Pendanaan DINFRA JSMR

Berhasil Kantongi izin Dinfra, Apa Manfaat nya Bagi JSMR ?


Baru-baru ini, kita banyak membaca berita mengenai JSMR yang telah mengantongi Izin Dinfra JSMR (Dana Infrastruktur) dari OJK. Dikabarkan, penerbitan Dinfra perdana akan dilakukan di ruas tol Gempol – Pandaan. Merespon berita tersebut, cukup banyak pertanyaan yang masuk ke email Penulis mengenai apa itu Dinfra dan apa keunggulannya? Oleh karena itu dalam artikel kali ini, kita akan coba untuk mengulas mengenai apa itu Dinfra.

 

Apa Itu DINFRA dan Apa Keunggulannya ?

Bagi sebagian orang, kata Dinfra mungkin masih terdengar asing dan mungkin belum familiar mengenai apa itu DINFRA. Oleh karena itu, Penulis akan mencoba untuk memberikan sedikit penjelasan mengenai apa itu DINFRA. Dinfra merupakan singkatan dari Dana Infrastruktur. Sesuai dengan namanya, Dinfra merupakan instrumen reksadana yang digunakan untuk menghimpun dana investor, di mana nantinya dana yang dihimpun dari para investor tersebut akan diinvestasikan pada aset infrastruktur. Untuk bisa memiliki DINFRA, manajer investasi diwajibkan memiliki isi portofolio yang fokus di sektor infrastruktur dengan porsi 51% dari Nilai Aktiva Bersih.

Dinfra sendiri telah diterbitkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai salah satu instrumen investasi di pasar modal pada 20 Juli 2017, termasuk aturan mengenai Dana Investasi Infrastruktur Berbentuk Kontrak Investasi Kolektif atau yang disebut DINFRA.

 

 

DINFRA ini mendapatkan akses yang lebih mudah yaitu bisa ditawarkan secara langsung melalui penawaran umum, dan DINFRA juga sudah tercatat di BEI. Ini berarti DINFRA bisa diperdagangkan di pasar sekunder dan bisa dijadikan investasi untuk jangka menengah dan panjang. DINFRA untuk saat ini dinilai sebagai salah satu solusi dan alternatif lain dalam menangani masalah infrastruktur di Indonesia, dan DINFRA memiliki cakupan investor yang lebih luas.

Dalam hal pencairan dana, DINFRA dinilai lebih fleksibel. Pencairan dana DINFRA dilakukan melalui Ekuitas dan hutang dalam satu transaksi (penggabungan), sehingga mempercepat pendanaan baik dari asset recycling dan debt recycling.

 

Latar Belakang JSMR Membutuhkan Dinfra…

Setelah kita memahami apa itu Dinfra dan keunggulannya, lantas pertanyaan berikutnya adalah kenapa JSMR harus mendanai proyeknya dengan DINFRA ? dan bukan berhutang ke Bank ? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka ada baiknya kita mengetahui terlebih dahulu transformasi yang terjadi di tubuh JSMR…

Jika kita menarik Laporan Keuangan JSMR setidaknya beberapa tahun ke belakang, kita dapat melihat bahwa Pendapatan JSMR sejak tahun 2016 memang mengalami peningkatan yang signifikan. Sebagai gambaran, di tahun 2012 – 2015, Pendapatan JSMR “hanya” berkisar Rp 9 – 10 triliun saja. Namun sejak tahun 2016, Pendapatan JSMR meningkat signifikan. Di tahun 2016, Pendapatan JSMR meningkat menjadi Rp 16.6 triliun yang berlanjut menjadi Rp 35.1 triliun di tahun 2017, dan Rp 36.5 triliun di tahun 2018 (Anlz).

Revenue JSMR 2011 – 2018 Anlz. Perhatikan Revenue JSMR meningkat signifikan sejak 2016

 

Hal ini dikarenakan sejak 2016 – 2017, JSMR mulai menggenjot bisnis konstruksi (sebelumnya sebagian besar pendapatan JSMR diterima dari Pendapatan Tol). Sebagai informasi, sumber Pendapatan JSMR sendiri terdiri dari dua sektor: Pendapatan Tol dan Pendapatan Konstruksi. Sebelum 2016, komposisi Pendapatan JSMR adalah : 75% pendapatan tol dan 25% pendapatan konstruksi. Namun sejak 2016 komposisi Pendapatan JSMR berbalik menjadi 75% pendapatan konstruksi dan 25% pendapatan tol. Dengan kata lain, saat ini konstribusi JSMR yang terbesar berasal dari Pendapatan konstruksi. Sebagai gambaran bisa dilihat tabel berikut :

 

Sumber Pendapatan

Tahun 2011 – 2015 Tahun 2016 – 2018

Pendapatan Tol

75%

25%

Pendapatan Konstruksi 25%

75%

Tabel. Perbandingan Pendapatan Tol dan Konstruksi JSMR

 

Meskipun Pendapatan Konstruksi meningkat signifikan, namun tidak demikian dengan Laba Bersih nya. Hal ini dikarenakan JSMR juga tidak mengambil untung pada proyek konstruksi yang dikerjakannya. Dengan kata lain, keuntungan yang diperoleh JSMR hanya dari Pendapatan Tol nya saja.

Hal inilah yang membuat Laba JSMR tidak ikut naik signifikan, atau hanya berkisar Rp 1.8 triliun hingga Rp 2.0 triliun saja. Ini sebabnya mengapa Net Profit Margin (NPM) JSMR malah sebaliknya menurun dari 15% ditahun 2015 saat ini hanya 6% di tahun 2018.

Lalu kalau begitu, buat apa JSMR ini mengerjakan proyek konstruksi nya kalau tidak untuk mendapatkan profit ? Nah ini bagian yang menarik. Jadi meskipun JSMR ini tidak menarik keuntungan di awal, namun setelahnya JSMR bisa melakukan divestasi atas tol tersebut, ataupun mendapatkan penghasilan setelah Tol itu selesai beroperasi. JSMR baru akan bisa menikmati keuntungannya apabila sektor tol yang dioperasikan oleh JSMR ini sudah beroperasi normal.

Nah kembali pada pertanyaan awal, mengapa JSMR membutuhkan Dinfra ini ? Dengan banyak nya proyek tol infrastruktur yang dikerjakan JSMR, praktis JSMR membutuhkan modal. Namun untuk tetap melanjutkan operasionalnya, JSMR tidak bisa terlalu leluasa lagi mengandalkan hutang dari bank. Hal ini terlihat jelas dari kenaikan Liabilitas yang juga signifikan, dari total liabilitas sebesar Rp 24 triliun tahun 2015 menjadi Rp 56.6 triliun Kuartal III 2018.

Jumlah Liabilitas yang sebesar itu jauh di atas Ekuitas yang dimiliki JSMR. Oleh karena itu, jelas JSMR membutuhkan sumber pendanaan lain yakni DINFRA.

 

Keuntungan Menggunakan Dinfra dan Dampak nya bagi JSMR

Dari penjelasan di atas, bisa disimpulkan bahwa Dinfra ini berbentuk Ekuitas dan bukan hutang. Hal ini jelas menguntungkan bagi JSMR, karena saat ini total liabilitas JSMR ini sudah cukup besar. Dengan total liabilitas JSMR saat ini mencapai Rp 56.6 triliun dan total Ekuitas JSMR sebesar Rp 16.1 triliun, maka posisi Debt to Equity Ratio (DER) JSMR saat ini adalah sebesar 3.51x.

DER JSMR 2011 – 2017. Perhatikan DER meningkat signifikan di 2017 – 2018

 

Maka tidak heran jika JSMR juga diuntungkan dengan menggunakan DINFRA sebagai sumber modal untuk mendanai proyek infrastrukturnya. Bagi JSMR sendiri, pendanaan DINFRA dapat mendukung percepatan pembangunan infrastruktur, karena dana ini bisa diperoleh dalam bentuk permodalan dari investor dan pemerintah dengan reksadana DINFRA.

JSMR juga menilai pendanaan DINFRA sebagai jalan keluar pendanaan proyeknya dengan jumlah besar. Artinya dengan adanya pendanaan DINFRA, JSMR adalah pihak yang diuntungkan karena tidak harus mengandalkan hutang dan proses pendanaan DINFRA yang lebih cepat.

JSMR akan mengantongi izin pendanaan DINFRA melalui anak usaha PT Jasamarga Pandaan Tol, dengan total dana mencapai Rp 1.5 triliun. Anak usaha JSMR tersebut lah yang akan mengerjakan jalan Tol Gempol – Pandaan sepanjang 13,6 km. JSMR mendapatkan izin penerbitan efektif untuk pendanaan DINFRA dari OJK pada 8 Oktober 2018 kemarin, dan JSMR akan menerima pendanaan DINFRA dalam dua tahap.

 

Kesimpulan

Dengan gencarnya proyek yang dikerjakan JSMR, JSMR membutuhkan tambahan modal untuk mengerjakan proyek-proyek nya. Namun berhubung saat ini Debt to Equity Ratio (DER) JSMR sudah sebesar 3.51x, maka ruang gerak untuk menambah hutang pun agak terbatas.

Oleh karena itulah, pendanaan DINFRA ini dapat menjadi solusi pembiayaan bagi JSMR, karena JSMR tidak perlu berhutang guna mendanai proyeknya. Dengan demikian, JSMR diuntungkan karena mendapatkan modal untuk pengerjaan proyek nya, sementara bagi investor juga diuntungkan karena mendapatkan instrument investasi bersifat investasi jangka menengah maupun panjang.

 

###

 

Info:

  • Monthly Investing Plan November 2018 sudah terbit. Anda dapat memperolehnya di sini.
  • Cheat Sheet LK Q3 2018 sudah terbit, Anda dapat memperolehnya di sini.
  • E-Book Quarter Outlook LK Q3 2018 sudah terbit. Anda dapat memperolehnya di sini.
  • Jadwal Workshop :
    • Workshop Value Investing (Jakarta, 17 November 2018) dapat dilihat di sini.
    • Workshop Value Investing (Jogja, 24 November 2018) dapat dilihat di sini.
    • Workshop Value Investing (Bandung, 8 Desember 2018) dapat dilihat di sini.

You may also like

4 Comments

  • Putu Merta
    November 19, 2018 at 8:43 AM

    Mungkin bisa dilanjut pak penjelasannya mengenai:
    1. Cara memperolehnya
    2. Siapa yang boleh beli
    3. Keuntungan apa yang didapat oleh investor

  • Agus
    November 21, 2018 at 4:37 PM

    Apakah “pendapatan konstruksi” benar-benar menguntungkan JSMR ketika dikonversi menjadi pendapatan divestasi (penjualan) ruas jalan-jalan tol?

  • Muhammad Cipto
    November 22, 2018 at 9:48 AM

    kira kira nih pak kalau JSMR ini tidak mendapat difra apakah akan pengaruh besar? thx

  • della
    February 15, 2019 at 2:30 PM

    Thanks infonya Pak

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Rivan adalah seorang Indonesia Value Investor yang memulai investasi sejak tahun 2008 ketika berusia 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, Rivan berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Berbekal pengalamannya, Rivan saat ini menjalani profesi sebagai Full Time Investor sekaligus praktisi di pasar modal. Saat ini, Rivan aktif mengadakan workshop dan pelatihan kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko di pasar saham.

Like Us On Facebook

Facebook Pagelike Widget

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami