk. Di mana setiap penurunan produksi TBS yang sebesar 1%, maka akan berdampak terhadap penurunan Laba segmen Agribisnis hingga 6%. Selain itu, penurunan volume tandan buah segar juga dipengaruhi oleh adanya keterlambatan pada saat pengangkutan TBS dari kebun ke pabrik minyak kelapa sawit. Jika dalam pengangkutan nya terhambat, maka akan berakibat pada rusak nya TBS sehingga membuat kualitas akhir minyak kelapa sawit menjadi tidak bagus.

 

Kinerja INDF Secara Keseluruhan

Sampai dengan Kuartal III 2018, INDF mencatatkan Pendapatan sebesar Rp 54.7 triliun (atau Rp 72.9 triliun jika disetahunkan). Pencapaian ini meningkat sekitar 4% YoY jika dibandingkan dengan pencapaian Pendapatan di tahun 2017 yang sebesar Rp 70.2 triliun. Dengan profitabilitas segmen Agribisnis yang menurun, ditambah dengan Beban Keuangan yang meningkat, membuat Laba Bersih INDF juga agak tergerus di Kuartal III 2018 ini. Pencapaian Laba Bersih INDF di kuartal III 2018 adalah sebesar Rp 2.8 triliun (atau Rp 3.8 triliun jika disetahunkan). Pencapaian Laba Bersih ini turun 10% YoY jika dibandingkan dengan pencapaian Laba Bersih sebesar Rp 4.1 triliun di tahun 2017.

Memang kalau kita lihat menurunnya profitabilitas INDF saat ini, tidak terlepas dari menurunnya kinerja SIMP dan LSIP, sebagai anak usaha INDF di segmen Agribisnis. Hal ini terlihat dari pencapaian Laba Bersih SIMP yang ikut menurun, dari Rp 377 miliar di Kuartal III-2017 hingga saat ini hanya sebesar Rp 84 miliar per Kuartal III-2018 (turun 77%).

Demikian pula penurunan kinerja SIMP tersebut, juga tidak terlepas dari penurunan kinerja LSIP yang merupakan anak usaha dari SIMP. Di mana pencapaian Laba Bersih LSIP juga sedang menurun, dari Rp 572 miliar di Kuartal III-2017 turun menjadi Rp 344 miliar di Kuartal III-2018 (turun 39%).

Dengan menurun nya kinerja SIMP dan LSIP sebagai anak usaha INDF, yang bergerak pada segmen Agribisnis ini lah yang juga membuat kinerja INDF ikut tertekan. Hal ini karena SIMP dan LSIP memiliki kontribusi pendapatan yang cukup besar bagi INDF, yang memberi kontribusi terhadap 23.2% dari total keseluruhan Pendapatan INDF.

Meskipun kinerja SIMP dan LSIP sedang mengalami penurunan, namun sejumlah bisnis utama INDF lainnya seperti dari ICBP dan Bogasari masih menunjukkan kinerja yang positif. Positifnya kinerja ICBP ini terlihat dari profitabilitas ICBP yang masih bertumbuh. Berdasarkan Laporan Keuangan Kuartal III-2018, Pendapatan ICBP meningkat dari Rp 27 triliun per Kuartal III-2017 saat ini mecapai Rp 29 triliun Kuartal III-2018. Pencapaian Pendapatan ICBP pun sejalan dengan pertumbuhan Laba Bersih nya, dari Rp 3.0 triliun saat ini menjadi Rp 3.4 triliun.

Adapun segmen bisnis ICBP telah menyumbangkan kontribusi besar nya yang berasal dari segmentasi produk nya, antara lain :

Produk

Pendapatan Kuartal III-2017 Pendapatan Kuartal III-2018

Mie Instan

Rp 17 triliun Rp 19 triliun
Dairy Rp 5.3 triliun

Rp 5.8 triliun

Penyedap makanan

Rp 1.1 triliun Rp 1.0 triliun
Makanan Ringan Rp 2.0 triliun

Rp 2.0 triliun

Minuman

Rp 1.3 triliun

Rp 1.4 triliun

Nutrisi dan Makanan Khusus Rp 501 miliar

Rp 608 miliar

Kontribusi dari ICBP yang mengalami peningkatan pada volume penjualan. Source : Laporan Keuangan ICBP Kuartal III-2018

 

Berdasarkan total penjualan yang diperoleh ICBP menunjukkan bahwa ICBP tetap positif dalam kinerja nya sehingga mampu menjadi kontribusi terbesar bagi INDF. Selain itu ternyata ICBP juga berinovasi dalam segmentasi produk Mie Instan, yang baru-baru ini ICBP sudah meluncurkan produk Indomie Salted Egg Premium Collection ke pasar publik.

Tidak hanya ICBP yang menjadi penopang bagi kinerja INDF, hal ini karena masih ada segmentasi Bogasari yang turut memberikan kontribusi positif nya terhadap kinerja INDF. Berdasarkan Laporan Keuangan INDF Kuartal III 2018, Bogasari turut memberikan kontribusi nya melalui Pendapatan yang meningkat dari Rp 14.0 triliun di Kuartal III-2017 naik menjadi Rp 15.3  triliun per Kuartal III-2018 (naik 9.2%). Meskipun Laba Bersih Bogasari menurun dari Rp 906 miliar di Kuartal III-2017, turun menjadi Rp 772 miliar per Kuartal III-2018 (turun 14%). Namun kondisi Bogasari masih tetap tumbuh secara positif.

Meskipun kinerja profitabilitas INDF secara keseluruhan tertekan, namun tidak demikian dengan arus kas nya. jika kita lihat kinerja INDF berdasarkan Arus Kas nya, kita akan memperoleh kondisi Arus Kas yang turun namun masih tetap stabil. Sebagai gambaran, Arus Kas INDF masih cukup stabil dan bisa menghasilkan nilai tunai operasi sebesar Rp 3.2 triliun per Kuartal III-2018. Artinya meskipun Profitabilitas INDF pada Kuartal III-2018 ini menurun, namun tidak terlalu berdampak signifikan pada kinerja Arus Kas INDF.

 

Bagaimana Prospek INDF ke Depannya?

Meskipun kondisi INDF tengah tertekan oleh segmen Agribisnis nya, namun INDF masih mampu mengatasi kondisi tersebut dengan terus mempertahankan pangsa pasar segmen tepung terigu. Penulis sendiri melihat bahwa segmen Bogasari bisa menjadi pendorong bisnis INDF di tahun 2019 nanti. Salah satu penyebabnya adalah karena INDF ini kembali memperbesar kapasitas produksi tepung PT Bogasari Flour Mills yang saat ini masih menjadi market leader di pasar tepung terigu.

Langkah yang dilakukan INDF dalam hal ini ialah dengan menambahkan kapasitas produksi tepung terigu pada anak usaha Bogasari. Target yang sedang INDF siapkan adalah menambahkan kapasitas penggilingan gandum sebesar 1.500 ton per hari. Sehingga INDF yang sebelumnya memiliki pabrik di Jakarta dengan kapasitas 10.450 ton per hari dan pabrik di Surabaya dengan kapasitas 6.000 ton per hari (total : 16.450 ton per hari), dengan tambahan tersebut akan bertambah menjadi 18.000 ton per hari.

Langkah INDF bukan hanya mempertahankan segmen tepung terigu saja. Namun INDF juga ingin berekspansi dengan menambah kapasitas produksi pada empat segmen bisnisnya. Rencana nya INDF akan menambah kapasitas pada kilang minyak kelapa sawit untuk SIMP, dan menambah 100% untuk kapasitas pada pabrik kemasan Cipta Kemas Abadi, pabrik bumbu di kota Palembang. Serta pabrik yang memproduksi dairy dengan total kapasitas dari 1.000 hingga 1.500 ton.

Dengan sejumlah prospek di atas, Penulis sendiri memiliki keyakinan bahwa penurunan profitabilitas yang terjadi pada INDF saat ini, hanya bersifat sementara saja.

 

Kesimpulan

Kinerja INDF yang saat ini tengah menurun karena dipengaruhi oleh segmen bisnis Agribisnis nya, yang terdampak dari penurunan harga minyak kelapa sawit yang saat ini hampir mencapai titik terendah dalam 10 tahun terakhir. Salah satu penyebab turunnya harga minyak kelapa sawit adalah akibat dampak dari turunnya harga minyak mentah utama dunia, serta penurunan volume tandan buah segar (TBS) terimbas perubahan cuaca yang buruk.

Meskipun INDF tertekan karena segmen Agribisnis nya, Namun tidak demikian hal nya dengan segmen bisnis utama INDF seperti Consumer Goods nya dan Bogasari yang masih bertumbuh dengan positif. Demikian pula, meskipun profitabilitas INDF turun, INDF tetap mampu mencatatkan nilai tunai operasi yang stabil.

INDF tetap menawarkan prospek pertumbuhan yang menarik dengan berbagai rencana ekspansi yang dilakukannya, termasuk menambahkan kapasitas penggilingan gandum sebesar 1.500 ton per hari, menambah kapasitas pada kilang minyak kelapa sawit untuk SIMP, dan menambah kapasitas pada pabrik kemasan Cipta Kemas Abadi.

 

###

 

Info:

  • Monthly Investing Plan Desember 2018 sudah terbit. Anda dapat memperolehnya di sini.
  • Cheat Sheet LK Q3 2018 sudah terbit, Anda dapat memperolehnya di sini.
  • E-Book Quarter Outlook LK Q3 2018 sudah terbit. Anda dapat memperolehnya di sini.
  • Jadwal Workshop :
    • Workshop Value Investing (Bandung, 8 Desember 2018) dapat dilihat di sini.

You may also like

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Rivan adalah seorang Indonesia Value Investor yang memulai investasi sejak tahun 2008 ketika berusia 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, Rivan berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Berbekal pengalamannya, Rivan saat ini menjalani profesi sebagai Full Time Investor sekaligus praktisi di pasar modal. Saat ini, Rivan aktif mengadakan workshop dan pelatihan kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko di pasar saham.

Like Us On Facebook

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami