Cost Of Fund Meningkat, Apakah Akan Mempengaruhi Kinerja BFIN Ke Depannya ?

Cost Of Fund Meningkat, Apakah Akan Mempengaruhi Kinerja BFIN Ke Depannya ?


BFIN merupakan perusahaan pembiayaan terlama di Indonesia, sekaligus sebagai perusahaan pembiayaan pertama yang terdaftar di BEI sejak Mei 1990. Sejak harga saham BFIN turun dari posisi tertingginya 850-an di Maret 2018, saat ini harga sahamnya berada di harga 550-an atau terkoreksi 35% dalam waktu sekitar 8 bulan. Banyak pelaku pasar mengaitkan turunnya harga saham BFIN ini karena kasus hukum yang melilit nya terkait sengketa gadai saham. Namun selain kasus tersebut, kinerja BFIN dipengaruhi keputusan BI yang menaikkan suku bunga acuan menjadi 5.75%. Dengan naiknya suku bunga acuan BI tersebut, akan memberikan pengaruh pada Cost of Fund dalam Industri Pembiayaan salah satunya BFIN. Lantas langkah apa yang diambil BFIN kedepannya ? Dan bagaimana dampak nya Prospek Saham BFIN ke Depannya ?

 

Model Bisnis Lembaga Pembiayaan dan Pengertian Cost of Fund

Banyak orang memperkirakan Lembaga pembiayaan seperti BFIN memiliki model bisnis yang sama dengan Bank, padahal tidak sama walaupun Bank dan Lembaga pembiayaan sama-sama bergerak dalam bidang keuangan. Jika Bank menyediakan dana dengan cara menarik langsung dana dari masyarakat (seperti tabungan, giro, dan deposito). Tidak demikian dengan Lembaga pembiayaan. Lembaga pembiayaan seperti BFIN menyediakan dana dengan tidak menarik langsung dana dari masyarakat.

Untuk lebih menyederhanakan pemahaman Anda mengenai model bisnis dari Lembaga pembiayaan seperti BFIN, maka Penulis akan memberikan analogi seperti berikut :

“Ibu Winda, seorang wanita karir yang mulai menanjak karirnya, ingin membeli mobil second seharga Rp 80 juta. Karena uang Bu Winda saat ini sedang terpakai juga untuk usahanya, maka Bu Winda memilih untuk membeli mobil secara kredit melalui BFIN. Jika segala persyaratan terpenuhi, maka selanjutnya BFIN akan menyetujui untuk membiayai kredit mobil second Bu Winda. Jadi, BFIN yang akan membayarkan mobil tersebut di muka sebesar Rp 150 juta kepada pihak ketiga. Ibu Winda sendiri akan melakukan cicilan pembayaran, katakanlah selama 36 bulan, dengan total cicilan perbulan sebesar Rp 2.5 juta, sehingga total keseluruhan pembayaran adalah sebesar Rp 90 juta.”

Artinya, di awal BFIN perlu menyediakan dana sebesar Rp 150 juta untuk dibayar di muka kepada pihak ketiga. Dan BFIN akan menerima DP + angsuran Rp 5 juta per bulan selama 36 bulan ke depan. Di sini, kita bisa melihat bahwa Lembaga pembiayaan seperti BFIN membutuhkan modal yang besar di awal, sebelum bisa meraih keuntungan dari sejumlah cicilan yang dilakukan oleh nasabah yang mengajukan kredit tersebut. Itulah mengapa, BFIN membutuhkan sejumlah dana untuk menjalankan proses bisnisnya.

Dengan demikian, untuk memperoleh dana (yang nantinya akan diputarkan kembali untuk nasabah yang mengajukan kredit), maka Lembaga pembiayaan ini juga membutuhkan sejumlah cost / biaya. Nah cost / biaya inilah yang disebut dengan cost of fund.

Pengertian Cost of Fund sendiri adalah biaya yang harus dikeluarkan oleh sebuah Instansi untuk setiap dana yang berhasil dihimpun dari berbagai sumber sebelum dikurangi dengan likuiditas wajib minimum yang harus selalu dipelihara oleh suatu Instansi. Atau sederhana nya, untuk bisa memperoleh dana dari sumbernya sebuah Instansi terkait harus mengeluarkan sejumlah biaya lebih dulu. Dimana biaya tersebut merupakan harga riil dari sumber dana yang dapat dihimpun oleh Instansi. Dengan mengetahui jumlah biaya yang sebenarnya yang akan dikeluarkan oleh Instansi sebagai sumber dana. Sehingga Instansi tersebut akan lebih mudah memperoleh kepastian Laba Rugi dalam pemasaran dana yang berbentuk kredit.

               

Apakah BFIN Terpengaruh Dengan Kenaikan Suku Bunga Acuan BI ?

Setelah kita memahami proses bisnis BFIN dan mengetahui apa itu Cost of Fund, pertanyaan selanjutnya adalah apa pengaruh kenaikan suku bunga acuan BI terhadap BFIN ?

Dalam model bisnis BFIN di atas, kita memahami bahwa BFIN membutuhkan sejumlah dana yang besar di awal untuk menjalankan proses bisnisnya. Dalam LK Q3 2018 BFIN sendiri, sumber dana terbesar masih berasal dari pinjaman perbankan yang sebesar Rp 7.2 triliun, sementara dana internal adalah sebesar Rp 5.8 triliun. Dari total dana pinjaman perbankan sebesar Rp 7.2 triliun tadi, pinjaman terbesar adalah dari Bank Mandiri sebesar Rp 1.9 triliun dan Standard Chartered (pinjaman dalam USD namun setara Rp 1.6 triliun).

Sekedar informasi, BFIN sendiri memiliki hutang dari 18 bank yang berbeda-beda. Penulis sendiri tidak bisa mendetailkan berapa banyak pinjaman BFIN dari masing-masing Bank, namun secara kasar suku bunga pinjaman perbankan tersebut berkisar antara 5% sampai 12%. Artinya, BFIN juga perlu membayarkan bunga atas pinjaman tersebut.

Nah dengan suku bunga pinjaman floating, maka pengaruh dari naik nya suku bunga acuan BI, membuat BFIN harus membayarkan sejumlah bunga yang lebih tinggi. Sebagai gambaran nya, jumlah bunga dan beban keuangan BFIN naik dari Rp 655 miliar di Kuartal III 2017 saat ini menjadi Rp 775 miliar per Kuartal III-2018 (meningkat 18% YoY).

Meskipun kondisi diatas membuat BFIN harus membayar bunga lebih tinggi dari biasanya. Namun disisi lain, posisi BFIN ini lebih diuntungkan keberadaan nya sebagai industri pembiayaan. Lantara BFIN bisa lebih leluasa dalam menaikkan suku bunga pembiayaan nya, untuk menyesuaikan kenaikkan suku bunga acuan BI. Tentu nya hal tersebut yang menjadi salah satu pembeda antara industri pembiayaan dengan industri Perbankan, dimana industri Perbankan tidak bisa serta merta menaikkan suku bunga kredit nya dengan mudah. Untuk mengulas kembali pengaruh kenaikkan suku bunga acuan BI terhadap Bank, Anda bisa membaca lagi artikel sebelumnya…

 

 

 

 

[Baca Lagi : Net Interest Margin Tertekan, Bagaimana Prospek BBNI Ke Depannya?]

 

Maka tidak heran, dengan berlakunya kenaikan suku bunga acuan BI, dampak yang paling utama dirasakan oleh BFIN adalah pada Cost of Fund nya. Lantaran BFIN ini merupakan perusahaan yang bergerak dalam pembiayaan, yang lebih cenderung dijalankan dengan cara sistem perkreditan. Hal ini lah yang mendasari BFIN ikut menaikkan suku bunga pembiayaan nya sebesar 0.5% – 1.0% pada Kuartal III-2018.

 

Bagaimana Prospek Saham BFIN Pasca Menaikkan Suku Bunga Pembiayaan ?

Setelah kita memahami bahwa kenaikan suku bunga acuan BI memberikan pengaruh terhadap cost of fund BFIN (yang diikuti dengan kenaikan suku bunga pembiayaan), selanjutnya kita perlu memahami bagaimana prospek saham BFIN pasca kenaikan suku bunga pembiayaan, dan bagaimana prospek saham BFIN ke depan nya?

Dalam Laporan Keuangan Kuartal III 2018, setelah BFIN menaikkan suku pembiayaan nya, justru saat ini BFIN mencapai sejumlah penyaluran pembiayaan baru. Hal itu membuktikan kinerja BFIN tetap mampu bertumbuh, meskipun bunga pembiayaan meningkat. Sebagai gambaran nya berikut proporsi nilai pembiayaan baru yang disalurkan oleh BFIN :

 

Proporsi Pembiayaan BFIN

 

Berdasarkan sejumlah porsi nilai pembiayaan baru BFIN, pertumbuhan kredit BFIN pada Kuartal III-2018 ini masih didominasi oleh pembiayaan mobil bekas yang sebesar 68%, meskipun sebelum nya BFIN sendiri pada periode yang sama ditahun 2017, pertumbuhan kredit berasal dari pembiayaan kredit mobil bekas sebesar 84%. Namun secara nominal, penyaluran kredit tetap bertumbuh.

Sejalan dengan jumlah penyaluran pembiayaan yang meningkat, profitabilitas BFIN juga ikut meningkat. Pendapatan BFIN masih meningkat sebesar 23% YoY dari Rp 4.0 triliun di tahun 2017 menjadi Rp 4.9 triliun di tahun 2018 (annualized), demikian pula laba bersih BFIN masih meningkat sebesar 23% YoY dari Rp 1.2 triliun di tahun 2017 menjadi Rp 1.45 triliun di tahun 2018 (annualized). Demikian pula konsistensi kenaikan Laba Bersih BFIN, menghasilkan Net Profit Margin (NPM) sebesar 29%. Serta Return on Equity (ROE) BFIN, yang mencapai 25%.

Naik nya pencapaian kredit BFIN ini juga bisa kita lihat dari Arus Kas BFIN di Kuartal III 2018, dalam penerimaan dan pengeluaran kas dari pelanggan BFIN jika dibandingkan pada Kuartal III-2017. Berikut ini gambaran dari Arus Kas Operasi BFIN :

 

Arus Kas Operasi BFIN untuk Pembiayaan Baru. Source Laporan Keuangan BFIN Kuartal III-2018

 

Pencapaian penerimaan kas dari pelanggan BFNI meningkat sekitar 25.3% dari Rp 10.9 triliun Kuartal III-2017 menjadi Rp 13.7 triliun per Kuartal III-2018. Sementara BFIN juga mencatatkan kenaikan penyaluran pembiayaan baru, yang naik sekitar 24.2% dari Rp 10.2 triliun di Kuartal III-2017 menjadi sebesar Rp 12.7 triliun per Kuartal III-2018. Kondisi pencapaian profitabilitas yang meningkat, menunjukkan bahwa dengan BFIN ikut menaikkan suku bunga pembiayaan tidak menjadi kendala bagi operasional BFIN.

Sayangnya, meskipun secara profitabilitas BFIN berhasil meningkat. Sebenarnya BFIN ini masih belum mampu mencatatkan Arus Kas Operasi yang positif. Hal ini terlihat dari tahun 2011 hingga 2018 ini, BFIN hanya dua kali mencatatkan Arus Kas Operasi nya yang positif : Rp 148 miliar di tahun 2015 dan Rp 232 miliar ditahun 2016. Sedangkan di Kuartal III-2018, BFIN kembali harus mencatatkan angka negatif pada Arus Kas Operasi yang mencapai Rp 1.3 triliun.

Arus Kas operasi BFIN yang negatif ini seharusnya bisa lebih diperbaiki. Jika kita bandingkan pada emiten pembiayaan lainnya seperti MFIN. Dimana MFIN ini lebih mampu mengelola Arus Kas Operasi nya, sehingga lebih konsisten mencatatkan Arus Kas Operasi positif. Sebagai gambaran Arus Kas MFIN dari tahun 2011 sampai 2018 ini, hanya dua kali mencatatkan angka negatifnya Rp 826 miliar tahun 2011 dan Rp 55 miliar pada tahun 2014.

Beruntung nya sampai saat ini BFIN tetap mampu menjaga kolektivitas piutang nya dengan baik. Bisa kita lihat dari screenshot dibawah ini :

 

Kolektivitas Piutang BFIN. Source : Laporan Keuangan BFIN Kuartal III-2018

 

Dari data di atas kita bisa mengetahui, jumlah piutang BFIN yang jatuh tempo di atas 3 bulan  hanya sebesar 1.35%, dan yang hutang jatuh tempo diatas enam bulan hanya sebesar 0.32%, dan piutang jatuh tempo ini merupakan piutang atas kendaraan bermotor dan perumahan (KPR). Hal ini menunjukkan bahwa prospek saham BFIN tetap cerah, karena BFIN tetap menjaga kualitas kredit yang diberikan.

 

Risiko Kasus Hukum: Sengketa Gadai Saham BFIN

Meskipun secara kinerja BFIN masih bisa dikatakan cukup baik, namun sebagai investor Anda perlu berhati-hati terhadap kasus hukum yang sedang dihadapi BFIN. Hingga sampai saat ini kasus hukum ini masih berlanjut.

BFIN sampai saat ini masih tersandung dengan kasus hukum yang berhadapan dengan PT Aryaputra Teguharta (APT). Kasus hukum BFIN ini, terkait kepemilikan saham nya yang ingin diklaim oleh APT. Tak pelak kasus hukum BFIN mempengaruhi harga saham nya, yang saat ini berada diposisi terendah sepanjang tahun 2018 berjalan.

Pasalnya baru-baru ini APT mengajukan permohonan kepada BEI, lantaran keinginannya untuk membekukan (suspend) saham BFIN. Namun pembekuan saham hingga saat ini ditolak oleh BEI. Karena pembekuan hanya bisa dilakukan atas permintaan perusahaan atau emiten, terlebih kondisi saham sudah tidak wajar dan tidak efisien.

Permohonan APT terhadap pembekuan saham BFIN, bukan pertama kali nya. APT sendiri sudah pernah mengajukan gugatan serupa, kepada Bapepam LK, Otoritas pasar modal di tahun 2010. Namun permohonan APT tersebut, juga ditolak. Akan tetapi, hingga saat ini khusus BFIN masih diminta untuk tidak melakukan aksi korporasi apapun terhadap APT.

 

Kesimpulan

Dengan adanya kenaikan suku bunga acuan yang ditetapkan oleh BI terhadap industri di Indonesia. Ternyata tidak semua industri bisa dengan mudah mengikuti suku bunga acuan BI tersebut. Salah satu industri yang memiliki keleluasaan adalah industri pembiayaan (salah satunya BFIN), di mana BFIN leluasa merespon kenaikan suku bunga BI dengan menaikkan suku bunga pembiayaan nya.  Meskipun BFIN ikut menaikan bunga pembiayaan nya, sampai saat ini BFIN masih mampu mencatatkan kinerja yang positif.

Kinerja yang positif tersebut terlihat dari segi penyaluran kredit dan profitabilitas BFIN yang konsisten meningkat dari tahun sebelumnya. Selain itu, kondisi BFIN sangat diuntungkan dalam segi kolektivitas piutang, dimana BFIN mampu menjaga kualitas kredit yang diberikan.

Adapun hal yang perlu diwaspadai dari BFIN ini adalah pencapaian arus kas operasional nya yang terus negatif, dan juga BFIN masih tersandung kasus sengketa gadai saham BFIN oleh APT.

 

###

 

Info:

  • Monthly Investing Plan Desember 2018 akan segera terbit. Anda dapat memperolehnya di sini.
  • Cheat Sheet LK Q3 2018 sudah terbit, Anda dapat memperolehnya di sini.
  • E-Book Quarter Outlook LK Q3 2018 sudah terbit. Anda dapat memperolehnya di sini.
  • Jadwal Workshop :
    • Workshop Value Investing (Jakarta, 17 November 2018) dapat dilihat di sini.
    • Workshop Value Investing (Jogja, 24 November 2018) dapat dilihat di sini.
    • Workshop Value Investing (Bandung, 8 Desember 2018) dapat dilihat di sini.

 

 

Tags : Prospek Saham BFIN, Prospek Saham BFIN, Prospek Saham BFIN, Prospek Saham BFIN, Prospek Saham BFIN

 

You may also like

2 Comments

  • Putu Wirahana
    November 28, 2018 at 1:42 PM

    sudut pandang bagus pak, kira kira kapan nih pak advance di bali? heheh

  • Angel
    February 15, 2019 at 11:11 AM

    selama kasus yang menimpa BFIN sebaiknya investor tidak masuk ke saham BFIN, meskipun saat ini kinerja BFIN sedang positif. lalu apakah di 2019 ini kinerja BFIN akan tetap positif jika kasus ini tetap berlanjut?

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Rivan adalah seorang Indonesia Value Investor yang memulai investasi sejak tahun 2008 ketika berusia 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, Rivan berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Berbekal pengalamannya, Rivan saat ini menjalani profesi sebagai Full Time Investor sekaligus praktisi di pasar modal. Saat ini, Rivan aktif mengadakan workshop dan pelatihan kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko di pasar saham.

Like Us On Facebook

Facebook Pagelike Widget

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami