Rencana Penerapan Free Float, Bagaimana Dampaknya Pada Saham Indeks LQ45 dan IDX30 ?


Baru-baru ini kita mendengar berita yang membahas bahwa dalam waktu dekat ini, BEI mengeluarkan aturan mengenai batas minimum jumlah saham yang beredar di publik, atau yang disebut dengan Free Float. Rencana nya penerapan Free Float ini akan ditambahkan pada pembobotan indeks, dan segera diimplementasikan pada Februari 2019 mendatang, dan nantinya Free Float ini akan menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan indeks, selain dari kapitalisasi maupun aktivitas transaksi. Bagaimana dampak Penerapan Free Float ini terhadap emiten-emiten dalam indeks LQ45 dan IDX30 ?

 

Apa itu Penerapan Free Float dan Apa Tujuan Penerapan Kebijakan Free Float ?

Sebelum kita membahas lebih jauh, kita perlu mengenal definisi Free Float terlebih dahulu. Pengertian Free float sendiri adalah total saham scripless yang dimiliki oleh investor dengan kepemilikan kurang dari 5%. Dan rasio Free Float dihitung dari perbandingan jumlah saham Free Float relatif terhadap total saham tercatat.

Nah Free Float ini nantinya akan menjadi faktor tambahan yang diperhitungkan oleh BEI dalam menyusut bobot masing-masing emiten terhadap Indeks LQ45 dan Indeks IDX30. Adapun contoh emiten Big Caps yang terkena dampak dari penerapan Free Float adalah HMSP dan UNVR, di mana dengan adanya Penerapan Free Float, kedua emiten ini mengalami penurunan bobot pada indeks LQ45 mulai Februari 2019 nanti. Misalkan, UNVR mengalami penurunan bobot dari 8.45% saat ini menjadi 3.43%. Sementara HMSP malahan lebih signifikan lagi, di mana HMSP mengalami penurunan bobot pada indeks LQ45 dari saat ini sebesar 11.12% hingga menjadi 2.36% pasca Penerapan Free Float berlaku nanti.

Latar belakang yang mendorong adanya rencana penerapan Free Float ini adalah lantaran BEI melihat total Market Cap BEI yang saat ini sudah mencapai Rp 6,507 triliun, namun tidak sebanding dengan Free Float yang beredar di Publik yang hanya sebesar Rp 2.124 triliun atau hanya sekitar sepertiganya saja.

Tidak heran, karena beberapa sektor malahan memiliki jumlah Free Float di bawah 30%. Bidang usaha yang memiliki Free Float terendah (berkisar dari 22% hingga 25%) adalah Miscellaneous industry / Aneka Industri, Basic Industry & Chemicals / Industri Dasar dan Bahan Kimia, Consumer Goods Industry / Industri Barang Konsumsi, serta Finance.

Penerapan kebijakan Free Float ini sebenarnya bukanlah hal yang baru. Sejumlah Index Providers di dunia seperti MSCI dan S&P juga menjadikan faktor Free Float sebagai faktor pembobotan. Demikian pula, indeks-indeks bursa saham dunia seperti SGX Singapore, SET Thailand, Bursa Malaysia, Shanghai Stock Exchange, NYSE, dan Nasdaq juga menggunakan Free Float sebagai salah satu faktor dalam pembobotan.

 

Kriteria Penghitungan Pada Indeks LQ45 dan IDX30

Setelah kita mengetahui definisi mengenai Free Float diatas. Hal lain yang perlu juga kita ketahui adalah kriteria penilaian nya terhadap saham-saham dalam indeks LQ45 dan IDX30. Jika sebelum nya Anda hanya mengetahui bobot penilaian dalam indeks LQ45 dan IDX30 hanya berdasarkan faktor dari Market Cap dan Total Nilai Transaksi saja. Kini BEI akan menjadikan Free Float sebagai faktor baru pada bobot penilaian terhadap indeks LQ45 dan IDX30.

Dalam melakukan penghitungan nantinya, saham-saham yang masuk dalam kategori indeks LQ45 dan indeks IDX30 akan melakukan penghitungan ulang (rebalancing). Penghitungan dilakukan berdasarkan jumlah saham beredar nya, dan dari sisi likuiditas serta fundamental emiten tersebut. Adapun kriteria pemilihan nya sebagai berikut :

Indeks LQ45

Jika sebelumnya kriteria pemilihan emiten yang masuk dalam LQ45 adalah : saham-saham berkapitalisasi besar yang sudah tercatat lebih dari enam bulan serta memiliki nilai transaksi yang besar saja, maka selanjutnya BEI juga akan memperhitungkan faktor Free Float dalam penghitungan pembobotan LQ45.

Saham-saham ini akan dipilih dalam fase pertama yang sebanyak 60 emiten, berdasarkan total nilai transaksi di pasar reguler selama 12 bulan terakhir. Kemudian akan masuk pada fase kedua, di mana 60 emiten tersebut akan dikerucutkan sebanyak 45 emiten besar yang masuk dalam kategori indeks LQ45.

Faktor yang menjadi bahan pertimbangan Indeks LQ45 nanti adalah berdasarkan :

  • Perhitungan Likuiditas meliputi nilai transaksi, frekuensi transaksi, jumlah hari transaksi dipasar reguler dan kapitalisasi pasar saham yang sudah Free Float.
  • Perhitungan Fundamental meliputi kinerja keuangan, kepatuhan perusahaan, dan lain-lain.

 

Indeks IDX30

Indeks IDX30 sebenarnya hampir mirip dengan LQ45. Hanya saja, beberapa fund manager merasa jumlah 45 saham tersebut terlalu besar. Hal yang sama pun dalam kriteria memilih saham IDX30, sebanyak 45 saham yang memiliki nilai tertinggi dan masuk sebagai indeks LQ45 tadi, kemudian akan dikerucutkan lagi menjadi 30 saham. Jadi, sumbernya tetap berasal dari saham-saham pada indeks LQ45. Dari total sebanyak 45 saham pada LQ45 akan dipilih hanya 30 saham, dengan nilai tertinggi sebagai indeks IDX30.

Faktor yang menjadi bahan pembobotan juga sama dengan LQ45 tadi, yaitu dihitung berdasarkan :

  • Perhitungan Likuiditas meliputi nilai transaksi, frekuensi transaksi, jumlah hari transaksi dipasar reguler dan kapitalisasi pasar saham yang sudah Free Float.
  • Perhitungan Fundamental meliputi kinerja keuangan, kepatuhan perusahaan, dan lain-lain.

 

Apa Dampak dari Penerapan Free Float ?

Setelah kita mengetahui apa latar belakang kebijakan Free Float, dan bagaimana penghitungan pembobotan LQ 45 dan IDX 30, maka selanjutnya kita perlu mengetahui apakah dampak dari kebijakan Free Float ini ke depannya?

Dengan adanya rencana penerapan Free Float, maka akan terjadi adjustment dalam pembobotan khususnya bagi saham-saham yang berada dalam indeks LQ45 dan IDX30. Tujuan dari adjustment saat ini sebagai gambaran riil nilai saham yang bisa diperoleh para investor, dengan mengecualikan nilai saham yang dimiliki pemegang saham pengendali.

Selain itu dengan adanya Free Float ke depannya, diproyeksikan akan meningkatkan efisiensi portofolio dengan berkurangnya bobot saham yang Free Float nya rendah. Dengan kondisi tersebut, maka akan mendorong emiten-emiten untuk lebih meningkatkan jumlah saham Free Float nya.

Hal tersebut yang akan menjadi adjustment ke sejumlah saham dalam indeks LQ45 dan IDX30. Adapun berikut ini sejumlah saham yang akan mengalami penurunan bobot dalam kedua indeks tersebut :

No.

Kode Emiten Porsi

Free Float

Bobot Awal

(sebelum Free Float)

Bobot Akhir

(setelah Free Float)

1. UNVR 14.22% 8.45%

3.43%

2.

HMSP 7.43% 11.12% 2.36%

3.

GGRM 17.16% 3.56% 1.75%
4. ICBP 20.00% 2.67%

1.52%

5. PTBA 25.22% 1.25%

0.90%

6.

BRPT 26.87% 0.88% 0.68%

7.

JSMR 29.99% 0.77%

0.66%

8. WSKT 33.96% 0.50%

0.49%

9.

ANTM 34.76% 0.42% 0.42%
10. WSBP 33.00% 0.21%

0.20%

Tabel. Jumlah Free Float dan Pembobotan LQ45 – IDX30 sebelum dan sesudah Free Float.

 

Pertanyaan berikutnya, “Loh Pak tadi katanya Free Float baru akan berlangsung Februari 2019, tapi kok dampaknya sudah terasa dari sekarang?” Betul bahwa meskipun penerapan pembobotan LQ45 dan IDX30 dengan mempertimbangkan Free Float ini baru akan diterapkan per Februari 2019 mendatang. Namun sekali lagi Welcome To Stock Market, dimana market langsung bereaksi bahkan jauh sebelum peraturan tersebut diimplementasikan.

Efek instan yang terjadi di market belakangan ini dikarenakan penerapan Free Float menimbulkan kekhawatiran bagi beberapa pelaku Manajer Investasi atau yang kita kenal sebagai Hedge Fund, di mana para Manajer Investasi di Indonesia akan cenderung bersikap melepas emiten yang memiliki Free Float yang rendah. Hal ini tidak mengherankan karena para Fund Manager memang menjadikan LQ45 dan IDX30 menjadi salah satu faktor pertimbangan dalam menyusun portfolio.

That’s why sejak muncul nya kabar mengenai penerapan free float, langsung memberikan dampak pada sejumlah emiten di antaranya, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, HMSP yang merupakan emiten Big Cap yang tadinya memiliki bobot sekitar 11% terhadap IHSG. Dengan adanya penerapan Free Float ini akan membuat bobotnya terhadap LQ45 berkurang lantaran Free Float nya yang kecil yaitu hanya 7.5% dimiliki oleh publik, sementara sebagian besar nya 92.5% dimiliki PT Philips Morris Indonesia. Hal yang sama juga terjadi pada emiten UNVR, yang hanya dimiliki 15% kepemilikan publik. Sedangkan sekitar 85% nya dimiliki oleh Unilever Indonesia Holding. Kedua emiten HMSP dan UNVR bobotnya akan sama-sama berkurang terhadap indeks LQ45 dan IDX30.

Kondisi diatas berbanding terbalik misalkan dengan emiten TLKM dan BBRI yang kondisinya memang sudah memiliki Free Float dalam jumlah besar. Saham TLKM yang dimiliki publik mencapai 48% dan BBRI kepemilikan publik nya juga sebesar 43% yang justru semakin diuntungkan dengan adanya penerapan Free Float, hal ini karena bobot nya akan semakin meningkat terhadap indeks LQ45 dan IDX30. Anda bisa lihat lagi pembobotan before dan after penerapan Free Float ini dalam tabel di atas.

 

Kesimpulan

Berdasarkan uraian mengenai Free Float diatas, Penulis dapat menarik kesimpulan bahwa dengan adanya penerapan Free Float sebagai faktor baru pada bobot penilaian terhadap indeks LQ45 dan indeks IDX30 akan memberikan pengaruh namun hanya dalam jangka pendek saja. Terlebih jika emiten memiliki kinerja yang baik dan sehat.

Namun sebagai investor yang bijak, Anda tidak perlu ikut-ikutan panik dalam menyikapi berita penerapan Free Float ini. Karena sentiment Free Float ini hanyalah satu dari sekian banyak sentiment yang akan mewarnai perjalanan investasi Anda ke depannya. Tetaplah fokus pada kinerja fundamental perusahaan, manajemen yang baik dan transparan, serta memberikan Anda Margin of Safety yang cukup.

 

###

 

Info:

  • Monthly Investing Plan November 2018 sudah terbit. Anda dapat memperolehnya di sini.
  • Cheat Sheet LK Q3 2018 sudah terbit, Anda dapat memperolehnya di sini.
  • E-Book Quarter Outlook LK Q3 2018 sudah terbit. Anda dapat memperolehnya di sini.
  • Jadwal Workshop :
    • Workshop Value Investing (Jakarta, 17 November 2018) dapat dilihat di sini.
    • Workshop Value Investing (Jogja, 24 November 2018) dapat dilihat di sini.
    • Workshop Value Investing (Bandung, 8 Desember 2018) dapat dilihat di sini.

You may also like

1 Comment

  • Dwicaksono
    November 22, 2018 at 9:56 AM

    emang paling beda pnjelasan bapak ini, salut..

LEAVE A COMMENT

About me

Rivan Kurniawan

Rivan Kurniawan

Rivan adalah seorang Indonesia Value Investor yang memulai investasi sejak tahun 2008 ketika berusia 20 tahun. Sempat mengalami kejatuhan di pasar saham, Rivan berhasil bangkit dengan menerapkan metode Value Investing. Berbekal pengalamannya, Rivan saat ini menjalani profesi sebagai Full Time Investor sekaligus praktisi di pasar modal. Saat ini, Rivan aktif mengadakan workshop dan pelatihan kepada para profesional dan investor yang ingin memaksimalkan profit serta meminimalisir resiko di pasar saham.

Like Us On Facebook

Follow Me

Follow me in my social media account

Archives

Newsletter

Masukkan email Anda untuk berlangganan newsletter kami